Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Pengakuan yang Jujur

Dua penjahat disalibkan di sisi kanan dan kiri Yesus. Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa Yesus, yang sama sekali tidak bersalah, diperlakukan seolah-olah Ia adalah seorang penjahat. Dunia menempatkan Dia di antara orang berdosa — padahal Dialah yang datang untuk menyelamatkan mereka.

Para pemimpin agama mengejek-Nya dengan sinis:

“Orang lain Ia selamatkan, biarlah Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri jika Ia benar Mesias, orang pilihan Allah!”
Prajurit-prajurit pun menambah hinaan dengan menawarkan anggur asam. Di atas kepala-Nya, mereka menulis, “Inilah Raja orang Yahudi” — tulisan yang mereka maksudkan sebagai ejekan, tapi sesungguhnya adalah kebenaran. Tanpa mereka sadari, mereka telah mengakui bahwa Yesus memang Raja — bukan hanya bagi orang Yahudi, tapi bagi seluruh dunia.

Di tengah olokan itu, dua suara terdengar dari salib di samping-Nya. Satu penjahat ikut menghina, sementara yang lain mulai menyadari siapa yang sedang disalib di tengah mereka. Dengan hati yang hancur, ia berkata,

“Kita memang pantas menerima hukuman ini, tetapi Ia tidak berbuat salah apa pun.”

Dalam kejujuran dan penyesalan itu, penjahat tersebut berani beriman,

“Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja.”

Dan Yesus menjawab dengan kasih yang tak terbayangkan,

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Betapa luar biasanya kasih dan pengampunan Yesus. Di tengah penderitaan-Nya, Ia masih membuka pintu keselamatan bagi seorang berdosa yang jujur mengakui kesalahannya.

Kita pun diundang untuk memiliki hati seperti penjahat itu — hati yang berani mengakui dosa, menyesal, dan percaya bahwa Yesus sanggup mengampuni.
Tak ada dosa yang terlalu besar bagi-Nya, asalkan kita datang dengan kejujuran dan kerendahan hati.

Yesus adalah Raja yang penuh kasih. Ia tidak hanya berkuasa, tetapi juga rela mengampuni.
Pengakuan yang jujur membuka jalan bagi pengampunan dan hidup yang baru di dalam Dia.

Share:

Renungan Harian: Tangisilah Dirimu Sendiri

📖 Bacaan Alkitab:

Lukas 23:27–28

“Sejumlah besar orang mengikuti Yesus; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: ‘Hai putri-putri Yerusalem, janganlah menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu.’”

🌿 Renungan

Dalam perjalanan menuju Golgota, Yesus yang sudah lemah dan penuh luka diiringi oleh perempuan-perempuan Yerusalem. Mereka menangis melihat penderitaan yang menimpa-Nya — tubuh yang berlumur darah, langkah yang tertatih di bawah beban salib. Hati mereka hancur oleh belas kasihan, namun mereka tak kuasa berbuat apa-apa.

Namun di tengah tangisan itu, Yesus justru berhenti dan berkata,

“Janganlah menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri.”

Kata-kata ini begitu lembut, tetapi juga tajam dan penuh makna. Yesus tidak menolak belas kasihan mereka, tetapi Ia ingin mengarahkan air mata mereka ke tempat yang lebih tepat — bukan pada penderitaan-Nya, melainkan pada keadaan rohani mereka sendiri.

Yesus tahu bahwa salib bukan akhir, melainkan jalan menuju keselamatan. Ia sedang menjalankan rencana kasih Bapa untuk menebus dunia. Tetapi bangsa Israel, dengan hati yang keras dan penuh kesombongan, justru menolak Dia. Itulah yang sesungguhnya perlu ditangisi — dosa, keangkuhan, dan ketidaktaatan manusia.

Sahabat, sering kali kita pun menitikkan air mata atas hal-hal duniawi: kesedihan, kehilangan, atau kegagalan. Tetapi jarang sekali kita menangisi dosa kita sendiri — sikap hati yang jauh dari Tuhan, keangkuhan yang membuat kita merasa benar, atau kebiasaan berdosa yang kita biarkan tumbuh dalam diam.

Yesus memanggil kita hari ini dengan suara kasih yang sama:
“Jangan hanya menangisi penderitaan-Ku. Tangisilah dirimu — akui dosamu, bertobatlah, dan biarkan Aku memulihkanmu.”

Air mata pertobatan adalah tanda hati yang hidup. Ketika kita sungguh menyesal dan berbalik kepada Tuhan, Ia menyambut kita dengan pengampunan dan kasih yang tidak pernah habis.

Jadi, mari kita tangisi bukan karena rasa bersalah yang menekan, tetapi karena kasih Allah yang begitu besar telah menyelamatkan kita. Biarlah tangisan kita menjadi awal dari perubahan hidup, langkah menuju pemulihan, dan wujud kasih yang sejati kepada Tuhan Yesus yang sudah menebus kita dengan darah-Nya.

💭 Perenungan Pribadi

  • Apakah aku lebih sering menangisi penderitaanku, daripada dosa-dosaku sendiri?

  • Adakah bagian dalam hidupku yang masih keras dan belum mau diubahkan oleh Tuhan?

  • Hari ini, apa langkah kecil yang bisa aku ambil untuk bertobat dan mendekat kepada Yesus?

🙏 Doa

Tuhan Yesus yang penuh kasih,
sering kali aku lebih sibuk menangisi hal-hal duniawi dan melupakan dosa-dosaku sendiri. Ampunilah aku, Tuhan. Lembutkan hatiku agar mau menangisi dosaku dan berbalik kepada-Mu.
Terima kasih karena Engkau sudah menanggung salib dan membuka jalan keselamatan bagiku.
Biarlah setiap air mata yang jatuh bukan karena keputusasaan, tetapi karena syukur dan pertobatan yang lahir dari kasih-Mu.
Dalam nama Yesus aku berdoa,
Amin.

Share:

Tidak Memiliki Kesalahan

“Tiga kali Pilatus berkata, ‘Kejahatan apa yang telah dilakukan orang ini? Aku tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya.’

Kata-kata itu bukan hanya pengakuan seorang pemimpin, tetapi juga penegasan kebenaran: Yesus benar-benar tidak bersalah.

Bahkan Raja Herodes pun tak mendapati kesalahan pada-Nya. Semua bukti menunjukkan bahwa Yesus tidak layak dihukum mati. Namun, tekanan dari para imam kepala dan ahli Taurat begitu kuat. Mereka berteriak meminta kematian Yesus — dan Pilatus akhirnya menyerah. Ia membebaskan Barabas, seorang pemberontak dan pembunuh, tetapi menyerahkan Yesus kepada kehendak mereka.

Di sinilah tampak kelemahan Pilatus sebagai pemimpin. Ia tahu apa yang benar, tetapi ia tidak berani mempertahankannya. Demi menjaga jabatan dan ketenangan politiknya, ia menutup mata terhadap keadilan. Ia memilih mengikuti arus suara orang banyak daripada mengikuti suara hati nuraninya.

Yesus — yang benar dan tak bercela — akhirnya harus menanggung akibat dari keputusan yang tidak adil itu. Ia dihukum mati bukan karena kesalahan-Nya, melainkan karena dosa manusia. Namun justru lewat ketidakadilan itulah, rencana keselamatan Allah dinyatakan.

Yesus rela menanggung hukuman yang bukan milik-Nya, supaya kita yang berdosa boleh dibenarkan. Bila Ia memiliki kesalahan, Ia tak mungkin bisa menjadi Penebus kita. Tapi karena Ia suci dan sempurna, pengorbanan-Nya sah untuk menebus dosa seluruh manusia.

Ketika kita merenungkan hal ini, kita diingatkan untuk hidup dalam kebenaran, bukan dalam kompromi.
Jangan sampai kita menjadi seperti Pilatus — tahu yang benar, tetapi takut untuk menyatakannya.
Katakan ya jika itu benar, dan tidak jika itu salah.

Yesus telah memberi teladan: yang tidak bersalah rela menanggung kesalahan, supaya kita menjadi benar di hadapan Allah.

Share:

Musuh Jadi Sahabat

Dalam dunia ini, persahabatan sering dibangun karena kepentingan. Ketika ada tujuan yang sama, musuh pun bisa menjadi sahabat. Begitulah yang terjadi antara Pilatus dan Herodes.

Keduanya sebenarnya tidak akur, tetapi demi kepentingan politik—untuk menyingkirkan Yesus—mereka bekerja sama. Pilatus tidak menemukan kesalahan pada Yesus, namun karena tekanan dan ketakutan akan kehilangan dukungan rakyat, ia memilih jalan aman. Herodes pun ikut mempermainkan Yesus dan menjadikannya bahan olok-olok. Akhirnya, dua orang yang semula bermusuhan menjadi sahabat karena sama-sama ingin menyingkirkan Yesus.

Yesus tahu hati mereka. Ia tidak melawan, tidak membalas, melainkan tetap diam dan taat pada kehendak Bapa. Ia tidak menaruh dendam kepada mereka yang bersekongkol melawan-Nya. Justru dari sikap-Nya, kita belajar arti sahabat sejati—yang rela memberi diri, bahkan mengorbank

Share:

Mengenal dengan Sungguh-sungguh

Kita bisa mengenal seseorang dari kebiasaannya, tapi belum tentu tahu isi hatinya. Begitu juga dalam hal mengenal Yesus. Banyak orang tahu tentang Yesus, tapi tidak sungguh-sungguh mengenal-Nya.

Para imam dan ahli Taurat tahu tentang nubuat Mesias, tapi ketika Yesus hadir di hadapan mereka, mereka menolak. Mereka mencari kesalahan, bukan kebenaran. Mereka menginginkan Mesias yang sesuai harapan mereka—pemimpin politik, bukan Juruselamat dari dosa.

Yesus tahu isi hati mereka. Ia tidak perlu menjawab semua tuduhan, sebab Ia tahu bahwa hati mereka tertutup. Namun, di tengah penolakan, Yesus tetap menunjukkan siapa diri-Nya: Anak Allah yang datang menebus manusia. Ia tidak membela diri, karena misi-Nya bukan untuk menang dalam perdebatan, melainkan untuk menyelamatkan.

Yesus juga mengenal hati kita. Ia tahu kapan kita sungguh percaya, dan kapan iman kita hanya di bibir. Mengenal Yesus dengan sungguh-sungguh berarti percaya penuh kepada-Nya—bukan hanya tahu tentang Dia, tetapi hidup dalam kehendak-Nya setiap hari.

Hari ini, mari kita renungkan: sudahkah kita mengenal Yesus lebih dalam? Atau baru sekadar tahu nama-Nya?


🙏 Doa:
Tuhan Yesus, Engkau mengenal isi hati kami. Ampuni kami bila selama ini kami hanya tahu tentang-Mu, tapi belum sungguh mengenal-Mu. Ajarlah kami untuk semakin dekat, semakin percaya, dan semakin mengasihi-Mu setiap hari.
Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.