Renungan Harian "Pembalasan Bukan Hakmu"
Pembalasan Bukan Hakmu
Yosua 10
Dibohongi itu menyakitkan. Hati terasa dikhianati. Secara manusiawi, ketika orang yang pernah menipu kita datang meminta tolong, respons yang muncul bisa saja: “Rasakan sendiri akibatnya.”
Namun, itulah yang tidak dilakukan Yosua.
Ketika orang Gibeon—yang sebelumnya memperdaya Israel (Yosua 9)—memohon pertolongan karena dikepung lima raja Amori (ay.5–6), Yosua tidak menolak. Ia tidak mengungkit masa lalu. Ia tidak menunda bantuan. Sebaliknya, ia segera berangkat bersama seluruh tentaranya (ay.7).
Mengapa?
Karena baginya, perjanjian yang telah dibuat di hadapan TUHAN tetaplah perjanjian. Integritas lebih penting daripada rasa sakit pribadi. Dan lebih dari itu, Yosua percaya pada janji penyertaan Tuhan. Tuhan sendiri menegaskan, “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyerahkan mereka ke dalam tanganmu.” (ay.8).
Kemenangan demi kemenangan yang dicatat dalam pasal ini bukan terutama tentang kehebatan militer Israel, melainkan tentang Tuhan yang berperang bagi umat-Nya. Bahkan Tuhan membuat matahari dan bulan seakan berhenti, menunjukkan bahwa kuasa-Nya melampaui hukum alam.
Di sini kita melihat dua hal penting:
-
Integritas di atas emosi.
Yosua tidak membiarkan luka masa lalu menentukan tindakannya. -
Percaya bahwa Tuhan yang membela.
Ia tidak perlu membalas, karena Tuhanlah yang berperang.
Sering kali kita merasa perlu membalas supaya keadilan ditegakkan. Namun kisah ini mengingatkan: pembalasan bukan hak kita. Ketika kita memilih setia pada komitmen dan menyerahkan pembelaan kepada Tuhan, kita sedang memberi ruang bagi Allah untuk bekerja.
Tidak mudah membantu orang yang pernah menyakiti kita. Tetapi sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk hidup melampaui reaksi spontan. Kita dipanggil menjadi perpanjangan tangan Tuhan—bahkan kepada mereka yang pernah bersalah kepada kita.
Biarlah hidup kita tidak digerakkan oleh dendam, melainkan oleh iman kepada Allah yang berdaulat. Dia melihat. Dia tahu. Dan Dia yang berperang bagi umat-Nya.
Doa
Tuhan, ajarku untuk tidak dikuasai oleh keinginan membalas. Beri aku hati yang berintegritas dan iman yang percaya bahwa Engkaulah yang membela dan berperang bagiku. Pakailah aku menjadi alat-Mu untuk menolong dan memberkati orang lain. Amin.
Renungan Harian "Anugerah yang Manusiawi"
Anugerah yang Manusiawi
Yosua 9
Banyak keputusan dalam hidup diambil tanpa sungguh-sungguh bertanya kepada Tuhan. Atau kita bertanya, tetapi ketika tidak ada jawaban yang jelas, kita menafsirkan perasaan atau pikiran tertentu sebagai suara Tuhan. Akhirnya, keputusan lebih banyak lahir dari tafsir kita sendiri daripada dari penantian yang sabar akan kehendak-Nya.
Dalam Yosua 9, kita dapat bersimpati kepada Yosua. Ketika raja-raja bangsa Kanaan bersatu melawan Israel, orang Gibeon justru memakai siasat. Mereka berpura-pura datang dari negeri yang jauh, membawa roti kering dan kantong anggur yang usang, agar Israel mengira mereka bukan bagian dari tanah yang harus ditaklukkan.
Teks itu menyatakan dengan jelas: “Orang-orang Israel mengambil bekal mereka, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN.” (ay.14). Di situlah letak persoalannya. Bukan pada kecerdikan orang Gibeon semata, tetapi pada kelalaian Israel untuk mencari wajah Tuhan.
Yosua lalu mengikat perjanjian damai dengan mereka atas nama TUHAN. Secara manusiawi, keputusan itu masuk akal. Secara rohani, ada langkah yang terlewat: bertanya kepada Allah.
Namun yang menarik, kita tidak melihat Tuhan murka secara langsung kepada Israel dalam bagian ini. Bahkan dalam pasal berikutnya, Tuhan tetap menyertai Israel ketika mereka harus membela Gibeon dari serangan raja-raja lain. Di sini kita melihat sesuatu yang indah: Allah yang penuh anugerah tetap bekerja di tengah keputusan manusia yang tidak sempurna.
Lebih jauh lagi, Israel tidak membatalkan perjanjian itu ketika mengetahui bahwa mereka telah tertipu. Mereka tetap setia karena perjanjian itu dibuat di hadapan TUHAN. Mereka takut akan Allah yang setia menepati janji-Nya. Karena Allah setia, mereka pun belajar setia.
Dari kisah ini kita belajar dua hal penting:
-
Kita dipanggil untuk melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan.
-
Ketika kita sudah terlanjur salah langkah, anugerah Tuhan tetap menyertai dan menuntun kita bertumbuh.
Setiap keputusan adalah bagian dari perjalanan iman. Tidak semua keputusan kita sempurna. Namun Allah melihat hati yang rindu taat. Ia tidak membuang kita ketika kita keliru. Ia mendidik, membentuk, dan menumbuhkan kita melalui proses itu.
Mari belajar untuk lebih peka mencari kehendak Tuhan. Dan ketika kita menyadari kesalahan, mari tetap bertanggung jawab dan setia pada komitmen yang telah kita buat di hadapan-Nya.
Doa
Tuhan, ajarku untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Beri aku hati yang mau mencari kehendak-Mu lebih dahulu. Dan ketika aku keliru, tolong aku bertumbuh dalam anugerah-Mu dan tetap setia pada komitmen yang telah kuucapkan. Amin.
Renungan Harian "Bukan PHP (Pemberi Harapan Palsu)"
Bukan PHP (Pemberi Harapan Palsu)
Dalam masa sulit, kita mudah mengucapkan janji. “Kalau Tuhan menolongku keluar dari masalah ini, aku akan lebih setia.” “Kalau usahaku berhasil, aku akan lebih banyak melayani.” Namun ketika keadaan sudah membaik, janji itu perlahan menghilang dari ingatan.
Yosua tidak seperti itu.
Setelah kemenangan atas Ai, Yosua melakukan sesuatu yang mungkin dianggap tidak mendesak secara militer: ia membangun mezbah bagi Tuhan dan membacakan seluruh hukum Taurat di hadapan umat. Ia melakukan apa yang dahulu diperintahkan Musa. Padahal Musa sudah tiada. Tidak ada lagi yang “mengawasi”. Namun Yosua tetap setia.
Ia tidak melupakan pesan yang pernah diterimanya. Ia tidak memilih jalan praktis. Ia tidak menjadi pemimpin yang hanya pandai berjanji, tetapi lalai menepati.
Sikap Yosua mencerminkan karakter Tuhan sendiri—Allah yang tidak pernah memberi harapan palsu. Apa yang Ia janjikan, Ia genapi. Kesetiaan Tuhan menjadi dasar bagi kesetiaan umat-Nya.
Menariknya, Yosua tidak hanya setia secara pribadi. Ia memastikan seluruh umat mendengar firman Tuhan—tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan orang asing di tengah mereka. Ia tahu bahwa keberhasilan bangsa itu tidak bergantung pada kekuatan militer, tetapi pada ketaatan kepada firman.
Renungan ini mengajak kita bertanya:
Apakah kita mudah berjanji kepada Tuhan dan sesama, tetapi lambat menepatinya?
Kesetiaan bukan soal dilihat atau tidak. Kesetiaan adalah soal integritas di hadapan Tuhan. Janji yang kita ucapkan seharusnya selaras dengan firman-Nya, dan ketika kita mengucapkannya, kita bertanggung jawab untuk menepatinya.
Hari ini mari kita belajar dari Yosua. Jangan menjadi pemberi harapan palsu—baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Biarlah hidup kita mencerminkan kesetiaan Allah yang lebih dahulu setia kepada kita.
Doa
Tuhan, ampunilah aku jika aku pernah lalai menepati janji. Ajarku memiliki hati yang setia dan berintegritas. Tolong aku hidup dalam terang firman-Mu dan setia melakukan apa yang telah kujanjikan sesuai kehendak-Mu. Amin
Renungan Harian " Jalan Tuhan Mustahil Ditebak"
Jalan Tuhan Mustahil Ditebak
Sering kali ketika Tuhan menolong kita dengan cara tertentu, kita berharap Ia akan selalu memakai cara yang sama. Jika dulu Ia menolong melalui seseorang, kita berharap orang itu lagi yang dipakai. Jika dulu masalah selesai secara ajaib, kita berharap mukjizat yang sama terulang.
Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: jalan Tuhan tidak pernah bisa ditebak.
Setelah kekalahan karena dosa tersembunyi, Israel kembali menghadapi kota Ai. Tuhan kembali menjanjikan kemenangan. Tetapi kali ini caranya berbeda. Tidak seperti di Yerikho, mereka tidak hanya berjalan mengelilingi kota. Tuhan memerintahkan mereka maju menyerang dengan strategi yang matang.
Yosua menyusun taktik perang. Ada penyergapan, ada perhitungan waktu, ada kecerdikan. Dan Tuhan memakai semua itu untuk memberi kemenangan.
Di sini kita belajar sesuatu yang penting:
Tuhan bisa bekerja secara ajaib tanpa usaha manusia, tetapi Ia juga bisa bekerja melalui kecerdasan dan usaha kita.
Karya Allah tidak meniadakan hikmat, kreativitas, atau kemampuan yang Ia sendiri tanamkan dalam diri kita. Justru kadang Tuhan memakai akal budi, pengalaman, dan strategi kita sebagai bagian dari rencana-Nya.
Itulah sebabnya kita tidak bisa membatasi Tuhan. Kadang Ia membuka jalan dengan mukjizat yang tidak masuk akal. Kadang Ia membuka jalan melalui proses, kerja keras, dan keputusan bijaksana.
Renungan ini mengajak kita bertanya:
Apakah kita sedang memaksa Tuhan bekerja sesuai pola yang kita inginkan?
Mungkin kita sedang menunggu “manna dari langit”, padahal Tuhan sedang memberi kita kemampuan untuk bekerja. Atau kita terlalu mengandalkan strategi sendiri tanpa mencari kehendak-Nya.
Yang jelas, Tuhan tetap berdaulat. Jalan-Nya lebih tinggi dari jalan kita. Cara-Nya lebih luas dari pemahaman kita.
Tugas kita adalah tetap taat, terus belajar, memperlengkapi diri dengan pengetahuan dan hikmat, serta peka terhadap pimpinan-Nya. Ketika Tuhan memilih memakai kemampuan kita, lakukanlah dengan setia. Ketika Ia memilih bekerja di luar dugaan kita, percayalah dengan rendah hati.
Karena pada akhirnya, bukan metode yang menyelamatkan kita—melainkan Tuhan sendiri.
Doa
Tuhan, ajar aku untuk tidak membatasi-Mu dengan pikiranku. Beri aku hikmat dan kemampuan untuk melakukan bagianku dengan setia. Tolong aku percaya pada jalan-Mu, meskipun aku tidak selalu memahaminya. Pimpin aku untuk taat dalam setiap langkah hidupku. Amin.















