Bacaan: Amsal 21:13 “Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.” Renungan: Melakukan sesuatu untuk menolong orang lemah bukanlah perkara mudah. Kesulitan itu sebenarnya tidak terletak pada kemampuan jasmani, apalagi untuk orang yang memunyai banyak harta benda. Kesulitan itu terletak pada motivasi untuk menolong, sebab menolong orang lemah, kecil kemungkinan untuk mendapatkan balas jasa darinya. Inilah yang membuat seseorang tergoda untuk terus mengabaikan orang lemah. Ingatlah, Allah yang empunya mereka adalah Allah yang sama yang mengizinkan kita memiliki harta benda. Jika kita tidak memerhatikan orang lemah, suatu ketika saat kita mengalami hal yang sama dengan mereka, maka Allah tidak akan menolong kita, seperti tertulis dalam Amsal 21:13: “Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.” Oleh sebab itu, sekalipun motivasi kita bukan untuk mendapat upah dari Allah, memerhatikan orang lemah merupakan tanggung jawab kita sebagai anak-anak Tuhan yang sudah lebih dulu ditolong oleh Allah. Mari kita lihat di sekitar kita, siapa yang dapat kita tolong. Tuhan memberkati. Doa: Yesus, penuhilah aku dengan roh belas kasihMu, agar aku dapat tergerak untuk melakukan suatu tindakan untuk menolong mereka yang lemah dan menderita sebagaimana Engkau telah lebih dulu mengasihi dan menolong aku. Yesus, jadikanlah hatiku seperti hatiMu. Amin.
Menyenangkan Hati Tuhan
Mazmur 147:1-20
“Tuhan senang kepada orang-prang yang takut akan Dia, kepada orang-prang yang berharap akan kasih setia-Nya” Mazmur 147:11
Perikop dari mazmur yang ditulis Daud adalah tentang kekuasaan dan kemurahan Tuhan. Dia akan menyatakan kuasaNya kepada orang-orang yang dikasihiNya. Begitu pula dengan kemurahanNya, semua disediakan bagi orang-oprang yang takut akan Dia. Yang menjadi tugas kita adalah bagaimana kita dapat menyenangkan hati Tuhan. Kalau kita perhatian di dalam Alkitab di awal-awal penciptaan manusia, Tuhan sempat menyesal telah menjadikan manusia, karena waktu itu perbuatan manuasia di bumi sangat jahat dan tidak lagi menghiraukan Tuhan, seperti tertulis: “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi di bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa ia telah menjadikan manusia di bumi dan hal itu memilukan hati-Nya.” (Kejadian 6:5-6). Bila kita perhatikan, bukankah keadaan sekarang ini tidak jauh berbeda? Kejahatan semakin merajalela di mana-mana dan moral manusia sudah sangat rusak seperti yang terjadi di zaman Nuh. Kalau waktu itu Tuhan menghukum manusia dengan air bah, saat ini pun Tuhan juga bisa menghukum dunia ini!
Kita punya kesempatan mengetuk pintu kemurahan Tuhan dan beruapa agar hatiNya disenangkan melalui kehidupan kita. Maka, “Bernyanyilah bagi Tuhan dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!” (Mazmur 147:7). Hati Tuhan akan senang bila kita senantiasa mau memuji dan bermazmur bagiNya dalam segala keadaan sebab Tuhan sangat menyukai pujian yang dinaikkan dengan hati tulus.
Tuhan sangat senang bila kita benar-benar menjadikanNya prioritas utama dalam hidup , yang berarti kita mengasihiNya lebih dari semua di dunia ini. Tanda dari orang yang mengasihi Tuhan adalah setia melakukan kehendakNya dengan sepenuh hati, dan jangan sekali-kali meninggalkanNya dalam keadaan apa pun, tetaplah melekat padaNya dan percayakan segenap hidup kita kepadaNya saja.
“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Hosea 6:6.
Jadikan hidup anda Menyenangkan hati Tuhan? . Siapkan menjadi alat kemuliaannya? Amin
MENGHINA PENCIPTA?
Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia. (Amsal 14:31)
Peraturan Daerah tentang Kesetaraan dan Pemberdayaan Difabel (2013) di Wonogiri, Jawa Tengah, menarik untuk dicermati. Menurut peraturan tersebut, orang yang terbukti menghina kaum difabel dapat dikenai denda sebesar 50 juta rupiah. Banyak pihak memberi apresiasi tinggi atas kebijakan ini. Diharapkan, hal itu berdampak positif dan menyadarkan orang untuk lebih menghargai kaum difabel.
Dalam perikop bacaan hari ini, sikap menghina dan menindas sesama diulang hingga dua kali (ay. 21, 31). Menunjukkan betapa rawannya umat Tuhan untuk bersikap tidak benar kepada sesama, terutama kepada orang yang lemah atau tidak sempurna secara fisik (difabel). Sikap menghina bisa berarti merendahkan, memandang rendah atau hina, menganggap tidak penting. Sebagaimana dinyatakan oleh Tuhan Yesus, sikap kita terhadap orang-orang seperti mereka memancarkan sikap kita terhadap Tuhan (Mat 25:40).
Tindakan menghina atau menindas orang lemah adalah penghinaan terhadap Sang Pencipta. Di sekitar kita, tidak sedikit orang hidup dalam kelemahan, miskin secara materi, atau tidak sempurna secara fisik (difabel). Sementara itu, tidak sedikit pula orang yang memperlakukan mereka dengan cara yang tidak patut, merendahkan, bahkan menghina dan menyepelekan. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memancarkan kasih Tuhan dengan mengasihi sesama, khususnya mereka yang lemah? Kiranya kasih-Nya memotivasi kita untuk memperlakukan sesama dengan benar, bukan karena takut hukuman atau denda. --Samuel Yudi Susanto /Renungan Harian
CARA KITA MEMPERLAKUKAN MANUSIA
MENUNJUKKAN SIKAP KITA KEPADA TUHAN.
SELALU ADA ALASAN UNTUK BERSYUKUR
“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (ayat 1)
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak hal yang kurang di dalam hidup ini karena memang hidup di dunia ini tidak ada yang sempurna. Namun jangan karena hal-hal yang kurang itu membuat kita buta akan hal-hal yang telah Tuhan berikan kepada kita yang sepatutnya membuat kita bersyukur kepada Tuhan. Kita bersyukur bukan semata-mata karena apa yang sudah Allah perbuat bagi hidup kita, tetapi jauh lebih dari pada itu, kita bersyukur kepada Allah karena alasan-alasan seperti yang diungkapkan di dalam bacaan Alkitab hari ini: ada tiga hal penting untuk selalu bersyukur
Yang pertama: Allah itu baik
Inilah alasan yang paling hakiki mengapa kita harus bersyukur kepada Tuhan. Bahwa pribadi Tuhan itu adalah baik adanya (ayat 1a). Dan tidak pernah Ia tidak baik di dalam kehidupan kita. Walaupun banyak hal yang tidak baik yang terjadi di dalam kehidupan kita, bukan berarti Allah menjadi tidak baik. Kebaikan-Nya di dalam kehidupan kita tidak pernah dipengaruhi oleh kondisi hidup kita. Kalau Anda mengalami kebaikan Allah di dalam hidup Anda, maka tidak ada alasan untuk tidak bersyukur.
Yang kedua Kasih-Nya Kekal Abadi
Allah adalah kasih bukan sekedar mengasihi (ayat 2). Dia bukan Allah yang pernah mengasihi tetapi yang senantiasa mengasihi. Kasih-Nya tidak pernah berubah sekalipun kondisi hidup kita berubah-ubah. Kemarin Ia telah mengasihi kita, dan sekarang juga tetap mengasihi kita dan besok Dia juga akan senantiasa mengasihi kita. Kasih Allah menjembut hidup kita di dalam memasuki setiap hari kehidupan kita dan kasih-Nya tidak pernah habis-habisnya setiap hari.
Yang ketiga Keajaiban yang diperbuat-Nya
“Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar!” (ayat 4) Dan keajaiban-keajaiban itu dirinci oleh pemazmur di dalam ayat 5-25, dimulai dari penciptaan Allah atas langit dan bumi sampai masalah keseharian kita. Semua hal di dalam hidup ini adalah hasil dari keajaiban Tuhan. Kita bisa bernafas, berjalan, makan dan minum, sekolah, bekerja, berkeluarga dan lain sebagainya semuanya karena keajaiban yang Ia telah lakukan di dalam kehidupan kita.
Kalau Anda mengalami kebaikan Allah di dalam hidup Anda, maka tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Amin.
PENGHARAPAN YANG MENGHIDUPKAN
IBRANI 10 : 23
“Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya, setia.”
Mengetahui dengan melihat adalah hal yang biasa bagi kita, tapi sebaliknya Mengetahui meski tidak melihat adalah hal yang sulit bagi kita. Bagi dunia, hal ini tidak masuk akal, sebab mengetahui tapi tidak dapat atau belum dapat melihat berarti adanya ketidakpastian. Bagi orang percaya, hal ini disebut sebagai Iman pengharapan. Pengharapan menjadi sesuatu yang berharga ketika kita belum melihat, dan kita tidak tahu kapan akan kita saksikan, namun kita tetap percaya hal tersebut akan terjadi suatu hari nanti di dalam hidup kita. Di dalam ke kristenan kita diajarkan untuk tetap berPengharapan akan yang baik yang akan kita terima dari Dia yang menjanjikanNya meskipun banyak tantangan yang kita hadapi untuk memenangkan Pengharapan tersebut, tidak perlu khawatir, sebab di dalam Tuhan tidak ada yang tidak pasti. Kita memiliki dasar yang kuat, yang telah diuji, dan bahkan sudah jelas menyatakannya kepada kita, saat Kristus mati di kayu salib, bangkit dan naik ke sorga. Pada hari ini kita diingatkan untuk senantiasa menghidupi ciri-ciri orang Kristen yang benar, yaitu yang senantiasa berperilaku positif dan berpegang pada janji Tuhan (tetap berpengharapan). Meskipun kita belum kunjung melihat tanda-tanda akan pekerjaanNya di dalam hidup kita. Ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah terlalu cepat dan tidak pernah terlambat. Asal kita tetap tekun berpegang pada pengharapan iman kita, maka Tuhan pun akan mengerjakan bagianNya, sebab Ia Allah yang setia. Berserahlah padaNya mulai dari sekarang!
DOA
Hanya padaMu sajalah ya Tuhan kami menggantungkan hidup dan harapan kami. Karna jika kami tetap setia kepadaMu Engkau akan memberikan apa yang telah Engkau janjikan sebagai jawaban dari Pengharapan kami. Amin
Sugeng Enjang Sugeng makaryo. Tanah sinarengan lan kaberkahan dening sangat Moho agung ugi sang roh Suci. Nuwun nuwun. Gusti mberkahi.











