Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

DIKUATKAN OLEH KUASA KEMULIAAN-NYA

2 Petrus 1:1-11
AYAT HAFALAN
Kolose 1:11
RENUNGAN 
Daftar nama orang berpengaruh selalu berubah setiap tahun. Tapi dari semua nama tersebut, ada satu nama yang tak pernah usang di sepanjang sejarah kehidupan, yaitu nama Yesus Kristus. Sampai detik ini pengaruh Yesus masih eksis dalam hidup setiap orang percaya, bahkan bisa dirasakan secara nyata. Jika Anda ditanya, apakah pengaruh Yesus di dalam hidup Anda? Tentu salah satunya adalah keselamatan yang kita peroleh. Namun, setelah menjadi orang percaya, seharusnya ada pengaruh yang secara nyata bisa kita rasakan dalam hidup kita secara pribadi. Seperti halnya dengan yang dirasakan oleh Rasul Paulus. Katanya, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2 Korintus 4:10). 
Salah satu pengaruh signifikan yang seharusnya dialami oleh orang percaya adalah bagaimana keilahian Yesus membuat kita kuat dalam menjalani hidup ini. Seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Kolose. Munculnya ajaran-ajaran palsu, yang hendak meruntuhkan dan menggantikan Yesus Kristus sebagai inti kepercayaan orang Kristen saat itu, tentu mengancam masa depan rohani mereka (Kolose 2:8). Paulus menyampaikan bahwa kuasa kemuliaan Kristus akan menguatkan mereka untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.” (Kolose 1:11). Begitu pula dengan kita, tantangan iman yang kita hadapi memang berbeda-beda, tetapi setiap kita memiliki satu kuasa yang sama, yaitu kuasa Kristus. Kuasa ilahi-Nyalah yang memampukan kita tekun dan sabar dalam menghadapi pencobaan apa pun. Kuasa ilahi-Nya jugalah yang telah memanggil, menolong kita untuk hidup saleh, supaya olehnya kita boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia, bahkan akan meneguhkan iman kita sampai kekekalan kelak (2 Petrus 1:3-4, 11). Kristus sendiri ketika hidup di dunia, dalam keterbatasan-Nya sebagai manusia, menghadapi berbagai-bagai pencobaan. Tetapi Yesus menang melalui semuanya, supaya kita di masa kini bisa kuat dan cakap menanggung setiap pencobaan, dengan bersandar kepada kuasa ilahi-Nya. [RS]

REFLEKSI DIRI 
1. Sudahkah Anda merasakan kuasa ilahi Kristus secara nyata dalam hidup Anda?
2. Melalui bacaan firman Tuhan ini, untuk apakah kuasa ilahi Kristus dianugerahkan kepada kita?
YANG HARUS DILAKUKAN
Dalam menghadapi tantangan iman, percayalah bahwa kuasa ilahi-Nya telah dianugerahkan kepada kita, sehingga kita boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Hiduplah di dalamnya. Ini
POKOK DOA
Tuhan Yesus, terimakasih karena kuasa ilahi-Mu telah menganugerahkan kepadaku segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh, agar aku boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, sehingga berhasil dalam pengenalanku akan Engkau. Dalam nama Yesus. Amin.


HIKMAT HARI INI
“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Yesus Kristus.” – Rasul Petrus
Share:

Pengharapan Dalam Penderitaan

Wahyu 1:1-8

dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya
- Wahyu 1:5

Magda Herzberger, penulis dan penyintas kamp konsentrasi Nazi, sangat menderita selama berada di dalam kamp. Ia menyaksikan kekejaman luar biasa tentara Nazi terhadap orang-orang Yahudi. Magda bersaksi bahwa yang memampukan ia tetap bertahan dan tidak bunuh diri adalah pengharapannya di dalam Allah. Ada relasi erat antara pengharapan dan kemampuan bertahan hidup.
Kitab Wahyu adalah kitab tentang pengharapan akan kemenangan Yesus Kristus. Pengharapan ini disampaikan kepada Rasul Yohanes untuk dituliskan kepada gereja-gereja yang sedang menderita. Saat itu Yohanes sudah tua dan dibuang ke pulau Patmos. Tuhan Yesus menguatkannya melalui penglihatan. Dia memerintahkan Yohanes untuk menuliskan berita pengharapan kemenangan Kristus kepada gereja-gereja di Asia Kecil yang menderita akibat penganiayaan dari kaisar-kaisar Romawi (khususnya Kaisar Domitian di akhir abad ke-1). Mereka butuh pengharapan agar mampu bertahan dan meraih kemenangan.
Wahyu 1:5 memuat beberapa kebenaran untuk orang-orang percaya yang sedang menderita. Pertama, Tuhan kita Yesus Kristus mengerti akan penderitaan kita sebab Dia juga telah menderita dan bahkan mati bagi kita. Kedua, Tuhan Yesus bangkit dan hidup. Dia yang telah mengalahkan maut, mengampuni dosa kita dan akan memberikan kemenangan kepada orang-orang percaya. Ketiga, Dia juga Tuhan yang berkuasa atas raja-raja bumi. Maka tanpa izin dari-Nya, penguasa dunia tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap kita.
Hari ini, orang-orang percaya juga mengalami berbagai penderitaan, entah karena penganiayaan, sakit penyakit, kesulitan ekonomi, dsb. Jika kita terpana pada diri sendiri dan kondisi sekeliling, kita akan berputus asa dan menyerah. Namun, jika kita mengarahkan mata pada pengharapan di dalam Yesus Kristus, Dia yang telah menderita, mati, dan bangkit serta berkuasa atas dunia ini, maka kita akan memperoleh kekuatan untuk bertahan dan menang atas penderitaan.
Refleksi Diri:
Apa pergumulan atau penderitaan yang sedang Anda hadapi? Adakah Anda tergoda untuk menyerah?
Apakah Anda sudah mengarahkan mata hati pada pengharapan di dalam Yesus Kristus agar tidak perlu berputus asa dalam penderitaan? Berdoalah kepada-Nya meminta kekuatan dan pengharapan.
"
Share:

Menghadapi Situasi Tidak Kondusif

Yeremia 1:14-19

Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!
- Yeremia 1:17

Pada tahun 2021, Taliban menguasai Afganistan. Di tengah pemberitaan ini, seorang reporter wanita datang meliput berita di sana. Meskipun situasi sedang tidak kondusif, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai reporter. Inilah yang juga Tuhan kehendaki dari anak-anak-Nya, tidak berputus asa dan menyerah akan panggilan-Nya meski di tengah situasi yang tidak kondusif.

Yeremia dipanggil bukan untuk situasi yang mudah, melainkan situasi yang jauh dari kondusif. Ia diutus Tuhan untuk memberitakan firman bukan kepada orang-orang yang mau mendengarkan firman dan melakukannya, melainkan mereka yang mau jalan sendiri, yang suka memberontak. Situasinya tidak mendukung, sebagian besar dari orang-orang tersebut berada di titik terendah kerohanian mereka. Hal lainnya dari panggilan atas Yeremia adalah tidak ada jaminan ia bakalan tidak terluka saat menjalankannya, sangat mungkin ia bisa cedera. Namun, kalau kita perhatikan, tidak ada situasi yang benar-benar kondusif saat melayani Tuhan. Pergumulan selalu silih berganti datang, tidak akan pernah berhenti masalah menghampiri hidup kita. Jikalau pelayanan hanya ditentukan oleh situasi, kita akan mudah sekali berubah arah dalam pelayanan.

Tuhan memahami situasi yang tidak kondusif tersebut sehingga Dia berkata, “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.” (ay.8). Panggilan Tuhan selalu dibarengi pemenuhan janji Tuhan, yaitu “Aku menyertai engkau”. Kata-kata ini terkesan klasik bagi orang Kristen, tetapi sering diabaikan. Kebangkitan Kristus menegaskan penyertaan yang tidak pernah luntur dan surut, bahwa Dia berjanji akan menyertai kita sampai akhir zaman.

Setiap anak Tuhan pasti akan selalu berhadapan dengan situasi yang tidak kondusif, apalagi kalau mengingat masa-masa pandemi. Tetap ingatlah selalu akan janji penyertaan Tuhan yang membuat ketakutan menjadi sirna. Tuhan memanggil kita untuk tetap berkarya dalam berbagai bidang kehidupan untuk kemuliaan-Nya dan supaya orang-orang mengenal Dia. Pelayanan bagi Tuhan begitu luas. Tuhan memanggil setiap kita secara unik dan Dia tidak mau kita menyerah pada keadaan. Tuhan menempatkan kita di zaman ini, di waktu ini, di situasi yang tidak kondusif, tetapi justru di tengah kondisi seperti inilah kita dipanggil.
Refleksi Diri:
Mengapa dalam situasi sulit sekalipun kita masih bisa tetap berkarya bagi Tuhan?
Apa yang akan tetap Anda lakukan bagi Tuhan meski situasi pelayanan Anda tidak kondusif?
"
Share:

Menembus Keterbatasan

Yeremia 1:6-10 Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. —Yeremia 1:9 P ernahkah Anda berpikir bagaimana perasaan orangtua saat melahirkan anak tanpa tangan dan kaki? Kenyataan ini dialami orangtua Nick Vujicic dan mereka berkata, “Anak saya tidak ada masa depan, ia tidak akan hidup seperti orang normal.” Inilah yang diceritakan Nick dalam bukunya, Life Without Limits, mengenai kondisi orangtuanya saat melihat keterbatasan fisiknya. Kita mungkin beruntung tidak punya keterbatasan fisik, tetapi kita seringkali memandang keterbatasan diri sebagai alasan untuk tidak melayani T uhan.
 Ketika T uhan menunjuk Yeremia menjadi nabi, ia langsung mengajukan keberatan, “Ah, T uhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (ay.6). Ini bukan alasan yang dibuat-buat, masuk akal. Yeremia memang masih muda, minim pengalaman, tetapi dipercayakan tugas yang berat. Mungkin Yeremia juga tidak punya kemampuan berbicara di depan umum, sedangkan ia harus menjadi juru bicara T uhan kepada bangsa Israel. Ia mungkin berpikir, bagaimana harus merangkai kata? Bagaimana kalau salah kata? Kita juga bisa mengajukan banyak keberatan yang cukup masuk akal di hadapan T uhan untuk melayani: Aduh Tuhan, aku di masa Covid ini banyak pergumulan; Tuhan usahaku juga lagi naik turun; Tuhan orang-orang yang dilayani tidak mudah juga.
 Jawaban T uhan atas keberatan Yeremia ada pada ayat emas di atas. T uhan menyentuh bagian yang Yeremia anggap paling lemah, yaitu kemampuan berbicaranya. Yeremia pasti dapat menjadi jubirnya T uhan, karena T uhan sendiri yang menaruh perkataan-Nya pada Yeremia. Melalui keterbatasan yang dipandang oleh Yeremia, justru dari situlah ia melihat kekuatan T uhan. T uhan juga berkata kepada Paulus, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2Kor. 12:9). Kasih karunia di dalam T uhan Yesus itu cukup buat anak-anak-Nya.
 T uhan tahu sekali setiap keterbatasan yang kita hadapi saat ini, baik di dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, termasuk pelayanan. Dia mau setiap kita bersandar pada kekuatan-Nya. Nick Vujicic dalam keterbatasan fisiknya mampu memberkati banyak orang lain. Hendaklah kita berkata seperti yang Nick ucapkan, “Karena saya ini ciptaan T uhan, didesain oleh T uhan, T uhan bisa memakai saya untuk melayani Dia.” T uhan Yesus mau kita menembus keterbatasan bersama-Nya, untuk menyaksikan kebesaran-Nya.
Refleksi Diri:
• Apa keterbatasan yang seringkali menjadi penghalang Anda untuk melayani T uhan?
• Apakah Anda sudah mendoakan agar dimampukan di tengah keterbatasan untuk melayani-Nya dengan maksimal?

"
Share:

Mimpi Yang Berubah

Yeremia 1:1-8 “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” —Yeremia 1:5 S atu kutipan dari penulis, Andrea Hirata, berbunyi, “Bermimpilah, karena T uhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” Indah sekali yah, bahwa ketika kita memiliki mimpi di masa depan, dikatakan T uhan memeluknya, mungkin Dia tidak mengabaikannya.

 Banyak orang mencapai apa yang diimpikan, tetapi tidak sedikit yang gagal meraih mimpinya. Mempunyai mimpi itu sah-sah saja, tetapi ingatlah T uhan tidak selalu menyetujui mimpi-mimpi kita. Dia punya cara membawa kita pada jalan yang tepat, untuk lebih efektif bagi-Nya. Mimpi yang tidak kesampaian juga dialami oleh Yeremia ketika T uhan memanggilnya.

 T uhan memanggil Yeremia sebagai nabi, padahal ia berasal dari keluarga imam. Ayahnya seorang imam, bahkan Anatot tempat kelahirannya adalah desa para imam (ay.1). Yeremia mungkin sudah punya impian untuk mengikuti jejak keluarganya. Imam dan nabi punya peran yang berbeda. Imam mewakili umat di hadapan Allah, berdoa untuk umat kepada Allah, dan mempersembahkan korban. Sedangkan nabi menyuarakan suara T uhan kepada umat. Berita baik atau buruk harus disampaikan secara tepat seperti yang dikatakan T uhan. 
Yeremia mengerti sekali panggilannya. Kalau boleh memilih, ia lebih nyaman menjadi imam daripada nabi.
  Namun, T uhan menjawabnya, “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.” (ay.7). T uhan tidak berkata, “Iya yah, mimpimu bukan jadi nabi. Yowes-lah saya cari orang lain.” T uhan tahu siapa yang dipilih-Nya, Dia tidak pernah salah. Panggilan T uhan mengajarkan Yeremia, sikap tunduk kepada T uhan. Sama seperti Kristus mengatakan diri-Nya adalah utusan Bapa, Dia datang dan taat kepada Bapa untuk menyelamatkan kita.
 Di masa pandemi yang lalu, mimpi-mimpi kita sepertinya berubah. Banyak hal di kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi. Namun, ingatlah T uhan jauh lebih baik merancang hidup kita daripada kita yang merancangnya. Marilah tetap melayani-Nya. Jika T uhan berkata, “T etaplah di pekerjaanmu sekarang,” janganlah pindah, tetaplah di sana bekerja sebaik mungkin. Mungkin saat ini juga T uhan berkata, “Belum saatnya engkau sekolah ke luar negeri,” tetaplah percaya pada jalan-Nya.
Refleksi Diri:
• Mengapa Anda perlu tetap taat pada jalan-Nya T uhan?
• Apa mimpi Anda yang mau dibawa ke hadapan T uhan pada saat ini? Apakah mimpi Anda sejalan dengan kehendak-Nya? Bawalah dalam doa.

"
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.