Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Kasih kepada Orang Tua

Orang tua adalah sosok penting bagi anak-anaknya. Mereka merawat, menjaga, mendidik, dan memenuhi segala kebutuhan anak dengan yang terbaik. Namun, mereka akan menua dan suatu hari nanti akan kembali kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, kewajiban anak-anak bukan hanya membahagiakan orang tua saat mereka hidup, tetapi juga mengurus kematian mereka dengan sepatutnya.

Kita melihat bagaimana Yusuf menyatakan kasih kepada orang tuanya. Pertama, ia menunjukkan kasih sayang dengan merebahkan dirinya, menangisi, dan mencium ayahnya (50:1).

Kemudian, ia menjalankan proses pengawetan jenazah ayahnya selama 40 hari dan berkabung selama 70 hari (50:2-3). Ia juga meminta dan mendapatkan izin dari raja untuk menguburkan jenazah ayahnya sesuai pesan terakhirnya (49:29-32, 50:4-6).

Terakhir, ia membawa jenazah ayahnya untuk dimakamkan di tanah Kanaan, di dalam gua di ladang Makhpela, meskipun lokasinya jauh (50:7-10, 12-13). Ia melakukannya bersama saudara-saudaranya dan seisi rumah ayahnya.

Apakah kita masih melihat kasih kepada orang tua dalam diri anak-anak zaman sekarang? Bagaimana dengan berita tentang anak-anak yang menelantarkan, bahkan melukai dan membunuh orang tua mereka? Masih adakah kasih kita kepada orang tua? Atau, apakah kasih kita penuh dengan kepura-puraan?

Kita dapat mengikuti teladan Yusuf yang mengasihi ayahnya dengan tulus. Sikapnya bukan sekadar luapan emosi atau kepura-puraan untuk mendapatkan simpati dan empati dari keluarga, pejabat istana, dan raja. Ia rela berkorban untuk mewujudkan kasih kepada ayahnya. Akibatnya, ia pun mendapat kasih dari banyak orang.

Kita harus mewujudkan kasih kepada orang tua kita dengan tulus, bukan sekadar kewajiban atau untuk mendapatkan simpati. Kasih kepada orang tua adalah hukum Allah yang kelima, dengan janji kehidupan yang panjang di tanah yang Tuhan berikan (Kel. 20:12). Kasih inilah yang seharusnya mengisi hidup kita dan membahagiakan orang tua kita.

Share:

Berkat, Teguran, dan Kutukan Masa Depan

Menjelang akhir hidupnya, Yakub memberikan berkat kepada setiap anaknya.

Sebagai seorang ayah yang bijaksana, Yakub memberkati anak-anaknya berdasarkan karakter dan perbuatan masing-masing, bukan berdasarkan kebencian, kemarahan, atau sikap pilih kasih. Dengan tulus, ia memanggil mereka, mengumpulkan mereka, dan menyampaikan proyeksi masa depan mereka satu per satu.

Pertama-tama, Ruben, Simeon, Lewi, dan Isakhar menerima teguran dan kutukan karena perilaku buruk mereka. Ruben kehilangan hak kesulungan (3-4), Simeon dan Lewi kehilangan tanah mereka (5-7). Isakhar diberkati sebagai pekerja keras, tetapi ia juga mendapatkan peringatan mengenai kemalasannya, yang akan mengakibatkan penderitaan karena perbudakan (14-15).

Kemudian, Yehuda, Zebulon, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Benyamin menerima berkat karena karakter mereka yang baik. Yehuda akan dipuji, memperoleh kemenangan dan kedudukan, bahkan Mesias akan datang melalui keturunannya (8-12). Zebulon akan diberkati sebagai saudagar (13), Dan akan mengadili bangsa-bangsa (16-18), Gad akan berhasil mengatasi serangan dalam hidupnya (19), Asyer akan hidup dalam kenikmatan dengan makanan mewah (20), Naftali akan tinggal di tanah yang sangat produktif (21). Yusuf, yang mengalami banyak kesengsaraan namun tetap optimis karena Tuhan menyertainya, akan menjadi berkat bagi banyak orang (22-26). Terakhir, Benyamin akan memperoleh keuntungan (27).

Orang yang memiliki karakter buruk dan berbuat jahat akan menerima teguran dan kutukan untuk masa depannya. Sebaliknya, orang yang memiliki karakter baik akan dihormati, diberi kemenangan dan kedudukan, mampu mengatasi berbagai masalah, dan terpenuhi segala kebutuhannya. Dari hidupnya yang diberkati, ia akan menjadi berkat bagi orang lain.

Mari kita doakan setiap orang Kristen yang terkasih dalam Kristus, termasuk orang tua dan anak-anak kita, agar dengan karakter dan perbuatan yang sejalan dengan kehendak Allah, kita dapat memiliki masa depan yang penuh berkat.

Share:

Indahnya Kehidupan Orang Beriman

Allah yang setia pasti menunjukkan kesetiaan-Nya kepada orang yang takut akan Dia. Hal ini dapat kita lihat dalam pemeliharaan-Nya terhadap Yakub.

Yakub, yang telah pergi ke Mesir, hidup selama 17 tahun di tanah Gosyen hingga mencapai usia 147 tahun (27-28). Ketika ajalnya mendekat, Yakub meminta Yusuf untuk bersumpah bahwa ia akan dibawa keluar dari Mesir dan dikuburkan di kuburan nenek moyangnya (29-30). Yusuf pun menyanggupi dan bersumpah seperti yang diminta Yakub (30-31).

Ketika penulis menyebutkan detail yang tampaknya sepele, sebenarnya ada hal penting yang ingin ditekankan. Mengapa dikatakan bahwa Yakub hidup di Mesir selama 17 tahun? Angka ini mengingatkan kita akan usia Yusuf ketika ia dijual ke Mesir (lih. Kej. 37). Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa Yusuf hidup bersama Yakub selama 17 tahun, dan sekarang Yakub hidup bersama Yusuf selama 17 tahun.

Ini menunjukkan anugerah Allah yang luar biasa bagi Yakub, yang kebahagiaannya adalah hidup bersama anak yang paling dikasihinya.

Selanjutnya, kita melihat bahwa Yakub tetap sangat beriman sampai akhir hidupnya. Ia meminta Yusuf bersumpah untuk menguburkannya di tempat Abraham dan Ishak dikuburkan di Kanaan. Ini menunjukkan bahwa Yakub benar-benar percaya bahwa keturunannya nanti pasti akan tinggal di Kanaan seperti yang telah Allah janjikan.

Keindahan kehidupan kita sebagai orang beriman bukan dilihat dari harta atau pencapaian kita, tetapi yang terutama adalah pemeliharaan Allah dalam hidup kita. Kisah yang sangat indah di akhir hidup Yakub ini menekankan betapa indahnya kehidupan orang beriman ketika menjalani hidup dengan iman sampai akhir.

Semoga dengan berpegang pada janji Allah, kita pun semakin memahami dan merasakan kesetiaan Allah dalam hidup kita. Semoga kita juga tetap dan bahkan semakin beriman hingga akhir hidup kita sehingga kita bisa menjadi kesaksian akan pemeliharaan-Nya bagi semua orang di sekitar kita.

Share:

Memikirkan Kehidupan Orang Banyak

Saat kita diberi kekuasaan besar, kita harus memikirkan kesejahteraan banyak orang. Semakin tinggi kekuasaan yang kita miliki, semakin besar tanggung jawab kita terhadap kesejahteraan banyak orang.

Pada masa kelaparan yang masih berlangsung, seluruh uang di tanah Mesir dan Kanaan digunakan untuk membeli gandum dari Yusuf, dan Yusuf membawa uang itu ke istana Firaun (14). Namun, kelaparan belum berakhir, sehingga rakyat kemudian menukarkan ternak mereka untuk mendapatkan makanan pada tahun itu (15-17).

Pada tahun berikutnya, rakyat meminta Yusuf untuk membeli tanah mereka agar mereka bisa mendapatkan makanan dan tetap hidup, serta memperoleh benih untuk ditanam sehingga seluruh tanah di Mesir menjadi milik Firaun (18-20). Yusuf kemudian meminta rakyat untuk mengerjakan ladang yang sudah menjadi milik Firaun dan memberikan seperlima hasilnya kepada Firaun, dan rakyat dengan senang hati melakukannya (23-26).

Meskipun rakyat Mesir memberikan ternak dan bahkan seluruh ladang mereka demi mendapatkan makanan dengan berat hati, mereka tetap rela karena tidak ada pilihan lain. Walaupun demikian, Yusuf memperlakukan mereka dengan baik, sehingga mereka hanya diminta untuk memberikan seperlima hasil panen kepada Firaun. Hal ini dipandang baik oleh rakyat karena mereka memahami bahwa Yusuf menyelamatkan hidup mereka.

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Yusuf adalah seorang pemegang kuasa yang memikirkan kehidupan orang banyak dan memperlakukan rakyat dengan baik.

Anugerah memang Allah berikan secara cuma-cuma. Namun, untuk setiap anugerah yang Allah berikan, Ia menuntut tanggung jawab. Semakin besar anugerah yang diberikan kepada kita, semakin besar tanggung jawab yang harus kita pikul. Oleh karena itu, jika kita menjadi orang berkuasa yang menentukan kesejahteraan banyak orang, kita harus semakin berhikmat agar kita dapat menjadi berkat bagi semakin banyak orang.

Share:

Menjadi Berkat bagi Orang Sekitar

Allah memberkati Abram agar melalui dirinya dan keturunannya, semua bangsa di muka bumi akan mendapat berkat (Kej. 12:3). Yusuf menjalankan perintah Allah ini sebagaimana yang terlihat dalam bacaan hari ini.

Sesuai dengan strateginya, Yusuf menempatkan keluarga Yakub di Gosyen dan memberitahukan Firaun bahwa mereka kini berada di sana (1). Saudara-saudaranya mengatakan, "Hamba-hambamu ini adalah para gembala kambing domba, baik kami maupun nenek moyang kami" (3). Mereka juga memohon agar diizinkan menetap di tanah Gosyen (4).

Firaun, yang sangat menyayangi Yusuf dan telah berjanji memberikan yang terbaik di tanah Mesir kepadanya (Kej. 45:18), menyetujui permintaan keluarga Yakub (5-6a). Bahkan, Firaun meminta Yusuf merekomendasikan saudaranya yang cakap untuk menjadi pengawas ternak Firaun (6b). Dengan demikian, Yusuf memelihara ayahnya, saudara-saudaranya, dan seluruh rumah tangga ayahnya dengan menyediakan makanan bagi setiap anggota keluarga (12).

Jelas terlihat bahwa karena Yusuf, seluruh Mesir mendapatkan berkat. Keluarga Yakub juga diberkati dan dipelihara sehingga tidak kekurangan makanan selama masa kelaparan yang panjang. Mereka bahkan menikmati kehidupan yang baik di Mesir.

Seperti yang dikatakan Allah kepada Abraham, yang juga berlaku bagi kita sebagai keturunan rohani Abraham, kita juga harus menjadi berkat bagi orang di sekitar kita. Berkat Allah tidak pernah hanya untuk kita atau keluarga kita saja, tetapi juga untuk "kepentingan bersama" (1Kor. 12:7). Setelah kita menerima dan menikmati semua berkat yang Allah berikan, jangan lupa untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Kini, mintalah kepada Allah untuk mengajarkan kita agar memahami apa yang Ia kehendaki untuk kita lakukan dengan semua bakat, talenta, dan kekayaan yang telah Ia limpahkan, sehingga kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.