Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Kepasrahan Diri Merangsang Pengakuan

📖 Lukas 23:44–47

Saat kegelapan menyelimuti seluruh Yerusalem, Yesus, Anak Allah yang sulung, menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa di surga. Peristiwa ini mengingatkan kita pada tulah terakhir di Mesir ketika anak-anak sulung dibunuh dan negeri itu berada dalam kegelapan (bdk. Kel. 11–12). Kini, Sang Terang Dunia berserah dalam kepasrahan total untuk mengalahkan maut dan menebus manusia.

“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (ay. 46)

Dalam kegelapan dunia dan keheningan surga, Yesus menunjukkan bahwa kepasrahan kepada Bapa adalah jalan menuju kemenangan. Demikian juga kita, saat menghadapi masa-masa kelam dalam hidup, dipanggil untuk belajar berserah. Ketika tanda-tanda pertolongan Allah belum tampak, dan suara-Nya terasa jauh, kita diajak untuk tetap memandang salib Kristus dan mempercayai rencana keselamatan-Nya.

📌 Kepasrahan yang Menggugah Orang Lain

Sikap berserah Yesus tidak hanya menunjukkan ketaatan-Nya, tetapi juga merangsang pengakuan iman dari orang lain. Kepala pasukan Romawi, yang menyaksikan peristiwa itu, akhirnya memuliakan Allah (ay. 47).

Demikian pula, dalam hidup kita, keteguhan iman di tengah penderitaan bisa menjadi kesaksian yang menggugah hati keluarga, sahabat, bahkan mereka yang belum mengenal Allah. Sikap pasrah yang penuh harap kepada Tuhan dapat menjadi alat bagi Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Menghasilkan pertobatan memang adalah karya Roh Kudus. Namun, Allah berkenan memakai hidup kita sebagai instrumen untuk menyatakan kebenaran-Nya. Berserahlah! Sebab dalam kegelapan, terang Kristus bersinar paling terang.

Share:

Memberi yang Terbaik

Allah menetapkan bahwa tidak semua milik umat dapat digunakan sebagai nazar. Ada hal-hal yang secara khusus sudah menjadi milik-Nya dan tidak boleh ditawar-tawar lagi.

“Segala persembahan persepuluhan... adalah milik TUHAN, itu kudus bagi TUHAN.” (ay. 30, parafrase)

Anak sulung, baik dari manusia maupun hewan, sudah menjadi milik TUHAN sejak semula (ay. 26). Begitu juga dengan milik yang sudah dipersembahkan secara khusus untuk TUHAN tidak boleh ditebus atau dijual kembali (ay. 28). Termasuk persepuluhan dari hasil panen atau ternak, semuanya adalah milik-Nya.

📌 Prinsip Memberi yang Tuhan Ajarkan

  1. Tuhan Layak Menerima yang Terbaik
    Tidak ada ruang untuk mempersembahkan sesuatu dengan asal-asalan. Persembahan kepada TUHAN, termasuk persepuluhan, harus diberikan dengan sikap hati yang benar — dengan sukacita dan hormat.

  2. Kita Memberi dari Apa yang Sudah Tuhan Beri
    Semua yang kita miliki berasal dari Allah. Ketika kita memberi, sesungguhnya kita sedang mengembalikan sebagian dari apa yang telah Ia percayakan kepada kita.

  3. Bukan Hanya Harta, Tetapi Hidup Kita Juga
    Persembahan sejati bukan hanya berupa materi. Allah rindu agar kita juga mempersembahkan hidup kita — waktu, tenaga, talenta, bahkan impian kita — bagi kemuliaan-Nya.

Share:

Harta yang Dipersembahkan dengan Benar


Allah tidak hanya mengatur nazar terkait manusia dan hewan, tetapi juga perihal harta benda seperti rumah dan ladang. Dalam hukum nazar ini, kita melihat bahwa Allah memanggil umat-Nya untuk mempersembahkan dengan penuh pertimbangan dan sikap hormat.

“Apabila seseorang menguduskan rumahnya untuk TUHAN… imam harus menentukan nilainya.” (ay. 14, parafrase)

Rumah yang dinazarkan akan dinilai oleh imam. Begitu pula ladang yang dipersembahkan, nilainya dihitung berdasarkan jumlah benih jelai dan dikaitkan dengan waktu menuju tahun Yobel. Nilai dan aturan ini tidak sembarangan, melainkan ditetapkan secara adil dan sesuai ketentuan TUHAN.

📌 Pelajaran Penting dari Peraturan Nazar

  1. Tuhan adalah Pemilik Segala Sesuatu
    Rumah, ladang, dan seluruh harta benda milik umat adalah milik TUHAN. Umat hanyalah pengelola yang dititipi. Oleh karena itu, saat kita bernazar, kita tidak boleh mempersembahkan dengan sembarangan. Setiap janji harus disampaikan dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan.

  2. Nazar Bukan Sekadar Ucapan
    TUHAN menilai kesungguhan hati kita dalam menepati janji. Membuat nazar bukanlah perkara ringan, karena mengandung konsekuensi jika diabaikan. Ia menuntut integritas dari umat-Nya.

  3. Memberi dengan Hati yang Tunduk dan Tulus
    Ketika kita memberikan sesuatu kepada TUHAN, entah berupa harta, waktu, atau hidup kita, lakukanlah dengan sikap hormat dan pengakuan bahwa semuanya berasal dari-Nya.

Share:

Janji yang Ditepati

Allah yang setia mengingatkan umat-Nya untuk tidak bermain-main dengan janji. Setiap nazar yang diucapkan di hadapan-Nya haruslah ditepati dengan sungguh-sungguh.

“Apabila seseorang mengucapkan suatu nazar yang menyangkut nilai manusia... maka haruslah engkau berpegang pada nilai yang telah ditetapkan TUHAN.”
(ay. 1–2, parafrase)

TUHAN mengatur secara rinci nilai persembahan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kondisi ekonomi seseorang (1–8). Tidak ada yang dikecualikan—baik kaya maupun miskin dapat bernazar kepada TUHAN, dan semuanya dihargai oleh-Nya.

Menariknya, ketika sesuatu yang telah dinazarkan ingin ditebus kembali, maka harus dibayar lebih tinggi dari harga semula (13, 19). Ini menekankan bahwa nazar bukanlah perkara ringan. TUHAN menghargai setiap janji yang diucapkan umat-Nya.

🌿 Kesetiaan yang Sejati

Allah bukan hanya menuntut janji, tetapi Dia juga adalah Pribadi yang selalu menepati janji-Nya. Sebagai umat-Nya, kita dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan yang sama.

Apakah kita pernah mengucapkan janji atau komitmen di hadapan TUHAN?
Apakah itu janji pelayanan, janji pertobatan, atau janji kesetiaan?

➡️ TUHAN tidak lupa. Ia menunggu kita untuk menepatinya.
Meski sulit, jangan menyerah. Karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Share:

Karunia Akan Kesempatan Baru

Imamat 26:27-46

Penghukuman dari TUHAN atas umat-Nya yang berpaling dari-Nya tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menghancurkan kehidupan bangsa Israel secara keseluruhan. Dalam ayat 31, TUHAN berfirman, “Kota-kotamu akan Kujadikan reruntuhan…”, dan di ayat 32, “Aku akan menjadikan negerimu sunyi sepi…” Ini menunjukkan betapa seriusnya akibat dari dosa, baik bagi pribadi maupun suatu bangsa, ketika umat menolak untuk taat dan bertobat kepada TUHAN.

Sekilas, bagian ini tampak penuh dengan murka TUHAN terhadap umat-Nya yang hidup dalam dosa. Namun, puji syukur karena firman TUHAN tidak berhenti di sana. Di balik teguran keras itu, ada harapan dan kabar baik: TUHAN tetap setia dan kaya dalam rahmat. Sekalipun kondisi umat-Nya sangat buruk, jika mereka dengan sungguh-sungguh mengakui dosa dan bertobat, TUHAN akan mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub (ayat 40, 42). Ia berjanji akan memulihkan tanah mereka, membawa kembali mereka dari pembuangan, dan kembali menjadi Allah bagi mereka (ayat 45).

Allah kita bukan sosok yang kejam atau gemar menghukum. Dia adalah Allah yang adil namun penuh kasih. Dia menerima setiap orang yang dengan tulus bertobat dan kembali kepada-Nya. Tidak peduli seberapa besar kesalahan kita atau sejauh apa kita telah menjauh dari-Nya, kasih dan kuasa-Nya mampu memulihkan kita. TUHAN menyediakan kesempatan kedua bagi siapa pun yang bersedia berubah dan memperbaiki hidupnya.

Mungkin hari ini Anda merasa terlalu berdosa, terlalu jauh tersesat, dan mulai meragukan apakah Allah masih mau menerima Anda kembali. Jangan takut! Tangan-Nya selalu terbuka bagi Anda. Ia rindu Anda kembali dalam pelukan kasih-Nya. Gunakanlah kesempatan kedua yang Ia berikan. Mari hidup dalam kasih dan kesetiaan kepada-Nya sampai akhir perjalanan hidup kita.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.