Pujian Ibadah GKKK Tepas | 9 November 2025
Renungan Harian : "Putus Hubungan dengan Fobia"
Putus Hubungan dengan Fobia
📖 Isi Renungan :
Pembunuh terbesar keharmonisan dan kedamaian adalah ketakutan yang tidak rasional. Banyak rumah tangga berantakan dan bangsa-bangsa berperang karena manusia memelihara pikiran fobia — ketakutan yang tidak beralasan, namun sangat berkuasa.
Bangsa Israel pernah menghadapi situasi serupa. Mereka harus melewati wilayah orang Amori menuju Tanah Perjanjian dari sebelah timur Sungai Yordan. Namun Raja Sihon, penguasa Hesbon, menolak memberi izin (ayat 30).
Nama Hesbon berasal dari kata khasyab yang berarti menghitung. Ironisnya, Raja Sihon justru gagal “menghitung.” Ia tidak menyadari bahwa kedatangan bangsa Israel dapat membawa keuntungan besar bagi kerajaannya — Musa bahkan berjanji akan membeli makanan dan air dari rakyatnya (ayat 28). Tetapi fobia telah menguasai hatinya. Ia memandang Israel bukan sebagai peluang, melainkan ancaman.
Alkitab mencatat bahwa Tuhan sendiri mengeraskan hati Sihon untuk memperlihatkan kuasa dan keadilan-Nya. Sihon menjadi contoh nyata betapa pikiran yang dikuasai ketakutan dapat menjerumuskan seseorang pada kehancuran.
Kisah ini mengajarkan dua hal penting:
-
Tuhan selalu membela umat-Nya yang sedang menunaikan misi-Nya.
-
Ketakutan yang tidak rasional adalah akar kehancuran.
Banyak orang Kristen masa kini juga dikuasai fobia — takut gagal, takut miskin, takut kehilangan kendali, atau bahkan takut melangkah dalam iman. Mereka membayangkan skenario buruk yang belum tentu terjadi, hingga kehilangan damai sejahtera.
Firman Tuhan menegaskan:
“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.”
(2 Timotius 1:7)
Hari ini, mari putuskan hubungan dengan roh ketakutan. Serahkan pikiran dan perasaan kita kepada Tuhan. Biarlah kasih-Nya memerdekakan kita, sebab,
“Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” (1 Yohanes 4:18a)
Dengan roh yang diperbarui, marilah kita hidup dalam keberanian dan ketaatan seperti generasi kedua bangsa Israel — berjalan dalam iman, bukan dalam fobia.
Renungan Harian : " Jangan Ambil Sekalipun Mampu "
Ada sebuah kisah modern yang menggambarkan hati manusia:
Seorang pelajar meretas sistem agen perjalanan hanya untuk mendapatkan tiket gratis. Ketika ditanya mengapa ia melakukannya, ia menjawab dengan jujur, “Karena saya mampu.”
Jawaban sederhana, tetapi mencerminkan kenyataan yang dalam — bahwa kuasa tanpa kendali akan menuntun pada kesalahan.
Perikop hari ini memperlihatkan dua hal menarik. Pertama, tentang bangsa-bangsa raksasa — Emim, Hori, Zamzumim, dan Awi — yang dulu mendiami tanah-tanah di sekitar jalur perjalanan Israel. Mereka adalah suku-suku kuat, namun semuanya telah dipunahkan oleh Tuhan. Kedua, meski Israel memiliki kekuatan besar dan janji kemenangan dari Tuhan, mereka dilarang merebut daerah-daerah tertentu. Tuhan telah menetapkan wilayah itu untuk bangsa lain.
“Jangan mengusik mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu sedikit pun dari tanah mereka.” (Ulangan 2:5, 9, 19)
Perintah ini menunjukkan prinsip ilahi yang sangat dalam:
Tuhan adalah pemilik segala bangsa dan segala tanah di muka bumi. Ia menetapkan batas dan porsi bagi setiap orang sesuai dengan hikmat-Nya. Tugas kita bukanlah merampas yang bukan milik kita, melainkan mengelola dengan setia apa yang telah Ia percayakan.
Namun, di situlah ujian sesungguhnya muncul.
Mentaati “jangan mengambil” terasa mudah ketika kita tidak berdaya. Tapi ketika kita mampu — ketika peluang terbuka, ketika kuasa ada di tangan, ketika tidak ada yang bisa menegur — di sanalah ketaatan diuji.
Berapa kali kita tergoda menggunakan posisi, pengaruh, atau kecerdasan kita untuk mendapatkan sesuatu yang sebetulnya bukan milik kita?
Berapa kali kita membeli sesuatu hanya karena iri dengan apa yang dimiliki orang lain?
Bangsa Israel diajar untuk menahan diri, meski mereka mampu menaklukkan. Begitu pula kita — iman yang matang bukan diukur dari apa yang bisa kita lakukan, tetapi dari apa yang kita pilih untuk tidak lakukan demi taat pada Tuhan.
Mari kita belajar bersyukur untuk bagian yang telah Tuhan tetapkan bagi kita.
Mungkin kecil menurut ukuran dunia, tapi cukup dalam pandangan Allah.
Dan lebih dari itu — cukup untuk membentuk kita menjadi raksasa-raksasa iman, bukan raksasa keserakahan.
“Jangan mengingini rumah sesamamu...” (Keluaran 20:17)
renuangan harian : Berdiam Diri dan Introspeksi
Ada saatnya rasa bersalah menuntun kita kepada pertobatan yang sejati, namun ada pula saat ketika rasa bersalah justru mendorong kita bertindak terburu-buru. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel. Setelah mereka menyadari kesalahan karena menolak kehendak TUHAN, mereka mencoba memperbaikinya dengan kekuatan sendiri — menyerbu ke pegunungan tanpa restu Allah. Akibatnya, mereka kalah dan hancur oleh tangan orang Amori.
Mereka mengira tindakan itu adalah bukti penyesalan, padahal sebenarnya itu hanyalah bentuk lain dari pemberontakan. TUHAN telah memerintahkan mereka untuk diam, menunggu, dan belajar dari kesalahan mereka. Tetapi mereka tidak sabar menantikan waktu Allah.
Musa ingin generasi baru belajar dari peristiwa ini: ada waktu untuk bergerak, tetapi juga ada waktu untuk diam. Ketika Tuhan menegur, yang Ia kehendaki bukanlah tindakan tergesa, melainkan hati yang tunduk dan mau diajar. Musa sendiri memberi teladan — ia menerima hukuman Tuhan dengan lapang dada, tanpa memberontak. Ia tahu bahwa kedewasaan rohani tumbuh dari kesediaan untuk berhenti melawan dan membiarkan Tuhan bekerja dalam diam.
Kadang, ketika kita berbuat salah, kita ingin menebusnya dengan tindakan cepat — memberi persembahan besar, berbuat amal, atau menunjukkan bakti dalam cara yang kelihatan. Namun, Tuhan tidak mencari upaya manusia untuk menebus kesalahan. Ia mencari hati yang hancur dan menyesal, yang bersandar penuh pada kasih karunia-Nya.
Mungkin Anda sedang berada dalam masa “diam” yang dipaksakan Tuhan. Jangan anggap itu hukuman tanpa kasih. Justru di sanalah Tuhan sedang menata ulang hidup Anda — mendidik, memurnikan, dan mempersiapkan langkah yang baru.
“Untuk segala sesuatu ada masanya...” (Pkh. 3:1)
“... tidak untuk selama-lamanya Ia menyimpan amarah.” (Mzm. 103:9)
Berdiam dirilah di hadapan Tuhan. Biarkan Dia berbicara, dan jangan terburu-buru menjawab. Dalam keheningan, kasih-Nya bekerja jauh lebih dalam daripada yang dapat kita lakukan dengan segala usaha kita.
Renungan Harian : " Tetap Taat kepada Tuhan Walau Dihukum "
Tetap Taat kepada Tuhan Walau Dihukum
Musa menggambarkan betapa beratnya hukuman bagi mereka yang meragukan Tuhan. Sepuluh pengintai yang menebar ketakutan mati di padang gurun. Seluruh generasi pertama Israel tidak diizinkan masuk ke Tanah Perjanjian — hanya Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun yang diperkenankan menikmati janji Tuhan.
Namun, di antara mereka, ada satu nama yang juga tidak lolos: Musa sendiri. Bukan karena ia tidak beriman, melainkan karena satu tindakan kecil yang tampak sepele — ia memukul batu di Meriba, padahal Tuhan hanya menyuruhnya berbicara kepada batu itu (Bil. 20:8, 12).
Bagi manusia, kesalahan itu mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi seseorang yang begitu dekat dengan Allah, ketaatan penuh adalah panggilan yang mutlak. Semakin besar kedekatan dan kepercayaan yang Tuhan berikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk taat tanpa syarat.
Musa menyadari itu. Ia tidak membela diri, tidak menawar hukuman Tuhan. Ia tetap melayani, tetap setia memimpin bangsa Israel — meski tahu bahwa kakinya takkan pernah menginjak tanah yang dijanjikan. Ia memilih untuk taat, bukan karena hadiah, tetapi karena kasih.
Refleksi Pribadi
Kita hidup di zaman di mana dosa sering dianggap ringan. Kejahatan bisa ditemukan di ujung jari, dan hati manusia perlahan kehilangan rasa gentar akan Tuhan. Bahkan di dalam gereja, banyak yang lupa bahwa murka Allah nyata, dan bahwa disiplin Tuhan adalah tanda kasih, bukan kebencian.
Musa memberi teladan luar biasa. Ia tidak memberontak ketika dihukum. Ia tidak mundur dari panggilan karena kecewa. Ia mengakui bahwa keadilan Tuhan itu suci dan sempurna. Ia tahu, lebih baik jatuh ke dalam tangan Tuhan daripada ke tangan manusia, sebab besar kasih setia-Nya.
Ketika Tuhan menegur atau mendisiplinkan kita, jangan lari. Jangan pahit. Datanglah pada-Nya dengan hati yang tunduk. Hukuman Tuhan bukan akhir, melainkan bentuk pemurnian. Ia ingin kita kembali hidup dalam ketaatan dan kasih yang sejati.
Doa
Tuhan, ajarku untuk tetap taat meski harus melalui teguran dan hukuman-Mu. Bila aku jatuh, biarlah aku jatuh ke dalam tangan kasih-Mu yang mendidik. Lunakkan hatiku agar tidak membantah, tetapi tunduk dan belajar berjalan kembali dalam kehendak-Mu. Amin.
📅 Renungan Harian | Gereja Kalam Kudus Tepas
Label (saran): Renungan Harian, Firman Tuhan, Ketaatan, Kasih Karunia, Ulangan















