Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

🕊️ Renungan Harian: Menepati Janji

Ilustrasi digital bergaya tradisional menggambarkan Musa berbicara kepada suku Ruben, Gad, dan Manasye yang bersiap berperang, dengan latar padang gurun dan cahaya keemasan bertuliskan “MENEPATI JANJI – ULANGAN 3:12–22

Ulangan 3:12-22 

Ada kisah yang begitu mengharukan tentang kesetiaan dalam perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian. Suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye telah mencapai tujuan awal mereka. Di tepi timur Sungai Yordan, di tanah yang subur, mereka menemukan kenyamanan yang mereka idamkan. Mereka telah menerima warisan mereka (ay. 12-13).

Bayangkanlah: Di satu sisi, ada ketenangan, keluarga, dan ternak yang aman di padang rumput mereka. Di sisi lain, saudara-saudara mereka di seberang Yordan masih harus berjuang, berdarah, dan berperang untuk mendapatkan bagian mereka. Secara naluriah, sangatlah mudah untuk menetap dan berkata, "Bagian kami sudah selesai."

Namun, di sinilah keindahan Integritas Rohani terpancar. Mereka ingat betul janji yang pernah mereka ikrarkan di hadapan Musa dan, yang terpenting, di hadapan TUHAN. Mereka berjanji akan menjadi barisan terdepan, membantu saudara-saudara mereka sampai setiap suku mendapatkan milik pusakanya (ay. 18-20; bdk. Bil. 32:16-23).

💔 Ketika Kenyamanan Menggoda Kesetiaan

Kisah ini adalah cermin bagi jiwa kita. Betapa seringnya kita membuat janji yang tulus—janji saat kita sedang dalam kesulitan, saat kita membutuhkan pertolongan-Nya, atau saat kita dipenuhi semangat yang menyala-nyala.

Namun, begitu berkat tiba, begitu kita menemukan 'tanah' kenyamanan kita—pekerjaan mapan, hubungan yang stabil, kesehatan pulih—godaan untuk melupakan janji itu menjadi begitu kuat. Kita bisa saja memilih untuk menikmati hasil, menutup mata terhadap kebutuhan saudara seiman, atau menarik diri dari medan pelayanan yang dulu kita rindukan.

Suku-suku ini mengajarkan kita sebuah kebenaran mendalam: Kenyamanan sejati tidak didapatkan dengan meninggalkan janji, melainkan dengan menunaikannya. Mereka peduli. Mereka ingat. Mereka memilih kesulitan di tengah pertempuran demi memenuhi janji, alih-alih menikmati kesenangan di tengah damai. Mereka menempatkan kesatuan dan kehendak Tuhan di atas kepentingan pribadi.

🛐 Panggilan untuk Merespons

Saudaraku, mari kita renungkan di hadapan-Nya:

  1. Apakah hari ini ada janji yang masih "tergantung" di hadapan Tuhan? Mungkin janji untuk mengampuni seseorang, untuk setia dalam persepuluhan, untuk menggunakan talenta Anda dalam pelayanan gereja, atau bahkan janji paling mendasar: mempersembahkan seluruh hidup Anda sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan (Roma 12:1).

  2. Apakah Anda membiarkan "tanah kenyamanan" pribadi Anda menghalangi Anda untuk membantu saudara-saudara Anda yang masih berjuang? (Ayat 18: maju berperang membantu saudara-saudara mereka).

  3. Ingatlah: Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang memegang janji-Nya dengan sempurna (Yosua 21:45). Ia ingat setiap perkataan yang pernah kita ucapkan di hadapan-Nya, dan Ia menantikan kita untuk bertumbuh dalam karakter dan integritas, mencerminkan kesetiaan-Nya sendiri.

Jangan biarkan kenyamanan merampas kemuliaan kesetiaan Anda. Mari kita ambil langkah iman hari ini.

Ajakan dan Doa Pribadi

Tantangan Iman: Sebutkan (dalam hati atau tuliskan) satu janji kepada Tuhan yang sudah lama tertunda. Ambil tindakan nyata hari ini, sekecil apa pun, untuk mulai menunaikannya.

Doa: "Tuhan Yesus, ampuni hamba jika kenyamanan telah membuatku lupa akan janji-janjiku kepada-Mu. Berikanlah aku hati yang peduli dan roh yang gagah perkasa seperti suku-suku itu, agar aku tidak hanya mencari milik pusakaku sendiri, tetapi juga berjuang bersama saudara-saudaraku. Mampukan aku untuk menunaikan setiap janji, besar maupun kecil, sebagai bukti syukur dan kasihku kepada-Mu. Amin."

Share:

Renungan Harian : " Tuhanlah Kekuatanku "

Ilustrasi digital bergaya tradisional menampilkan Musa berdiri di depan pasukan Israel yang siap berperang, dengan tangan terangkat memandang ke langit, melambangkan iman dan kekuatan dari Tuhan.

Tuhanlah Kekuatanku  

📖Ulangan 3:1–11

Perjalanan menuju Tanah Perjanjian tidak pernah mudah. Setelah menaklukkan Sihon, raja Hesbon, bangsa Israel harus menghadapi Raja Og dari Basan, seorang penguasa yang ditakuti karena tentaranya banyak dan benteng-bentengnya kuat. Di hadapan musuh sebesar itu, bangsa yang dulunya hanya budak di Mesir tentu merasa kecil dan tak berdaya. Namun Tuhan berkata kepada Musa:

“Jangan takut kepadanya, sebab Aku telah menyerahkan dia beserta seluruh tentaranya dan negerinya ke dalam tanganmu.” (Ulangan 3:2)

Janji itu menjadi kenyataan. Israel memenangkan peperangan yang secara manusia mustahil dimenangkan. Kekuatan mereka bukan berasal dari diri sendiri, melainkan dari Allah yang memimpin mereka.

Kemenangan ini menjadi pengingat bagi setiap kita bahwa Tuhanlah sumber kekuatan dan kemenangan umat-Nya. Tidak ada masalah, dosa, atau penderitaan yang terlalu besar bagi Dia. Sama seperti Israel, kita pun sering diperhadapkan pada situasi yang tampak mustahil. Namun, di tengah ketakutan dan kelemahan, Tuhan berkata kepada kita:

“Jangan takut, Aku menyertai engkau.”

Apakah Anda sedang berhadapan dengan tantangan besar hari ini?
Mungkin Anda lelah, takut, atau hampir menyerah. Namun ingatlah: kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan kita, tetapi pada Allah yang bekerja melalui kita.

Ketika kita memilih untuk percaya dan bersandar pada Tuhan, kita akan menemukan bahwa kasih-Nya lebih besar dari rasa takut kita, dan kuasa-Nya cukup untuk menopang langkah kita setiap hari.

Biarlah setiap pergumulan menjadi kesempatan untuk berkata,

“Bukan karena kuat dan gagahku, tetapi karena Roh-Mu, ya Tuhan.”
Dan ketika kemenangan itu datang, kita tahu bahwa semuanya berasal dari Dia — Tuhanlah kekuatan dan perisai kita.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 9 November 2025

Lirik

Mulia Sembah Raja Mulia

Mulia sembah Raja Mulia
Bagi Yesus puji hormat dan kuasa
Mulia agung KrajaanNya
Dari surga datang untuk sgnap umatNya

Dipuji ditinggikan namaNya Yesus
Hormat dan muliakanlah Yesus Raja
Mulia sembah Raja Mulia
Dia tlah mati dibangkitkan jadi Raja

Dipuji ditinggikan namaNya Yesus
Hormat dan muliakanlah Yesus Raja
Mulia sembah Raja Mulia
Dia tlah mati dibangkitkan jadi Raja

Kita Dipilih

verse 1
Kita dipilih
Dan dikuduskan
'Tuk memb'ritakan
Perbuatan-Nya
S'karang saatnya
Bangkit nyatakan
Yesuslah Raja Pemenang

Chorus
Untuk s'lamanya Dia berkuasa
T'lah dib'rikan bagi kita
Kerajaan yang ‘tak akan terguncangkan
Sampai s'lamanya pengharapan
Bergelora dalam kita
Kekal mulia nama-Mu Yesus Tuhan

verse 2
Kita berdiri
Dengan kuasa
S'bab Roh yang dahsyat
Beserta kita
S'karang saatnya
Bangkit nyatakan
Yesuslah Raja Pemenang

verse 3
S'karang saatnya
Bangkit nyatakan
Nama yang besar
Yesuslah Tuhan
S'karang saatnya
Bangkit nyatakan
Yesuslah Raja Pemenang

Kekuatan Hatiku

Kuasa-Mu nyata di dalam kelemahanku
Kekuatan-Mu menopang seluruh hidupku
Dari mana datang pertolonganku
Hanya Yesus pertolonganku

Engkaulah sumber kekuatan hatiku
Tempat persembunyianku
Engkau penolong di saat susahku
Tempat perlindunganku
Kau menara dan perisai di hidupku

Kuasa-Mu nyata di dalam kelemahanku
Kekuatan-Mu menopang seluruh hidupku
Dari mana datang pertolonganku
Hanya Yesus pertolonganku

Engkaulah sumber kekuatan hatiku
Tempat persembunyianku
Engkau penolong di saat susahku
Tempat perlindunganku

Kau menara dan perisai di hidupku
Kau perisai di hidupku
Engkaulah sumber kekuatan hatiku
Tempat persembunyianku

Engkau penolong di saat susahku
Tempat perlindunganku
Kau menara dan perisai di hidupku
Kau menara dan perisai di hidupku

FirmanMu Pelita Bagi Kakiku

Firman-Mu, p'lita bagi kakiku
Terang bagi jalanku
Firman-Mu, p'lita bagi kakiku
Terang bagi jalanku

Waktu ku bimbang
Dan hilang jalanku
Tetaplah Kau di sisiku
Dan takkan ku takut
Asal Kau di dekatku
Besertaku selamanya

Firman-Mu (firman-Mu), p'lita bagi kakiku
Terang bagi jalanku (terang bagiku)
Firman-Mu, p'lita bagi kakiku
Terang bagi jalanku (terangi jalanku)

Waktu ku bimbang
Dan hilang jalanku
Tetaplah Kau di sisiku
Dan takkan ku takut
Asal Kau di dekatku
Besertaku selamanya

Firman-Mu (firman-Mu), p'lita bagi kakiku
Terang bagi jalanku (terang bagiku)

Firman-Mu (firman-Mu), p'lita bagi kakiku
Terang bagi jalanku (terang bagiku)
Firman-Mu, p'lita bagi kakiku
Terang bagi jalanku (terangi jalanku)

Waktu ku bimbang
Dan hilang jalanku
Tetaplah Kau di sisiku
Dan takkan ku takut
Asal Kau di dekatku
Besertaku selamanya

Firman-Mu (firman-Mu), p'lita bagi kakiku
Terang bagi jalanku (terang bagiku)
Firman-Mu, p'lita bagi kakiku
Terang bagi jalanku (terangi jalanku)

Terang bagi jalanku (firman-Mu)
Terang bagi jalanku

Kerja Buat Tuhan

Kerja buat Tuhan selalu manise
Biar pikul salib selalu manise

Ayo kerja buat Tuhan
Sungguh senang-senange
Dipanggil Tuhan selalu manise
Membuang diri ke ladang Tuhan saudara
Serta Tuhan selalu manise

Kerja buat Tuhan selalu manise
Biar pikul salib selalu manise

Ayo kerja buat Tuhan
Sungguh senang-senange
Dipanggil Tuhan selalu manise
Membuang diri ke ladang Tuhan saudara
Serta Tuhan selalu manise
Share:

Renungan Harian : "Putus Hubungan dengan Fobia"

“Ilustrasi digital bergaya tradisional menggambarkan Musa berbicara dengan tegas di hadapan Raja Sihon di istana Hesbon, melambangkan keberanian melawan ketakutan yang tidak rasional.”

Putus Hubungan dengan Fobia

📖 Isi Renungan :

Pembunuh terbesar keharmonisan dan kedamaian adalah ketakutan yang tidak rasional. Banyak rumah tangga berantakan dan bangsa-bangsa berperang karena manusia memelihara pikiran fobia — ketakutan yang tidak beralasan, namun sangat berkuasa.

Bangsa Israel pernah menghadapi situasi serupa. Mereka harus melewati wilayah orang Amori menuju Tanah Perjanjian dari sebelah timur Sungai Yordan. Namun Raja Sihon, penguasa Hesbon, menolak memberi izin (ayat 30).

Nama Hesbon berasal dari kata khasyab yang berarti menghitung. Ironisnya, Raja Sihon justru gagal “menghitung.” Ia tidak menyadari bahwa kedatangan bangsa Israel dapat membawa keuntungan besar bagi kerajaannya — Musa bahkan berjanji akan membeli makanan dan air dari rakyatnya (ayat 28). Tetapi fobia telah menguasai hatinya. Ia memandang Israel bukan sebagai peluang, melainkan ancaman.

Alkitab mencatat bahwa Tuhan sendiri mengeraskan hati Sihon untuk memperlihatkan kuasa dan keadilan-Nya. Sihon menjadi contoh nyata betapa pikiran yang dikuasai ketakutan dapat menjerumuskan seseorang pada kehancuran.

Kisah ini mengajarkan dua hal penting:

  1. Tuhan selalu membela umat-Nya yang sedang menunaikan misi-Nya.

  2. Ketakutan yang tidak rasional adalah akar kehancuran.

Banyak orang Kristen masa kini juga dikuasai fobia — takut gagal, takut miskin, takut kehilangan kendali, atau bahkan takut melangkah dalam iman. Mereka membayangkan skenario buruk yang belum tentu terjadi, hingga kehilangan damai sejahtera.

Firman Tuhan menegaskan:

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.”
(2 Timotius 1:7)

Hari ini, mari putuskan hubungan dengan roh ketakutan. Serahkan pikiran dan perasaan kita kepada Tuhan. Biarlah kasih-Nya memerdekakan kita, sebab,

“Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” (1 Yohanes 4:18a)

Dengan roh yang diperbarui, marilah kita hidup dalam keberanian dan ketaatan seperti generasi kedua bangsa Israel — berjalan dalam iman, bukan dalam fobia.

Share:

Renungan Harian : " Jangan Ambil Sekalipun Mampu "

“Ilustrasi digital bergaya tradisional menampilkan Musa mengenakan jubah merah dan sorban krem, mengangkat jari telunjuknya dengan ekspresi tegas di padang gurun, di hadapan umat Israel yang mendengarkan dengan hormat. Di latar belakang tampak pegunungan berwarna keemasan, dengan teks besar bertuliskan ‘JANGAN AMBIL SEKALIPUN MAMPU’.”

 Jangan Ambil Sekalipun Mampu

Ada sebuah kisah modern yang menggambarkan hati manusia:
Seorang pelajar meretas sistem agen perjalanan hanya untuk mendapatkan tiket gratis. Ketika ditanya mengapa ia melakukannya, ia menjawab dengan jujur, “Karena saya mampu.”
Jawaban sederhana, tetapi mencerminkan kenyataan yang dalam — bahwa kuasa tanpa kendali akan menuntun pada kesalahan.

Perikop hari ini memperlihatkan dua hal menarik. Pertama, tentang bangsa-bangsa raksasa — Emim, Hori, Zamzumim, dan Awi — yang dulu mendiami tanah-tanah di sekitar jalur perjalanan Israel. Mereka adalah suku-suku kuat, namun semuanya telah dipunahkan oleh Tuhan. Kedua, meski Israel memiliki kekuatan besar dan janji kemenangan dari Tuhan, mereka dilarang merebut daerah-daerah tertentu. Tuhan telah menetapkan wilayah itu untuk bangsa lain.

“Jangan mengusik mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu sedikit pun dari tanah mereka.” (Ulangan 2:5, 9, 19)

Perintah ini menunjukkan prinsip ilahi yang sangat dalam:
Tuhan adalah pemilik segala bangsa dan segala tanah di muka bumi. Ia menetapkan batas dan porsi bagi setiap orang sesuai dengan hikmat-Nya. Tugas kita bukanlah merampas yang bukan milik kita, melainkan mengelola dengan setia apa yang telah Ia percayakan.

Namun, di situlah ujian sesungguhnya muncul.
Mentaati “jangan mengambil” terasa mudah ketika kita tidak berdaya. Tapi ketika kita mampu — ketika peluang terbuka, ketika kuasa ada di tangan, ketika tidak ada yang bisa menegur — di sanalah ketaatan diuji.

Berapa kali kita tergoda menggunakan posisi, pengaruh, atau kecerdasan kita untuk mendapatkan sesuatu yang sebetulnya bukan milik kita?
Berapa kali kita membeli sesuatu hanya karena iri dengan apa yang dimiliki orang lain?

Bangsa Israel diajar untuk menahan diri, meski mereka mampu menaklukkan. Begitu pula kita — iman yang matang bukan diukur dari apa yang bisa kita lakukan, tetapi dari apa yang kita pilih untuk tidak lakukan demi taat pada Tuhan.

Mari kita belajar bersyukur untuk bagian yang telah Tuhan tetapkan bagi kita.
Mungkin kecil menurut ukuran dunia, tapi cukup dalam pandangan Allah.
Dan lebih dari itu — cukup untuk membentuk kita menjadi raksasa-raksasa iman, bukan raksasa keserakahan.

“Jangan mengingini rumah sesamamu...” (Keluaran 20:17)

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.