Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Pelayanan dan Keteladanan Yesus

Yohanes 13:1-20 
Injil Yohanes ditulis dengan pengelompokan menjadi dua bagian. Pasal 1-12 berisi narasi-narasi pelayanan Yesus kepada publik yang jumlahnya makin hari makin bertambah. Kemudian, pasal 13-17 memuat pelayanan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pengajaran Yesus yang khusus dicatat oleh Yohanes pada bagian ini tidak terdapat di dalam Injil Sinoptik-Matius, Markus, dan Lukas. Pengajaran ini disampaikan pada sore sampai malam hari sebelum Yesus ditangkap di taman Getsemani.

Serangkaian perintah dan pengajaran yang disampaikan Yesus diawali dengan perbuatan nyata yang menunjukkan bahwa Ia mengasihi murid-murid-Nya, termasuk Yudas sekalipun, yang masih ada di tengah-tengah para murid. Yesus tahu bahwa saat-Nya untuk menyelesaikan misi penyelamatan manusia dari Allah akan segera tiba (1).

Yesus memperagakan pengajaran-Nya tentang kasih kepada murid-murid dengan bertindak layaknya seorang hamba yang membasuh kaki mereka satu per satu. Pembasuhan itu juga dimaknai sebagai pembersihan (4-5).

Seusai Yesus melakukan pembasuhan, Ia menegaskan agar murid-murid-Nya tidak meninggikan diri, tetapi mau merendahkan hati dan melayani sesama dengan tulus dan sungguh-sungguh, bahkan harus rela merendahkan diri untuk saling melayani satu sama lain.

Pelayanan dan keteladanan, itulah dua hal yang Yesus berikan kepada para murid, kepada orang banyak di masa itu, dan kepada kita hari ini. Ia melayani karena kasih dan dengan kasih. Ia memberikan teladan dalam hal saling mengasihi. Sebelum Yesus secara khusus meminta kepada para murid untuk melayani dan menjadi teladan bagi banyak orang, Yesus telah lebih dahulu melakukannya. Ia menunjukkan kasih-Nya dan memberikan kasih tanpa syarat dan tanpa batas. Ia melayani tanpa pandang bulu.

Nas ini mengingatkan kita untuk selalu meneladan Yesus yang adalah Tuhan kita dalam pelayanan dan kasih-Nya. Ia yang mulia dan tidak berdosa merendahkan diri-Nya untuk melayani dan membersihkan kita orang-orang berdosa. Amun
Share:

Hidup adalah Suatu Pilihan

Lukas 13:22-30
"Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat." (Lukas 13:24)
Masa Tua itu pasti hidup adalah pilihan. Bagi manusia. Jika Hidup ini adalah sebuah pilihan, kita harus memilih mana yang baik dan benar, mana yang berguna dan bermanfaat. Tidak ada istilah kompromi dalam menjalani hidup ini, sebab kita semua tahu bahwa tidak ada orang yang dapat berdiri di atas dua perahu dengan kedua kakinya sekaligus. Kita tidak bisa terus-menerus berada di persimpangan jalan, mau tidak mau kita harus membuat ketegasan dalam memilih! Keputusan yang kita ambil itulah yang akan menentukan apakah kita akan berhasil atau gagal dalam hidup ini.

Demikian dalam hidup kerohanian, kita juga dihadapkan pada pilihan hidup: taat atau tidak taat, berjalan menurut kehendak sendiri atau menurut kehendak Tuhan, berkat atau kutuk. Tuhan menegur jemaat di Laodikia oleh karena mereka "tidak dingin dan tidak panas" alias suam-suam kuku. "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Wahyu 3:16). Hidup di zaman ini seringkali kita diombang-ambingkan antara memilih kenikmatan dan kesenangan dunia yang sifatnya hanya sementara, ataukah tetap berjuang melawan keinginan daging, yang meski sakit tapi mendatangkan upah yaitu kehidupan kekal.

Pergumulan berat juga di alami oleh orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Lama, di mana Tuhan menghadapkan mereka pada pilihan hidup: "Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN,..." (Ulangan 30:15-16).

Jangan pernah terbuai dengan apa yang tampak indah menurut mata jasmaniah, tetapi pastikan bahwa yang kita pilih adalah pilihan yang benar dan sesuai kehendak Tuhan, "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7:13-14).
Pilihan hidup harus tegas! Jangan sekali-kali melakukan tindakan berkompromi! Amin
Share:

Menghormati Kristus Sang Raja

Yohanes 12:12-19 

Pernahkah kita menyambut datangnya seorang pembesar? Bagaimana seharusnya penyambutan yang kita lakukan? Apakah bentuk penyambutan itu telah menunjukkan sikap hormat kita kepadanya?

Nas ini merupakan penggenapan dari nubuat tentang Yesus sebagai Raja (13, 15). Orang-orang yang hadir dalam perayaan Paskah sangat gembira ketika mendengar bahwa Yesus sedang dalam perjalanan menuju ke Yerusalem (12). Figur yang selama ini hanya mereka dengar akan hadir di tengah-tengah mereka; karena itu, secara spontan mereka menyongsong Yesus (18). Ini dampak kebangkitan Lazarus yang menjadi peristiwa fenomenal.
Daun-daun palem yang mereka bawa adalah bentuk penghormatan istimewa yang biasa dilakukan untuk menyambut para pahlawan yang pulang dari medan pertempuran dengan membawa kemenangan. Para murid baru memahami peristiwa itu setelah kebangkitan Yesus (16). Teriakan "Hosana" bermakna "berilah kiranya keselamatan"; di dalam Kitab Mazmur ucapan ini merupakan pengharapan akan pertolongan dan keselamatan dari Allah. Seruan ini merupakan bentuk pengakuan bahwa Yesus adalah Sang Mesias.
Kita bersyukur karena karya Kristus telah digenapi dan kita dapat melihat semua karya itu. Ia adalah Raja dan segala kuasa ada di dalam tangan-Nya. Sebagai warga kerajaan Allah, marilah kita hidup taat kepada Raja kita. Menghormati Raja adalah kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai warga-Nya. Nilai-nilai ketaatan dan penghormatan kita semestinya menyatu dan tercermin di dalam diri kita, bukan hanya ketika kita beribadah, melainkan dalam seluruh kehidupan kita.
Jika kita menghormati Dia sebagai Raja kita, tentunya kita tidak mau mempermalukan nama-Nya dengan menentang perintah-Nya. Kejujuran dalam bekerja, ketulusan untuk memberi, kesetiaan kepada Allah dalam menjalani pergumulan, juga kasih dan sikap peduli kepada orang lain adalah sebagian kecil dari nilai-nilai yang harus dicerminkan sebagai warga kerajaan-Nya. Hosana! Amin
Share:

Pengakuan Terbesar

"Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." (Ayub 42:2)

Pengakuan Ayub tentang Allah setelah ia mendengar hal-hal besar, di luar kemampuan manusia yang telah dikerjakan Allah (Ayub 38-41).
Dimulai dari pengetahuan. Tanpa pengetahuan tidak ada pengakuan tentang kuasa Allah yang merupakan iman dari orang yang telah mengalami pergumulan kehidupan tentang kuasa Allah.
Hal pertama tentang Allah yang harus diakui ialah bahwa Ia bisa melakukan segala sesuatu, termasuk yang tidak masuk akal. Iman yang hanya sampai pada hal-hal masuk akal atau hanya terbatas pada hal-hal yang menakutkan belum memberi arti apa pun pada hidup.
Hal kedua tentang pengakuan akan Allah ialah bahwa rencana-Nya selalu berhasil. Rencana Allah sering tidak mudah untuk dipahami. Oleh karena itu, hidup ini bukanlah untuk terus bertanya tentang apa yang akan terjadi melainkan berserah kepada Allah walau apa pun yang terjadi sebab rencana Allah pastilah yang terbaik dan akan terlaksana.
Jika kesanggupan untuk melakukan segala sesuatu ada pada Allah dan bahwa rencana-Nya selalu berhasil, maka pada pihak manusia yang dibutuhkan hanyalah kerendahan hati di hadapan Yang Mahakuasa itu. 
"Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya." (Mazmur 62:12-13)
amin
Share:

Hak Istimewa

"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;" (Yohanes 1:12)

Ada perbedaan antara anak dan hamba atau pekerja. Salah satunya adalah kebebasan. Anak bebas menemui ayahnya -- yang juga adalah seorang atasan atau pimpinan -- kapan saja tanpa dibatasi oleh waktu atau protokol yang berlaku. Sedangkan seorang hamba atau pekerja harus ada mengikuti protokol yang berlaku dan tidak bisa kapan saja menemui atasannya. Anak memiliki hak istimewa lebih daripada seorang hamba atau pekerja.

Demikianlah dengan kita, pada waktu kita masih berdoa, status kita adalah hamba, hamba dosa. Saat kita bertobat dan membuka hati menerima dan percaya bahwa Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka status kita diubahkan-Nya dari hamba menjadi anak. Pada saat itu juga kita diberi kuasa menjadi anak-anak-Nya yang adalah hak istimewa. Kita diberikan hak istimewa untuk datang kepada Bapa kapan saja dan tidak dibatasi oleh protokol apa pun serta "...dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia," (Ibrani 4:16). Hak istimewa yang lain sebagai anak-Nya, kita dilayakkan untuk memanggil-Nya Bapa. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'" (Galatia 4:6). 
Bersyukurlah dan berbahagialah kalau kita dianugerahkan hak istimewa sebagai anak-anak-Nya, bukan karena kita layak, tetapi karena kemurahan hati-Nya, kemurahan hati Bapa. Buatlah hati Bapa bangga dengan kehidupan kita sebagai anak-anak-Nya. Amin.
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.