Mendengarkan dengan Penuh Minat
Pencinta Kebenaran
Membedakan Sesama
Markus 12:18-27
Di era media sosial, banyak orang ingin menjadi terkenal dengan mendompleng atau menumpang ketenaran orang lain. Ketika seseorang mem-posting foto dirinya bersama orang terkenal, ia berharap agar ia juga dikenal dan status sosialnya naik. Sedihnya, orang tidak peka bahwa sebenarnya ini adalah perbuatan manipulatif yang memanfaatkan orang lain demi status diri sendiri.
Orang Saduki adalah salah satu golongan elit Yahudi. Mereka mencoba menggunakan Yesus demi kepentingan golongan mereka.
Dalam hukum perkawinan Lewi, diharuskan bagi seorang laki-laki untuk menikahi janda dari saudaranya yang telah meninggal demi meneruskan keturunan dari saudaranya itu (lih. Ul 25:5-6). Orang Saduki menggunakan hukum ini untuk meneguhkan keyakinan mereka yang tidak memercayai kebangkitan orang mati (19-23). Jika perkataan Yesus sejalan dengan keyakinan mereka dan hal itu dinyatakan di depan umum, mereka akan sangat diuntungkan.
Yesus jelas tahu bahwa pertanyaan mereka bukanlah dengan tujuan untuk mengenal kebenaran. Pertanyaan itu hanyalah sebuah alat demi melegitimasi dan meneguhkan kekuasaan mereka. Yesus dengan sangat keras mengecam kesesatan mereka, dan bahkan menyerukannya sebanyak dua kali (24, 27).
Di dalam Taurat dinyatakan bahwa Allah Israel adalah Allah orang yang hidup, bukan orang yang mati (25). Mereka yang tidak percaya akan kebangkitan tubuh mempertanyakan perihal pernikahan pasca kebangkitan. Terbayang ekspresi sinis dan arogan di wajah mereka ketika ini terjadi. Sungguh ironis bahwa para pemimpin agama justru buta akan firman Tuhan oleh karena doktrin dan ajaran tentang Tuhan yang keliru, yang sudah terlampau lama mereka yakini. Lebih parah lagi, mereka buta, tetapi memandang diri dan menamai golongan mereka sebagai "orang benar".
Marilah terus mengoreksi diri, jangan sampai kita membedakan orang lain demi kepentingan kita. Bersikaplah terbuka kepada Tuhan agar Dia menyatakan kebutaan kita dan kita dapat dicelikkan dalam kebenaran-Nya. [JHN]
Hikmat yang Membalikkan
Markus 12:13-17
Nas yang kita baca sering dipakai untuk menjelaskan mengapa orang Kristen perlu membayar pajak kepada negara. Hal itu karena Yesus mengajarkannya demikian. Kalau begitu, apakah Yesus mendukung penjajahan yang penuh dengan ketidakadilan, seperti yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi terhadap bangsa Israel? Ayat ini tidak membicarakan hal itu, tetapi ini juga tidak serta-merta berarti kita mengajar orang percaya untuk tidak membayar pajak.
Jawaban Yesus merupakan argumentasi terhadap beberapa orang Farisi dan pendukung Herodes yang dikirim oleh para pemuka agama untuk menjatuhkan Yesus (13). Mereka mencoba menggunakan kelompok orang Farisi yang bergerak di akar rumput untuk menjatuhkan lawannya. Padahal, sejatinya para imam kepala tidak memiliki relasi yang cukup baik dengan orang Farisi, tetapi sepertinya mereka bisa berbaikan demi menjatuhkan Yesus yang mengancam kekuasaan kedua kelompok.
Kita melihat kemunafikan melalui pujian orang Farisi kepada Yesus yang sejatinya hanya menyembunyikan maksud jahat (14a). Mereka mau memojokkan Yesus dengan pertanyaan yang apa pun jawabannya akan menyulitkan Yesus (14b). Apakah Ia harus membayar pajak kepada kaisar? Jawaban "tidak" akan membuat Yesus berhadapan dengan kekuasaan Romawi dan dianggap pemberontak. Sebaliknya, jawaban "ya" akan mengecewakan orang banyak karena Yesus dianggap mendukung penjajahan.
Rupanya jawaban Yesus melampaui kedua hal ini: "Berikanlah milik Kaisar kepada Kaisar dan milik Allah kepada Allah!" (17). Jawaban Yesus tak bisa dijadikan senjata karena Ia tetap membayar pajak. Yesus juga tidak dapat dituduh telah mendukung penjajahan karena yang diberikan adalah apa yang menjadi hak kaisar.
Oleh karena itu, kita perlu meminta hikmat dari Allah dan melatih diri untuk dapat berhadapan dengan orang-orang jahat yang dengan kecerdasannya berusaha membelokkan kebenaran. Hikmat membantu kita untuk peka terhadap kejahatan berkedok agama.
Bermain Aman
Markus 11:27-33
Ketika kekuasaan seseorang terancam, biasanya ia akan melakukan apa saja untuk mengamankannya, termasuk mencari celah untuk menjatuhkan lawannya. Akan tetapi, jika yang dilakukan malah berbalik membahayakan dirinya, dia akan bermain aman dengan menghentikan serangannya atau bahkan berusaha berdamai dengan sang lawan.
Inilah yang dilakukan oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua. Mereka ingin menjatuhkan Yesus dengan mempertanyakan otoritas dari kuasa Yesus (27-28). Mereka sudah mengumpulkan informasi mendetail, dan menemukan bahwa tidak ada tokoh rabi ternama dan berotoritas yang menahbiskan Yesus.
Dengan bertanya, mereka mau menegaskan di depan khalayak ramai bahwa Yesus hanyalah orang biasa yang tidak terdidik, maka Dia tidak perlu dipercaya. Dengan demikian, segala perbuatan-Nya yang menyembuhkan orang sakit, membersihkan Bait Allah, dan mengajar tidak dapat diterima.
Jawaban Yesus melalui pertanyaan retoris justru membuat mereka terpojok sendiri (29-30). Pertanyaan Yesus akan asal otoritas dari kuasa Yohanes Pembaptis justru menyudutkan mereka karena apa pun jawabannya mereka hanya akan merugikan posisi mereka sendiri (31). Jelas mereka juga tidak suka dengan Yohanes yang mencerca dan mengancam kekuasaan mereka. Namun, pada saat yang sama, mereka juga takut karena tahu bahwa Yohanes Pembaptis memiliki banyak pengikut (32). Membantah otoritasnya juga akan merugikan kelompok mereka sendiri.
Jadi, mereka memilih untuk bermain aman demi kekuasaan yang tetap kuat dan stabil, meskipun mereka harus menyangkal kebenaran dan pura-pura tidak tahu. Terlihat bahwa sejatinya mereka hanya mau melayani diri dan kelompok mereka saja.
Hati-hatilah ketika yang menjadi fokus kita pada setiap waktu adalah mengamankan posisi, entah dengan cara menyerang orang lain atau bermain aman. Jujurlah kepada teman dan mintalah mereka untuk mengingatkan kita, juga mintalah Roh Kudus untuk menuntun kita.













