Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Semuanya Milik Allah

Apa yang biasanya kita lakukan ketika menerima kebaikan dari orang lain? Apakah kita akan menceritakan hal itu kepada orang lain sebagai ungkapan syukur, atau berusaha membalas kebaikan tersebut?

Allah memerintahkan bangsa Israel untuk melakukan dua hal penting. Pertama, semua anak sulung, baik manusia maupun hewan, harus dikuduskan bagi Tuhan. Ini mengingatkan bahwa semua itu adalah milik Tuhan (ayat 2). Kedua, umat tidak boleh mengonsumsi makanan yang beragi selama tujuh hari, yang kemudian menjadi dasar perayaan roti tidak beragi.

Kedua perintah ini diberikan untuk mengingatkan mereka akan pembebasan yang Allah lakukan bagi bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (ayat 3-7). Bagi orang Israel, perayaan itu harus menjadi tanda di tangan dan pengingat di dahi mereka, sehingga mereka senantiasa mengingat dan mengisahkan bagaimana Tuhan dengan tangan-Nya yang kuat membebaskan mereka dari Mesir (ayat 9-10).

Allah menetapkan aturan tentang anak sulung dan perayaan roti tidak beragi untuk mengingatkan mereka akan pembunuhan anak-anak sulung di tanah Mesir, baik manusia maupun hewan, ketika Firaun tetap menolak membebaskan mereka. Dengan cara ini, orang Israel diajarkan untuk menyampaikan kepada generasi berikutnya tentang kasih Allah yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan Mesir. Maka, anak sulung laki-laki Israel harus ditebus, dan setiap hewan jantan yang lahir pertama harus dipersembahkan kepada Tuhan. Allah telah membebaskan Israel dan menjadikan mereka bangsa yang merdeka, milik Allah sendiri.

Demikian pula saat ini, Allah melalui Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita. Allah telah melakukan segala yang terbaik bagi kita. Sebagai ungkapan syukur, marilah kita menceritakan perbuatan besar Allah kepada siapa saja. Ceritakanlah terlebih dahulu kepada keluarga kita tentang keselamatan dari Allah. Mari kita juga berbicara dengan baik dan sopan kepada sesama. Dengan demikian, orang dapat melihat kasih Allah dalam hidup kita, dan mereka pun akan menjadi percaya.

Share:

Makanlah Anak Domba Paskah

Keluaran 12:1-28

Allah memberikan bangsa Israel petunjuk yang rinci tentang tata cara perayaan Paskah pertama. Dalam pelaksanaannya, seekor anak domba dipilih dan dipelihara selama empat hari, lalu disembelih saat senja, dipanggang, darahnya dioleskan ke tiang dan ambang pintu, sementara dagingnya dimakan oleh seluruh keluarga.

Darah yang dioleskan pada pintu rumah orang Israel adalah tanda. Pada malam yang telah ditetapkan, Tuhan akan mengirim malaikat maut (bdk. Ibrani 11:28). Ketika malaikat tersebut melihat darah di pintu rumah, ia tidak akan berani menyentuh anak sulung di dalam rumah itu (ayat 23). Dengan demikian, semua ahli waris di keluarga Allah terselamatkan.

Ritual makan domba Paskah ini disertai dua kewajiban penting. Pertama, seluruh ragi dan produk turunannya harus dibersihkan dari rumah mereka (ayat 15, 20). Kedua, umat Allah diwajibkan mengadakan pertemuan-pertemuan kudus (ayat 16-17). Kedua perintah ini mereka laksanakan demi menyelamatkan anak-anak sulung mereka.

Dalam Perjanjian Baru, perayaan Paskah tidak hanya sekadar ritual makan domba. Paskah mengandung makna yang sangat dalam. Bagi Rasul Paulus, anak domba Paskah melambangkan Yesus Kristus yang dikurbankan di kayu salib (bdk. 1 Korintus 5:7). Darah Yesus yang tercurah di kayu salib menyelamatkan kita dari maut. Secara rohani, kita telah "memakan" daging-Nya, yang membuat kita menjadi satu dengan-Nya. Sekarang, keselamatan itu harus kita hayati dengan membuang "ragi keburukan dan kejahatan" dari hidup kita (bdk. 1 Korintus 5:8).

Syukur kepada Allah yang telah menyediakan Anak Domba Paskah untuk menyelamatkan kita. Semoga kita senantiasa menghargai pengorbanan Kristus, tidak hanya saat merayakan Paskah, tetapi setiap hari dalam kehidupan kita.

Bagaimana kita bisa mensyukuri anugerah keselamatan dari Allah? Cara terbaik adalah menjaga hidup kita tetap kudus. Pertanyaannya, bersediakah kita memelihara hati dan pikiran yang murni mulai hari ini dan seterusnya?

Share:

Empati dalam Dunia yang Gelap

Dalam mitologi Mesir kuno, "Ra" dipandang sebagai dewa matahari dan kehidupan. Setiap malam, ia dikisahkan berlayar melalui dunia kematian, kemudian bertarung melawan ular besar menjelang fajar. Setelah mengalahkan ular itu, Ra kembali muncul untuk menghadirkan hari yang baru.

Namun, Musa menantang kesaktian Ra atas perintah Allah. Ketika Musa mengangkat tangannya, kegelapan menyelimuti Mesir selama tiga hari (22). Bagi orang-orang Mesir, ini seolah menandakan bahwa Ra telah dikalahkan dan tidak akan bangkit lagi.

Kekacauan pun melanda Mesir. Bahan makanan telah lama menjadi langka, dan dalam gelap gulita, orang-orang Mesir tidak dapat menyiapkan makanan atau berpindah tempat tanpa risiko besar (23). Keputusasaan menghantui seluruh negeri.

Namun, di tengah situasi genting itu, apa yang dilakukan Firaun? Ia malah sibuk menawar dengan Musa, lebih mementingkan kerugian ekonomis jika harus melepaskan bangsa Israel dan ternak mereka (24). Sikap Firaun mencerminkan seorang penyembah berhala yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi di atas segalanya. Seorang pemimpin yang hanya memikirkan dirinya sendiri akan membawa celaka, baik bagi rakyat maupun lembaga yang ia pimpin.

Di masa sekarang, kita perlu bertanya: apakah pemimpin kita sungguh peduli terhadap nyawa manusia? Kita harus berdoa agar negara kita dipimpin oleh orang-orang yang benar, yang memikirkan kesejahteraan bersama, bukan hanya kepentingan pribadi atau kelompok.

Selain itu, mari kita periksa diri. Apakah keputusan-keputusan kita dalam kehidupan sehari-hari lebih sering didasarkan pada pertimbangan ekonomis semata, ataukah kita peduli pada kesejahteraan orang lain?

Yesus mengajarkan kita untuk menjadi terang dunia, agar Bapa di surga dimuliakan (Matius 5:16). Terang kita paling bersinar ketika kita menunjukkan empati dan kasih di tengah dunia yang penuh kegelapan. Mari kita berupaya untuk lebih peduli dan berempati dalam setiap tindakan kita, sehingga kita bisa membawa perubahan yang berarti bagi orang-orang di sekitar kita.

Share:

Gengsi atau Rezeki?

 Keluaran 10:1-20

Allah menghadirkan ultimatum kepada Firaun: melepaskan bangsa Israel atau menghadapi kehancuran sumber makanan pokok di Mesir.

Tulah kelima membawa hama belalang dari timur. Hama ini semakin memperparah kerusakan pada lahan pertanian yang sudah rusak akibat tulah sebelumnya (15). Sektor pertanian, yang menjadi kebanggaan Mesir, kini lumpuh total. Setelah sumber protein hewani menyusut karena sampar dan hujan es, bencana kelaparan benar-benar mengintai.

Masalah kelaparan nasional sangat mempengaruhi kedaulatan Firaun. Menteri-menterinya berani menegurnya (7-8), menggoyahkan harga dirinya hingga ia akhirnya menuruti saran mereka. Bahkan, ketahanan mental Firaun hampir runtuh. Ketika hama belalang tiba, ia segera berdoa memohon ampun kepada Allah (16-17). Firaun yang sebelumnya menyombongkan diri sebagai dewa, kini untuk pertama kalinya "mengemis" kepada Allah Yang Mahakuasa.

Sikap Firaun memberi pelajaran bahwa orang yang keras hati terhadap Allah semakin bertambah keras hatinya saat ditimpa badai kehidupan. Semakin hancur harga dirinya, semakin besar kesombongannya.

Bagaimana sikap kita jika mata pencaharian pokok tiba-tiba hilang? Beberapa orang, karena tak tahan melihat keluarganya kelaparan, rela melepas gengsi demi bertahan hidup. Apakah ini dilakukan untuk keluarga atau sekadar untuk diri sendiri?

Berdoa kepada Allah adalah langkah mulia. Memohon pengampunan atau rezeki dari-Nya tidaklah hina. Allah adalah Gembala yang baik (Mazmur 23), yang menghargai hati yang hancur dan remuk (Mazmur 51:19). Karena itu, mengapa kita masih mempertahankan gengsi? Marilah kita merendahkan diri, berdoa, bertaubat, dan meminta keselamatan kepada Allah.

Share:

Berlindung pada Sumber Kehidupan

Keluaran 9:13-35

Allah kembali memberi ultimatum kepada Firaun, "Lepaskan atau rasakan akibatnya!" Firaun harus membiarkan bangsa Israel pergi untuk beribadah. Jika tidak, seluruh Mesir akan merasakan hukuman dari Allah (13).

Perhatikan bagaimana Allah menghantam bangsa Mesir! Seluruh negeri dilanda hujan es. Hujan es ini bukan seperti salju yang lembut, melainkan bongkahan es sebesar kepalan tangan, bahkan lebih besar, yang jatuh dari langit dengan kecepatan tinggi. Gaya gravitasi membuat setiap batu es berpotensi mematikan (18).

Tulah ketujuh ini memastikan Mesir akan mengalami bencana kelaparan besar. Jumlah ternak yang sudah berkurang akibat tulah kelima akan semakin menyusut. Selain itu, lahan pertanian juga rusak parah (25). Tanaman biji-bijian dan sayuran gagal dipanen.

Namun, Allah masih menunjukkan belas kasihan dengan dua cara. Pertama, Ia memberi petunjuk bagi mereka yang ingin selamat dari bencana (19). Kedua, tidak semua bahan makanan pokok dimusnahkan (32). Akibatnya, bangsa Mesir pun terbagi dua. Sebagian mulai takut kepada TUHAN (20), sedangkan sebagian lagi tetap mengabaikannya.

Setelah menikmati kelimpahan tanpa mengindahkan Allah, terkadang "kedinginan rohani," krisis rohani, atau ancaman kelaparan dapat membangunkan seseorang dari hidupnya yang nyaman. Sebuah krisis dapat mengajarkan kita untuk mencari dan menghargai Allah, Sang Sumber Kehidupan yang sejati. Hal ini juga bisa terjadi pada orang Kristen.

Apakah ada sesuatu yang menjadi dingin dalam hidup kita? Mungkinkah kita telah kehilangan kehangatan dalam hubungan kita dengan Allah dan sesama? Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap ketenaran atau kekayaan? Apa makna hidup yang sebenarnya?

Solusi bagi pergumulan hidup kita adalah mendekat kepada Allah! Mari kita berlindung kepada-Nya, sumber kebahagiaan dan kehangatan yang sejati. Jangan terus berada di luar! Hidup kita akan bermakna ketika kita hidup dalam Sang Sumber Kehidupan.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.