Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

✨ Hanya Dia yang Bertakhta

Pernahkah Anda melihat sebuah rumah kosong yang lama tidak dihuni? Awalnya mungkin bersih, tapi lama-kelamaan debu menumpuk, serangga dan hewan kecil mulai datang, bahkan seolah-olah rumah itu sudah berpindah tangan dan ada “penguasanya” yang baru.

Hati kita juga bisa seperti itu. Saat pertama kali kita menerima Yesus, hati kita dibersihkan dan dipenuhi sukacita. Namun, jika kita berhenti hanya pada pengalaman awal itu dan tidak sungguh-sungguh membuka hati setiap hari untuk Roh Kudus bertakhta, hati kita bisa kembali “kosong”. Dan hati yang kosong tidak akan pernah benar-benar kosong—ada hal lain yang akan mengisinya: hawa nafsu, iri hati, kebencian, atau kuasa jahat yang mengikat kita.

Itulah sebabnya Yesus mengingatkan bahwa hidup kita harus terus-menerus dipimpin dan dipenuhi oleh Tuhan. Bukan hanya sekali, tetapi setiap hari kita perlu meminta-Nya tinggal dan memerintah dalam hati kita. Kalau Yesus bertakhta, tidak ada ruang bagi kuasa jahat atau keinginan duniawi.

Hari ini mari kita bertanya dalam hati:
👉 Apakah Yesus benar-benar yang bertakhta dalam hidup saya?
👉 Atau ada hal lain yang diam-diam menguasai hati saya?

Mari jangan biarkan hati kita kosong. Biarlah Kristus yang menguasai, membentengi, dan mengarahkan hidup kita. Sebab hanya bila Dia yang bertakhta, hidup kita akan dipenuhi damai sejahtera dan kekuatan untuk melawan godaan dunia.

🙏 Doa Penutup

Tuhan Yesus yang penuh kasih,
kami bersyukur karena Engkau telah membersihkan dan membarui hidup kami. Jangan biarkan hati kami kosong, tetapi penuhilah selalu dengan hadirat-Mu. Biarlah Engkau saja yang bertakhta, memimpin, dan menguasai hidup kami, sehingga tidak ada kuasa jahat, hawa nafsu, atau keinginan duniawi yang mengikat kami lagi. Kami mau hidup hanya untuk-Mu, ya Tuhan.
Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa,
Amin.

Share:

Mata Imanmu Tertutup?

Saat mata iman tertutup, kita mudah salah menilai. Firman Tuhan membuka hati dan pikiran agar melihat kebenaran serta berjalan dalam terang-Nya.

Lukas 11:14-23

Coba bayangkan, ada lima orang diminta memakai kacamata dengan warna berbeda: hitam pekat, merah, hijau tua, biru tua, dan bening. Mereka semua melihat objek yang sama. Apakah hasil pandangannya sama? Tentu tidak. Warna kaca itu memengaruhi cara mereka menilai apa yang terlihat.

Hal serupa terjadi pada orang Farisi dan ahli Taurat saat Yesus mengusir roh jahat dari seorang bisu. Bukannya melihat kuasa Allah yang nyata, mereka justru menuduh Yesus melakukannya dengan kuasa Beelzebul. Mengapa? Karena “kacamata” hati mereka sudah tertutup iri, dengki, dan kebencian. Mereka tidak lagi mampu melihat dengan jernih. Hasilnya: lahirlah fitnah, olok-olok, dan sinisme.

Kalau kita jujur, kadang kita juga seperti mereka. Ada kalanya kita melihat orang lain bukan apa adanya, tapi lewat “kacamata” iri hati, sakit hati, atau kepahitan. Akibatnya, penilaian kita jadi keliru, bahkan bisa melukai orang lain.

💡 Pertanyaannya untuk kita:

  • Kacamata apa yang sedang saya pakai saat menilai orang lain?

  • Apakah iri, gengsi, atau luka hati menutup mata iman saya?

  • Apakah saya masih bisa melihat karya Tuhan dalam hidup orang lain dengan hati yang bersih?

Mari kita minta Tuhan menolong kita untuk menyadari apa saja yang menutupi mata iman. Biarlah Tuhan yang membersihkan lensa hati kita, supaya kita bisa melihat dengan jernih, mengasihi dengan tulus, dan menilai dengan bijak. Karena di dalam Tuhan, rasa iri bisa diubah menjadi dorongan untuk bertumbuh, bukan batu sandungan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Doa 

“Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau telah membuka mata iman kami untuk melihat kebaikan dan karya-Mu dalam hidup ini. Ampunilah kami jika sering kali iri hati, kepahitan, dan dosa menutupi pandangan kami, sehingga kami tidak mampu melihat kasih-Mu dengan benar.

Ya Tuhan, tolonglah kami agar senantiasa memiliki hati yang bersih, penuh syukur, dan mampu melihat sesama dengan kasih. Jadikan hidup kami saluran berkat dan terang-Mu bagi orang lain. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.”

Share:

Melakukan yang Baik dan Benar

Firman Tuhan menuntun kita untuk selalu melakukan yang baik dan benar, membawa berkat, dan menjadi teladan dalam setiap langkah kehidupan.

Lukas 10:38-42

Pernahkah kita merasa sudah melakukan sesuatu yang baik, tetapi ternyata Tuhan menilai berbeda?

Kisah Marta dan Maria mengajak kita merenungkan perbedaan antara “baik” menurut kita dan “benar” menurut Tuhan.

Bayangkan suasananya: Yesus datang bersama murid-murid-Nya. Marta menyambut dengan hangat dan langsung sibuk menyiapkan jamuan. Maria, adiknya, memilih duduk di dekat Yesus, mendengarkan setiap perkataan-Nya. Dari sudut pandang manusia, Marta tampak lebih benar — sibuk melayani — sedangkan Maria “terlihat” tidak membantu.

Namun, ketika Marta mengadu pada Yesus, jawabannya cukup mengejutkan: Marta khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, sementara Maria telah memilih “bagian terbaik” yang tidak akan diambil darinya.
Yesus tidak menolak pelayanan Marta, tetapi Ia mengingatkan bahwa pelayanan tanpa hati yang tenang, tulus, dan penuh sukacita akan kehilangan makna.

Kadang kita seperti Marta: sibuk mengurus banyak hal, bahkan untuk Tuhan, tetapi lupa duduk dan berdiam diri di hadapan-Nya. Kita lupa bahwa pekerjaan yang benar-benar berkenan di hati Tuhan lahir dari relasi yang intim dengan-Nya.

💡 Renungan untuk kita:

  • Apakah saya mengutamakan kesibukan atau keintiman dengan Tuhan?

  • Apakah hati saya tetap tulus dan damai saat melayani, atau mulai dipenuhi keluhan?

Mari kita belajar menyeimbangkan keduanya: seperti Marta, kita tetap bekerja dan melayani; seperti Maria, kita juga memilih waktu terbaik untuk duduk dekat Tuhan. Karena hanya dengan hati yang melekat pada-Nya, kebaikan yang kita lakukan akan menjadi benar di mata-Nya.

Share:

Pujian Ibadah 16 Agustus 2025

Share:

Kasih yang Melampaui Batas


(Lukas 10:25–37)

Pernahkah kita mengasihi dengan “batas”?
Misalnya, kita hanya mau menolong kalau orang itu baik pada kita, atau kita berharap suatu hari dia akan membalasnya? Banyak orang memberi kasih dengan tujuan tertentu—supaya dipuji, dihormati, atau mendapatkan imbalan. Tetapi kasih yang Yesus ajarkan berbeda.

Ketika seorang ahli Taurat bertanya pada Yesus tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal, jawabannya terdengar sederhana: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Namun ahli Taurat itu ingin memperjelas—atau mungkin mencari celah—dengan bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?”

Yesus menjawab dengan kisah yang kita kenal sebagai Perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati.
Seorang pria dirampok di jalan menuju Yerikho, dipukuli, lalu ditinggalkan nyaris mati. Seorang imam lewat, melihat, lalu menghindar. Seorang Lewi juga melihat, lalu berjalan terus. Namun seorang Samaria—yang pada zaman itu dianggap musuh oleh orang Yahudi—justru berhenti, menolong, merawat luka-lukanya, bahkan membawa dia ke penginapan dan membayar biaya perawatannya.

Yesus kemudian bertanya, “Siapa yang menjadi sesama manusia bagi orang yang dirampok itu?”
Ahli Taurat menjawab, “Orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya.”
Yesus pun berkata, “Pergilah, dan perbuatlah demikian.”

Kasih sejati tidak dibatasi oleh perbedaan suku, agama, status sosial, atau hubungan pribadi. Kasih sejati adalah kasih yang melampaui batas—kasih yang lahir dari hati yang digerakkan oleh belas kasihan Kristus.

Saudaraku,
Kita pun pernah mengalami kasih yang melampaui batas itu—kasih Kristus yang menyelamatkan kita. Karena itu, mari kita menjadi saluran kasih itu bagi siapa pun, tanpa syarat, tanpa pamrih, dan tanpa memandang latar belakang.

Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah lebih dulu mengasihi kami tanpa syarat. Ajar kami untuk mengasihi setiap orang dengan tulus, melampaui batas-batas yang ada, dan menjadi saksi kasih-Mu di mana pun kami berada. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.