Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Taat kepada Kehendak Allah


Penangkapan Yesus menunjukkan berbagai reaksi manusia. Yudas mendekati-Nya dan mencium-Nya — tanda kasih yang berubah menjadi tanda pengkhianatan. Murid-murid lain bereaksi dengan emosi, bahkan salah satu dari mereka menyerang hingga memotong telinga hamba imam besar. Namun, Yesus memilih jalan berbeda: Ia menyembuhkan musuhnya dan berkata, “Cukuplah itu!”

Yesus tidak melawan. Ia tahu semua itu bagian dari kehendak Bapa. Meskipun ditangkap, dikhianati, dan diperlakukan seperti penjahat, Ia tetap taat sepenuhnya kepada rencana Allah.

Ketaatan sejati tidak selalu mudah. Kadang kita pun menghadapi pengkhianatan, ketidakadilan, atau fitnah saat berpegang pada kebenaran. Namun, seperti Yesus, kita dipanggil untuk taat, bukan membalas — karena di balik penderitaan, Allah sedang menegakkan rencana-Nya yang indah.

Saat kejahatan tampak berkuasa, percayalah: kuasa kegelapan hanya sementara, tetapi ketaatan kepada Allah membawa kemenangan yang kekal.

🙏 Doa:
Tuhan, ajar aku untuk tetap taat kepada-Mu, bahkan ketika kebenaran membuatku menderita. Beri aku hati seperti Yesus yang setia dan penuh kasih. Amin.


Share:

Pujian GKKK Tepas | 19 Oktober 2025

Lirik: BERHEMBUSLAH ROH KUDUS Berhembuslah roh kudus di tempat ini Berhembuslah roh kudus dengan kuasa-Mu Pulihkanlah G'reja-Mu di akhir zaman Berhembuslah, berhembuslah s'karang Urapilah kami dengan minyak baru Penuhilah kami dengan hadirat-Mu Kami rindu Tuhan melihat kuasa-Mu Dicurahkan di tempat ini Mengalirlah roh kudus di hati kami Mengalirlah roh kudus dengan kuasa-mu Pulihkanlah g'reja-Mu di akhir zaman Mengalirlah, mengalirlah s'karang

Menopo panjenengan wonten sisah Menopo panjenengan wonten sisah Menopo panjenengan sakit Sumonggo sowan dateng Gusti Yesus Gusti Yesus kerso mitulungi Reff. Pasrahken, pasrahken sdoyo Sampun to panjenengan sumelang Pitados mawon dateng Gusti Yesus Allah ingkang moho kwaos Pitados mawon dateng Gusti Yesus Allah ingkang moho kwaos
Yesus Jalan Kebenaran"

YESUS JALAN KEBENARAN DAN JALAN KEHIDUPAN
ITU YANG YESUS KATAKAN
AKU PERCAYA AMIN
DI DALAM NAMANYA ADA KESELAMATAN KEKAL

GLORY HALLELUYA
GLORY HALLELUYA
GLORY HALLELUYA
GLORY HALLELUYA
DI DALAM NAMANYA ADA KESELAMATAN KEKAL

DI DALAM NAMANYA ADA KESELAMATAN KEKAL
DI DALAM NAMANYA ADA KESELAMATAN KEKAL

SEPERTI RUSA RINDU
*Seperti rusa rindu sungaiMuJiwaku rindu EngkauKaulah Tuhan hasrat hatikuKu rindu menyembahMu
Back to *
Kaulah kekuatan dan perisaikuKepadaMu rohku berserahKaulah Tuhan hasrat hatikuKu rindu menyembahMu
Reff:Yesus..Yesus..Kau berarti bagiku..Yesus..Yesus..Kau segalanya bagiku
Kau segalanya bagikuKau segalanya... Bagiku..
Tenang Bapa Kau mendengar Seruan hatiku Tak pernah Kau lepaskan Dari kasihMu Lewat lembah kelam Kau temani aku RohMu bekerja selalu Untuk kebaikanku Mengalir kuasa Dari tempat mahatinggi Bapa Kekal Mulia Kau hadir di sini Memulihkan hati Menyembuhkan yang terluka Ku kan tenang BersamaMu Bapa

LOS GAK REWEL

Aku wes gak rewel Gusti
Aku wes gak rewel Gusti
Nglakoni sing wes dadi kersane
Aku wes gak rewel 

Aku wes gak rewel Gusti
Aku wes gak rewel Gusti
Tak syukuri sing dadi berkate
Aku wes gak rewel

Verse

Biyen uripku Isane mung ngeluh wae
Angel ngguyune Koyo wong ilang dalane
Sakjeke Gusti Yesus ono jroning ati
Kabeh sing tak trimo tak syukuri

Chorus

Aku wes gak rewel Gusti
Aku wes gak rewel Gusti
Nglakoni sing wes dadi kersane
Aku wes gak rewel

Aku wes gak rewel Gusti
Aku wes gak rewel Gusti
Tak syukuri sing dadi berkate
Aku wes gak rewel

Verse

Urip ayem tentrem teko ing jroning ati
Kuwi uripku sing saiki
Pancen beda yen mlaku ning dalane Gusti
Awakku tansah diberkahi
Share:

Mendekat, Bukan Menjauh

Ketika Yesus menghadapi saat-saat paling berat di Bukit Zaitun, Ia tidak menjauh, tetapi mendekat kepada Bapa dalam doa. “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan,” pesan-Nya kepada murid-murid. Namun, mereka justru tertidur karena dukacita.

Yesus berlutut dan berdoa sungguh-sungguh hingga peluh-Nya seperti darah. Dalam doa itu, Ia tidak hanya memohon, tetapi juga berserah penuh kepada kehendak Bapa. Dari sanalah datang kekuatan untuk melangkah menuju salib.

Kita pun sering berada di titik lemah—takut, kecewa, lelah, atau tergoda. Saat itu, kita punya dua pilihan: menjauh karena takut, atau mendekat karena percaya. Doa menjadi “perisai rohani” yang menjaga agar kita tidak terseret ke dalam pencobaan.

Yesus menegaskan dua kali: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Dua kali diulang karena begitu penting! Saat pencobaan datang, jangan menjauh dari Tuhan—justru mendekatlah dalam doa, sebab di sanalah kekuatan dan kemenangan dimulai.

🙏 Doa:
Tuhan Yesus, ajar aku untuk selalu mendekat kepada-Mu, terutama di saat pencobaan datang. Kuatkan imanku agar aku tetap setia dan menang bersama-Mu. Amin.

Share:

Gagal Paham tentang Mesias

Para rasul bertengkar mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Namun Yesus menegaskan bahwa yang terbesar justru harus menjadi seperti yang paling muda dan menjadi seperti pelayan (24–27). Ia juga menganugerahkan kerajaan kepada mereka agar kelak duduk semeja dan menghakimi dua belas suku Israel (29–30).
Yesus kemudian menyingkapkan bahwa Iblis telah menampi Simon seperti gandum, tetapi Ia sendiri telah berdoa agar iman Simon tidak gugur. Namun, Yesus juga menubuatkan bahwa Simon akan menyangkal-Nya tiga kali (34). Selanjutnya, Yesus menegaskan bahwa nubuat tentang diri-Nya harus digenapi, yaitu bahwa Ia akan terhitung di antara pemberontak (37). Ketika para rasul menunjukkan pedang dan bertanya apakah itu cukup, Yesus menjawab, “Cukup,” bukan untuk menganjurkan kekerasan, tetapi menegaskan bahwa penggenapan rencana Allah tidak memerlukan kekuatan manusia (38).

Meski telah lama bersama Yesus, para rasul masih salah memahami makna Mesias. Mereka membayangkan Mesias sebagai pemimpin politis yang akan membebaskan Israel dari penjajahan, bukan sebagai Hamba Allah yang datang untuk melayani dan menyerahkan diri bagi penebusan dosa manusia. Karena itu, Yesus meluruskan pemahaman mereka bahwa Mesias sejati datang untuk menderita, disalibkan, dan menebus dunia dari dosa.

Kesalahan yang sama sering terjadi hingga kini. Banyak orang, termasuk orang Kristen, masih gagal memahami karya penyelamatan Yesus. Mereka ingin keselamatan tanpa salib, kemuliaan tanpa penderitaan. Padahal, jalan salib adalah cara Allah yang penuh hikmat dan kasih untuk menebus manusia.

Bukankah sering kita temui bahwa orang yang dahulu direndahkan kemudian diangkat tinggi oleh Tuhan? Yusuf, misalnya—ia dijual dan dipenjara, tetapi akhirnya diangkat Allah menjadi penguasa kedua di Mesir. Begitu pula Yesus. Ia disalibkan, tetapi melalui kebangkitan-Nya, Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan nama di atas segala nama (Flp. 2:8–11).

Inilah kebenaran tentang Mesias yang harus kita pahami dan sampaikan kepada dunia: Yesus Kristus adalah Mesias yang menderita, mati, dan bangkit untuk menyelamatkan manusia dari dosa.

Share:

Lakukan Sebagai Peringatan

Tiba saatnya Yesus merayakan perjamuan Paskah bersama murid-murid-Nya. Dengan kerinduan yang mendalam, Ia berkata, “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu sebelum Aku menderita.” (ayat 15).

Yesus mengambil cawan, mengucap syukur, lalu membagikannya kepada murid-murid. Kemudian Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan berkata,

“Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku.” (ayat 19)

Dalam momen ini, Yesus menubuatkan penderitaan dan kematian-Nya. Tubuh dan darah-Nya menjadi tanda perjanjian baru — pembebasan umat Allah dari belenggu dosa. Paskah bukan lagi sekadar mengenang pembebasan Israel dari Mesir, tetapi pembebasan setiap manusia dari dosa melalui salib Kristus.

Namun di tengah perjamuan kudus itu, Yesus juga menyinggung pengkhianatan yang akan segera terjadi:

“Celakalah orang yang menyerahkan Anak Manusia itu.” (ayat 22)

Perkataan itu membuat para murid saling bertanya-tanya siapa di antara mereka yang dimaksud. Sebuah pengingat bahwa bahkan orang yang dekat dengan Yesus pun bisa tergelincir jika hatinya tidak dijaga.

Makna bagi Kita Saat Ini

Bagi kita hari ini, perintah Yesus “lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku” tetap berlaku. Melalui perjamuan kudus, kita mengingat karya penebusan Kristus — tubuh yang diserahkan dan darah yang tercurah untuk pengampunan dosa.
Roti dan anggur bukan sekadar simbol, tetapi sarana yang mengingatkan kita akan kasih yang begitu besar, yang memulihkan hubungan manusia dengan Allah.

Seperti halnya kita menyiapkan momen penting dalam hidup — seperti ulang tahun, pernikahan, atau peringatan nasional — dengan penuh kesungguhan, demikian pula kita perlu menyiapkan hati untuk perjamuan Tuhan. Kita tidak datang dengan rutinitas, tetapi dengan kerinduan untuk mengalami kasih dan anugerah-Nya yang memperbarui hidup.

Persiapan batin itu dapat dilakukan dengan:
🙏 doa,
📖 membaca dan merenungkan firman Tuhan,
🤝 berpuasa atau berbuat kasih kepada sesama yang membutuhkan.

Perjamuan Kudus adalah peringatan yang hidup — bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menghidupi karya Kristus hari ini. Setiap kali kita makan roti dan minum dari cawan, kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang kembali (1 Korintus 11:26).

Renungan Penutup:

Peringatan sejati bukan sekadar mengenang, tetapi menghidupi.
Ketika kita mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan, kita mengingat kasih yang mengorbankan diri — dan dipanggil untuk hidup dengan kasih yang sama kepada sesama.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.