Setia, Tetapi Tetap Bijaksana
Kesetiaan adalah hal yang indah.
Menepati janji adalah hal yang benar.
Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita:
kesetiaan tanpa hikmat
dapat membawa luka.
Yefta adalah seorang pemimpin yang berani.
Ia percaya kepada Tuhan.
Ia setia pada perkataannya.
Tetapi dalam semangatnya,
ia mengucapkan nazar tanpa pertimbangan matang.
Dan keputusan yang tergesa-gesa itu
membawa penderitaan besar.
Kadang kita juga bisa seperti Yefta.
Kita begitu bersemangat…
ingin membuktikan kesungguhan…
ingin menunjukkan kesetiaan…
Namun lupa berpikir dengan bijaksana.
Kita membuat janji yang berlebihan.
Mengambil keputusan tanpa doa yang matang.
Bertindak tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Akibatnya,
bukan berkat yang muncul,
melainkan beban.
Tuhan memang menghargai kesetiaan,
tetapi Tuhan juga menghendaki kebijaksanaan.
Iman bukan hanya soal semangat,
tetapi juga kedewasaan.
Hari ini, Tuhan mengajak kita untuk berhati-hati
dalam setiap perkataan, janji, dan keputusan.
Sebelum berbicara, pikirkan.
Sebelum berjanji, berdoalah.
Sebelum bertindak, carilah kehendak Tuhan.
Kesetiaan sejati
bukan tentang tindakan yang gegabah,
tetapi tentang ketaatan yang bijaksana.
Biarlah iman kita bukan hanya penuh semangat,
tetapi juga penuh pengertian.
Doa
Tuhan,
ajarku untuk memiliki iman yang dewasa.
Tolong aku agar tidak bertindak gegabah
dalam semangat yang tidak berhikmat.
Berikan aku hati yang setia,
namun juga bijaksana dalam setiap keputusan.
Pimpin langkahku
agar hidupku sungguh berkenan kepada-Mu.
Amin.












