Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Jangan Mempermainkan Kuasa Allah!

Sepanjang sejarah kekristenan, memanfaatkan nama Yesus demi keuntungan pribadi atau finansial bukanlah hal yang baru. Bahkan di negara-negara mayoritas Kristen, nama Yesus sering digunakan sebagai alat untuk merebut kekuasaan.

Ketika melihat bagaimana Paulus menggunakan nama Yesus untuk melakukan keajaiban, seperti kesembuhan dan pengusiran setan (lih. 19:12), beberapa eksorsis Yahudi, termasuk tujuh anak Imam Besar Skewa, mencoba meniru metode tersebut (14). Namun, upaya mereka berakhir tragis. Orang yang kerasukan setan justru menyerang anak-anak Skewa, membuat mereka lari keluar dalam keadaan telanjang (16). Bermain dengan kekuatan spiritual memang berbahaya, apalagi jika kekuatan tersebut adalah kuasa sejati dan nyata. Bahkan Iblis bersaksi, "Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu siapa?" (15). Meski mereka mempermainkan nama Yesus, ironisnya, nama Yesus justru semakin dikenal (17).

Permainan kekuasaan, politik, dan uang atas nama agama adalah fenomena yang sudah ada sejak zaman dahulu. Umat Kristen di Indonesia juga tidak lepas dari praktik-praktik semacam ini, terutama karena agama dan simbol-simbolnya sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Lebih jauh lagi, kehadiran platform media sosial yang dilengkapi dengan AI (Kecerdasan Buatan) menghadirkan tantangan baru. Dengan mengenali pola konsumsi berita penggunanya, platform ini dapat menyebarkan berita-berita yang relevan dengan preferensi individu, menyebabkan polarisasi dan adu pendapat di masyarakat. Isu-isu yang mengatasnamakan agama bisa terpolarisasi dengan cepat melalui cara ini. Dengan demikian, "setan" di zaman modern merusak individu bahkan negara melalui cara-cara yang lebih canggih.

Oleh karena itu, menghayati dan menghormati nama Yesus seperti yang dilakukan Paulus menjadi sangat penting di zaman kita. Apakah kita memandang nama Yesus hanya sebagai sarana untuk meraih keuntungan pribadi? Hati-hatilah dalam bermain dengan kuasa Allah, karena kuasa-Nya sanggup menundukkan setan demi memberikan kesaksian bagi kemuliaan-Nya!

Share:

Kebangunan Iman dan Kesatuan Tubuh Kristus

Pengikut Yohanes Pembaptis bukanlah orang-orang yang tidak beriman. Mereka menerima baptisan Yohanes dan mengikuti tradisi perjanjian pengampunan dosa sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang Yahudi pada masa itu. Namun, iman adalah sesuatu yang dinamis. Meski benar bahwa baptisan Yohanes merupakan bagian dari rencana Allah (3-4), karya Allah tidak berhenti di sana. Ketika murid-murid dibaptis dalam nama Yesus, Roh Kudus turun atas mereka, yang kemudian membawa kebangkitan iman di antara para murid di Efesus (5-6).

Para pengikut Yohanes Pembaptis sudah familiar dengan karya Allah melalui nenek moyang mereka, seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Komunitas Yahudi diaspora ini secara rutin berkumpul di sinagoge, merindukan kedatangan kerajaan Allah melalui keturunan Daud, kerajaan yang tidak berasal dari dunia ini. Dengan kedatangan Yesus, realitas Kerajaan Allah telah digenapi. Pelayanan Paulus kepada murid-murid Yohanes di Efesus ini memperkuat penghayatan iman mereka, menuntun mereka kepada cinta kasih Kristus.

Pada zaman ini, gereja-gereja Protestan sering terlibat dalam perselisihan. Banyak perdebatan modern berfokus pada istilah seperti "baptisan Roh Kudus" atau "fenomena bahasa Roh." Namun, masalah yang dihadapi Paulus dan gereja mula-mula jauh berbeda. Pada abad pertama, komunitas Yahudi sendiri sudah terbagi menjadi beberapa aliran, tetapi Paulus dengan gigih mendorong kebangunan iman dan kasih dalam Yesus, melampaui batasan kelompok, suku, etnis, dan bangsa.

Apakah ini mungkin adalah inti dari iman dalam Kristus? Paulus sungguh-sungguh percaya bahwa cinta kasih Yesus begitu kuat, mampu menyatukan berbagai kelompok dan etnis, bukan memecah belah seperti yang kadang dilakukan oleh para ahli agama.

Ironisnya, banyak perdebatan mengenai bahasa Roh dan baptisan Roh Kudus kini justru menjadi penyebab perpecahan dalam gereja, bukan sarana untuk membangun iman dan membawa kesembuhan. Paulus, di sisi lain, berjuang demi pemulihan—bukan hanya pemulihan fisik individu, tetapi juga iman dan kesatuan tubuh Kristus.

Share:

Pujian Ibadah Minggu 29 September 2024

Share:

Komunitas Orang-orang yang Mengasihi Tuhan

Melalui kisah ini, Lukas memberikan gambaran tentang peran penting beberapa individu dalam kehidupan Apolos. Apolos dikenal sebagai seorang yang sangat mahir dalam Kitab Suci (24), ia mengajarkan tentang Yesus dan mengenal baptisan Yohanes (25). Namun, Apolos bukanlah hasil pelayanan dari Petrus, Paulus, atau tradisi kerasulan sebagaimana yang dipahami Lukas.

Injil telah tersebar hingga ke Aleksandria, Mesir, dan berbagai tempat lainnya. Salah satu orang yang terpengaruh oleh penyebaran Injil tersebut adalah Apolos, seorang Yahudi yang terkenal. Tuhan sungguh bekerja melalui komunitas orang percaya, membangkitkan sosok seperti Apolos yang memiliki kemampuan luar biasa dalam mengajar, dan dengan itu memperkaya iman banyak orang percaya.

Dalam kisah ini, Apolos justru menerima pengajaran lebih mendalam tentang Jalan Tuhan dari pasangan Priskila dan Akwila (26), yang merupakan rekan sekerja Paulus dan tinggal di Efesus. Biasanya, kita mungkin mengharapkan pengajaran Injil yang mendalam datang dari para rasul atau tokoh besar. Namun, dalam kisah yang ditulis Lukas, justru komunitas orang biasa, yang namanya jarang disebut, memberikan kontribusi besar dalam kehidupan Apolos. Dalam Surat Korintus, tampak bahwa Apolos memberikan pengaruh besar dalam pelayanan bersama Paulus di Korintus dan memiliki cukup banyak pengikut (lih. 1 Kor 3:4-6).

Kita sering kali tidak sepenuhnya menyadari bagaimana Allah bekerja melalui komunitas orang-orang yang mengasihi Tuhan. Banyak kesaksian pertobatan yang muncul bukan dari perdebatan atau diskusi mengenai kebenaran doktrinal, melainkan melalui persahabatan dan hubungan dalam komunitas orang percaya. Dengan jelas, jalan keselamatan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari hubungan yang terjalin di dalam keluarga Allah.

Banyak yang berpendapat bahwa generasi muda masa kini mendambakan komunitas di mana mereka bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan jujur. Mungkinkah kita dapat membangun komunitas seperti itu, di mana iman dan kerohanian dapat berkembang dengan subur? Apolos memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan Priskila dan Akwila dalam komunitas yang demikian. Iman tumbuh dengan baik di tengah-tengah komunitas yang hidup dalam penyembahan kepada Yesus, Sang Kristus!

Pagi ini, kami mohonkan berkat dari Tuhan untuk Bapak, Ibu, jemaat, serta saudara-saudari sekalian. Semoga berkat kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera mengalir di dalam hidup kita semua.

Kami juga berdoa agar rumah tangga, anak-anak, cucu-cucu, pekerjaan, sawah dan ladang, perusahaan, studi, toko, usaha, kantor, serta hubungan bisnis semuanya diberkati. Kiranya Tuhan juga memberkati setiap pelanggan, rumah, keluarga, pelayanan, gereja, majikan, dan calon pendampingmu.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa agar berkat-Nya melimpah dalam hidup kami. Bagi yang percaya, katakanlah AMIN! Tuhan Yesus memberkati.

Share:

Komitmen pada Misi, Jiwa yang Gereget

Dalam Kisah Para Rasul 18:18-23, kita melihat Paulus terus melanjutkan misinya dengan penuh komitmen. Salah satu tindakan simbolis yang dilakukan Paulus adalah mencukur rambutnya di Kengkrea karena nazar yang diambilnya (ayat 18). Meskipun Lukas tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai nazar tersebut, tindakan ini menunjukkan dedikasi Paulus kepada Taurat dan keimanannya. Nazar adalah sumpah khusus yang diatur dalam hukum Taurat, seperti yang dijelaskan dalam Bilangan 6:1-21, di mana seseorang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan.

Tindakan mencukur rambut sebagai bagian dari nazar menandakan bahwa Paulus berkomitmen tidak hanya kepada misinya dalam memberitakan Injil, tetapi juga kepada tradisi keagamaan yang dia jalani. Ini menunjukkan bahwa meskipun Paulus sering dituduh menentang Taurat, dia tetap mematuhi aturan-aturan dalam konteks tertentu. Bahkan di tengah-tengah penganiayaan dan kesulitan yang dia hadapi, Paulus terus setia kepada misinya sebagai rasul Yesus Kristus, dan ini tercermin dalam tindakannya sebagai seorang yang sungguh-sungguh menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

Dalam hal ini, Paulus menampilkan kualitas yang dalam dunia pendidikan modern dikenal sebagai grit atau gereget—yakni kegigihan dan gairah yang kuat dalam mengejar tujuan jangka panjang. Menurut penelitian psikologi pendidikan, grit adalah faktor penentu keberhasilan yang lebih signifikan daripada kecerdasan intelektual (IQ). Orang yang memiliki grit memiliki daya juang yang tinggi, mampu bertahan dalam menghadapi tantangan, dan memiliki dedikasi kuat terhadap apa yang mereka yakini.

Paulus adalah sosok yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, dididik oleh Gamaliel, seorang pemimpin Farisi yang terkenal. Namun, yang membuat misinya sukses bukan hanya kecerdasannya, melainkan ketekunannya, dedikasinya, dan semangat juangnya. Bahkan ketika menghadapi persekusi, ancaman, atau tantangan, Paulus tidak mundur, tetapi justru semakin kuat dalam panggilan hidupnya.

Kita mungkin tidak menerima panggilan misi seperti Paulus, tetapi kita semua memiliki panggilan dalam hidup kita—baik itu dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, atau kehidupan sehari-hari. Terkadang kita berfokus pada kecerdasan atau keterampilan sebagai faktor penentu keberhasilan, namun kisah Paulus mengingatkan kita bahwa komitmen, ketekunan, dan iman adalah kunci dalam mencapai tujuan. Grit atau gereget dalam iman kita kepada Tuhan juga memungkinkan kita untuk bertahan di tengah tantangan dan terus berjalan dengan keyakinan bahwa segala sesuatu ada dalam tangan-Nya.

Mari kita belajar dari Paulus, yang tidak hanya mengandalkan intelektualitas, tetapi juga berpegang teguh pada panggilannya dengan penuh kesetiaan dan komitmen kepada Tuhan. Dalam segala hal yang kita lakukan, marilah kita berjuang dengan gereget yang sama, sambil mengandalkan Tuhan sebagai sumber kekuatan kita.

Semoga berkat dari Tuhan Yesus mengalir melimpah bagi kita semua, membawa kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera dalam setiap aspek kehidupan. Kiranya Tuhan memberkati setiap keluarga, anak-anak, dan cucu-cucu kita. Diberkatilah pekerjaan kita, usaha kita, studi kita, sawah dan ladang kita, serta semua yang kita kerjakan. Semoga Tuhan memberkati setiap pelayanan, gereja, tempat usaha, dan masa depan kita. 

Dalam nama Tuhan Yesus, biarlah berkat dan anugerah-Nya memenuhi hidup kita dengan kasih, kekuatan, dan kedamaian yang sempurna. Yang percaya katakan, **AMIN!**

Tuhan Yesus memberkati! 🙏✨

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.