Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Pujian Ibadah Minggu 03 November 2024

Share:

Hanya Karena Anugerah-Nya

Roma 3:21-31

Paulus menjelaskan bahwa semua orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi, sama-sama berada dalam dosa. Tidak ada yang bisa menyelamatkan diri sendiri atau mencapai kemuliaan Allah dengan usaha manusiawi atau ketaatan terhadap hukum Taurat (Roma 3:10-12). Kita semua telah kehilangan kemuliaan Allah karena dosa, tanpa harapan untuk memperoleh keselamatan dengan kekuatan sendiri.

Namun, Allah Bapa mengutus Yesus Kristus sebagai jalan pendamaian bagi kita semua. Melalui iman kepada-Nya, kita memperoleh keselamatan, bukan karena kita layak, tetapi semata-mata karena anugerah-Nya (ayat 22). Ini menunjukkan beberapa hal penting:

1. Manusia Sepenuhnya Bergantung pada Anugerah Allah
Keadaan manusia yang berdosa membuat kita tidak mampu untuk menggapai kemuliaan Allah. Kehadiran Kristus menunjukkan betapa dalamnya keterpurukan kita tanpa Allah, sehingga kita membutuhkan anugerah-Nya untuk lepas dari dosa.


2. Keselamatan Tidak Bergantung pada Kebaikan Manusia
Sebaik apa pun usaha kita, kita tetap tidak bisa mencapai kesempurnaan di hadapan Allah. Tanpa Kristus, semua usaha manusia tidak akan membebaskan kita dari belenggu dosa.


3. Keselamatan adalah Hadiah Kasih Karunia dari Allah
Kristus menjadi pengurbanan yang menebus dosa kita, memberikan kita kesempatan untuk dipulihkan, dan menjadikan kita benar di hadapan Allah. Keselamatan yang kita terima adalah bukti dari kasih dan kebaikan Allah yang begitu besar, bukan karena pencapaian pribadi.



Oleh sebab itu, kita tidak memiliki dasar untuk menyombongkan diri. Keselamatan yang kita terima hanya oleh iman kepada Kristus, bukan hasil dari perbuatan atau kebaikan kita (ayat 27-28). Jika kita beriman, itu adalah anugerah Allah. Kita tidak lebih baik dari mereka yang belum mengenal Kristus. Iman yang kita miliki merupakan pemberian Allah, bukan karena kita terlahir dalam keluarga Kristen, rajin berbuat baik, atau hidup lebih berhasil dari orang lain.

Mari kita mensyukuri anugerah ini dengan menunjukkan kasih dan kebaikan Kristus kepada setiap orang yang kita temui. Kiranya hidup kita bisa menjadi saluran anugerah bagi orang lain, agar mereka pun dapat melihat dan merasakan kasih Tuhan melalui sikap dan tindakan kita.

Doa Berkat
Pagi ini, aku memohon berkat Tuhan bagi kita semua, jemaat, dan saudara-saudari sekalian. Kiranya Tuhan melimpahkan berkat kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera ke dalam kehidupan kita masing-masing. Semoga berkat Tuhan menyertai rumah tangga kita, anak-anak, cucu-cucu, pekerjaan, usaha, studi, pelayanan, dan kehidupan keluarga kita. Kiranya Tuhan memberkati setiap usaha, pekerjaan, pelanggan, serta segala aspek kehidupan kita.

Dalam nama Tuhan Yesus, kiranya berkat-Nya mengalir dalam hidup kita semua. Yang percaya, katakanlah Amin! Tuhan Yesus memberkati!

Share:

Pentingnya Mengaku Dosa

Roma 3:9-20

Paulus mengingatkan bahwa baik orang Yahudi maupun Yunani, semua berada di bawah kuasa dosa (ayat 9). Ketika kita melawan Allah, kita tidak lebih baik dari mereka. Paulus menggambarkan kondisi manusia yang berada di bawah kuasa dosa dengan sangat jelas: tidak ada yang benar, tidak ada yang berakal budi, tidak ada yang mencari Allah, semuanya menyeleweng dan tidak berguna. Bahkan, tidak ada yang berbuat baik (ayat 10-12). Paulus menggambarkan mereka yang penuh dengan kata-kata jahat, cepat melakukan kekerasan, tidak memiliki rasa takut akan Allah, dan tidak mengenal jalan damai (ayat 13-18).

Dari gambaran Paulus ini, kita dapat belajar tiga hal penting:

1. Ketidaktaatan Menghasilkan Hidup yang Tidak Baik
Allah telah memberi kita akal budi untuk mengenali dan mengikuti kebaikan-Nya. Namun, sering kali kita gagal untuk melihat kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita. Akibatnya, hidup kita menjadi tidak berguna tanpa Tuhan. Ketidaktaatan membawa kita pada kondisi yang jauh dari kehendak-Nya.


2. Pikiran Jahat Menghasilkan Perkataan Jahat
Pikiran yang tidak baik akan tercermin dalam kata-kata yang kita ucapkan. Kata-kata yang keluar dari mulut kita bisa membawa kehancuran dan merusak orang lain. Bahkan, dalam hal-hal kecil seperti gosip atau perkataan kasar, bisa sangat merusak dan melukai hati orang lain.


3. Pikiran dan Perkataan Jahat Membawa Perilaku Jahat
Pikiran dan perkataan yang jahat akan membawa kita pada tindakan yang tidak benar. Tanpa sadar, kita bisa melakukan kejahatan, bahkan sampai menganiaya atau menindas orang lain. Hidup dalam dosa tidak akan membawa damai sejahtera dari Allah, melainkan kehancuran.



Setiap dosa yang kita lakukan membawa jarak antara kita dan Tuhan. Namun, seberapa besar pun dosa kita, kasih dan pengampunan Tuhan Yesus tidak pernah terbatas. Salah seorang penjahat di samping Yesus di kayu salib menunjukkan bahwa pengampunan tersedia bagi siapa saja yang mau mengakui dosanya dan bertobat.

Apakah kita sudah mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan? Jangan ragu untuk datang kepada-Nya, karena Tuhan Yesus berkenan mengampuni setiap orang yang mau bertobat dengan sungguh-sungguh. Melalui pengakuan dosa, pikiran, perkataan, dan perilaku kita akan dipulihkan oleh kasih karunia Allah.

Doa Berkat
Pagi ini, aku memohonkan berkat Tuhan bagi Bapak, Ibu, jemaat, dan saudara-saudariku sekalian. Kiranya Tuhan mencurahkan berkat kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera dalam kehidupan kita semua. Diberkatilah rumah tanggamu, anak-anak dan cucu-cucumu, pekerjaanmu, sawah dan ladangmu, usahamu, kantormu, studimu, pelayananmu, dan gerejamu. Semoga berkat Tuhan menyertai juga dalam usaha dan rencana masa depanmu, calon pendamping hidupmu, dan setiap langkah hidupmu.

Dalam nama Tuhan Yesus, kiranya berkat-Nya melimpah dalam hidup kita semua. Yang percaya katakan, Amin! Tuhan Yesus memberkati!

Share:

Kasih Allah Tak Terbatalkan

Roma 3:1-8

Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi bangsa pilihan. Allah selalu setia menyertai dan menolong umat-Nya saat mereka menghadapi ancaman musuh dan mencukupi kebutuhan mereka ketika mengalami kekurangan.

Firman Tuhan diberikan kepada umat-Nya sebagai pedoman dan dasar kehidupan bangsa pilihan (Roma 3:2). Meski ada yang tidak setia, ketidaksetiaan mereka tidak pernah membatalkan kesetiaan Allah (Roma 3:3-4). Namun, meski mereka adalah bangsa pilihan, perilaku mereka sering kali tak berbeda dengan bangsa-bangsa yang bukan umat Allah. Mereka memberontak kepada Allah dan hidup tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Sebagai bangsa pilihan, orang Yahudi seharusnya hidup seturut dengan firman Allah. Ketika mereka melanggar hukum Allah, hukuman yang diterima lebih berat karena mereka mengabaikan kesempatan pertama yang diberikan Allah kepada mereka. Meski demikian, hukuman Allah bukanlah tanda bahwa Dia tidak mengasihi mereka. Justru sebaliknya, kasih Allah tetap kekal dan setia. Kasih-Nya tidak terbatalkan, dan Dia selalu membuka tangan bagi siapa pun yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya.

Kita pun, sebagai umat yang telah menerima kasih Allah melalui Yesus Kristus, dipanggil untuk hidup dalam ketaatan dan kesetiaan. Bangsa Israel menolak Allah dan menerima hukuman, tetapi penolakan mereka membuka kesempatan bagi bangsa-bangsa lain untuk menjadi umat Allah. Kasih Allah kini tersedia bagi semua orang yang mau percaya kepada-Nya.

Karena itu, kita patut bersyukur atas kesempatan besar yang diberikan Allah kepada kita. Allah mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatalkan. Kasih yang mengalir melalui penebusan Yesus Kristus di kayu salib kini menjadi milik kita selamanya.

Sebagai respons, mari kita memberikan hidup kita sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan. Melayani Tuhan dengan talenta yang kita miliki dan membagikan kabar baik kepada orang-orang di sekitar kita adalah wujud nyata dari kasih kita kepada Allah. Mari mulai dari keluarga dan lingkungan terdekat, agar semakin banyak orang mengenal dan merasakan kasih Allah yang kekal.

Share:

Hai Orang Munafik, Bertobatlah!

Roma 2:17-29

Kemunafikan adalah racun yang berbahaya dalam kehidupan beragama, dan orang Kristen juga tidak luput dari bahaya ini. Banyak orang yang menyebut dirinya pengikut Kristus, namun kehidupannya bertentangan dengan pengakuan tersebut.

Dalam suratnya, Paulus memberikan peringatan kepada orang-orang Yahudi yang merasa bangga karena memiliki Hukum Taurat dan mengajarkannya kepada orang lain (Roma 2:17-20). Namun, ironisnya, mereka tidak hidup sesuai dengan ajaran yang mereka sampaikan (ayat 21-22). Mereka mengklaim sebagai umat pilihan Allah tetapi malah melanggar hukum yang mereka banggakan (ayat 23). Hal ini menyebabkan nama Allah dihujat oleh orang-orang di luar Israel (ayat 24).

Paulus juga membahas tentang sunat, yang merupakan tanda perjanjian antara Allah dengan umat-Nya. Tetapi ia menekankan bahwa tanda fisik ini tidak ada artinya jika tidak disertai dengan ketaatan pada hukum Allah (ayat 25-29). Sunat sejati bukanlah pada tubuh, melainkan pada hati—sebuah kondisi rohani yang mencerminkan ketaatan kepada Allah. Allah tidak menginginkan sekadar penampilan lahiriah, melainkan hati yang taat dan sungguh-sungguh.

Bagi orang Kristen, pesan ini sangat relevan. Menyebut diri kita Kristen tanpa menaati firman-Nya adalah tindakan munafik. Kemunafikan kita dapat merusak kesaksian iman dan membuat nama Allah dihina oleh orang yang tidak mengenal-Nya.

Mengetahui firman Tuhan adalah hal yang penting. Namun, menggunakan firman hanya untuk mencari pembenaran diri atas dosa-dosa kita adalah kemunafikan! Allah memanggil kita untuk menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar saja (Yakobus 1:22). Marilah kita menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidup kita sehari-hari.

Buanglah segala bentuk kemunafikan dari hidup kita. Belajarlah hidup dalam ketaatan, sehingga nama Allah dipermuliakan melalui hidup kita. Semoga kita dimampukan untuk meninggalkan segala sikap munafik dan hidup seturut dengan firman Tuhan.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.