Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Beriman Seperti Paulus

Kisah pelayanan Paulus di Korintus yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 18:1-17 memberikan kita gambaran tentang iman yang teguh meskipun menghadapi tantangan besar. Dalam pelayanannya, Paulus memenangkan banyak hati untuk Kristus, termasuk tokoh-tokoh masyarakat penting seperti Krispus, kepala sinagoge, dan pasangan pengrajin, Priskila dan Akwila.

Namun, pelayanan Paulus juga menimbulkan persekusi dari kelompok-kelompok fundamentalis Yahudi yang menolak keras pesan Paulus bahwa "Yesuslah Mesias" (5). Mereka menuduh Paulus melanggar Taurat dan membawa dia ke pengadilan Romawi dengan tuduhan mengajarkan agama yang melawan hukum Yahudi (13). Padahal, baik Paulus, Yesus, maupun orang-orang yang mempersekusi Paulus adalah sama-sama orang Yahudi.

Dalam situasi ini, Galio, gubernur Romawi di Akhaya, menolak tuduhan tersebut dan melihatnya sebagai konflik internal agama Yahudi. Gagal mengkriminalkan Paulus, kelompok fundamentalis yang marah memukuli Sostenes, kepala sinagoge, di depan pengadilan (17). Namun, Paulus tetap berdiri teguh dalam imannya dan terus melayani Tuhan meskipun menghadapi ancaman persekusi.

Pelajaran dari kisah Paulus mengingatkan kita akan tantangan yang bisa datang dari dalam maupun luar komunitas kita ketika kita setia kepada Kristus. Seperti Dietrich Bonhoeffer, yang melawan rezim Nazi di Jerman yang mayoritas Kristen, kesetiaan kepada kebenaran iman bisa membuat seseorang berhadapan dengan kekuatan yang tampaknya tak terhindarkan, bahkan dari mereka yang mengaku beriman.

Menghadapi tantangan ini, Paulus tetap teguh dan tidak gentar. Imannya tidak didasarkan pada popularitas atau penerimaan sosial, melainkan pada keyakinannya yang kuat bahwa Yesus adalah Mesias dan bahwa pelayanannya adalah untuk memuliakan Allah, bukan untuk menyenangkan manusia.

Pertanyaan untuk kita adalah, sanggupkah kita beriman seperti Paulus? Dapatkah kita tetap setia pada Kristus, bahkan jika kesetiaan itu membuat kita ditolak, dihujat, atau dianggap sesat oleh dunia, atau bahkan oleh orang-orang yang mengaku beriman tetapi tidak memahami kebenaran Injil?

Berkat Pagi untuk Semua:

Di pagi yang indah ini, marilah kita memohon berkat Tuhan bagi kita semua. Kiranya Tuhan melimpahkan berkat kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera dalam kehidupan kita.

Berkat Tuhan juga kiranya menyertai rumah tangga kita, anak-anak, cucu-cucu, pekerjaan, usaha, studi, dan pelayanan kita. Semoga setiap aspek kehidupan kita diberkati, baik itu sawah, ladang, toko, perusahaan, maupun kantor.

Kita juga memohon berkat Tuhan atas gereja dan semua orang yang melayani di dalamnya. Semoga Tuhan menyertai kita dalam segala hal yang kita kerjakan, dan memberikan kita kekuatan untuk terus memberitakan Injil.

Dalam nama Tuhan Yesus, biarlah berkat-Nya mengalir melimpah dalam hidup kita. Yang percaya katakan, Amin! Tuhan Yesus memberkati.

Share:

Terlalu Bersahabat dengan Budaya?

Dalam Kisah Para Rasul 17:16-34, kita melihat kisah Paulus di Atena, pusat intelektual Yunani. Di tempat yang penuh dengan patung berhala dan dipenuhi filsafat Epikuros dan Stoa, Paulus tidak langsung mengutuk atau melawan budaya setempat, tetapi ia memilih untuk membahasakan Injil dengan cara yang dapat dipahami oleh masyarakat Atena.

Walaupun ia merasa terganggu dengan banyaknya patung berhala, Paulus dengan bijak menggunakan "Allah yang tidak dikenal" sebagai titik masuk untuk memperkenalkan Injil (ayat 23). Ini menunjukkan kemampuannya sebagai "pembaca budaya" yang ulung. Paulus menyadari bahwa dalam setiap budaya, ada kerinduan yang dalam akan sesuatu yang lebih besar, yang dalam kasus ini ia kaitkan dengan kerinduan akan Allah yang sejati.

Namun, bagi sebagian orang Kristen, cara Paulus ini mungkin terasa terlalu akrab dengan budaya yang dipenuhi berhala. Mereka bisa merasa risih melihat bagaimana Paulus mengutip pujangga Yunani dan menggunakan bahasa filsafat populer pada zamannya. Tetapi, yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa Paulus memahami bahwa meskipun ada elemen-elemen dalam budaya Yunani yang berlawanan dengan iman Kristen, di dalamnya masih terdapat titik-titik kebenaran yang bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan Injil.

Paulus mengutip salah satu pujangga Yunani, Aratus, ketika ia mengatakan, "Sebab kita ini keturunan-Nya juga" (ayat 28). Dengan cara ini, Paulus menarik hubungan antara pandangan filsafat populer dengan kebenaran penciptaan manusia oleh Allah. Ini adalah bentuk kontekstualisasi, di mana ia menerjemahkan pesan Injil ke dalam bahasa dan konsep yang dapat diterima oleh pendengarnya.

Banyak dari kita mungkin tergoda untuk menarik garis tegas antara iman dan budaya, tetapi Paulus menunjukkan bahwa tidak semua dalam budaya harus ditolak mentah-mentah. Justru, di dalam setiap budaya, ada ruang yang bisa dijadikan wadah untuk menyampaikan pesan Injil. Hal ini mengajarkan kita untuk tidak langsung menolak budaya sekuler atau berbeda, tetapi belajar mengenali titik-titik persinggungan di mana kita bisa memperkenalkan kebenaran Allah.

Berkat Pagi untuk Semua:

Di pagi ini, mari kita mohonkan berkat Tuhan untuk setiap orang yang kita kasihi. Kiranya Tuhan mengalirkan berkat-Nya atas kita semua: kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera dalam hidup kita.

Berkat Tuhan juga kiranya tercurah atas rumah tangga kita, anak-anak, cucu-cucu, pekerjaan, usaha, studi, serta pelayanan kita. Baik itu di sawah, ladang, toko, kantor, maupun perusahaan, biarlah Tuhan menyertai dan memberkati. Tuhan juga memberkati gereja dan semua yang terlibat di dalamnya, serta kehidupan kita sehari-hari.

Dalam nama Tuhan Yesus, biarlah berkat melimpah dalam hidup kita. Amin!

Share:

Tetap Mengabarkan Injil

Setiap hari kita disuguhkan berbagai berita dari segala penjuru dunia—viral, menarik, atau mengejutkan. Namun, semuanya bersifat sementara dan cepat berlalu. Berbeda dengan berita Injil yang selalu segar dan relevan. Dari masa ke masa, kabar Injil selalu membawa pembaruan dan tidak pernah ketinggalan zaman. Injil menawarkan keselamatan dan pengharapan yang abadi, melampaui waktu dan situasi apa pun.

Rasul Paulus adalah contoh nyata bagaimana Injil selalu diberitakan tanpa mengenal lelah dan tanpa takut akan tantangan. Setelah menghadapi penganiayaan di Filipi, Paulus tetap melanjutkan misinya ke Tesalonika, meski jaraknya cukup jauh, sekitar 150 km. Setibanya di sana, ia segera menuju sinagoge dan mulai mengajarkan tentang Yesus sebagai Mesias. Ia menekankan bahwa Mesias harus menderita, mati, dan bangkit kembali, dan bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat itu (Kis. 17:3).

Banyak orang, baik dari kalangan Yahudi maupun Yunani, menjadi percaya karena pemberitaan Paulus dan Silas. Mereka menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Namun, di tengah kesuksesan misi itu, muncul juga tantangan. Orang-orang Yahudi yang tidak menerima pengajaran Paulus merasa terganggu dan kemudian menghasut orang-orang untuk menciptakan kekacauan di kota. Mereka menuduh Paulus dan Silas telah melawan Kaisar karena mereka memberitakan tentang Yesus sebagai Raja.

Tantangan ini tidak mematahkan semangat Paulus dan Silas. Meskipun dianiaya dan difitnah, mereka tetap teguh dan terus melanjutkan misi mereka untuk menyebarkan Injil. Bahkan ketika dihadapkan pada sidang rakyat, Yason, salah satu orang yang telah percaya, memberikan jaminan dan membantu mereka sehingga mereka dapat melanjutkan pelayanan mereka.

Panggilan untuk Tetap Setia Memberitakan Injil

Tantangan dalam memberitakan Injil bukanlah alasan untuk berhenti. Sebaliknya, setiap rintangan yang muncul adalah kesempatan bagi kita untuk semakin mempercayai kuasa Tuhan yang mampu membuka jalan. Seperti yang Paulus dan Silas tunjukkan, tugas kita adalah tetap memberitakan Injil dengan penuh keyakinan, meskipun banyak tantangan menghadang. Tanggung jawab orang percaya adalah membawa kabar baik kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Allah akan memampukan kita, memberi kita kekuatan, dan menyertai kita dalam setiap upaya menyebarkan kabar keselamatan. Dengan ketekunan, pengharapan, dan iman, kita dapat menjadi saksi Kristus yang berani dan efektif.

Beritakanlah Injil setiap hari, karena berita ini tidak pernah usang dan selalu membawa pembaruan. Dalam menghadapi tantangan, kita tidak boleh gentar. Sebaliknya, mari kita semakin terlibat dalam pekabaran Injil dan senantiasa mendoakan para penginjil yang berada di garis depan. Tetaplah yakin bahwa Allah akan bekerja melalui kita untuk menyelamatkan banyak jiwa.

Share:

Hidupku Adalah Kesaksianku

Kisah Paulus dan Silas di penjara menunjukkan bagaimana kesetiaan kepada Tuhan dapat menjadi kesaksian hidup yang nyata. Meskipun dipenjara secara tidak adil karena membebaskan seorang hamba dari roh tenung, mereka tidak putus asa atau meragukan Tuhan. Sebaliknya, mereka tetap berdoa dan memuji Tuhan di tengah situasi sulit (Kis. 16:25). Hal ini mencerminkan iman yang teguh, bahwa bahkan dalam penderitaan, mereka tidak melepaskan pengharapan kepada Allah.

Kemudian, ketika gempa bumi terjadi dan membuka pintu-pintu penjara, Paulus dan Silas memilih untuk tidak melarikan diri. Mereka menunjukkan belas kasihan kepada kepala penjara yang hampir bunuh diri karena takut akan konsekuensi dari kejadian itu. Tindakan mereka tidak hanya menyelamatkan nyawa kepala penjara, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menyaksikan kasih Kristus kepadanya. Kepala penjara dan seisi rumahnya bertobat dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat, serta mereka dibaptis (Kis. 16:33).

Keteguhan Iman di Tengah Tantangan

Paulus dan Silas memberikan teladan bagaimana seorang pengikut Kristus harus tetap teguh berpegang pada iman, bahkan di tengah-tengah tantangan dan penderitaan. Ketika segala sesuatu tampak tidak adil atau sulit, sikap mereka untuk terus percaya kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya tidak goyah. Keyakinan mereka bahwa Tuhan selalu menyertai dan memiliki rencana dalam setiap situasi menjadi kekuatan yang menguatkan mereka dalam menghadapi kesulitan.

Dalam kehidupan kita, sering kali keadaan sulit atau pergumulan dapat membuat kita tergoda untuk melepaskan prinsip-prinsip iman atau mencari jalan keluar yang lebih mudah. Namun, melalui kisah ini kita diingatkan bahwa justru dalam situasi-situasi sulit itulah iman kita harus semakin kuat. Kesetiaan dan keteguhan iman kita kepada Tuhan dapat menjadi kesaksian yang kuat bagi orang lain.

Menjadi Kesaksian Hidup yang Nyata

Hidup kita adalah kesaksian bagi dunia. Cara kita menjalani kehidupan sehari-hari, bagaimana kita menghadapi tantangan, bagaimana kita tetap berpegang pada nilai-nilai yang diajarkan Kristus, semua itu dapat dilihat oleh orang lain. Seperti Paulus dan Silas yang memilih untuk tetap setia dan menunjukkan kasih Tuhan kepada kepala penjara, kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama dalam kehidupan kita.

Setiap tindakan kita, terutama di saat sulit, bisa menjadi kesempatan untuk memberitakan kasih dan kuasa Allah. Ketika kita tetap berpegang pada iman, tetap menunjukkan belas kasihan, dan melakukan apa yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan, orang-orang di sekitar kita akan melihat Kristus melalui hidup kita.

Kehidupan Paulus dan Silas mengajarkan kita bahwa dalam setiap keadaan, kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Meskipun kita menghadapi tantangan dan pergumulan, kesetiaan kepada Tuhan harus tetap menjadi prioritas utama. Jangan biarkan keadaan mengubah cara kita hidup dan melayani Tuhan. Sebaliknya, mari kita terus berpegang pada iman, menjalani hidup dengan penuh kasih, dan menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia di sekitar kita.

Share:

Menyediakan Diri Melayani-Nya

Kisah Lidia di Filipi merupakan salah satu contoh indah tentang bagaimana Allah memanggil dan memakai orang biasa untuk tujuan luar biasa. Lidia, seorang penjual kain ungu dari Tiatira, memiliki hati yang terbuka untuk menerima Injil. Setelah perjumpaannya dengan Paulus, Silas, dan Lukas, Tuhan membuka hatinya untuk percaya kepada Kristus, dan ia pun bersama seisi rumahnya dibaptis. Peristiwa ini menandai titik awal pertobatan orang Eropa pertama, dan Lidia menjadi bagian penting dalam sejarah kekristenan di Eropa.

Lidia dikenal sebagai sosok yang ramah dan penuh kasih. Ia menyediakan rumahnya sebagai tempat tumpangan bagi para rasul dan memberikan bantuan dalam pekerjaan pemberitaan Injil. Keramahtamahannya, kemurahan hatinya, dan kesediaannya melayani Tuhan tidak hanya berkesan bagi para rasul, tetapi juga bagi jemaat Filipi. Karakternya yang takut akan Allah dan tulus dalam pelayanan menjadi teladan bagi kita semua.

Lidia tidak hanya seorang pebisnis sukses, tetapi juga seorang pelayan yang setia. Kain ungu yang ia jual adalah komoditas mewah, namun kekayaannya tidak membuatnya lupa akan panggilannya untuk melayani Tuhan. Ia tidak membatasi dirinya dalam bisnis, tetapi dengan sepenuh hati terlibat dalam pemberitaan Injil dan pertumbuhan jemaat Kristen di Filipi.

Pelajaran dari Lidia

Dari kehidupan Lidia, kita belajar bahwa Allah dapat memakai siapa saja untuk kemuliaan-Nya, tidak peduli latar belakang atau pekerjaan seseorang. Lidia adalah seorang perempuan, pengusaha, dan Yahudi, namun perannya dalam mendukung pekerjaan Tuhan sangatlah signifikan. Ini menunjukkan bahwa panggilan untuk melayani Tuhan terbuka bagi setiap orang, tidak terbatas pada golongan atau talenta tertentu.

Sering kali kita mungkin merasa tidak cukup berbakat atau tidak yakin untuk melayani Tuhan. Namun, kisah Lidia mengingatkan kita bahwa yang Tuhan inginkan bukanlah kemampuan yang sempurna, melainkan hati yang bersedia. Saat kita menyediakan diri dengan sepenuh hati, Tuhan akan memakai talenta dan keberadaan kita untuk pekerjaan besar yang telah Dia rencanakan.

Kesediaan untuk Dipakai Allah

Pelayanan Lidia menunjukkan bahwa ketaatan dan kesediaan melayani Tuhan dapat membawa dampak yang luar biasa bagi banyak orang. Dalam kehidupan kita, ada banyak kesempatan untuk melayani, baik dalam gereja, komunitas, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Asalkan kita mau membuka hati kita dan menyediakan diri bagi Tuhan, Dia pasti akan memberi kita kesempatan untuk menjadi bagian dalam karya-Nya yang mulia.

Marilah kita meneladani Lidia, menjadi orang yang terbuka terhadap panggilan Tuhan, siap dipakai oleh-Nya, dan tulus melayani sesama dengan hati yang penuh kasih. Tuhan bisa memakai segala kemampuan dan kesempatan yang kita miliki, asalkan kita dengan rendah hati mau menyediakan diri untuk melayani-Nya.

Pagi iini mohonkan berkat kepada TUHAN untuk Bapak, Ibu,jemaat  sodara-sodari  sekalian. 
Kiranya berkat kesehatan. Berkat sukacita. Berkat Damai Sejahtera. Mengalir dalam kehidupan kita semua. 
Dan diberkati juga rumah tangga mu. Anak-anak dan cucu-cucu mu. 
Pekerjaanmu. Sawah dan ladang mu. perusahaanmu
Studi mu. Tokomu Usaha mu. Kantor mu, moumu, pelanggannya, 
Rumah mu. Keluarga mu.Pelayanan mu. Gereja mu.. Majikanmu, serta Calon pendamlingmu
Dalam nama TUHAN YESUS biarlah berkat Mu mengalir melimpah dalam kehidupan kami... Yang percaya katakan AMIN.!!!... TUHAN YESUS memberkati
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.