Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

💬 Diutus dan Diperlengkapi

"Diutus dan Diperlengkapi – Temukan inspirasi, renungan, dan bahan pelayanan untuk bertumbuh dalam iman dan melayani dengan kuasa Tuhan."

Lukas 10:1-12

Pernahkah Anda membayangkan menjadi seorang atlet yang mewakili Indonesia di Olimpiade? Pasti bangga sekali. Bukan hanya karena mengejar medali, tetapi juga membawa nama bangsa di hadapan dunia. Mereka berangkat dengan beban tanggung jawab, tapi juga dengan keyakinan: ada dukungan, latihan, dan perlengkapan yang memadai.

Bacaan hari ini mengisahkan Yesus mengutus 70 murid. Kita tidak tahu detail siapa saja mereka—bisa muda, tua, laki-laki, perempuan, lajang, atau sudah berkeluarga. Tapi yang jelas, mereka semua menerima perintah Yesus tanpa menolak. Mereka diutus bukan karena sudah sempurna, melainkan karena Yesus tahu: Ia sendiri yang akan memperlengkapi mereka.

Tiga misi utama yang mereka bawa:

  1. Menyebarkan damai sejahtera — menghadirkan kasih persaudaraan yang tulus.

  2. Menyembuhkan — bukan hanya fisik, tetapi juga luka hati dan batin.

  3. Memberitakan Kerajaan Allah — menghadirkan karakter dan kehendak Allah di dunia ini melalui Kristus.

Sekarang, giliran kita. Kita juga diutus. Mungkin bukan ke desa-desa seperti murid-murid itu, tetapi melalui profesi kita, lingkungan keluarga, atau komunitas kita. Misi ini kadang terasa berat kalau dilakukan sendirian. Itu sebabnya Yesus mengutus murid-murid berdua-dua—agar saling menguatkan, mengingatkan, dan berdampak lebih besar.

Saudaraku, mari jalani panggilan ini dengan iman. Jangan takut kekurangan. Jangan gentar menghadapi tantangan. Tuhan yang mengutus, adalah Tuhan yang memperlengkapi.

📖 Refleksi:

  • Apakah saya sadar bahwa saya sedang diutus oleh Tuhan hari ini?

  • Bagian mana dari misi Tuhan yang bisa saya mulai wujudkan dari tempat saya sekarang?

🙏 Doa:
Tuhan, terima kasih karena Engkau mempercayakan misi-Mu kepada kami. Ajari kami untuk percaya bahwa Engkau yang mengutus, juga yang memampukan. Pakailah hidup kami, supaya damai-Mu, kasih-Mu, dan Kerajaan-Mu hadir di dunia ini. Amin.

Share:

HATI YANG MELEKAT

 *Dinamika hidup ilahi ditentukan oleh kualitas hubungan kita dengan Tuhan, yaitu sejauh mana hati kita melekat kepada-Nya.

#* Karena itu, pikiran kita harus senantiasa tertuju kepada Tuhan. Tentu, kita tetap harus menyediakan waktu untuk keluarga, pekerjaan, dan tanggung jawab lainnya, tetapi fokus utama hidup kita adalah Tuhan, hingga hal itu menjadi ritme yang tetap dalam kehidupan.

#Memang, waktu kita banyak tersita oleh pekerjaan dan upaya mencari nafkah. Namun, pasti ada celah waktu untuk memiliki “me time” bersama Tuhan, dan itulah yang harus menjadi prioritas. Kita perlu berani mengorbankan tontonan yang tidak bermanfaat, serta pertemuan-pertemuan yang tidak membangun, agar hidup kita digarami oleh kehadiran Tuhan. Barulah kita dapat berkata: “Tuhan dan Kerajaan-Mu adalah segenap hidupku.”

# Sekiranya kita diberi usia hidup seribu tahun dan menjalani kehidupan dengan kebiasaan seperti ini, mungkin belum tentu cukup untuk mengenal dan mengalami Allah yang tidak terbatas. Apalagi kita hanya memiliki waktu hidup sekitar 70 hingga 100 tahun. Memang, terkadang kita merasa belum sungguh-sungguh mengalami Tuhan, padahal kita telah berusaha dengan segenap hati untuk mencari-Nya. Kita juga kerap merasa pertumbuhan rohani kita sangat lambat. Secara jujur, perasaan tersebut bisa membuat kita menjadi tawar hati.

#Di sinilah dibutuhkan ketekunan dan kesabaran. Kita harus tetap mencari Tuhan. Apalagi ketika kita berada dalam kondisi sulit, dan seolah-olah Tuhan tidak peduli terhadap pergumulan hidup kita—padahal kita sudah berusaha hidup suci, berdoa, bahkan berpuasa. Namun, keadaan hidup kita tetap tampak berantakan, dan Tuhan seakan menutup mata terhadap permasalahan kita. Dalam situasi seperti ini, kita dituntut untuk tetap tekun. Ini merupakan bagian dari proses pendewasaan rohani.

#  Karena itu, kita harus berani mempercayai bahwa hanya Tuhan yang benar-benar berharga. Tidak ada yang lebih bernilai dibandingkan Tuhan. 

#Jika kita mencermati tokoh-tokoh besar dalam Alkitab, sering kali Tuhan membawa mereka kepada kondisi-kondisi yang sangat kritis. Orang-orang besar pasti mengalami hal ini. Misalnya: Abraham harus menunggu kelahiran anaknya selama 25 tahun, lalu diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak. Yusuf dijerumuskan ke dalam sumur, lalu ke penjara, atas tuduhan palsu. Musa harus menghadapi Laut Kolzum dengan bukit di kiri-kanannya dan laut di hadapannya. Daniel harus masuk ke gua singa. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego harus menghadapi dapur api yang menyala-nyala. Mereka adalah pribadi-pribadi besar, kekasih TUHAN, yang pada akhirnya akan bersama Yang Mahabesar dan Mahamulia, Elohim YAHWEH, di Kerajaan Surga.

#   Lalu, pertanyaannya: Apakah kita juga memiliki hak istimewa seperti mereka? Jawabannya: ya, tetapi hal itu bergantung pada kita. Tuhan pasti menyediakan opsi atau pilihan, namun bergantung pada seberapa besar keberanian kita untuk membayar harga dari pilihan itu. Maka dari itu, kita harus memiliki jiwa nekat secara rohani, bukan nekat buta, tetapi nekat yang lahir dari kerinduan untuk memilih yang terbaik.

# dinamika hidup anak-anak Allah yang berjalan bersama Tuhan sejak di bumi akan berlanjut di dalam kekekalan.

Hikmat Yang Saya dapatkan dari perenungan hari ini.

DINAMIKA HIDUP ILAHI DITENTUKAN OLEH KUALITAS HUBUNGAN KITA DENGAN TUHAN, YAITU SEJAUH MANA HATI KITA MELEKAT KEPADA-NYA.

Pokok Doa:

Puji syukur atas kuasa Tuhan yang melampaui segala kuasa, dan mohon penyertaan-Nya yang melindungi kita senantiasa.

Mengalir dalam kehidupan kita semua. Dan diberkati juga rumah tangga mu. Anak-anak dan cucu-cucu mu. Pekerjaanmu. Sawah dan ladang mu. perusahaanmu Studi mu. Tokomu Usaha mu. Kantor mu, MOU mu, Pelanggan mu Rumah mu. Keluargamu. Pelayanan mu. Gereja mu.. Majikanmu, serta Calon pendampingmu 

Dalam nama TUHAN YESUS biarlah berkat Mu mengalir melimpah dalam kehidupan kami.. saya sadar bertambahnya hari harimu . Bertambahnya juga hikmat ku, supaya kami tetap kuat dan selalu ada terobosan  dan proses  untuk sukses

Share:

Tidak Layak

Keadaan yang tak sesuai firman Tuhan. Kehidupan ini tidak layak di hadapan-Nya, perlu pertobatan dan anugerah-Nya.

Lukas 9:57-62

Mengikut Yesus bukan sekadar berkata, “Aku mau mengikut-Mu, Tuhan”. Bukan pula sekadar merasa terpanggil. Mengikut Yesus berarti siap berjalan bersama Dia—di mana saja, kapan saja—walau harus melewati jalan yang tidak nyaman. Yesus sendiri ditolak, tidak diberi tempat, dan menghadapi banyak tantangan. Mengikut Dia berarti siap mengalami hal yang sama.

Dalam perjalanan-Nya, Yesus berbicara kepada tiga orang (Lukas 9:57–62). Ada yang menawarkan diri untuk mengikut-Nya, ada yang Dia ajak langsung, dan ada yang mau ikut tapi masih ingin mengurus hal lain dulu. Kepada mereka, Yesus memberi tiga gambaran:

  1. Serigala punya liang, burung punya sarang, tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Mengikut Yesus berarti siap hidup tanpa kenyamanan dunia yang dijadikan sandaran.

  2. Biarlah orang mati menguburkan orang mati. Mengikut Yesus berarti memberi prioritas tertinggi pada panggilan-Nya, melebihi urusan pribadi yang kelihatannya penting.

  3. Orang yang membajak tidak boleh menoleh ke belakang. Mengikut Yesus berarti berjalan dengan fokus, tidak goyah, dan tidak kembali ke kehidupan lama.

Yesus menegaskan: mengikut Dia harus total, konsisten, dan berkualitas. Tidak ada setengah hati. Jika komitmen itu hilang, kata-Nya tegas: tidak layak.

Hari ini, mari kita bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah aku masih setia seperti saat pertama mengikut Yesus?

  • Apakah ada kenyamanan atau urusan pribadi yang diam-diam menahan langkahku?

Mintalah Tuhan menolong kita agar tetap setia, meski ada risiko dan pengorbanan. Mari saling menguatkan, agar bila ada yang jatuh, ia dapat bangkit lagi—setia berjalan bersama Yesus, memberitakan Injil Kerajaan-Nya.

Share:

Marah Tidak Menguntungkan

Lukas 9:51-56

Setiap orang bisa marah. Ada yang marah karena niat baiknya tidak mendapat tanggapan positif, ada pula yang marah karena merasa diperlakukan tidak adil. Perasaan ini wajar, tetapi yang sering menjadi masalah adalah tindakan yang menyusul setelahnya. Tidak jarang, kemarahan membuat seseorang mengutuk, mengancam, bahkan berdoa agar Tuhan menghukum orang yang membuatnya marah.

Kisah serupa terjadi pada Yakobus dan Yohanes. Mereka begitu marah kepada orang-orang Samaria di sebuah desa hingga meminta persetujuan Yesus untuk memanggil api dari langit dan membinasakan mereka (ay. 54). Kemarahan ini dipicu oleh penolakan orang-orang Samaria ketika Yesus ingin melewati desa mereka menuju Yerusalem (ay. 53).

Bagi kita, alasan ini mungkin terdengar membingungkan. Namun, pada masa itu hubungan orang Yahudi dan orang Samaria memang penuh ketegangan (Yoh. 4:9). Orang Yahudi beribadah di Yerusalem, sedangkan orang Samaria di Gunung Gerizim (Yoh. 4:20). Maka, penolakan terhadap Yesus—yang adalah orang Yahudi—saat Ia hendak melewati wilayah mereka menuju Yerusalem bisa dianggap wajar dalam konteks hubungan kedua bangsa tersebut.

Meski demikian, marah sampai meminta Tuhan menghukum orang lain bukanlah sikap yang berkenan di hadapan-Nya. Sebelumnya, Yesus telah menegur murid-murid-Nya untuk tidak melawan mereka yang bukan musuh mereka (Luk. 9:50). Kini, Ia juga menegur mereka agar tidak mengutuk sekalipun kepada orang yang menolak Dia (ay. 55).

Kemarahan yang mendorong kita untuk mengutuk hanya membuat kita terjebak pada kepentingan diri sendiri dan bersikeras mempertahankan hal-hal yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. Ia tidak menghendaki pembelaan dengan amarah. Sebaliknya, Yesus mengajar, “Kasihilah musuh-musuhmu” (Luk. 6:27).

Kiranya kita saling mendoakan, agar setiap orang mampu saling memahami dan bersama-sama mencari solusi dalam damai.

Share:

🤝 Kawan, Bukan Lawan

Firman Tuhan mengajar kita melihat sesama sebagai kawan, bukan lawan—hidup dalam damai, bukan permusuhan, mencerminkan kasih Kristus.

"Barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu." – Lukas 9:50


🔍 Siapa yang Di Pihak Kita?

Bayangkan seseorang sedang melayani, melakukan kebaikan, bahkan mengusir setan dalam nama Yesus—tapi... dia bukan dari ‘lingkaran kita’.
Reaksi spontan Yohanes waktu itu cukup bisa dimengerti.

“Guru, dia bukan dari kelompok kita. Kami sudah melarang dia!”

Bukankah kita pun sering berpikir serupa?
“Dia bukan dari gereja kita.”
“Dia bukan dari pelayanan kita.”
“Dia bukan dari tradisi atau cara kita.”

Namun Yesus menjawab dengan mengejutkan:

“Jangan kamu cegah dia!”

🤲 Pelayanan Bukan Milik Eksklusif

Yesus mengingatkan para murid—and kita hari ini—bahwa pelayanan bukan tentang grup, label, atau pengakuan dari manusia.
Selama seseorang sungguh-sungguh melayani dalam nama Yesus, dengan maksud menyatakan kasih, membagikan kebaikan, dan menyebarkan terang Kristus, maka dia adalah kawan sepelayanan.

Tuhan Yesus tidak sedang mencari loyalitas terhadap kelompok—Dia mencari hati yang tulus dan tangan yang mau melayani.

🧍‍♂️🧍‍♀️ Saat Pelayanan Jadi Ajang Kompetisi

Di zaman sekarang, tidak jarang kita menjadikan pelayanan sebagai “wilayah kekuasaan”.

  • Persaingan antar gereja.

  • Kecurigaan terhadap kelompok lain.

  • Pengkotakan siapa yang “asli” pelayan dan siapa yang “palsu”.

Tapi Yesus tidak pernah membatasi kasih-Nya hanya untuk satu golongan. Ia justru membuka pelayanan-Nya untuk semua orang yang bersedia melayani dalam kasih dan kebenaran.

❓ Refleksi: Apakah Kita Kawan atau Lawan?

  • Apakah kita mudah menghakimi pelayanan orang lain hanya karena caranya berbeda?

  • Apakah kita melihat sesama pelayan dari komunitas lain sebagai ancaman?

  • Ataukah kita bersedia bekerja sama, saling mendoakan, dan memperkuat satu sama lain?

✨ Pelayanan yang Menyatukan

Yesus memanggil kita untuk menjadi satu tubuh.
Bukan membangun “tembok perbedaan”, tetapi jembatan kesatuan.
Bukan berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling rohani, tapi bersama-sama menunjukkan kasih Kristus kepada dunia.

🙏 Doa Penutup

Tuhan Yesus, sering kali kami mengkotak-kotakkan siapa yang layak dan tidak layak melayani atas nama-Mu.
Ampuni kami yang merasa pelayanan adalah milik kelompok kami saja.
Ajari kami untuk membuka hati, melihat saudara kami yang juga melayani-Mu dengan tulus.
Bentuk kami menjadi satu tubuh, satu iman, satu kasih, dan satu tujuan: memuliakan Engkau. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.