Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Kebangkitan Kristus: Esensi Iman Kristen

1 Korintus 15:1-11

"bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;" (1 Korintus 15:4)

Kekristenan sejati mengajarkan bahwa Kristus benar-benar mati secara fisik di kayu salib untuk membayar penghukuman atas dosa. Artinya Kristus benar-benar mencurahkan darah-Nya secara nyata untuk menyucikan dosa-dosa. Jadi kematian Kristus adalah kenyataan, bukan dongeng atau legenda! Akan tetapi kematian Kristus di kayu salib tidak akan menghasilkan apa pun, tidak akan berdampak apa-apa, jika Ia sendiri tidak bangkit.

Kebangkitan-Nya di hari ke-3 adalah bukti bahwa Ia telah mengalahkan kuasa dosa, Iblis dan juga maut. "...maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: 'Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?' Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." (1 Korintus 15:54-57). Iman Kristen adalah iman yang berdiri atas kebangkitan Kristus! Inilah yang membedakan kekristenan dengan kepercayaan atau agama apa pun yang ada di dunia ini.

Rasul Paulus berkata, "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." (1 Korintus 15:14). Andaikata Kristus tidak bangkit dari kematian maka kita tetap hidup dalam dosa, "Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus." (1 Korintus 15:18). Tetapi yang benar adalah bahwa "...Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia." (1 Korintus 15:20-21).

Kuasa kebangkitan Kristus inilah yang memberikan kekuatan dan keberanian dalam diri Yohanes dan juga Petrus untuk bersaksi di hadapan Mahkamah Agama bahwa keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia (baca Kisah 4:11-12). Dan karena Kristus telah bangkit kita orang percaya memiliki jaminan keselamatan dan pengharapan masa depan yang baik dari Tuhan.

Kebangkitan-Nya adalah bukti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat! Amin
Share:

Jangan Sia-siakan Kasih Karunia Tuhan!

1 Tawarikh 17:16-27

"Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?" (1 Tawarikh 17:16)

Siapa yang tidak kenal dengan Daud, tokoh terkenal di dalam Alkitab? Daud adalah anak bungsu Isai; masa mudanya banyak dihabiskan di padang untuk menggembalakan domba. Daud benar-benar berasal dari orang biasa, bukan dari keluarga elit. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan mengangkat hidup Daud. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan! Ia meninggikan Daud menjadi raja atas Israel. Sungguh benar bahwa "...bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8).

Betapa hebatnya kasih karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada Daud. Oleh sebab itu Daud tidak pernah berhenti untuk mengucap syukur. Ia tidak pernah melupakan kebaikan Tuhan. "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala." (Mazmur 77:12).

Sudahkah kita mengingat selalu akan kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Siapakah kita ini dulu? Kita dahulu adalah debu yang tiada berarti; kita adalah orang-orang berdosa yang patut dimurkai. Tetapi Tuhan Yesus rela mengorbankan nyawa-Nya bagi kita supaya kita diselamatkan, "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (Roma 3:24). Kini kita bukan lagi menjadi hamba dosa melainkan menjadi hamba kebenaran. Bahkan oleh karena Kristus kita diangkat sebagai anak-anak Allah. Tapi sayang, masih banyak orang Kristen yang menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan ini. Apa buktinya kalau kita menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan? Kita masih hidup dalam dosa dan belum sepenuhnya meninggalkan kehidupan lama kita. Padahal di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru.

Bagi orang Kristen yang masih saja hidup dalam dosa, Alkitab menyatakan dengan keras: "Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: 'Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.'" (2 Petrus 2:22). Di hari Minggu bak malaikat yang alimnya tak tertandingi, tetapi hari-hari lainnya kita ditemukan sedang berendam dalam kubangan yang kotor (hidup dalam dosa).amin

Kita lupa bahwa Tuhan telah mengangkat kita dan menyelamatkan kita dari lumpur dosa!
Share:

Kematian Kristus: Kita Diselamatkan dari Dosa!

Baca: Yohanes 19:16-27

"Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah." (Yohanes 19:18)

Jumat Agung adalah hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan penyaliban Yesus Kristus dan wafat-Nya di Golgota. Sudah menjadi hal yang umum bila acara yang berhubungan dengan kematian bukanlah sesuatu yang menyenangkan, sebab di mana ada kematian di situ juga ada air mata. Peristiwa kematian selalu diiringi dengan kesedihan dan kepedihan yang sangat mendalam. Namun bagi orang percaya, kematian Yesus Kristus justru adalah peristiwa yang besar dan harus disyukuri, karena di dalam kematian Yesus Kristus ada pengampunan dosa, kita dibebaskan dari kutuk, ada masa depan dan memiliki pengharapan. Tertulis: "Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (Amsal 23:18).

Kematian Yesus Kristus yang berarti sorga bukan hanya angan-angan, tetapi menjadi bagian yang pasi bagi anak-anak Tuhan. Kematian Yesus Krisus berarti pula jaminan bagi kita untuk mengalami berkat yang berkelimpahan. Hal ini dinyatakan dalam Efesus 1:3: "Terpujiah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga." Di atas Golgota sepertinya Yesus Kristus mengalami kegagalan dan kehancuran. Mungkin pada saat itu Iblis tertawa, tetapi justru di situlah kedaulatan Allah dinyatakan dan kemenangan diraih! Memang, bagi dunia salib adalah kebodohan (baca 1 Korintus 1:18), tapi bagi kita salib adalah bukti kasih Allah yang menyelamatkan karena melalui kematian Yesus Kristus kita diselamatkan. Maut tidak berkuasa lagi! Jadi kekristenan tidak dapat dipisahkan dari "salib".

Hanya melalui iman percaya kita kepada Yesus Kristus, tanpa dikarenakan apa yang telah kita lakukan, keselamatan itu kita terima dengan cuma-cuma seperti tertulis: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (Roma 3:23-24). Sebagai orang-orang berdosa kita tidak sanggup membebaskan diri dari kutuk dosa, dan hanya melalui penumpahan darah Kristus di atas kayu salib inilah dosa-dosa kita ditebus.

Tanpa kematian Yesus Kristus tidak ada jalan keselamatan bagi umat manusia di muka bumi ini!. Sudahkan kita menerima Yesus yang mati untuk dosa kita? Amin.
Share:

Pengumuman yang Menyelamatkan

Yohanes 19:16-27 

Setiap hari kita mendengar bermacam-macam pengumuman dari berbagai sumber. Ada orang yang berprofesi memberi pengumuman setiap hari. Namun, apakah pengumuman itu penting dan berimplikasi pada keselamatan?

Dalam Injil Yohanes, proses penyaliban Yesus ditulis secara singkat saja. Yohanes lebih berfokus menceritakan beberapa pengumuman di sekitar penyaliban itu. Pertama, Pilatus memasang sebuah pengumuman dalam tiga bahasa di atas kayu salib (19-22). Kedua, para prajurit membagi-bagi pakaian Yesus, yang tanpa mereka sadari, hal itu mengumumkan penggenapan Mazmur 22:19 (23-24). Ketiga, Tuhan sendiri mengeluarkan sebuah pengumuman terkait ibu jasmani-Nya, Maria (25-27).

Ada banyak motivasi di balik sebuah pengumuman. Pilatus menaruh pengumuman "Yesus, Raja orang Yahudi" untuk melukai perasaan imam-imam kepala dan masyarakat Yahudi. Mereka telah memaksanya menjatuhkan hukuman mati yang tidak diinginkannya atas Yesus. Para prajurit membagi-bagi pakaian Yesus karena menginginkan kain gratis. Mereka merampas hak milik orang lain.

Namun, Tuhan Yesus mengeluarkan pengumuman untuk menyelamatkan Maria, ibu-Nya. Dengan berkata: "Inilah ibumu!", Ia memercayakan pemeliharaan dan perlindungan atas Maria kepada murid-Nya setelah kematian-Nya.

Perkataan kita, baik berupa pengumuman, nasihat, pidato, pesan, atau kesaksian, maupun berupa ucapan, tulisan, atau rekaman audio, dapat kita pakai untuk menyelamatkan orang lain. Pengumuman yang kita sampaikan bisa mencegah orang dari mengalami celaka atau bencana. Pesan yang kita ketik bisa menjadi penghiburan bagi yang berduka. Kesaksian kita dapat membebaskan seseorang dari fitnahan atau tuduhan palsu.

Jika selama ini perkataan yang kita sampaikan lebih banyak memuaskan ego pribadi, patutlah kita meminta ampun kepada Allah. Dengan pertolongan Roh-Nya, kita akan dimampukan memakai perkataan kita untuk melindungi dan menyelamatkan orang lain. Amin
Share:

Pergumulan yang Berat (2)

Markus 14:32-42

"Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya." (Markus 14:35)

Ketika menghadapi pergumulan yang berat, sebagai manusia Yesus membutuhkan teman untuk berbagi beban, karena itu Ia mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk menemani-Nya berdoa di taman Getsemani. Yesus hendak menekankan bahwa dalam kodratnya sebagai manusia seharusnya kita saling menguatkan, menopang dan memerhatikan satu sama lain.

Seperti nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri." (Galatia 6:2-5). Tidaklah salah berbagi beban sebab kita tidak dapat hidup sendiri, kita butuh orang lain untuk memotivasi dan membangkitkan semangat agar tidak lemah, karena "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkhotbah 4:9-10).

Ketika menghadapi pergumulan yang berat Yesus tidak lari dari kenyataan, tapi Ia menerimanya sebagai bagian dari proses, karena itu Ia belajar taat kepada kehendak Bapa daripada kehendak-Nya sendiri. "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39).

Terkadang ketika menghadapi pergumulan hidup yang berat kita cenderung lari dari masalah dan berusaha mencari jalan keluar sendiri, lalu kita marah, menyalahkan keadaan dan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan. Yesus memberikan satu teladan, yaitu ketika dalam pergumulan yang berat Ia segera bersimpuh untuk berdoa dan belajar untuk mengerti apa yang menjadi kehendak Bapa. Itulah yang membuat Yesus tetap kuat menanggungnya dan dengan penuh kerelaan hati menjalani prosesnya.
Doa adalah kunci kekuatan dalam menghadapi pergumulan hidup yang berat! Amin
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.