Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Bukan “HOKI” Yang Menghampiri

1 Samuel 29:1-11

Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.
- Mazmur 34:20
Hoki” adalah istilah yang populer untuk menyatakan nasib baik yang dialami seseorang. Misalnya, ketika ada kecelakaan mobil beruntun di jalan tol dan mobil Anda terluput, Anda akan dibilang, “Hoki.”
Daud ada dalam situasi sulit. Dilema. Maju kena, mundur kena. Oleh Raja Akhis, Daud diminta berperang melawan bangsanya sendiri. Selama ini Akhis menganggapnya sudah berbelot dari bangsanya dan berpihak kepadanya, bahkan sudah diangkat sebagai pengawal setia. Akhis sangat percaya bahkan menyanjung-nyanjung Daud (ay. 6, 9). Akhis tidak tahu ini hanya drama cantiknya Daud. Di sisi lain, Daud tentu tidak akan mau berperang melawan bangsanya sendiri. Ia bukan pengkhianat seperti dugaan Akhis. Namun, jika Daud menolak permintaan Akhis, dramanya akan terbongkar.
“Hoki” akhirnya mendatangi Daud. Raja-raja kota orang Filistin (atau panglima ay. 4) keberatan dengan kehadiran Daud di tengah mereka. Dalam anggapan mereka, betapa konyolnya berperang melawan orang Israel, sementara di sini bersama mereka ada segerombolan orang Israel. Mereka tidak percaya bahwa Daud betul-betul berpihak pada orang Filistin. Akhis kalah dalam posisi tawar-menawar dengan raja-raja kota ini sehingga mengurungkan niatnya mengajak Daud berperang melawan orang Israel. Akhirnya, reputasi Daud di mata Akhis tetap terjaga baik dan di sisi lain ia tidak harus berperang melawan bangsanya sendiri. Dilema selesai.
Daud sedang “hoki”? Nanti dulu. Bukan “hoki” yang menghampirinya, tetapi Tuhan yang menyertainya. Yang terjadi di sini adalah tangan kuasa Allah yang memerintah dengan senyap. Allah beserta dengan Daud di mana pun ia berada (1Sam. 18:12, 28) termasuk ketika berada di tengah-tengah orang Filistin. Tidak ada kebetulan dalam jalan hidup manusia. Tuhan berdaulat atas hidup manusia dan mengatur segala sesuatu untuk kebaikan orang yang dikasihi-Nya (Rm. 8:28).
Jika Anda berada dalam situasi dilematis, jangan cepat-cepat putus asa. Jangan juga pasrah sambil berharap “hoki” menghampiri. Percayalah kepada Tuhan yang berkuasa atas langit-bumi dan isinya. Bersandarlah kepada-Nya. Tuhan Yesus mengatur semua untuk kebaikan orang yang dikasihi-Nya, kadang dengan cara yang terang-terangan seperti mukjizat, kadang dengan cara yang senyap.
Refleksi Diri:

Apakah Anda percaya pada hoki atau nasib baik?
Bagaimana Anda akan bersikap setelah membaca renungan ini ketika menghadapi situasi dilematis?
Share:

Hidup Tenang, Bukan Panik

1 Samuel 28:1-19

Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.
- Yesaya 59:1-2

Bob Buford menulis buku berjudul Finishing Well, tentang bagaimana mengakhiri kehidupan dengan baik. Saya yakin setiap kita kelak ingin mengakhiri kehidupan dengan baik. Dalam hal Saul, sayangnya, itu tidak terjadi. Mendekati akhir hidupnya, hidup Saul semakin tragis.
Dalam 1 Samuel 28, kita membaca tentang Saul yang semakin kelabakan menghadapi masalahnya. Ia ingin mencari pimpinan Tuhan tetapi Tuhan telah meninggalkannya dan tidak menjawabnya (ay. 6). Nabi Samuel, panutannya juga sudah meninggal dunia. Padahal, Saul adalah pribadi yang tidak percaya diri. Ia butuh orang yang memberinya arahan, apalagi ketika berada dalam situasi terancam oleh orang Filistin. Yang terpikir dalam kepalanya hanyalah Samuel. Lalu ia menempuh cara yang dilarang oleh firman Tuhan (Ul. 18:10-12), yaitu mendatangi pemanggil arwah untuk memanggilkan roh Samuel. Ironis sekali Saul melakukan itu karena sebelumnya ia sudah menyingkirkan para pemanggil arwah (ay. 3). Apa yang dulu dilarangnya, sekarang dilakukannya. Saul semakin jatuh ke titik terendah dalam hidupnya.
Saya bertanya-tanya, mengapa Tuhan meninggalkannya? Benarkah Tuhan meninggalkannya? Atau sebenarnya Saul yang lebih dulu meninggalkan Tuhan maka Dia pun meninggalkannya? Ketika sedang jaya-jayanya sebagai raja, Saul tidak taat perintah Tuhan (ay. 18). Alih-alih bertobat, ia ulangi lagi kebodohannya dengan memberi korban persembahan ketika Samuel yang ditunggu-tunggu tidak datang. Ketika berhadapan dengan Daud pun, ia menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya. Memang ia sepertinya pernah menyesal, tetapi tidak ada pertobatan nyata dalam hidupnya. Saul semakin menjauhkan diri dari Tuhan.

Hidup Saul mengajari kita tentang menghadapi masalah dengan tenang, bukan panik dan ceroboh. Semakin panik dan ceroboh, semakin runyam masalah kita. Hadapi masalah dengan datang kepada Tuhan Yesus dan mencari kehendak-Nya. Jika ada dosa atau kesalahan, bertobatlah, bukannya semakin jatuh ke dalam dosa dengan melakukan lagi perbuatan bodoh dan ceroboh. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah “tega” meninggalkan kita jika kita sungguh-sungguh mencari-Nya (Yes. 59:1-2).

Refleksi Diri:
Apa respons Anda selama ini ketika dihimpit masalah?
Bagaimana Yesaya 59:1-2 menguatkan Anda?
"
Share:

Gemas Sama Daud

1 Samuel 26:1-12

Lagi kata Daud: “Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana. Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN.”
- 1 Samuel 26:10-11a

Sekian jauh mengikuti kisah perseteruan Daud versus Saul, apakah Anda mendapat kesan Daud itu gemasin? 1 Samuel 26 mirip dengan 1 Samuel 24, bercerita tentang kesempatan Daud untuk membunuh Saul tetapi tidak dilakukannya. Sudah jelas-jelas kesempatan emas, eh, dibiarkan lewat. Apa sih maunya Daud? Dari pernyataan Daud di ayat emas, apakah Anda mendapat kesan Daud itu beriman pasif? Maksudnya, ia sedemikian beriman dan pasrah kepada Tuhan sampai tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi Saul yang semakin menjadi-jadi.

Apakah benar Daud tidak berbuat apa-apa melawan Saul? Mari kita lihat ayat 12 (bdk. 1Sam. 24:5). Daud mengambil tombak dan kendi kepunyaan Saul. Tombak adalah senjata yang selalu ada bersama Saul, alat pertahanan diri dan simbol kuasanya. Bagi Daud lebih penting mengambil simbol kuasa Saul daripada mengambil nyawanya. Tindakan itu seharusnya mempermalukan Saul. Tanpa tombak, Saul tidak berdaya. Daud telah “mengalahkan” Saul tanpa perlu mencabut nyawanya. Jadi, Daud tidak diam ketika diperlakukan buruk oleh Saul. Ia tidak mau mengambil tindakan yang melebihi batas, yaitu membunuh orang yang diurapi Tuhan. Urusan mencabut nyawa, apalagi nyawa orang yang diurapi Tuhan, bukanlah wewenangnya. Ia mengakui kewenangan Tuhan dalam hal itu (ay. 10). Kalau Tuhan berkehendak, Dia pasti sanggup melakukannya. Tak ada manusia yang bisa melawan. Apakah Anda tidak bertanya-tanya apa maksud penulis mengatakan “karena TUHAN membuat mereka tidur nyenyak”? (ay. 12). Itu jelas menyatakan kedaulatan Tuhan dalam bertindak, dalam hal ini Dia membela Daud dengan membuat Saul dan pasukannya tertidur nyenyak.
Kisah ini mengajari kita tentang pentingnya percaya dan taat pada kehendak dan kekuasaan Tuhan dalam segala hal. Jika Tuhan berkehendak, Dia pasti berkuasa melaksanakannya. Bukan berarti kita berdiam diri dan pasrah begitu saja. Kita tetap berusaha dengan kesadaran akan keterbatasan kita dan ketidakterbatasan Tuhan. Kedauatan milik Tuhan, bukan milik kita. Percayalah, jika Tuhan Yesus berkehendak, semua akan terjadi pada waktu-Nya.

Refleksi Diri:
Apakah Anda pernah mengalami dorongan untuk bertindak sendiri tanpa memercayakan diri pada kehendak atau kedaulatan Tuhan?
Apa yang Anda pelajari dari teladan Daud dalam menghadapi Saul?
"
Share:

Bapamu yang di sorga.

[Matius 6:26]

Umat Allah adalah sekaligus juga anak-anak-Nya, mereka merupakan keturunan-Nya berdasarkan penciptaan, dan mereka merupakan anak-anak-Nya berdasarkan adopsi dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memiliki hak istimewa untuk memanggil-Nya, "Bapa kami yang di sorga." [Matius 6:9] Bapa! Oh, alangkah berharganya kata itu. Di sini ada otoritas: "Jika Aku adalah Bapa, mana kehormatan-Ku?" Jika kalian adalah anak-anak-Nya, mana ketaatan kalian? Di sini ada kasih sayang yang bercampur dengan otoritas; otoritas yang tidak memicu pemberontakan; yaitu ketaatan yang dituntut dan ditaati dengan riang—yang tidak akan dilanggar walaupun dapat dilanggar. Ketaatan yang anak-anak Allah persembahkan haruslah ketaatan berdasarkan kasih. Janganlah melayani Allah sebagai budak yang berjerih payah menurut perintah atasannya, tetapi ikutilah perintah-Nya karena itu merupakan jalan Bapamu. Serahkan tubuhmu sebagai alat kebenaran, karena kebenaran merupakan kehendak Bapamu, dan kehendak Dia harus merupakan kehendak anak-Nya. Bapa!—Inilah atribut rajawi yang begitu manis terselubung oleh kasih, yang mana wajah Sang Raja membuat mahkota-Nya tidak lagi kentara, dan tongkat-Nya bukan lagi tongkat besi, tetapi tongkat perak belas kasih—tongkat itu seakan terlupakan di genggaman tangan-Nya yang lemah lembut. Bapa!—Inilah hormat dan kasih. Betapa besar kasih Bapa kepada anak-anak-Nya! Hati dan tangan Bapalah yang harus melakukan bagi anak-anak-Nya hal yang tidak mungkin dilaksanakan sebuah persahabatan belaka ataupun diusahakan sekedar kebaikan hati. Mereka adalah keturunan-Nya, Ia harus memberkati mereka; mereka adalah anak-anak-Nya, Ia harus menyatakan kekuatan-Nya membela mereka. Jika bapa duniawi saja dengan kasih mengawasi anak-anak dan merawat mereka tidak henti-hentinya, apalagi Bapa surgawi kita. Abba, Bapa! Dia yang bisa mengucapkan ini berarti telah menyanyi dengan lebih baik daripada musik terbaik dari kerubim atau serafim. Ada surga pada kedalaman kata ini—Bapa! Inilah seluruh permintaanku; seluruh permohonan akan kebutuhanku; seluruh keinginan dan harapanku. Aku memiliki semua dan segala sesuatu sampai seluruh kekekalan saat aku dapat berkata, "Bapa."
Share:

From Hero To Zero

1 Samuel 19:18-24

Ia pun menanggalkan pakaiannya, dan ia pun juga kepenuhan di depan Samuel. Ia rebah terhantar dengan telanjang sehari-harian dan semalam-malaman itu. Itulah sebabnya orang berkata: “Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?”
- 1 Samuel 19:24

From zero to hero adalah ungkapan yang menggambarkan seseorang yang tadinya bukan siapa-siapa atau gagal, berubah menjadi sukses. Seperti itulah kehidupan Raja Saul. Tadinya ia bukan siapa-siapa, tiba-tiba diangkat menjadi raja. Tadinya ia tak dikenal, tiba-tiba menjadi bintang pujaan. Sayangnya, Saul tidak bisa mempertahankan kehormatan dirinya. Ia gagal mengatasi kelemahan dirinya. Ia haus pujian. Ia cepat marah, dengki, dan iri hati melihat kesuksesan orang lain. Seumur hidupnya, Saul tidak pernah selesai dengan dirinya. Di usia yang semakin menua, Saul berubah dari hero menjadi zero.

Bagian 1 Samuel 19 memang berfokus pada Saul. Yang menarik dari pasal ini adalah kisah tentang Saul dipenuhi Roh Allah (ay. 23-24). Ini bukan pengalaman pertamanya. Sesaat setelah diangkat menjadi raja, ia pernah mengalami hal serupa (1Sam. 10:10). Apakah ini pengalaman yang sama atau berbeda? Mirip tetapi berbeda. Berbeda dalam tujuannya. Dalam 1 Samuel 10:10, Roh Allah memenuhi Saul untuk meneguhkan posisinya sebagai raja. Roh memberinya kekuatan untuk menjalankan tugasnya sebagai raja, khususnya meraih kemenangan dalam perang. Sebaliknya, dalam 1 Samuel 19, tujuannya justru berkebalikan. “… Ia rebah terhantar dengan telanjang sehari-harian dan semalam-malaman itu.” Roh membuat Saul tak berdaya dan menanggalkan jubah kebesarannya, jubah raja. Ini ironi. Seorang raja menanggalkan jubah kebesarannya dan telanjang semalaman, menyiratkan bahwa Allah telah mencopotnya dari kedudukan sebagai raja. Hal ini terjadi karena Saul tidak menjalin relasi yang sejati dengan Allah.

Sah-sah saja jika Anda ingin menjadi hero dalam hidup ini. Akan tetapi, pertanyaan yang sangat penting adalah hero dalam definisi apa dan dari pandangan siapa? Bagaimana Anda meraihnya? Bagaimana Anda menjalani dan mempertahankannya? Saul gagal hidup sebagai hero karena tidak mengalami apa yang disebut transformasi diri (Rm. 12:1,2). Transformasi diri lebih penting daripada ambisi mengubah nasib dari zero menjadi hero. Cara untuk mengalami transformasi diri adalah dengan menjalin relasi dengan Allah.

Refleksi Diri:

Apakah Anda mengalami transformasi diri sejak percaya dan mengikut Kristus?
Dalam hal apa Anda masih ingin berubah?
"
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.