Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK) Tepas Kesamben Blitar

Dosa Menahan Kebaikan

Amsal 3:27-28

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.
- Amsal 3:27
Saya pernah melihat sebuah ilustrasi yang menggambarkan dua orang sedang berinteraksi. Orang pertama sedang kedinginan dan kelaparan, sementara orang kedua memakai jaket tebal dan berjalan sambil membawa makanan. Orang kedua melihat orang pertama sambil berkata, “Kamu lapar ya?” Hanya perkataan tanpa diiringi dengan tindakan memberi. Ia hanya sekadar berkata dan kemudian pergi.
Ilustrasi gambar ini tepat menggambarkan apa yang disampaikan penulis Amsal pada bacaan Alkitab hari ini. Raja Salomo menyampaikan pesan kepada kita bahwa ternyata ada orang-orang yang memikirkan dirinya sendiri tanpa mau peduli keadaan orang lain. Dengan keegoisannya mereka hanya memandang orang lain yang mengalami kesusahan, tanpa memberikan bantuan. Dengan berbagai alasan, mereka menunda untuk melakukan perbuatan baik. Mengapa orang menunda memberikan bantuan? Karena ia memikirkan untung dan rugi, serta memikirkan dirinya terlebih dahulu sebelum memikirkan orang lain.
Ketidakpedulian membuat Tuhan sangat marah. Tuhan tidak suka dengan sikap tidak peduli. Dia menegur keras orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak memperhatikan kebutuhan orang lain. Tuhan meminta kita untuk segera memberikan bantuan dan semampu yang bisa kita lakukan. Alasan utamanya, Tuhan sudah memberkati kita terlebih dahulu maka kita harus menjadi berkat bagi orang lain. Mungkin orang tersebut sedang dan sudah berdoa kepada Tuhan meminta pertolongan dan kita bisa menjadi alat Tuhan untuk menolongnya. Jangan menghambat karya Tuhan dinyatakan karena kita egois dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Selain itu, jika kita tidak melakukan kebaikan padahal mampu melakukannya maka kita sudah berdosa. Rasul Yakobus di dalam Yakobus 4:17 mengingatkan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
Marilah belajar peka dan membuka diri terhadap orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan. Biarlah Allah bekerja dan karya-Nya nyata dirasakan oleh mereka melalui diri kita. Jadilah berkat bagi sesama supaya mereka juga bisa merasakan berkat Tuhan di dalam kehidupan. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk taat kepada firman-Nya sehingga Dia dapat memakai kita menyatakan kebaikan-kebaikan-Nya melalui diri kita.

Refleksi Diri:
Siapa orang di sekitar Anda yang Tuhan tempatkan yang membutuhkan bantuan Anda?
Apa kebaikan yang bisa Anda lakukan agar karya Tuhan nyata melalui diri Anda?
Share:

Seperti TUHAN mencintai

Hosea 3:1

Orang percaya, lihatlah ke belakang melintasi pengalamanmu, dan pikirkan bagaimana Allahmu sudah memimpinmu dalam belantara, dan bagaimana Dia sudah memberimu makan dan pakaian setiap hari — bagaimana Dia sudah menanggung perilakumu yang buruk — bagaimana Dia sudah bertahan dengan segala omelanmu dan segala kerinduanmu akan hal-hal kedagingan Mesir — bagaimana Dia sudah membuka batu karang untuk memberi minum, dan memberimu makan dengan manna yang datang dari langit. Pikirkan betapa anugerah-Nya sudah cukup bagimu dalam segala masalahmu — bagaimana darah-Nya sudah menjadi pengampunan dalam segala dosamu — bagaimana tongkat dan gada-Nya sudah menghibur engkau. Ketika engkau sekarang sudah melihat kasih Tuhan ke belakang, sekarang biarkan iman memandang kasih-Nya pada masa depan, karena ingatlah bahwa perjanjian dan darah Kristus mencakup lebih dari masa lampau. Dia yang sudah mengasihi dan mengampunimu, takkan pernah berhenti mengasihi dan mengampuni. Dialah Alfa, dan Dia akan menjadi Omega juga: Dia yang Awal, dan Dia akan menjadi yang Akhir. Karena itu, ingatlah ketika engkau melalui lembah kekelaman, engkau tidak perlu takut bahaya, sebab Dia bersamamu [Mazmur 23:4]. Ketika berdiri dalam aliran dingin sungai Yordan, engkau tidak perlu takut, karena kematian tidak bisa memisahkanmu dari kasih-Nya; dan ketika engkau tiba pada misteri kekekalan, engkau tidak perlu gemetar, "Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." [Roma 8:38] Sekarang, hai jiwa, tidakkah kasihmu disegarkan kembali? Tidakkah ini membuatmu mencintai Yesus? Tidakkah melintasi padang kasih yang tak terbatas mengobarkan dan mendorong hatimu untuk bersuka dalam Tuhan Allahmu? Pastilah, ketika kita merenungkan "cinta TUHAN" itu, hati kita berkobar, dan kita ingin lebih mencintai Dia.
Share:

Gema Suara Illahi Senin 5 Februuari 2024Sisi Baik Di Balik Sisi Buruk

1 Samuel 31:1-13

Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya.
- 1 Samuel 31:13

Kisah hidup Saul berakhir di perikop bacaan hari ini. Menurut Anda, setelah mengikuti perjalanan hidupnya di dalam kitab 1 Samuel, apakah Saul seorang sukses atau gagal? Saya pikir kita terbiasa menilai akhir hidup Saul dari sisi negatif, yaitu bahwa ia bunuh diri. Memang, itu fakta tak terbantahkan. Kita bisa mengatakan Saul “finishing not well”. Saul didera sindrom minder dan rasa tidak aman sepanjang hidupnya. Ia tidak pernah selesai dengan dirinya sendiri. Tidak ada prestasi yang istimewa semasa menjadi raja, kecuali pada masa awal ia menjabat. Sepanjang hidupnya, meskipun berkali-kali berperang, orang Filistin tidak berhasil ia tundukkan. Orang Israel tetap harus hidup dalam ancaman dan ketidakamanan.
Anda bisa menyebut nasib Saul tragis. Ia ingin menghindarkan diri dari siksaan dan hinaan orang Filistin, tetapi ternyata tetap saja jasadnya diperlakukan dengan hina (ay. 10). Akan tetapi, ada catatan menarik dalam ayat 11-13 tentang perlakuan baik dan hormat penduduk Yabesh-Gilead terhadap jenazah Saul. Siapa penduduk Yabesh-Gilead? Kembali ke masa lalu, dalam 1 Samuel 11, diceritakan tentang tindakan Saul menyelamatkan mereka dari orang Amon. Mereka tidak pernah melupakan jasanya. Saul adalah pahlawan bagi penduduk Yabesh-Gilead. Karena itu, mereka memberanikan dan merisikokan diri mengambil jasadnya di sarang musuh dan memperlakukannya dengan hormat.
Di balik pribadi yang kita anggap gagal, mungkin ada jasa baik dan dampak yang sudah dilakukan Saul bagi orang lain. Saul tak bisa disebut orang yang sukses, tetapi rasanya juga tidak pantas kita mengatakan ia pribadi yang gagal total, apalagi dari perspektif penduduk Yabesh-Gilead. Dari hidup Saul, mari kita belajar menghargai seseorang yang tidak dihargai siapa-siapa karena dirinya bukan siapa-siapa. Saya yakin, di balik pribadi yang bukan siapa-siapa, mungkin saja ada dampak yang telah diperbuatnya bagi sesama. Hendaklah kita belajar menghargai orang yang kurang dihargai karena mereka pun pasti pernah melakukan sesuatu yang berharga semasa hidupnya.

Refleksi Diri:

Siapa orang yang Anda kenal/tahu yang Anda pikir “bukan siapa-siapa”?
Apa perilaku baik dari orang tersebut yang bisa Anda hargai? Apa wujud nyata penghargaan Anda kepadanya?
"
Share:

Bagian Allah, Bagian Manusia

1 Samuel 30:1-20

Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.
- 1 Samuel 30:6b

Berkali-kali Daud menghadapi krisis. Kali ini, ia kembali menghadapi masalah besar. Pertama, Daud menghadapi kenyataan pahit: serangan balik dari orang Amalek. Dulu Daud pernah menyerang mereka dan sekarang mereka menyerang balik (1Sam. 27:8). Orang-orang yang dikasihi serta harta-bendanya dirampas. Istri dan anak-anaknya ditawan. Kedua, Daud menghadapi krisis kepemimpinan. Pengikutnya menyalahkan ia dan hampir melemparinya dengan batu. Daud dianggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Tak mudah menghadapi orang-orang yang sedang sedih dan marah.
Bagaimana Daud menghadapi masalah ini? Kuncinya ada pada ayat 6. Dikatakan, “Dan Daud sangat terjepit.” Ungkapan yang sama digunakan oleh Saul (1Sam. 28:15). Keduanya menghadapi situasi berat. Namun, keduanya merespons dengan cara yang berbeda. Saul mencari pertolongan dari pemanggil arwah. Dalam keputusasaannya, Saul tidak melihat sumber pertolongan yang utama, yaitu Allah. Berkebalikan dengan Daud, responsnya adalah “menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” (ay. 6b). Daud tak sedikit pun ragu dan goyah akan sumber kekuatan dan pertolongannya. Daud benar-benar berpaut kepada Allah.
Keterpautan Daud kepada Allah ditunjukkan dengan tindakan mencari kehendak Tuhan (ay. 8). Tuhan berkenan menyatakan kehendak-Nya dan menjanjikan keberhasilan baginya. Langkah selanjutnya adalah Daud bersama-sama enam ratus orang mengusahakan misi penyelamatan. Sikap Daud ini mengingatkan kita pada pernyataan Rasul Paulus dalam Filipi 2:12-13, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu … karena Allahlah yang mengerjakan …” Bagi Daud, menguatkan kepercayaan kepada Tuhan berarti bersandar sepenuhnya pada Allah yang aktif bekerja, tetapi pada saat yang sama ia juga bergiat dalam bagian yang harus dikerjakannya. Orang beriman tak kenal kata diam dan menyerah. Orang yang paling beriman adalah orang yang paling giat berusaha.
Bapa Gereja Agustinus berkata, “Berdoalah seolah-olah semuanya bergantung kepada Allah, bekerjalah seolah-seolah semuanya bergantung kepadamu.” Ini adalah paradoks. Di satu sisi kita harus beriman sepenuhnya pada kuasa Allah dalam menggenapkan kehendak-Nya. Di sisi lain, kita harus berusaha sebaik-baiknya karena itulah kehendak Allah bagi kita.

Refleksi Diri:
Bagaimana Anda memahami arti dari beriman dan berusaha?
Apa masalah yang Anda hadapi saat ini? Sejauh mana Anda berusaha dan berdoa/ beriman dalam menghadapi masalah tersebut?
Share:

Bukan “HOKI” Yang Menghampiri

1 Samuel 29:1-11

Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.
- Mazmur 34:20
Hoki” adalah istilah yang populer untuk menyatakan nasib baik yang dialami seseorang. Misalnya, ketika ada kecelakaan mobil beruntun di jalan tol dan mobil Anda terluput, Anda akan dibilang, “Hoki.”
Daud ada dalam situasi sulit. Dilema. Maju kena, mundur kena. Oleh Raja Akhis, Daud diminta berperang melawan bangsanya sendiri. Selama ini Akhis menganggapnya sudah berbelot dari bangsanya dan berpihak kepadanya, bahkan sudah diangkat sebagai pengawal setia. Akhis sangat percaya bahkan menyanjung-nyanjung Daud (ay. 6, 9). Akhis tidak tahu ini hanya drama cantiknya Daud. Di sisi lain, Daud tentu tidak akan mau berperang melawan bangsanya sendiri. Ia bukan pengkhianat seperti dugaan Akhis. Namun, jika Daud menolak permintaan Akhis, dramanya akan terbongkar.
“Hoki” akhirnya mendatangi Daud. Raja-raja kota orang Filistin (atau panglima ay. 4) keberatan dengan kehadiran Daud di tengah mereka. Dalam anggapan mereka, betapa konyolnya berperang melawan orang Israel, sementara di sini bersama mereka ada segerombolan orang Israel. Mereka tidak percaya bahwa Daud betul-betul berpihak pada orang Filistin. Akhis kalah dalam posisi tawar-menawar dengan raja-raja kota ini sehingga mengurungkan niatnya mengajak Daud berperang melawan orang Israel. Akhirnya, reputasi Daud di mata Akhis tetap terjaga baik dan di sisi lain ia tidak harus berperang melawan bangsanya sendiri. Dilema selesai.
Daud sedang “hoki”? Nanti dulu. Bukan “hoki” yang menghampirinya, tetapi Tuhan yang menyertainya. Yang terjadi di sini adalah tangan kuasa Allah yang memerintah dengan senyap. Allah beserta dengan Daud di mana pun ia berada (1Sam. 18:12, 28) termasuk ketika berada di tengah-tengah orang Filistin. Tidak ada kebetulan dalam jalan hidup manusia. Tuhan berdaulat atas hidup manusia dan mengatur segala sesuatu untuk kebaikan orang yang dikasihi-Nya (Rm. 8:28).
Jika Anda berada dalam situasi dilematis, jangan cepat-cepat putus asa. Jangan juga pasrah sambil berharap “hoki” menghampiri. Percayalah kepada Tuhan yang berkuasa atas langit-bumi dan isinya. Bersandarlah kepada-Nya. Tuhan Yesus mengatur semua untuk kebaikan orang yang dikasihi-Nya, kadang dengan cara yang terang-terangan seperti mukjizat, kadang dengan cara yang senyap.
Refleksi Diri:

Apakah Anda percaya pada hoki atau nasib baik?
Bagaimana Anda akan bersikap setelah membaca renungan ini ketika menghadapi situasi dilematis?
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.