Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

 Saring Sebelum Sharing

Frasa "saring sebelum sharing" mengingatkan kita untuk berhati-hati sebelum membagikan informasi. Ini sangat relevan di era digital, di mana menyebarkan berita semudah menggerakkan jari-jemari. Namun, kemudahan ini membawa risiko besar jika informasi yang dibagikan belum teruji kebenarannya.

Teladan Lukas: Cermat dan Teliti
Dalam Injilnya, Lukas menunjukkan pentingnya penyelidikan yang teliti. Meski banyak tulisan tentang Yesus sudah beredar, Lukas tetap melakukan penyelidikan saksama untuk memastikan keabsahan berita yang disampaikannya (Luk. 1:1-4). Ia mengumpulkan fakta dari sumber yang terpercaya dan menyusunnya secara teratur. Tujuannya jelas: memberikan informasi yang dapat dipercaya.

Hoaks di Masa Kini
Dalam konteks modern, kita dihadapkan pada berbagai jenis hoaks:

  1. Misinformasi – Informasi salah yang disebarkan tanpa sengaja.
  2. Disinformasi – Informasi salah yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.
  3. Malinformasi – Informasi benar yang disajikan untuk merugikan pihak lain.

Ketiganya dapat merusak hubungan antarindividu dan kepercayaan dalam masyarakat.

Prinsip Kehati-hatian
Seperti Lukas, kita perlu menyaring setiap informasi dengan teliti sebelum menyebarkannya. Beberapa langkah yang bisa kita terapkan:

  1. Periksa sumber informasi – Pastikan sumbernya terpercaya dan bukan anonim.
  2. Cek fakta – Gunakan platform pemeriksa fakta jika ragu akan suatu informasi.
  3. Jangan terburu-buru – Hindari bereaksi emosional terhadap informasi yang memancing kemarahan atau kegembiraan berlebih.
  4. Berpikir kritis – Tanyakan, "Apakah informasi ini benar, relevan, dan bermanfaat untuk dibagikan?"

Kesimpulan
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menyuarakan kebenaran dan menjadi pembawa damai. Jangan biarkan mulut atau jari kita dipakai untuk menyebarkan kebohongan, tetapi gunakanlah untuk menyampaikan hal-hal yang membangun iman dan kebenaran.

Mari kita meneladani sikap teliti Lukas dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyaring sebelum sharing, kita dapat menjaga integritas diri dan menjadi berkat bagi sesama. Tuhan memberkati!

Share:

Hukum untuk Kesejahteraan Umat

(Keluaran 21:12-36)

Konflik dalam relasi antar umat Allah sering terjadi karena dosa manusia. Untuk menjaga keharmonisan hidup bersama, Allah memberikan hukum-hukum yang menjamin kesejahteraan umat, salah satunya adalah prinsip keadilan yang dikenal dengan istilah "mata ganti mata, gigi ganti gigi" (ayat 24). Prinsip ini tidak dimaksudkan untuk membalas dendam, melainkan memastikan hukuman yang setimpal dengan pelanggaran.

Keadilan Allah dalam Hukum

1. Hukuman untuk pembunuhan

Tidak disengaja: Pelaku diberi tempat perlindungan, sebagai bentuk kasih Allah (ayat 12-13).

Direncanakan: Pelaku harus dihukum mati (ayat 14).



2. Dosa berat yang dihukum mati

Memukul atau mengutuk orang tua (ayat 15, 17).

Menculik orang untuk dijual sebagai budak (ayat 16).



3. Ganti rugi untuk dosa yang merugikan orang lain

Memukul dan melukai sesama (ayat 18-19).

Menyakiti budak atau perempuan hamil (ayat 20-27).

Kelalaian yang menyebabkan orang lain terluka oleh ternak (ayat 28-36).




Prinsip dalam Perjanjian Baru
Hukum "mata ganti mata" tetap relevan dalam konsep "hukum tabur tuai." Yesus tidak menentang keadilan, tetapi menentang penyalahgunaan hukum ini untuk membalas dendam. Dalam Matius 5:38-42, Yesus mengajarkan agar kita membalas kejahatan dengan kebaikan. Hal ini sejalan dengan prinsip kasih: menabur kebaikan akan menuai kesejahteraan (lih. Mat 7:12).

Refleksi untuk Kita
Keadilan Allah yang sempurna menegaskan pentingnya menghormati hukum dan mempraktikkan kasih. Kita diajak untuk:

Tidak membalas dendam dengan amarah.

Menegakkan keadilan sesuai firman Tuhan.

Memperlakukan sesama dengan tindakan kasih yang membangun.


Doa Berkat
Bapa yang adil, kami bersyukur atas hukum-Mu yang mendidik kami untuk hidup dalam kasih dan keadilan. Kami berdoa untuk setiap saudara seiman, keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kami. Kiranya berkat-Mu melimpah atas kami semua:

Berkat kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera.

Berkat atas rumah tangga, anak-anak, dan cucu-cucu kami.

Berkat atas pekerjaan, usaha, studi, dan segala aktivitas kami.


Dalam nama Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau menyertai dan memberkati kami sepanjang hidup kami.
Amin.

Tuhan Yesus memberkati!

Share:

Hukum untuk Membatasi

(Keluaran 21:1-11)

Perjanjian Lama memuat berbagai hukum, termasuk hukum restriktif yang bertujuan membatasi praktik-praktik tidak manusiawi di tengah kebebalan umat manusia. Salah satu contoh hukum restriktif adalah pengaturan tentang perbudakan. Dalam masyarakat kuno, perbudakan adalah praktik yang umum terjadi, dan tanpa pengaturan, hal ini dapat berkembang menjadi tindakan yang sangat tidak manusiawi.

Hukum perbudakan yang diberikan Allah melalui Musa bertujuan untuk mengatur dan membatasi perilaku masyarakat agar lebih manusiawi:

1. Budak Ibrani harus dibebaskan setelah enam tahun (ayat 2). Hal ini memberikan harapan dan keadilan bagi mereka, sesuatu yang tidak berlaku di bangsa lain.


2. Pengaturan tentang keluarga budak (ayat 3-6) menunjukkan perhatian Allah terhadap hubungan dan pilihan hidup budak tersebut. Jika seorang budak memilih untuk tetap tinggal karena cinta kepada keluarganya, ia dapat melakukannya dengan sukarela.


3. Perlindungan untuk budak perempuan (ayat 7-11). Budak perempuan tidak diperlakukan seperti barang yang dapat diperlakukan semena-mena. Jika statusnya berubah menjadi istri, ia harus diperlakukan dengan penuh tanggung jawab, atau ia berhak untuk bebas tanpa syarat.



Hukum-hukum ini menunjukkan bahwa Allah tidak menyetujui perbudakan, tetapi Dia memberikan pembatasan agar keadilan dan kemanusiaan tetap terjaga di tengah realitas dunia yang penuh dosa.

Mengapa Allah Memberikan Hukum Restriktif?
Allah tahu bahwa hati manusia sering keras dan memberontak. Maka, hukum seperti ini dibuat untuk mencegah manusia bertindak lebih jauh dalam dosa mereka. Sebagai umat-Nya, kita diajak untuk melihat hukum-hukum ini sebagai cerminan kasih dan keadilan Allah yang mengutamakan kesejahteraan bagi semua pihak.

Refleksi bagi Kita Saat Ini
Meski zaman telah berubah, prinsip kasih dan keadilan Allah tetap relevan. Kita dipanggil untuk mempraktikkan kasih terhadap sesama, bahkan di tengah situasi sulit. Dalam semua tindakan, mari kita utamakan kasih dan perlakuan manusiawi, seperti yang diajarkan oleh firman Tuhan.

Doa Berkat
Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajarkan kami tentang keadilan dan kasih. Kami berdoa untuk setiap jemaat-Mu, keluarga, pekerjaan, dan usaha yang mereka lakukan. Biarlah kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera melimpah dalam hidup kami.

Kiranya rumah tangga kami diberkati, anak-anak dan cucu-cucu kami diberi hikmat dan perlindungan, serta usaha kami diberi keberhasilan. Dalam pelayanan kami, biarlah nama-Mu dimuliakan. Kami percaya bahwa berkat-Mu akan selalu menyertai kami.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa dan mengucap syukur.
Amin.

Tuhan Yesus memberkati!

Share:

Kekudusan TUHAN yang Dahsyat

Keluaran 20:18-26

Allah bukan hanya Maha Pengasih tetapi juga Mahakudus, dan kekudusan-Nya adalah atribut yang dahsyat dan tak terjangkau oleh manusia berdosa. Hal ini terlihat dengan jelas ketika TUHAN menampakkan diri di Gunung Sinai. Umat Israel menyaksikan manifestasi kehadiran-Nya melalui guruh, kilat, sangkakala yang nyaring, dan gunung yang penuh asap. Reaksi mereka adalah ketakutan yang mendalam sehingga mereka menjauh dan meminta agar Allah berbicara melalui Musa, bukan langsung kepada mereka (Kel. 20:18-19).

Takut kepada kekudusan Allah adalah respons yang wajar. Sebagai manusia berdosa, kita tidak sanggup berdiri di hadapan Allah yang kudus. Bahkan, makhluk surgawi seperti serafim pun menutupi wajah mereka ketika berada di hadirat Allah, meskipun mereka tidak berdosa (Yes. 6:2).

Kekudusan Allah adalah inti dari keberadaan-Nya dan ditekankan berulang kali dalam Alkitab. Sifat ini menjadi atribut yang dipuji tiga kali berturut-turut oleh serafim: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN Semesta Alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!" (Yes. 6:3). Kekudusan-Nya menunjukkan bahwa Allah adalah murni, sempurna, dan sepenuhnya terpisah dari dosa.

Namun, kekudusan Allah juga membawa konsekuensi serius bagi manusia. Nadab dan Abihu, misalnya, dihukum TUHAN karena mempersembahkan api yang tidak diperintahkan-Nya (Im. 10:1-3). Bahkan Musa, pemimpin pilihan Allah, tidak luput dari teguran ketika ia tidak menghormati kekudusan Allah saat memukul batu untuk mengeluarkan air (Bil. 20:11-12).

Kesadaran akan kekudusan Allah harus mendorong kita untuk hidup dalam kekudusan dan hormat kepada-Nya. Kekudusan TUHAN tidak dapat dianggap enteng, dan setiap pelanggaran terhadap-Nya akan mendatangkan konsekuensi yang berat.

Kita dipanggil untuk tidak hanya mengasihi Allah karena kasih-Nya, tetapi juga menghormati dan takut kepada-Nya karena kekudusan-Nya. Marilah kita berupaya hidup kudus, menyadari bahwa Allah yang kita sembah adalah kudus adanya, dan hormat kepada-Nya harus tercermin dalam setiap aspek hidup kita. Sebab seperti firman-Nya, "Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus" (Im. 19:2)

Share:

Cara Mengasihi Sesama

Keluaran 20:12-17

Sepuluh Hukum Allah menegaskan bahwa kasih kepada Allah harus diwujudkan dengan kasih kepada sesama manusia. Ini menunjukkan bahwa iman kita yang benar tercermin dalam hubungan baik dengan orang-orang di sekitar kita.

  1. Menghormati Orang Tua
    Hukum kelima mengingatkan kita untuk menghormati orang tua, termasuk merawat mereka saat mereka lanjut usia (Kel. 20:12; bdk. Mat. 15:3-6). Ini juga berlaku untuk semua otoritas yang Allah tetapkan dalam hidup kita, seperti pemimpin gereja, atasan, dan pemerintah (Rm. 13:1-5).

  2. Mengupayakan Perdamaian
    Hukum keenam melarang pembunuhan (Kel. 20:13). Namun, Yesus memperluas pengertian ini, dengan mengatakan bahwa kemarahan tanpa alasan juga melanggar hukum ini (Mat. 5:21-23). Kita dipanggil untuk mengupayakan perdamaian dalam setiap hubungan kita.

  3. Kesetiaan dalam Perkawinan
    Hukum ketujuh melarang perzinaan (Kel. 20:14), mengajarkan kita untuk setia kepada pasangan. Bahkan, Yesus mengingatkan bahwa keinginan yang tidak benar terhadap orang lain sudah termasuk pelanggaran hukum ini (Mat. 5:27-30).

  4. Menolong Sesama
    Hukum kedelapan bukan hanya melarang pencurian (Kel. 20:15) tetapi juga mendorong kita untuk membantu sesama yang membutuhkan. Firman Tuhan memberi banyak contoh, seperti memberi dari hasil panen kepada orang miskin (Im. 23:22) dan menolong orang yang terluka (Luk. 10:25-37).

  5. Berkata Benar
    Hukum kesembilan mengajar kita untuk tidak bersaksi dusta (Kel. 20:16). Perkataan yang melukai, termasuk gosip dan hoaks, merusak kasih terhadap sesama. Sebaliknya, kita dipanggil untuk memakai perkataan kita untuk membangun dan memberkati.

  6. Menghargai dan Mensyukuri Berkat
    Hukum kesepuluh melarang keinginan terhadap milik orang lain (Kel. 20:17). Kita diajarkan untuk menjaga hati dari iri hati dan belajar bersyukur atas berkat yang telah Tuhan berikan.

Kasih kepada sesama adalah bukti nyata kasih kita kepada Allah. Ketika kita mengasihi dengan tindakan konkret seperti yang diajarkan dalam Sepuluh Hukum, kita memuliakan Allah dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Semoga Allah memampukan kita untuk mengasihi dengan tulus setiap hari.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.