Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK) Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian : " Ingatlah Kebesaran-Nya "

Ingatlah Kebesaran-Nya

Ada masa-masa dalam hidup ketika kita begitu mudah melupakan apa yang telah Tuhan lakukan. Kita sibuk, kita lelah, kita tertekan, dan tanpa sadar hati kita menjauh dari sumber kekuatan sejati. Dalam bagian ini, Musa memanggil Israel—dan juga kita hari ini—untuk tidak lupa akan kebesaran Tuhan yang sudah mereka alami sendiri.

Bangsa Israel bukan hanya mendengar cerita tentang kuasa Allah; mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Tuhan memelihara mereka di padang gurun, melindungi mereka dari bahaya, dan menunjukkan kuasa-Nya melalui perbuatan yang dahsyat (ay. 2–5). Jika mereka pernah ragu, seharusnya pengalaman itu cukup untuk meneguhkan iman mereka.

Namun Musa juga mengingatkan sisi lain dari kebesaran Allah—keadilan-Nya. Pemberontakan Datan dan Abiram bukan sekadar gerakan melawan Musa, tetapi penolakan terhadap Allah sendiri. Tuhan pun bertindak tegas: tanah terbelah dan menelan mereka beserta keluarga dan segala kepunyaannya (ay. 6–7). Sebuah pengingat bahwa Allah yang kita sembah bukan hanya penuh kasih, tetapi juga suci dan layak ditaati.

Bagi kita, pesan ini sangat penting.
Orang yang benar-benar mengenal Tuhan akan terdorong untuk mengasihi, menaati, dan berpegang pada ketetapan-Nya dengan tulus. Mengapa? Karena ia tahu siapa Tuhan itu—besar, setia, adil, dan penuh kuasa.

Mungkin kamu juga punya pengalaman pribadi bersama Tuhan. Saat Ia memeliharamu. Saat Ia menguatkanmu waktu kamu jatuh. Saat Ia membuka jalan yang tidak mungkin. Atau ketika Ia menegurmu dan membawa kamu kembali.

Semua itu bukan sekadar kenangan.
Itu adalah undangan untuk hidup lebih dekat dengan-Nya hari ini.

Ingatlah kebesaran-Nya.
Biarlah ingatan itu menjadi energi baru untuk tetap setia, tetap mengasihi, dan tetap hidup menurut jalan-Nya.

Share:

Renungan Harian : Hidup Menurut Segala Jalan-Nya

Hidup Menurut Segala Jalan-Nya

📖 Ulangan 10

Ada satu kerinduan hati Tuhan yang begitu jelas dalam firman ini: bahwa kita hidup menurut segala jalan-Nya—mengasihi Dia, beribadah dengan segenap hati dan jiwa, dan memegang perintah-perintah-Nya demi kebaikan kita sendiri (ay. 12–13). Tuhan tidak menuntut kita tanpa alasan. Ia ingin kita berada di jalan yang benar, jalan yang membawa kehidupan, berkat, dan damai sejahtera.

Untuk dapat berjalan menurut jalan-Nya, kita perlu memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Bukan sekadar tahu apa yang Ia kehendaki, tetapi benar-benar menghidupinya. Ibadah yang sejati bukan hanya hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati yang melekat kepada-Nya. Saat kita hidup dekat dengan Tuhan, langkah kita pun mulai selaras dengan langkah-Nya.

Mengapa kita harus mengikuti jalan-Nya?
Karena Dialah pemilik langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit. Ia menguasai bumi beserta segala isinya. Ia adalah Allah segala ilah, Tuhan segala tuan—besar, kuat, dan dahsyat (ay. 14–17). Bila Ia adalah sumber segalanya dan penguasa atas seluruh keberadaan, maka sungguh tepat jika kita merendahkan diri dan menyelaraskan hidup kita kepada-Nya. Jalan-Nya lebih tinggi, lebih bijaksana, dan membawa kehidupan.

Tuhan memanggil kita untuk beribadah hanya kepada-Nya dan berpaut kepada-Nya semata. Ibadah itu dinyatakan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Tuhan meminta kita "menyunatkan hati"—melepaskan kekerasan hati, berhenti membanggakan diri, dan mulai peduli pada sesama. Ia peduli pada anak yatim, janda, dan pendatang; Ia memberi contoh agar kita melakukan hal yang sama: memberi, merangkul, dan menolong (ay. 18–19).
Di sinilah ibadah sejati itu terlihat: ketika hidup kita mencerminkan karakter Tuhan.

Musa memberikan teladan taat. Ketika Tuhan memerintahkan memahat dua loh batu, membuat tabut, dan meletakkannya sesuai perintah-Nya, Musa melakukannya tanpa menawar, tanpa menunda. Ia tunduk sepenuhnya pada firman Tuhan.
Melalui hidupnya, Musa mengajarkan bahwa mengikuti jalan Tuhan berarti taat, bukan sekadar tahu apa yang benar.

Hari ini, Tuhan juga menantikan respons kita.
Apakah kita siap menghidupi jalan-Nya?
Apakah kita mau beribadah dengan hati yang utuh, bukan setengah?
Apakah kita bersedia memedulikan orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana Tuhan memedulikan mereka?

Mari kita kembali menata hati kita. Mari berjalan di jalan-Nya, bukan jalan kita sendiri.
Kiranya setiap langkah kita menjadi pujian bagi Tuhan yang besar, kuat, dan penuh kasih.


Doa Penutup

Tuhan, kami bersyukur karena kuasa-Mu melampaui segala kuasa di bumi dan di surga. Kami memohon penyertaan-Mu untuk melindungi kami dan keluarga kami.
Biarlah berkat-Mu mengalir dalam rumah tangga kami, pekerjaan kami, usaha kami, studi kami, pelayanan kami, dan seluruh langkah hidup kami. Engkau yang memberkati sawah, ladang, perusahaan, toko, kantor, pelanggan, dan setiap rencana hidup kami.

Tuhan, tambahilah hikmat kami setiap hari. Kuatkan kami dalam proses, bukakan terobosan demi terobosan, dan bimbing kami agar selalu berjalan seturut kehendak-Mu.
Kami menyerahkan calon pendamping, masa depan, dan pelayanan kami ke dalam tangan-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa.
Amin. Tuhan Yesus memberkati.

Share:

Renungan Harian : Berdoa bagi yang Membangkitkan Amarah

Berdoa bagi yang Membangkitkan Amarah 

Ulangan 9:7–29

Ada orang-orang dalam hidup kita yang begitu mudah membangkitkan amarah—mereka yang keras kepala, tidak tahu berterima kasih, atau bahkan menyakiti kita berulang kali. Respons alami kita adalah kecewa, marah, atau ingin menjauh. Namun, bagian Alkitab hari ini menunjukkan respons yang sangat berbeda melalui teladan Musa.

Bangsa Israel berulang kali membuat Tuhan marah. Sejak keluar dari Mesir sampai tiba di Horeb, mereka melawan, bersungut-sungut, dan bahkan membuat patung tuangan ketika Musa naik gunung menerima loh batu. Mereka begitu tegar tengkuk sehingga Tuhan hendak memunahkan mereka.

Musa pun marah—ia memecahkan loh batu di hadapan bangsa itu. Namun yang menarik, Musa tidak berhenti pada kemarahan. Ia sujud, berpuasa, dan berdoa selama empat puluh hari empat puluh malam agar Tuhan tidak memusnahkan mereka. Walau berkali-kali disakiti, Musa tetap memilih untuk berdiri sebagai perantara di hadapan Allah.

Integritas Musa tampak dari pilihannya untuk berdoa, bukan membenci. Ia tidak membela dosa mereka, tetapi ia tetap memohonkan belas kasihan Tuhan atas mereka.

Renungan ini mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah kita bersedia mendoakan orang-orang yang membangkitkan amarah dalam hidup kita?
Orang yang mengecewakan kita…
Orang yang keras kepala…
Orang yang sulit dikasihi…

Musa menunjukkan bahwa kasih yang sejati bukan hanya terlihat saat segalanya baik, tetapi justru ketika kita berdoa bagi mereka yang menyakiti kita.

Kiranya Tuhan memberi kita hati yang sabar, lembut, dan siap menjadi pembawa damai—bukan hanya bagi mereka yang baik kepada kita, tetapi juga bagi mereka yang sulit.

Pokok Doa

  • Bersyukur atas kuasa Tuhan yang besar dan penyertaan-Nya yang tidak pernah meninggalkan kita.

  • Memohon berkat Tuhan atas rumah tangga, pekerjaan, studi, usaha, pelayanan, gereja, dan keluarga.

  • Berdoa agar hikmat Tuhan bertambah dalam hidup kita, memberi kekuatan untuk mengampuni, mengendalikan diri, dan tetap berjalan dalam proses pemurnian-Nya.

  • Memohon agar kita memiliki hati seperti Musa—yang tetap berdoa, bukan membalas.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami percaya Engkau memampukan kami mengasihi dan mendoakan mereka yang sulit kami hadapi. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 23 November 2025

Lirik 

Yesus Kau Sungguh Baik 
Yesus, Kau sungguh baikYesus, namaMu indahYesus, kucinta Kau selaluKutinggikan, kuagungkan selamanya
Panggil namanya, Yesus
Yesus, Kau sungguh baikYesus, namaMu indahYesus, kucinta Kau selaluKutinggikan, kuagungkan selamanya
'Ku mau memujiMu, 'ku selalu pujiMu'Ku mau menyembahMu, 'ku selalu sembahMuKau yang layak terima semua pujianKemuliaan hanya bagi Tuhan
Mau berikan tepuk tangan bagi Tuhan Yesus
Yesus, Kau sungguh baikYesus, namaMu indahYesus, kucinta Kau selaluKutinggikan, kuagungkan selamanya
'Ku mau memujiMu, 'ku selalu pujiMu'Ku mau menyembahMu, 'ku selalu sembahMuKau yang layak terima semua pujianKemuliaan hanya bagi Tuhan
'Ku mau memujiMu, 'ku selalu pujiMu'Ku mau menyembahMu, 'ku selalu sembahMuKau yang layak terima semua pujianKemuliaan hanya bagi Tuhan
Semua kemuliaan dan keagunganTertuju padaMu, Tuhan dan RajakuSegenap jiwa dan nafaskuMenyembah Yesus yang hidup
Semua kemuliaan dan keagunganTertuju padaMu, Tuhan dan RajakuSegenap jiwa dan nafaskuMenyembah Yesus yang hidup
'Ku mau memujiMu, 'ku mau memujiMu, 'ku selalu pujiMu'Ku mau menyembahMu, 'ku selalu sembahMuKau yang layak terima semua pujianKemuliaan hanya bagi Tuhan
Sekali lagi sama-sama
'Ku mau memujiMu, 'ku selalu pujiMu'Ku mau menyembahMu, 'ku selalu sembahMuKau yang layak terima semua pujianKemuliaan hanya bagi Tuhan
Kau yang layak terima semua pujianKemuliaan hanya bagi TuhanKau yang layak, TuhanKau yang layak terima semua pujianKemuliaan hanya bagi Tuhan

Mulutku Penuh Dengan Pujian
Tuhan Kaulah pengharapankuKupercaya hanya kepadaMuYesus Allah perlindungankuEngkau yang selalu kupuji
Tuhan Kaulah pengharapankuKupercaya hanya kepadaMuYesus Allah perlindungankuEngkau yang selalu kupuji
Mulutku penuh dengan pujianKepadaMu ya Yesus TuhanSepanjang hari kuberi penghormatanKepadaMu ya Allahku
Mulutku penuh dengan pujianKepadaMu ya Yesus TuhanSepanjang hari kuberi penghormatanKepadaMu ya Allahku
Mulutku penuh dengan pujianKepadaMu ya Yesus TuhanSepanjang hari kuberi penghormatanKepadaMu ya Allahku
Sepanjang hari kuberi penghormatanKepadaMu ya AllahkuKepadaMu ya AllahkuKepadaMu ya Allahku

Mampirlah Dengar Doa ku

mampirlah dengar doaku Yesus penebus orang lain Kau hampiri jangan jalan t'rus Yesus Tuhan dengar doaku orang lain Kau hampiri jangan jalan t'rus di hadapan tahta rahmat aku menyembah tunduk dalam penyesalan Tuhan tolonglah ini saja andalanku jasa kurbanku hatiku yang hancur luluh buatlah sembuh

Sungguh indah
Kemanakah aku dapat pergiMenjauhi rohMu yang suciKau sahabat dan Kau dekat
Bahkan seluruh pengabdiankuTak bisa membalas kesetiaanMuSungguh mulia dan berharga
Sungguh besar pengorbananMu bagikuTerlalu dalam untuk dimengertiSungguh besarSungguh indah yang Kau pikirkan tentangkuTak terselami bagikuSungguh indah
EmBahkan seluruh pengabdianku (pengabdianku)Tak bisa membalas kesetiaanMu (ha)Sungguh mulia oh dan berharga
Sungguh besar pengorbananMu bagikuTerlalu dalam untuk dimengertiSungguh besarSungguh indah yang Kau pikirkan tentangkuTak terselami bagikuSungguh indahSungguh indahSungguh indahHm

Kumasuki Gerbangnya
Kumasuki gerbang-NyaDengan hati bersyukurHalaman-Nya dengan pujianKataku, "Hari ini harinya Tuhan"Ku bersuka s'bab Dia girangkanku
Dia girangkanku, oh, Dia girangkankuKu bersuka s'bab Dia girangkanku, oh-hoDia girangkanku, oh, Dia girangkankuKu bersuka s'bab Dia girangkanku

Share:

Renungan Harian : Bukan Kuatku, Tetapi Tuhanku!

Ilustrasi perjalanan hidup dengan cahaya Tuhan sebagai penuntun menuju kemenangan.

Bukan Kuatku, Tetapi Tuhanku! 

Dalam perjalanan hidup, kita sering dihadapkan pada “musuh-musuh” yang terasa jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Tekanan hidup, masalah keluarga, kekuatiran masa depan, atau pergumulan pribadi terkadang membuat kita merasa kecil, minder, bahkan pesimis. Sama seperti bangsa Israel yang berdiri di tepi Sungai Yordan, kita pun mungkin melihat tantangan yang tampak mustahil untuk dihadapi.

Bangsa Israel diperintahkan masuk ke negeri dengan kota-kota besar berkubu tinggi, dengan penduduk raksasa seperti bani Enak. Secara manusia, tidak mungkin mereka bisa menang. Ketakutan itu wajar—tetapi Tuhan tidak ingin mereka berfokus pada kekuatan musuh, melainkan pada kekuatan-Nya.

Musa mengingatkan mereka bahwa Tuhan sendiri akan berjalan di depan mereka. Ia adalah api yang menghanguskan, Allah yang menundukkan musuh, dan Pribadi yang memampukan mereka menang. Kemenangan mereka bukan bergantung pada kemampuan mereka, melainkan pada Allah yang menyertai mereka.

Namun, Musa juga memperingatkan: jangan sampai kemenangan membuat mereka sombong. Bukan karena kebenaran atau ketulusan mereka Tuhan memberi kemenangan itu. Justru mereka bangsa yang tegar tengkuk—dan semua itu semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Kemenangan bukan alasan untuk meninggikan diri, melainkan untuk merendahkan hati di hadapan Allah.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Dalam menghadapi tantangan hidup, siapa yang menjadi andalan kita? Kekuatan sendiri atau Tuhan?

Ketika hidup terasa berat, ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang besar, dahsyat, dan berkuasa. Dan ketika kemenangan datang, jangan lupa bahwa semua itu terjadi bukan karena “kuatku”, tetapi karena Tuhanku.

Bukan kuatku, tetapi Allahku yang hebat!
Allahku menang di dalam hidupku!

Pokok Doa

  • Bersyukur atas kuasa Tuhan yang jauh melampaui segala kuasa manusia.

  • Memohon penyertaan-Nya atas rumah tangga, pekerjaan, studi, usaha, pelayanan, gereja, masa depan, dan seluruh perjalanan hidup kita.

  • Berdoa agar hikmat Tuhan bertambah dalam hidup kita setiap hari, membawa terobosan, kekuatan, dan proses yang memimpin kita kepada rencana-Nya yang terbaik.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami percaya dan menerima berkat-Mu atas hidup kami. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.