Pujian Ibadah GKKK Tepas | 23 November 2025
Renungan Harian : Bukan Kuatku, Tetapi Tuhanku!
Dalam perjalanan hidup, kita sering dihadapkan pada “musuh-musuh” yang terasa jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Tekanan hidup, masalah keluarga, kekuatiran masa depan, atau pergumulan pribadi terkadang membuat kita merasa kecil, minder, bahkan pesimis. Sama seperti bangsa Israel yang berdiri di tepi Sungai Yordan, kita pun mungkin melihat tantangan yang tampak mustahil untuk dihadapi.
Bangsa Israel diperintahkan masuk ke negeri dengan kota-kota besar berkubu tinggi, dengan penduduk raksasa seperti bani Enak. Secara manusia, tidak mungkin mereka bisa menang. Ketakutan itu wajar—tetapi Tuhan tidak ingin mereka berfokus pada kekuatan musuh, melainkan pada kekuatan-Nya.
Musa mengingatkan mereka bahwa Tuhan sendiri akan berjalan di depan mereka. Ia adalah api yang menghanguskan, Allah yang menundukkan musuh, dan Pribadi yang memampukan mereka menang. Kemenangan mereka bukan bergantung pada kemampuan mereka, melainkan pada Allah yang menyertai mereka.
Namun, Musa juga memperingatkan: jangan sampai kemenangan membuat mereka sombong. Bukan karena kebenaran atau ketulusan mereka Tuhan memberi kemenangan itu. Justru mereka bangsa yang tegar tengkuk—dan semua itu semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Kemenangan bukan alasan untuk meninggikan diri, melainkan untuk merendahkan hati di hadapan Allah.
Renungan hari ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Dalam menghadapi tantangan hidup, siapa yang menjadi andalan kita? Kekuatan sendiri atau Tuhan?
Ketika hidup terasa berat, ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang besar, dahsyat, dan berkuasa. Dan ketika kemenangan datang, jangan lupa bahwa semua itu terjadi bukan karena “kuatku”, tetapi karena Tuhanku.
Bukan kuatku, tetapi Allahku yang hebat!
Allahku menang di dalam hidupku!
Pokok Doa
-
Bersyukur atas kuasa Tuhan yang jauh melampaui segala kuasa manusia.
-
Memohon penyertaan-Nya atas rumah tangga, pekerjaan, studi, usaha, pelayanan, gereja, masa depan, dan seluruh perjalanan hidup kita.
-
Berdoa agar hikmat Tuhan bertambah dalam hidup kita setiap hari, membawa terobosan, kekuatan, dan proses yang memimpin kita kepada rencana-Nya yang terbaik.
Dalam nama Tuhan Yesus, kami percaya dan menerima berkat-Mu atas hidup kami. Amin.
Renungan Harian : Sukses Bukan Hasilnya, tetapi Prosesnya
Saat Sukses Diukur dari Proses, Bukan Hasil
Ada begitu banyak orang mengejar hasil—angka, capaian, pengakuan. Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sukses sejati tidak bergantung pada apa yang kita capai, melainkan siapa kita menjadi selama proses itu berlangsung. Dalam perjalanan hidup, Tuhan mengajar kita untuk tetap berpegang pada firman-Nya, berjalan di jalan-Nya, dan menghormati Dia dengan takut akan Dia. Justru di tengah proses itulah, hati kita ditempa dan mata kita dibukakan untuk melihat berkat-Nya, bahkan di tengah kesulitan.
Bangsa Israel tidak serta-merta langsung masuk ke negeri yang baik—negeri dengan sungai, mata air, ladang gandum, kebun anggur, pohon ara, delima, zaitun, dan madu... negeri yang menjanjikan kelimpahan tanpa kekurangan. Semua itu tidak datang dengan cepat, instan, atau tanpa tantangan. Tuhan membawa mereka melalui proses yang panjang—seperti seorang ayah yang dengan penuh kasih mendidik anaknya.
Selama empat puluh tahun, Israel menempuh padang gurun: menghadapi ular ganas, kalajengking, panas yang membakar, dan tanah gersang tanpa air. Tuhan mengizinkan mereka merasakan lapar, tetapi di saat yang sama Ia memberi mereka manna. Semua itu memiliki tujuan: agar mereka mengerti bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman Tuhan. Lewat proses itulah iman dibentuk, karakter diperkuat, dan hati diajar untuk percaya.
Proses selalu mengajarkan bahwa kita tidak dapat melangkah tanpa Tuhan. Pengalaman manis maupun pahit menjadi ruang di mana Tuhan menegur, membimbing, dan menyatakan rencana-Nya. Sama seperti Israel, kita pun dipanggil untuk melihat perjalanan hidup ini bukan sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan untuk semakin mengenal Tuhan dan bersyukur.
Sukses bukan soal seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa taat kita berjalan bersama Tuhan.
Maka, tetaplah setia. Teruslah melangkah. Biarkan Tuhan membentuk kita melalui setiap proses, bukan hanya menantikan hasilnya.
Renungan Harian : Berhala Adalah Jerat Bagimu
Tuhan memilih Israel sebagai umat kesayangan-Nya bukan karena jumlah mereka besar, tetapi karena kasih setia-Nya dan janji-Nya kepada para leluhur. Ia memberkati mereka, memperbanyak keturunan, dan menuntun mereka menghadapi bangsa-bangsa yang lebih kuat. Namun kenyataannya, bangsa itu sangat mudah menyimpang dan terjerat pada ilah-ilah lain.
Tuhan tahu betapa cepatnya hati manusia berubah. Karena itu Ia memerintahkan Israel untuk menghancurkan seluruh bentuk penyembahan berhala—mazbah, tugu, tiang berhala, bahkan patung-patungnya. Bukan karena Tuhan kejam, tetapi karena berhala adalah jerat yang menyesatkan hati dan memalingkan manusia dari Sang Sumber Hidup.
Di hadapan Tuhan, penyembahan berhala adalah kekejian. Hati yang terbagi membuat manusia tidak dapat hidup dalam berkat dan penyertaan-Nya. Tuhan adalah Allah yang cemburu, bukan karena Ia rapuh, tetapi karena Ia mengasihi kita dan tahu bahwa semua berhala pada akhirnya akan membinasakan kita.
Hari ini Tuhan mengingatkan kita: apa pun yang membuat kita menjauh dari-Nya—entah pekerjaan, ambisi, uang, hubungan, atau kebiasaan—itu adalah berhala yang harus dihancurkan total. Jangan beri celah sekecil apa pun. Sebab sekecil apa pun celah, itu bisa menjadi jerat yang besar.
Renungan Harian - Setia dalam Kebaikan Allah
Ada masa dalam hidup ketika kita bergumul karena kekurangan, kegagalan, atau tekanan. Namun sering kali, ujian yang lebih besar justru datang ketika Allah memberi kelimpahan. Keberhasilan dapat menjadi berkat, tetapi juga bisa menjadi jebakan yang membuat hati perlahan menjauh dari Tuhan.
Musa mengingatkan Israel bahwa ketika mereka memasuki Tanah Perjanjian, mereka akan menerima kota-kota yang tidak mereka bangun, rumah penuh barang yang tidak mereka isi, sumur yang tidak mereka gali, dan kebun yang tidak mereka tanami. Semuanya adalah pemberian Tuhan—bukan hasil usaha mereka semata.
Tetapi Musa juga memberi peringatan yang tajam:
“Janganlah engkau melupakan TUHAN.”
Karena kelimpahan sering membuat manusia lupa. Saat hidup stabil, doa melemah. Saat semua tercukupi, hati tidak lagi sensitif. Saat sukses datang, kita merasa mampu tanpa Tuhan.
Keadaan ini nyata—bahkan Israel pun akhirnya jatuh dalam penyembahan berhala karena gagal menjaga hati saat Tuhan memberkati. Keberhasilan yang harusnya membawa mereka semakin dekat kepada Allah, justru menjauhkan mereka.
Renungan ini mengajak kita melihat ke dalam diri:
-
Apakah aku tetap setia ketika Tuhan memberkati?
-
Apakah aku masih merendahkan hati ketika segala sesuatu berjalan baik?
-
Atau aku mulai lupa bahwa semua berasal dari Allah, bukan dari kekuatanku?
Setiap fase hidup—baik gagal maupun berhasil—adalah peperangan rohani. Kita perlu Roh Kudus untuk menjaga hati tetap melekat pada Tuhan. Mari belajar setia, bukan hanya saat menunggu jawaban doa, tetapi juga saat Tuhan mengabulkannya.
Kiranya hati kita tetap terpaut kepada-Nya, baik saat kita kekurangan maupun saat kita berkelimpahan.
Renungan Harian : ✨Ajaran Paling Utama bagi Seorang Anak
Ajaran Paling Utama bagi Seorang Anak
Di zaman ini, banyak orang tua merasa bahwa tugas terbesar mereka adalah memastikan anak memperoleh nilai terbaik di sekolah. Rapor seakan menjadi ukuran utama keberhasilan. Namun bila kita menelusuri Firman Tuhan, ada sebuah prioritas yang jauh lebih penting daripada prestasi akademis.
Tuhan berkata, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:5).
Inilah ajaran yang paling utama—ajaran yang Tuhan sendiri ingin orang tua tanamkan dalam hati anak-anak mereka.
Tuhan meminta agar ajaran ini diajarkan berulang-ulang. Bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga dibicarakan dalam setiap situasi: saat duduk, saat berjalan, sebelum tidur, dan ketika bangun. Firman ini harus “diikatkan pada tangan dan dahi,” tanda bahwa apa pun yang kita kerjakan, pikirkan, dan putuskan harus mengalir dari kasih kita kepada Allah.
Ajaran ini pun harus “pada tiang pintu” dan “pintu gerbang”—artinya menjadi nilai yang mempengaruhi kehidupan keluarga, komunitas, bahkan seluruh aspek kehidupan kita. Anak-anak bukan hanya membutuhkan penjelasan, tetapi teladan nyata. Mereka lebih mudah meniru tindakan orang tua dibanding mendengar perkataan mereka.
Tanpa disadari, ketika orang tua lebih fokus pada nilai sekolah, mereka sedang mengajarkan kepada anak bahwa prestasi lebih penting daripada mengasihi Tuhan.
Padahal, pengajaran iman yang paling kuat adalah hidup yang mencerminkan kasih kepada Allah.
Karena itu, marilah kita sebagai orang tua, pengasuh, atau pribadi dewasa, menuntun generasi berikutnya dengan kehidupan yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.
Ketika kasih kepada Allah nyata dalam perkataan dan tindakan kita, anak-anak pun belajar untuk mengasihi Tuhan dan sesama dengan hati yang murni.
Doa Penutup
Puji syukur bagi-Mu ya Tuhan, atas kasih dan kuasa-Mu yang melampaui segala kuasa. Sertailah hidup kami, lindungilah keluarga kami, anak-anak dan cucu-cucu kami, pekerjaan kami, usaha kami, sawah dan ladang kami, studi kami, kantor dan pelayanan kami. Biarlah berkat-Mu mengalir atas rumah kami dan seluruh karya tangan kami.
Dalam nama Tuhan Yesus, kami mohon hikmat untuk melangkah, kekuatan untuk bertahan, dan hati yang taat agar hidup kami seturut kehendak-Mu.
Amin.
Renungan Harian ✨ Kebutuhan Kita Akan Pengantara
✨ Ulangan 5:23–33
Kebutuhan Kita Akan Pengantara
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita menyadari betapa kecil dan rapuhnya kita di hadapan Allah yang kudus. Itulah yang dialami bangsa Israel ketika mereka mendengar suara Tuhan mengguntur dari tengah kegelapan. Mereka melihat kemuliaan-Nya, mendengar suara-Nya, dan menyadari bahwa mereka masih hidup—namun hati mereka diliputi ketakutan yang dalam.
“Apa pun yang terjadi, kami tidak sanggup mendengar suara TUHAN lebih lama lagi,” kata para pemimpin Israel kepada Musa. “Jika kami mendengarnya lagi, kami akan mati.”
Mereka tahu batas mereka. Mereka tahu bahwa kekudusan Allah tidak bisa disamakan dengan siapa pun. Karena itu, mereka memohon Musa untuk berdiri di antara mereka dan Allah—menjadi pengantara yang mendengar suara Tuhan dan menyampaikan firman-Nya kepada mereka.
Ketakutan Israel bukanlah ketakutan yang salah. Kekudusan Allah memang begitu besar, begitu suci, begitu berbeda, sehingga manusia berdosa tidak mungkin mendekat tanpa binasa. Namun, justru di titik inilah kita melihat kasih Allah bekerja. Ia tidak memaksa umat-Nya untuk mendekat dengan cara yang mereka tidak sanggup. Ia memanggil Musa, memberikan firman-Nya kepadanya, dan mengizinkan Musa menjadi jembatan bagi umat itu.
Sama seperti Israel, kita juga tidak dapat mendekati Allah dengan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan Pengantara yang kudus namun mengerti kelemahan kita. Musa hanyalah bayangan; Yesuslah wujud nyata penggenapan itu.
Dalam diri-Nya, kekudusan Allah dan kasih Allah bertemu.
Dalam diri-Nya, kita dapat mendekat tanpa rasa takut.
Dalam diri-Nya, kita tidak dihancurkan—melainkan dipulihkan.
Apakah hari ini kamu merasa terlalu kotor untuk datang kepada Tuhan?
Apakah kamu merasa terlalu jauh, terlalu berdosa, atau terlalu tidak layak?
Datanglah melalui Yesus.
Ia tidak hanya menjadi pengantara, tetapi juga Penebus yang membuka jalan bagi kita.
Di dalam Dia, kita dapat mendekat kepada Allah tanpa dihantui rasa takut—karena kasih karunia telah lebih dulu mendekati kita.
Pujian Ibadah GKKK Tepas | 16 November 2025
Sujud Dan Terima
Kasih
Kasih Tuhan sungguh mulia
Tulus dan sempurna mengasihiku
Pengorbanan di Kalvari
Sungguh berharga Kau tebus dosaku
Terpujilah Tuhan Yesus
Ditinggikan diatas pujian
Ho dari dalam lubuk hatiku
Kusujud dan bert'rima kasih
Kasih Tuhan tak bersyarat
Tak seperti cinta yang ada di dunia
S'lalu memb'ri lebih dari yang layak kuterima di hidupku
Terpujilah Tuhan Yesus
Ditinggikan diatas pujian
Dari dalam lubuk hatiku
Kusujud dan bert'rima kasih
Terpujilah Tuhan Yesus
Ditinggikan diatas pujian
Ho dari dalam lubuk hatiku
Kusujud dan bert'rima kasih
Salib-Mu kemenanganku
Bilur-Mu kesembuhanku
Salib-Mu kemenanganku
Bilur-Mu kesembuhanku
Terpujilah Tuhan Yesus
Ditinggikan diatas pujian
Dari dalam lubuk hatiku
Kusujud dan bert'rima kasih
Terpujilah Tuhan Yesus
Ditinggikan diatas sgalanya
Dari dalam lubuk hatiku
Kusujud dan bert'rima kasih
Dari dalam lubuk hatiku
Kusujud dan bert'rima kasih
Ada
Satu Sobatku
Ada satu sobatku yang setia
Tak pernah Dia tinggalkan diriku
Di waktu aku susah, waktu ku sendirian
Dia s'lalu menemani diriku
Nama-Nya Yesus, nama-Nya Yesus
Nama Yesus yang menghibur hatiku
Nama-Nya Yesus, nama-Nya Yesus
Nama Yesus yang menghibur hatiku
Ada satu sobatku yang setia
Tak pernah Dia tinggalkan diriku
Di waktu aku susah, waktu ku sendirian
Dia s'lalu menemani diriku
Nama-Nya Yesus, nama-Nya Yesus
Nama Yesus yang menghibur hatiku
Nama-Nya Yesus, nama-Nya Yesus
Nama Yesus yang menghibur hatiku
Penolong Yang
Setia
Saat kuberjalan
Kasih-Mu menerangi langkahku
Tak kutakut, tak kubimbang
Kar'na kutahu Kau bersamaku
Kau lebih tahu yang terbaik bagiku
Kau lebih sanggup pulihkan hidupku
Kuberserah, kupercaya
Hanya Yesus penolong yang setia
Saat kuberjalan
Kasih-Mu menerangi langkahku
Tak kutakut, tak kubimbang
Kar'na kutahu Kau bersamaku
Kau lebih tahu yang terbaik bagiku
Kau lebih sanggup pulihkan hidupku
Kuberserah, kupercaya
Hanya Yesus penolong yang setia
Penolongku yang setia
Kau lebih tahu yang terbaik bagiku
Kau lebih sanggup pulihkan hidupku
Kuberserah, kupercaya
Hanya Yesus penolong yang setia
Hanya Yesus penolong yang setia
Ajarku Mengerti
Ajarku mengerti
Segala rencana—Mu
Ajarku berserah
Hanya pada—Mu
Pimpinlah jalanku
Dalam terang firman—Mu
Ajarku berharap
Hanya pada—Mu
Bapaku ajaib
S'gala rancangan—Mu
Tuhan, ku heran
Perbuatan—Mu
Engkau sanggup mengadakan
Segala yang kuperlukan
Menurut kehendak—Mu
Terjadilah
Bapaku ajaib
S'gala rancangan—Mu
Tuhan, ku heran
Perbuatan—Mu, oh—uh
Engkau sanggup mengadakan
Segala yang kuperlukan
Menurut kehendak—Mu
Terjadilah, oh
Ajarku mengerti
Segala rencana—Mu
Ajarku berserah
Hanya pada—Mu (pimpinlah)
Pimpinlah jalanku
Dalam terang firman—Mu
Ajarku berharap
Hanya pada—Mu
Ajarku berharap
Hanya pada—Mu
Gusti Nggendong Aku
Kadang
aku ra ngerti
Opo
rencanane Gusti
Ning
aku percoyo
Manis
endinge
Gusti
wis ngatur dalane
Aku
tansah kelingan
Nalikane
aku susah
Aku
ra dewean
Ngadepi
kenyataan
Gusti
paring pitulungan
Puji
Gusti aku diberkahi
Mulo
biyen tekane saiki
Masio
tanpo iso
Mbales
katresnan-Ne
Kejobo
mung memuji asma-Ne
Maturnuwun
aku ditresnani
Tanpo
watesan rino lan wengi
Nganti
putih rambutku
Lan
ilang kekuatanku
Gusti
nggendong aku
Renungan Harian : "Hukum Sabat dan Penebusan"
Ulangan 5:1–22
Hukum Sabat dan Penebusan
Ada momen ketika Tuhan mengajak kita berhenti sejenak—bukan untuk bermalas-malasan, tetapi untuk mengingat siapa diri kita di hadapan-Nya. Dalam Sepuluh Hukum, Sabat awalnya diberikan sebagai peringatan akan penciptaan. Tetapi hari ini, melalui Kitab Ulangan, Tuhan mengaitkan Sabat dengan sesuatu yang jauh lebih pribadi: penebusan.
Generasi kedua bangsa Israel yang mendengar ulang hukum-hukum Tuhan pernah hidup sebagai budak di Mesir. Mereka tahu rasanya bekerja tanpa jeda, hidup tanpa harapan, dan terbelenggu tanpa kebebasan. Ketika Musa berkata, “Haruslah kauingat bahwa engkau pun dahulu budak… dan engkau dibawa keluar… oleh tangan Tuhan yang kuat,” ia sedang mengingatkan mereka bahwa Sabat adalah perayaan pembebasan.
Di Keluaran, Sabat mengingatkan pada karya penciptaan.
Di Ulangan, Sabat mengingatkan pada karya penebusan.
Keduanya adalah karya Tuhan—keduanya adalah kasih Tuhan.
Di Perjanjian Baru, Sabat mengambil makna yang lebih dalam. Yesus bangkit pada hari pertama, dan sejak saat itu jemaat merayakan hari kebangkitan sebagai hari perhentian rohani. Kita berhenti bukan karena lelah, tetapi karena Yesus telah menyelesaikan karya keselamatan lebih dahulu. Kita tidak bekerja untuk diterima; kita bekerja karena sudah diterima.
Sabat menjadi waktu untuk mengingat bahwa:
-
kita dulu terbelenggu, tetapi Tuhan membebaskan,
-
kita dulu hilang, tetapi Tuhan menemukan,
-
kita dulu kosong, tetapi Tuhan memenuhi,
-
kita dulu lemah, tetapi Tuhan menguatkan.
Hari ini, mungkin kita tidak merayakan Sabat seperti orang Israel. Namun, panggilan Tuhan tetap sama:
Berhentilah. Ingatlah. Disembuhkanlah. Dipulihkanlah.
Sabat adalah undangan Tuhan untuk kembali ke hati-Nya.
Untuk merasakan damai yang tidak bisa diberikan dunia.
Untuk menyadari bahwa perjalanan hidup kita ada dalam tangan penebus yang setia.
Apakah hidupmu saat ini terasa penat?
Apakah minggu ini berjalan begitu berat?
Apakah hatimu terasa sesak oleh tuntutan dan rasa bersalah?
Datanglah kepada Yesus.
Dialah Sabatmu.
Dialah tempat di mana jiwamu pulang, beristirahat, dan diperbarui.
🙏 Pokok Doa :
-
Bersyukur atas kuasa Tuhan yang melampaui segala kuasa dan memohon penyertaan-Nya yang senantiasa melindungi kita.
-
Berdoa agar berkat Tuhan mengalir dalam hidup kami: keluarga, anak-cucu, pekerjaan, usaha, pelayanan, dan setiap langkah yang kami jalani.
-
Memohon hikmat yang baru setiap hari, kekuatan untuk menghadapi proses hidup, serta terobosan yang Tuhan sediakan.
-
Berserah agar seluruh perjalanan hidup kami menjadi seturut kehendak-Nya.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.


















