Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian " Hidup yang Diperkenan Tuhan "

Suku Yehuda mengalami kemenangan karena penyertaan Tuhan dalam ketaatan

Hidup yang Diperkenan Tuhan

Hakim-hakim 1

Dalam hidup, kita semua menginginkan berkat dan penyertaan Tuhan.
Namun firman hari ini mengingatkan kita bahwa tidak semua orang mengalami hal yang sama.

Bangsa Israel bertanya kepada Tuhan, siapa yang harus maju berperang.
Tuhan memilih suku Yehuda.

Dan benar, Yehuda mengalami kemenangan demi kemenangan.
Tuhan menyertai mereka dengan nyata.

Namun ketika kita melihat suku-suku yang lain, ceritanya berbeda.
Banyak dari mereka tidak menghalau musuh.
Mereka tidak taat sepenuhnya.
Akibatnya, mereka tidak mengalami kemenangan seperti Yehuda.

Di sini kita belajar satu hal penting:
penyertaan Tuhan sangat nyata bagi mereka yang hidup berkenan kepada-Nya.

Bukan berarti Tuhan pilih kasih,
tetapi Tuhan menghargai ketaatan dan kesungguhan hati.

Sering kali kita ingin diberkati,
tetapi kita tidak sungguh-sungguh taat.
Kita ingin Tuhan menyertai,
tetapi kita masih menyisakan “kompromi” dalam hidup kita.

Firman hari ini mengajak kita untuk melihat ke dalam hati:
apakah kita sungguh hidup berkenan kepada Tuhan?

Yehuda tidak sempurna,
tetapi mereka mau melangkah dalam ketaatan.

Hari ini, Tuhan tidak mencari orang yang sempurna,
tetapi hati yang mau taat dan percaya kepada-Nya.

Ketika kita hidup berkenan kepada Tuhan,
kita akan melihat penyertaan-Nya bekerja dalam hidup kita—
bukan hanya dalam hal besar, tetapi juga dalam setiap langkah.

Doa

Tuhan,
aku rindu hidup berkenan kepada-Mu.

Ampuni aku jika selama ini aku sering setengah-setengah dalam ketaatan.
Tolong aku untuk sungguh-sungguh mengikuti kehendak-Mu.

Bentuk hatiku agar taat dan setia,
supaya hidupku berkenan di hadapan-Mu.

Dan biarlah aku mengalami penyertaan-Mu setiap hari.

Amin.

Share:

Renungan Harian " Dengarkan Suara-Nya di Tengah Ketidakpastian "

Yesus di tepi danau memanggil murid-murid dan memberikan hasil tangkapan yang melimpah

Dengarkan Suara-Nya di Tengah Ketidakpastian

Yohanes 21:1–14

Ada saat dalam hidup ketika kita merasa bingung.
Tidak tahu harus melangkah ke mana.
Akhirnya, kita kembali ke hal-hal lama yang terasa aman.

Itulah yang dialami Petrus dan murid-murid.
Mereka pergi menangkap ikan—kembali ke kehidupan yang dulu mereka kenal.

Namun sepanjang malam, mereka tidak mendapatkan apa-apa.
Kosong.

Bukankah ini juga sering kita alami?
Sudah berusaha… tetapi hasilnya tidak ada.
Sudah berjalan… tetapi terasa sia-sia.

Di saat seperti itu, Yesus datang.
Ia berdiri di tepi danau, tetapi mereka tidak menyadari-Nya.

Lalu Ia berkata,
“Tebarkanlah jalamu ke sebelah kanan perahu.”

Sederhana.
Mungkin terdengar biasa.
Namun ketika mereka taat, hasilnya luar biasa—jala mereka penuh.

Di situlah mereka sadar:
“Itu Tuhan!”

Sering kali, Tuhan berbicara dengan cara yang sederhana.
Namun karena kita sibuk dengan pikiran sendiri, kita tidak peka mendengar suara-Nya.

Yesus tidak datang untuk menghakimi mereka.
Ia tidak menegur kegagalan mereka.
Ia justru menyediakan sarapan—ikan dan roti.

Sebuah tindakan kecil, tetapi penuh kasih.
Ia menunjukkan bahwa Ia peduli, bahkan dalam hal-hal sederhana dalam hidup kita.

Hari ini, mungkin kita sedang merasa:
kosong, lelah, bingung, atau kehilangan arah.

Namun Tuhan tidak jauh.
Ia ada dekat—seperti berdiri di “tepi kehidupan” kita.

Ia memanggil kita dengan lembut.
Ia mengarahkan langkah kita.
Ia menyediakan apa yang kita butuhkan.

Pertanyaannya,
apakah kita mau berhenti sejenak…
dan mendengarkan suara-Nya?

Doa

Tuhan Yesus,
di saat aku merasa bingung dan kosong,
tolong aku untuk peka mendengar suara-Mu.

Ampuni aku jika aku sering berjalan dengan kekuatanku sendiri
dan melupakan Engkau sebagai sumber hidupku.

Ajar aku untuk taat, meskipun perintah-Mu terlihat sederhana.
Percayakan hidupku sepenuhnya ke dalam tangan-Mu.

Pimpin aku, Tuhan,
dan cukupkan aku dengan penyertaan-Mu.

Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 12 April 2026

 

Share:

Renungan Harian "Bukan Sekadar Dibaca, Tapi Dipercaya"

Alkitab terbuka sebagai firman Tuhan yang membawa manusia kepada iman dan hidup kekal

Bukan Sekadar Dibaca, Tapi Dipercaya

Yohanes 20:30–31

Kita sering membaca banyak hal setiap hari—berita, informasi, media sosial.
Namun Alkitab bukan sekadar untuk dibaca seperti itu.

Yohanes menutup Injilnya dengan satu tujuan yang sangat jelas:
semua yang ditulis adalah supaya kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah,
dan melalui iman itu kita memperoleh hidup.

Artinya, Alkitab bukan buku untuk sekadar menambah pengetahuan.
Alkitab adalah undangan untuk percaya.

Bahkan Yohanes sendiri berkata bahwa masih banyak hal yang Yesus lakukan,
tetapi tidak semuanya ditulis.
Yang dicatat hanyalah yang paling penting—
cukup untuk membawa kita kepada iman.

Sering kali kita membaca firman Tuhan,
tetapi hati kita tidak benar-benar terlibat.
Kita mengerti, tetapi tidak berubah.
Kita tahu, tetapi tidak sungguh percaya.

Hari ini, firman Tuhan mengajak kita untuk bertanya:
Mengapa kita membaca Alkitab?

Apakah hanya untuk menambah wawasan?
Ataukah untuk mengenal Yesus secara pribadi?

Iman yang sejati bukan hanya mengetahui tentang Yesus,
tetapi percaya kepada-Nya.

Dan ketika kita percaya, hidup kita tidak akan sama.
Ada pengharapan baru.
Ada arah hidup yang jelas.
Ada kehidupan sejati yang hanya datang dari-Nya.

Mari kita datang kepada firman Tuhan dengan hati yang rindu.
Bukan hanya untuk membaca, tetapi untuk percaya.
Bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk mengalami.

Doa

Tuhan Yesus,
ajar aku untuk tidak hanya membaca firman-Mu,
tetapi sungguh percaya kepada-Mu.

Ampuni aku jika selama ini aku lebih mencari pengetahuan
daripada membangun hubungan dengan-Mu.

Bentuk hatiku agar selalu rindu akan firman-Mu,
dan mampukan aku untuk hidup dalam iman setiap hari.

Amin.

Share:

Renungan Harian "Saat Iman Bergumul dengan Keraguan"

Tomas melihat dan menyentuh Yesus sebagai tanda perubahan dari ragu menjadi percaya

Saat Iman Bergumul dengan Keraguan

Yohanes 20:24–29

Tidak semua perjalanan iman selalu terasa kuat.
Ada saat-saat di mana hati kita dipenuhi pertanyaan.
Ada keraguan yang muncul—pelan, tetapi nyata.

Tomas mengalaminya.

Ketika murid-murid lain berkata bahwa mereka telah melihat Yesus,
Tomas tidak langsung percaya.
Ia ingin bukti. Ia ingin melihat sendiri.

Mungkin kita bisa mengerti perasaannya.
Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mati bisa hidup kembali?

Namun yang menarik, Tomas tidak pergi menjauh.
Ia tetap berada bersama murid-murid yang lain.
Ia tetap tinggal dalam persekutuan, meskipun hatinya sedang bergumul.

Dan di sanalah Yesus datang.

Yesus tidak marah.
Ia tidak menolak Tomas karena keraguannya.
Sebaliknya, Ia mendekat… dan memberikan apa yang Tomas butuhkan.

“Taruhlah jarimu… lihatlah tangan-Ku… jangan tidak percaya lagi, tetapi percayalah.”

Perjumpaan itu mengubah segalanya.
Keraguan berubah menjadi iman.
Dan dari mulut Tomas keluar pengakuan yang luar biasa:
“Ya Tuhanku dan Allahku!”

Bukankah ini juga perjalanan kita?

Ada masa di mana kita bertanya,
“Tuhan, apakah Engkau benar-benar ada?”
“Mengapa doaku belum dijawab?”
“Mengapa hidup terasa begitu sulit?”

Keraguan bukan akhir dari iman.
Keraguan bisa menjadi jalan menuju pengenalan yang lebih dalam—
jika kita tetap datang kepada Tuhan.

Yang berbahaya bukanlah ragu,
tetapi berhenti mencari Tuhan.

Hari ini, jika kita sedang bergumul, jangan menjauh.
Tetaplah datang. Tetaplah mencari.
Tetaplah berada dalam hadirat-Nya.

Karena Tuhan tidak menolak hati yang bertanya.
Ia justru datang mendekat… dan menjawab.

Doa

Tuhan Yesus,
Engkau tahu setiap keraguan dalam hatiku.

Ampuni aku jika aku sering bimbang dan takut.
Tolong aku untuk tidak menjauh dari-Mu saat aku bergumul,
tetapi justru semakin mencari Engkau.

Nyatakan diri-Mu dalam hidupku,
dan teguhkan imanku untuk percaya sepenuhnya kepada-Mu.

Amin.

Share:

Renungan Harian "Diutus untuk Membawa Kabar Baik"

Yesus menampakkan diri kepada murid-murid dan mengutus mereka membawa kabar baik
 

Diutus untuk Membawa Kabar Baik

Yohanes 20:19–23

Malam itu, para murid berkumpul di sebuah ruangan dengan pintu terkunci.
Mereka takut. Bingung. Tidak tahu harus berbuat apa.

Lalu tiba-tiba, Yesus hadir di tengah mereka.
Ia tidak menegur, tidak menyalahkan.
Ia justru berkata, “Damai sejahtera bagi kamu.”

Setelah itu, Yesus memberikan sebuah mandat:
“Seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Bayangkan…
murid-murid yang sedang takut itu justru diutus.
Bukan setelah mereka sempurna, tetapi justru di tengah kelemahan mereka.

Yesus juga tidak membiarkan mereka berjalan sendiri.
Ia memberikan Roh Kudus, supaya mereka dimampukan untuk melakukan tugas itu.

Hal yang sama berlaku bagi kita hari ini.

Kita mungkin merasa tidak mampu.
Tidak cukup berani.
Tidak tahu harus berkata apa.

Namun Tuhan tetap memanggil dan mengutus kita.

Bukan karena kita hebat,
tetapi karena Ia menyertai kita.

Kabar baik tentang pengampunan dosa dan keselamatan dalam Yesus bukan hanya untuk kita simpan.
Kabar itu perlu disampaikan—kepada keluarga, teman, dan siapa pun di sekitar kita.

Coba kita ingat:
kita bisa mengenal Tuhan hari ini karena ada seseorang yang dulu membagikan Injil kepada kita.

Sekarang, giliran kita.

Mungkin bukan lewat khotbah besar,
tetapi lewat hidup kita, perkataan kita, dan kasih yang kita tunjukkan setiap hari.

Hari ini, Tuhan bertanya:
apakah kita siap diutus?

Doa

Tuhan Yesus,
terima kasih karena Engkau telah memanggil dan mengutusku.

Sering kali aku merasa tidak mampu dan takut,
tetapi aku percaya Engkau menyertaiku melalui Roh Kudus.

Beri aku keberanian untuk menjadi saksi-Mu,
melalui perkataan dan hidupku setiap hari.

Pakai aku, Tuhan,
agar orang lain juga mengenal kasih dan keselamatan dari-Mu.

Amin.

Share:

Renungan Harian "Jangan Salah Fokus"

Maria Magdalena menangis di kubur kosong sementara Yesus berdiri di dekatnya tanpa disadari

Jangan Salah Fokus

Yohanes 20:11–18

Maria berdiri di luar kubur dan menangis.
Hatinya hancur. Ia kehilangan Yesus yang sangat dikasihinya.
Yang ada di pikirannya hanya satu: tubuh Yesus sudah tidak ada.

Ia begitu larut dalam kesedihan…
bahkan ketika malaikat berbicara kepadanya, ia tetap tidak mengerti.
Bahkan ketika Yesus sendiri berdiri di dekatnya, ia tidak mengenali-Nya.

Mengapa?

Karena fokusnya hanya pada kehilangan.

Ia terus bertanya,
“Di mana Engkau meletakkan Dia?”
Seolah semuanya sudah berakhir.

Sampai akhirnya, Yesus memanggil namanya,
“Maria!”

Satu panggilan itu mengubah segalanya.
Air mata berubah menjadi sukacita.
Kebingungan berubah menjadi pengenalan.
Ia pun berkata, “Rabuni… Guruku.”

Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita?

Saat kehilangan, kita hanya melihat apa yang hilang.
Saat masalah datang, kita hanya melihat kesulitan.
Saat doa belum dijawab, kita merasa Tuhan jauh.

Padahal… Tuhan tidak pernah pergi.
Ia justru berdiri dekat dengan kita.

Kita hanya salah fokus.

Yesus yang bangkit hadir di tengah air mata kita.
Ia mengenal kita secara pribadi.
Ia memanggil kita dengan nama kita.

Hari ini, mungkin kita sedang berada dalam “momen Maria”—
merasa kehilangan, bingung, atau kecewa.

Namun Tuhan mengundang kita untuk berhenti sejenak…
dan mendengar suara-Nya.

Karena ketika kita mulai fokus kepada-Nya,
kita akan melihat bahwa harapan belum hilang—
bahkan sedang dimulai kembali.

Doa

Tuhan Yesus,
ampuni aku jika aku sering salah fokus dalam hidupku.

Saat menghadapi masalah, aku lebih melihat kesulitan daripada melihat Engkau.
Saat aku merasa kehilangan, aku lupa bahwa Engkau selalu ada di dekatku.

Tolong aku untuk peka mendengar suara-Mu,
dan belajar percaya bahwa Engkau hadir dalam setiap keadaan.

Panggil aku, Tuhan…
agar hatiku kembali tertuju kepada-Mu.

Amin.

Share:

Renungan Harian " Belajar Percaya, Meski Belum Melihat"

Kubur kosong Yesus dengan kain kafan sebagai tanda kebangkitan dan iman percaya

Belajar Percaya, Meski Belum Melihat

Yohanes 20:1–10

Pagi itu dimulai dengan kebingungan.
Kubur Yesus terbuka. Tubuh-Nya tidak ada.

Maria Magdalena langsung berpikir, “Tuhan telah diambil orang.”
Namun ketika Petrus dan murid yang lain datang, mereka menemukan sesuatu yang berbeda.

Kubur itu kosong, tetapi kain kafan masih ada.
Bahkan kain penutup kepala Yesus terlipat rapi.

Ini bukan pencurian.
Ini adalah tanda.

Di tengah kebingungan itu, murid yang lain “melihat dan percaya.”
Ia tidak melihat Yesus secara langsung, tetapi ia percaya bahwa Yesus telah bangkit—seperti yang pernah dikatakan-Nya.

Di sinilah kita belajar sesuatu yang penting:
iman tidak selalu dimulai dari melihat, tetapi dari percaya.

Sering kali kita berkata,
“Tuhan, kalau Engkau menunjukkan, aku akan percaya.”
Namun firman Tuhan mengajar sebaliknya:
percayalah, maka kita akan melihat karya Tuhan.

Dalam hidup, kita tidak selalu melihat jawaban dengan jelas.
Tidak semua doa langsung terjawab.
Tidak semua keadaan langsung berubah.

Kadang kita hanya melihat “kubur kosong”—
tanda yang belum sepenuhnya kita mengerti.

Tetapi justru di situlah Tuhan mengundang kita untuk percaya.
Percaya bahwa Ia hidup.
Percaya bahwa Ia bekerja, meski kita belum melihat sepenuhnya.

Hari ini, Tuhan bertanya kepada kita:
Apakah kita mau percaya, meski belum melihat?

Iman yang sejati bukan bergantung pada apa yang terlihat,
tetapi pada siapa yang kita percaya—Yesus yang hidup.

Doa

Tuhan Yesus,
ajar aku untuk percaya kepada-Mu,
meskipun aku belum melihat jawaban yang aku harapkan.

Ampuni aku jika imanku sering bergantung pada keadaan.
Tolong aku untuk tetap percaya bahwa Engkau hidup dan bekerja dalam hidupku.

Kuatkan hatiku untuk berjalan dalam iman,
bukan hanya berdasarkan apa yang aku lihat.

Amin.

Share:

Renungan Harian "Di Balik Keheningan"

Penguburan Yesus oleh Yusuf dan Nikodemus dalam suasana hening penuh kasih

Di Balik Keheningan

Yohanes 19:38–42

Sore itu menjadi sangat sunyi.
Teriakan sudah berhenti. Kerumunan telah pergi.
Golgota kini hening… Yesus telah mati.

Di tengah keheningan itu, dua orang datang: Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus.
Mereka tidak datang saat Yesus melakukan mukjizat.
Mereka tidak muncul saat orang banyak bersorak.
Mereka datang justru ketika semuanya terasa selesai.

Dengan penuh kasih, mereka menurunkan tubuh Yesus.
Mereka membawa rempah-rempah yang mahal dan menguburkan-Nya dengan layak.
Apa yang mereka lakukan adalah bentuk kasih yang tulus dan penghormatan yang dalam.

Namun yang paling menyentuh adalah ini:
mereka setia di saat sunyi.

Mereka tidak mencari perhatian.
Tidak ada sorotan. Tidak ada pujian.
Hanya keheningan… dan hati yang mengasihi Tuhan.

Bukankah ini sering menjadi pergumulan kita?

Kita mudah melayani saat dilihat orang.
Kita bersemangat saat dihargai.
Namun ketika tidak ada yang melihat, hati kita mulai melemah.

Firman hari ini mengajak kita untuk melihat kembali hati kita.
Apakah kita mengasihi Tuhan dengan tulus, atau karena ingin dilihat?

Yusuf dan Nikodemus mengajarkan bahwa iman sejati tetap hidup,
bahkan ketika suasana tidak mendukung.
Kesetiaan tidak bergantung pada ramai atau sepi,
tetapi pada hubungan kita dengan Tuhan.

Di masa “keheningan” seperti ini, Tuhan rindu kita datang lebih dekat.
Bukan sekadar sibuk melayani, tetapi juga membangun hubungan yang intim dengan-Nya.

Hari ini, mari kita belajar setia—
tetap mengasihi, tetap berdoa, tetap melakukan yang benar,
meskipun tidak ada yang melihat.

Karena Tuhan melihat hati yang tulus.

Doa

Tuhan Yesus,
di saat-saat sunyi dalam hidupku, ajar aku untuk tetap setia kepada-Mu.

Ampuni aku jika aku sering mencari pujian manusia.
Bentuk hatiku agar melayani dengan tulus dan mengasihi-Mu dengan sungguh.

Tolong aku untuk tetap dekat dengan-Mu,
baik dalam keramaian maupun dalam keheningan.

Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.