Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian🌾 Semua Menikmati Hasil Jerih Payah

 

📖 Ayat Renungan:

“Sebab seorang menerima upah dari jerih payahnya.”
Pengkhotbah 3:13b


Biasanya, orang yang bekerja keraslah yang menikmati hasil jerih payahnya. Namun, firman Tuhan hari ini mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: Allah ingin agar berkat yang diperoleh juga dinikmati oleh mereka yang turut mendukung, meski tidak terlibat langsung.

Dalam Bilangan 31, ketika bangsa Israel menang atas orang Midian, mereka memperoleh banyak jarahan. Allah kemudian memerintahkan agar hasil itu dibagi dua:

  • Setengah untuk para prajurit yang berperang.

  • Setengah lagi untuk seluruh umat Israel yang tinggal di perkemahan (ayat 27).

Namun, pembagian itu tidak berhenti di situ. Dari bagian prajurit, sebagian kecil diberikan kepada para imam sebagai persembahan khusus kepada TUHAN (ayat 28–29). Dari bagian umat Israel, sebagian juga diberikan kepada orang Lewi yang melayani di Kemah Suci (ayat 30).

Dengan kata lain, semua orang mendapat bagian—yang berperang, yang melayani, dan yang menantikan di perkemahan. Allah ingin mengingatkan bahwa kemenangan dan keberhasilan bukan hanya hasil kerja satu pihak saja, tetapi hasil kerjasama seluruh komunitas umat Allah.

Prinsip ini juga berlaku bagi kita. Dunia sering menilai keberhasilan berdasarkan siapa yang bekerja paling keras atau paling terlihat. Namun Allah melihat lebih luas. Ia tahu bahwa di balik setiap keberhasilan, ada banyak tangan yang ikut menopang: keluarga yang berdoa, rekan kerja yang mendukung, teman yang memberi semangat, atau gereja yang menuntun dalam doa.

Maka, ketika kita menerima berkat dari hasil kerja kita, mari belajar untuk berbagi.
Berbagi dengan mereka yang mendukung kita, dan mempersembahkan sebagian bagi pekerjaan Tuhan di gereja. Sebab setiap keberhasilan sejatinya adalah kerja bersama, dan semua kemuliaan tetap milik Allah.

Renungkanlah hari ini:

Apakah aku sudah belajar berbagi dari apa yang Tuhan percayakan kepadaku?
Sudahkah aku mengucap syukur dengan memberi kembali kepada Tuhan dan sesama?

🙏 Doa Penutup:
Tuhan, terima kasih untuk setiap berkat dan keberhasilan yang Kau izinkan kualami. Ajar aku untuk tidak menyimpannya bagi diriku sendiri, tetapi membagikannya dengan penuh kasih kepada sesamaku dan kepada-Mu melalui gereja-Mu. Biarlah setiap hasil jerih payahku menjadi sarana untuk memuliakan nama-Mu.
Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas 26 Oktober 2025

Share:

Renungan Harian 🌿 Jangan Menjadi Batu Sandungan












📖 Ayat Renungan:

“Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.”
Matius 18:7

Allah kita adalah Allah yang penuh kasih dan keadilan. Kasih-Nya begitu besar, tetapi Ia juga tidak tinggal diam ketika umat-Nya disesatkan atau disakiti. Karena itulah, dalam kisah Bilangan 31, Allah memerintahkan Musa untuk menuntut balas kepada orang Midian.

Setiap suku Israel mengirim seribu orang untuk berperang, dan mereka berhasil mengalahkan bangsa Midian. Lima raja mereka tewas, termasuk Bileam bin Beor—nabi yang dulu berusaha mengutuk Israel demi uang, tetapi gagal karena Allah melindungi umat-Nya.

Namun Bileam tidak berhenti di situ. Ia mencari jalan lain untuk menjatuhkan Israel: menasihati orang Midian agar memakai perempuan mereka untuk menyesatkan laki-laki Israel, hingga mereka menyembah Baal-Peor. Dan strategi itu berhasil. Banyak orang Israel jatuh ke dalam dosa, dan murka Allah pun menyala—24.000 orang tewas karena pelanggaran itu.

Allah menghukum bukan hanya mereka yang berdosa, tetapi juga mereka yang menjadi penyebab orang lain berdosa. Ia serius terhadap segala bentuk penyesatan, baik disengaja maupun tidak.

Yesus sendiri menegaskan bahwa lebih baik seseorang tenggelam di laut dengan batu kilangan di lehernya daripada membuat seorang kecil yang percaya kepada-Nya jatuh dalam dosa (Matius 18:6). Rasul Paulus pun mengingatkan agar kita berhati-hati, jangan sampai kebebasan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain (1 Korintus 8:9).

Renungan ini mengajak kita merenung:
Apakah hidup kita menolong orang lain semakin mengenal Tuhan?
Ataukah sikap, perkataan, atau tindakan kita justru membuat orang lain menjauh dari-Nya?

Kadang tanpa sadar, komentar tajam, candaan yang menyinggung, atau perilaku yang tidak konsisten bisa membuat orang lain kecewa pada iman. Allah ingin kita hidup dengan hati yang lembut dan peka, agar melalui hidup kita, orang lain dapat melihat kasih Kristus yang nyata.

Jangan biarkan hidup kita menjadi batu sandungan, tetapi jadikanlah hidup kita batu pijakan yang menuntun orang lain semakin dekat kepada Allah.

🙏 Doa Penutup:
Tuhan Yesus, ajar aku untuk berhati-hati dalam setiap perkataan dan tindakanku. Jadikan hidupku cerminan kasih dan kebenaran-Mu, bukan batu sandungan bagi sesamaku. Biarlah melalui hidupku, orang lain semakin mengenal Engkau dan merasakan kasih-Mu yang nyata.
Amin.

Share:

Renungan Harian : Nazar dan Kepemimpinan Laki-laki

Nazar adalah janji pribadi yang diucapkan langsung kepada Allah — sebuah komitmen yang sakral. Ketika seorang laki-laki bernazar, ia bertanggung jawab penuh untuk menepatinya (ay. 1–2). Namun, bagi seorang perempuan, nazarnya baru berlaku jika ayah atau suaminya tidak melarangnya (ay. 3–8). Jika ia seorang janda atau perempuan yang telah diceraikan, maka nazarnya berlaku bagi dirinya sendiri (ay. 9).

Peraturan ini bukan soal membatasi, tetapi menegaskan tanggung jawab dan kepemimpinan dalam keluarga. Allah menempatkan laki-laki — baik ayah maupun suami — sebagai pemimpin rohani dalam rumah tangga, yang turut bertanggung jawab atas keputusan-keputusan penting, termasuk nazar yang diucapkan di hadapan Tuhan.

Nazar bukan sekadar janji biasa. Alkitab menegaskan,

“Tepatilah nazarmu kepada Allah. Lebih baik engkau tidak bernazar daripada bernazar tetapi tidak menepatinya.” (Pkh. 5:3–4)

Janji kepada Tuhan bukan sesuatu yang bisa ditarik kembali ketika situasi berubah. Karena itu, kita perlu berhati-hati sebelum mengucapkan nazar. Jangan sampai janji yang dibuat karena emosi sesaat justru menjadi beban yang berat, seperti yang pernah dialami Yefta (Hak. 11:29–40).

Nazar adalah wujud kesungguhan hati kita di hadapan Allah. Sekali kita bernazar dan Tuhan mengabulkan permohonan kita, maka janji itu harus ditepati. Melalui hukum tentang nazar ini, Tuhan juga mengingatkan kita tentang pentingnya kepemimpinan rohani laki-laki dalam keluarga — bukan sekadar otoritas, tetapi tanggung jawab untuk menuntun keluarga hidup dalam kehendak Tuhan.

Mari kita belajar menghargai nazar sebagai bentuk kasih dan komitmen kepada Allah. Bagi para laki-laki, jadilah pemimpin yang bijak — yang mendengar, menuntun, dan melindungi keluarga sesuai firman Tuhan.

Dan bagi kita semua, marilah kita mengingat: setiap kata yang keluar dari mulut kita di hadapan Tuhan memiliki nilai kekal. Karena itu, biarlah setiap janji kita menjadi bukti kasih, ketaatan, dan kesetiaan kepada-Nya.

Pokok Doa

Tuhan, terima kasih atas kuasa-Mu yang melampaui segalanya. Sertai kami dalam setiap langkah — dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan usaha kami. Kiranya berkat-Mu mengalir atas rumah tangga kami, anak cucu kami, serta setiap pekerjaan tangan kami. Tambahkan hikmat dan kekuatan agar kami hidup dalam pimpinan-Mu, menepati setiap janji, dan berjalan seturut kehendak-Mu.
Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

Share:

Pengakuan yang Jujur

Dua penjahat disalibkan di sisi kanan dan kiri Yesus. Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa Yesus, yang sama sekali tidak bersalah, diperlakukan seolah-olah Ia adalah seorang penjahat. Dunia menempatkan Dia di antara orang berdosa — padahal Dialah yang datang untuk menyelamatkan mereka.

Para pemimpin agama mengejek-Nya dengan sinis:

“Orang lain Ia selamatkan, biarlah Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri jika Ia benar Mesias, orang pilihan Allah!”
Prajurit-prajurit pun menambah hinaan dengan menawarkan anggur asam. Di atas kepala-Nya, mereka menulis, “Inilah Raja orang Yahudi” — tulisan yang mereka maksudkan sebagai ejekan, tapi sesungguhnya adalah kebenaran. Tanpa mereka sadari, mereka telah mengakui bahwa Yesus memang Raja — bukan hanya bagi orang Yahudi, tapi bagi seluruh dunia.

Di tengah olokan itu, dua suara terdengar dari salib di samping-Nya. Satu penjahat ikut menghina, sementara yang lain mulai menyadari siapa yang sedang disalib di tengah mereka. Dengan hati yang hancur, ia berkata,

“Kita memang pantas menerima hukuman ini, tetapi Ia tidak berbuat salah apa pun.”

Dalam kejujuran dan penyesalan itu, penjahat tersebut berani beriman,

“Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja.”

Dan Yesus menjawab dengan kasih yang tak terbayangkan,

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Betapa luar biasanya kasih dan pengampunan Yesus. Di tengah penderitaan-Nya, Ia masih membuka pintu keselamatan bagi seorang berdosa yang jujur mengakui kesalahannya.

Kita pun diundang untuk memiliki hati seperti penjahat itu — hati yang berani mengakui dosa, menyesal, dan percaya bahwa Yesus sanggup mengampuni.
Tak ada dosa yang terlalu besar bagi-Nya, asalkan kita datang dengan kejujuran dan kerendahan hati.

Yesus adalah Raja yang penuh kasih. Ia tidak hanya berkuasa, tetapi juga rela mengampuni.
Pengakuan yang jujur membuka jalan bagi pengampunan dan hidup yang baru di dalam Dia.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.