Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Dibentuk oleh Tuhan"

Dibentuk oleh Tuhan
Kebenaran tidak selalu terasa nyaman. Bahkan, sering kali ia datang seperti pisau tajam yang menyentuh bagian terdalam hati kita. Sebuah ungkapan Latin mengatakan, Veritas odium parit—kebenaran dapat melahirkan kebencian. Itulah yang terjadi ketika Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Roti Kehidupan.

Banyak orang yang semula mengikuti Yesus mulai terguncang. Bukan karena Yesus berubah, tetapi karena perkataan-Nya menabrak cara berpikir dan keyakinan lama mereka. Mereka mendengar dengan telinga jasmani, bukan dengan hati yang terbuka. Ajaran Yesus terasa keras, sulit diterima, bahkan dianggap mengganggu iman yang selama ini mereka pahami. Akibatnya, sungut-sungut muncul, jarak tercipta, dan akhirnya langkah kaki mereka menjauh dari Yesus.

Yang menarik, Yesus tidak melunakkan kebenaran-Nya demi mempertahankan pengikut. Ia tidak menyesuaikan firman dengan selera pendengar. Yesus tetap menyatakan kebenaran, meskipun tahu bahwa hal itu akan membuat banyak orang pergi. Dan memang, banyak yang memilih mundur, karena mereka tidak siap dibentuk.

Sering kali, kita pun datang kepada Tuhan dengan gambaran tertentu tentang siapa Dia dan bagaimana seharusnya Ia bertindak. Tanpa sadar, kita ingin Tuhan mengikuti kehendak kita, bukan sebaliknya. Kita berharap Dia menghibur tanpa menegur, memberkati tanpa membentuk, menguatkan tanpa mengubah. Padahal, relasi sejati dengan Tuhan justru dimulai ketika kita datang sebagai “gelas kosong”, rela dibentuk seturut kehendak-Nya.

Renungan ini mengajak kita untuk bercermin:
Bagaimana reaksi kita saat firman Tuhan menegur hidup kita? Apakah kita membuka hati, atau justru menutup diri? Apakah kita bersedia diubahkan, atau memilih menjauh karena kebenaran terasa pahit?

Tuhan tidak memaksa kita tinggal, seperti Yesus tidak menahan mereka yang pergi. Namun, bagi mereka yang mau bertahan dan dibentuk, kebenaran-Nya akan menumbuhkan iman yang dewasa—iman yang tidak bergantung pada kenyamanan, tetapi pada kesetiaan.

Kiranya kita memilih untuk tetap tinggal, belajar, dan dibentuk oleh Tuhan, sekalipun prosesnya tidak selalu mudah. Karena di sanalah kehidupan sejati ditemukan.

Doa

Tuhan Yesus,
sering kali firman-Mu terasa berat bagi hatiku. Ada bagian-bagian hidupku yang masih ingin kubela, bukan kuserahkan. Ampuni aku bila aku lebih suka kenyamanan daripada kebenaran. Lembutkan hatiku agar mau ditegur, mau dibentuk, dan mau taat. Jadikan aku pengikut-Mu yang setia, bukan hanya saat firman-Mu menyenangkan, tetapi juga ketika firman-Mu mengubah hidupku. Amin.

Share:

Renungan Harian " Yesus Sang Roti Kehidupan"

Yesus Sang Roti Kehidupan sumber hidup kekal

Yesus Sang Roti Kehidupan
Pernahkah kita merasa kenyang setelah makan, tetapi tak lama kemudian lapar kembali? Entah karena porsinya kurang, atau karena selera yang muncul lagi. Rasa kenyang itu nyata, namun sifatnya sementara.

Demikian pula hidup manusia. Kita sering mengejar hal-hal yang tampaknya memuaskan—keberhasilan, harta, kenyamanan, pujian—tetapi setelah semua itu diraih, hati justru kembali merasa kosong. Ada kerinduan yang tak terjawab.

Orang banyak dalam kisah ini mendatangi Yesus dengan harapan yang sama: mereka ingin dikenyangkan lagi. Namun Yesus tidak berhenti pada kebutuhan jasmani. Ia mengarahkan mereka kepada sesuatu yang lebih dalam dan esensial. Dengan tegas Ia berkata, “Akulah Roti Kehidupan.” Pernyataan ini diulang berkali-kali, seolah Yesus ingin memastikan bahwa mereka sungguh memahami siapa Dia.

Bagi orang Israel, roti adalah kebutuhan pokok. Mereka mengenal manna—roti dari surga—yang menopang hidup nenek moyang mereka di padang gurun. Namun manna itu hanya sementara. Berbeda dengan Yesus. Ia datang dari surga dan memberikan diri-Nya bukan hanya untuk satu hari, tetapi untuk kehidupan kekal. Tubuh dan darah-Nya kelak dikorbankan agar manusia memperoleh hidup yang sejati.

Yesus mengajak orang banyak—dan juga kita hari ini—untuk tidak berhenti pada berkat, melainkan datang kepada Sang Pemberi Berkat. Bukan sekadar menikmati pemberian-Nya, tetapi percaya dan tinggal di dalam Dia.

Renungan ini mengajak kita menengok ke dalam hati:
Apa yang selama ini paling kita kejar?
Apakah semua itu benar-benar mengenyangkan jiwa kita?
Ataukah kita masih menyimpan rasa hampa yang tak terucap?

Yesus mengetahui kelaparan terdalam manusia—bukan lapar roti, melainkan lapar makna, kasih, dan kehidupan sejati. Ia menawarkan diri-Nya sebagai Roti Kehidupan. Pertanyaannya kini ada pada kita: maukah kita datang kepada-Nya, percaya, dan hidup di dalam Dia?

Doa
Tuhan Yesus, sering kali kami mencari kepuasan di banyak hal, namun tetap merasa kosong. Hari ini kami datang kepada-Mu, Sang Roti Kehidupan. Penuhilah hati kami dengan hadirat-Mu. Ajarlah kami untuk tidak hanya mencari berkat, tetapi hidup bergantung sepenuhnya kepada-Mu. Jadilah sumber hidup kami, hari ini dan selamanya. Amin.
Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 11 Januari 2026

Share:

Renungan Harian "Motivasi Mencari Yesus"

Orang banyak mencari Yesus dengan berbagai motivasi di Kapernaum
Motivasi Mencari Yesus
Setelah peristiwa pelipatgandaan roti, orang banyak dengan penuh semangat mencari Yesus. Mereka menyeberang ke Kapernaum, berusaha menemukan-Nya. Dari luar, kegigihan mereka tampak mengagumkan. Namun Injil Yohanes mengajak kita melihat lebih dalam: apa sebenarnya motivasi mereka mencari Yesus?

Jika kita mencermati kisah sebelum dan sesudah bagian ini, menjadi jelas bahwa banyak orang mencari Yesus bukan karena ingin mengenal-Nya secara pribadi, melainkan karena roti yang mengenyangkan dan mukjizat yang memuaskan kebutuhan mereka. Mereka mencari Yesus bukan sebagai Tuhan yang disembah, tetapi sebagai pemberi berkat yang diharapkan.

Kisah ini menjadi cermin yang jujur bagi iman kita hari ini. Kita pun hidup di zaman di mana orang mudah datang mencari Tuhan karena alasan-alasan tertentu: ingin mengalami mujizat, memperoleh pertolongan, menikmati suasana ibadah yang meriah, atau sekadar mengikuti keramaian. Tidak semuanya salah, tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah Yesus yang kita cari, ataukah berkat-Nya saja?

Renungan ini mengajak kita berhenti sejenak dan memeriksa hati. Apakah relasi kita dengan Tuhan masih bersifat transaksional—datang ketika butuh, pergi ketika merasa cukup? Ataukah kita sungguh rindu berjumpa dengan-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan mengenal hati-Nya?

Santo Agustinus pernah menulis bahwa hati manusia tidak akan pernah tenang sampai ia beristirahat di dalam Tuhan. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa sejak semula hidup kita diciptakan untuk relasi dengan Allah. Tidak ada berkat, mukjizat, atau pengalaman rohani apa pun yang dapat menggantikan perjumpaan sejati dengan Dia.

Mencari Yesus berarti datang kepada-Nya dengan hati yang sederhana—bukan untuk memakai Tuhan demi kepentingan diri, melainkan untuk mengasihi dan dikenal oleh-Nya. Dalam relasi yang tulus itulah, jiwa menemukan ketenangan sejati.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Mengapa aku mencari Tuhan?
Apa yang paling aku harapkan ketika datang kepada-Nya?
Apakah aku siap tetap setia meski tanpa mujizat yang kulihat?

Doa
Tuhan Yesus, kami mengakui bahwa sering kali motivasi kami mencari Engkau tidak murni. Kami datang karena kebutuhan, bukan karena kerinduan akan Engkau sendiri. Ampuni kami. Bentuklah hati kami agar sungguh mencari wajah-Mu, bukan hanya berkat-Mu. Ajarlah kami membangun relasi yang tulus, sederhana, dan setia dengan-Mu, sampai hati kami benar-benar beristirahat di dalam Engkau. Amin.
Share:

Renungan Harian " Salah Memahami Kehadiran Tuhan "

Yesus berjalan di atas air menghampiri perahu murid di tengah badai
Salah Memahami Kehadiran Tuhan
Setelah orang banyak hendak menjadikan Yesus raja secara paksa, Ia memilih menyingkir ke gunung seorang diri. Sementara itu, malam turun dengan sunyi. Para murid berangkat menyeberangi danau menuju Kapernaum. Yesus tidak bersama mereka di perahu. Hanya gelap, angin kencang, dan gelombang yang makin mengguncang perjalanan mereka.

Di tengah kelelahan dan ketakutan, sesuatu yang tak terduga terjadi. Mereka melihat Yesus berjalan di atas air, mendekati perahu. Namun alih-alih bersukacita, para murid justru ketakutan. Dalam kondisi fisik yang lemah dan batin yang tertekan, mereka salah memahami kehadiran Yesus. Yang seharusnya menjadi pengharapan, justru mereka anggap sebagai ancaman.

Bukankah sering kali kita pun demikian? Saat badai hidup datang—ketika doa terasa sunyi, jalan terasa gelap, dan tenaga hampir habis—kita mudah salah menafsirkan kehadiran Tuhan. Kita merasa Ia jauh, bahkan menakutkan, karena hidup tidak berjalan seperti yang kita harapkan.

Namun Yesus berkata dengan lembut namun penuh kuasa, “Ini Aku.” Ungkapan ini bukan sekadar sapaan penenang. “Egō Eimi” adalah pernyataan jati diri Ilahi—Tuhan yang sama yang menyatakan diri kepada Musa, Tuhan yang setia menyelamatkan umat-Nya. Yesus hadir bukan hanya untuk menenangkan badai, tetapi untuk menyatakan bahwa Ia tetap ada dan berkuasa.

Menariknya, kehadiran Yesus tidak langsung menghentikan badai. Tetapi ketika Ia naik ke perahu, mereka sampai ke tujuan. Inilah pengharapan iman: Tuhan tidak selalu menghilangkan badai, tetapi kehadiran-Nya menjamin arah hidup kita tidak akan meleset.

Kadang justru di tempat paling sulit—di “pedalaman” hidup kita, saat segala kenyamanan dicabut—kita belajar mengenal Tuhan dengan lebih nyata. Di sanalah iman dimurnikan dan pengharapan diteguhkan.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah aku sedang berada dalam badai?
Apakah aku keliru menilai kehadiran Tuhan karena rasa takutku sendiri?
Maukah aku mengundang Yesus masuk ke dalam “perahu” hidupku?

Ketika Tuhan ada di perahu, tujuan tetap tercapai.

Doa
Tuhan Yesus, sering kali kami salah memahami kehadiran-Mu ketika hidup diguncang badai. Ampuni kami saat ketakutan membuat kami meragukan kasih dan penyertaan-Mu. Hari ini kami membuka hati dan mengundang Engkau masuk ke dalam perahu hidup kami. Kuatkan iman kami untuk percaya bahwa Engkau selalu hadir dan setia menuntun kami sampai tujuan-Mu. Amin.
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.