Januari 2026 ~ Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Memberikan yang Terbaik untuk Tuhan"

Yohanes 12:1–8
Memberikan yang Terbaik untuk Tuhan
Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikan kasih. Ada yang menunjukkan lewat kata-kata, ada pula yang melalui tindakan nyata. Kadang, bentuk kasih itu terlihat sederhana. Namun, ada kalanya kasih dinyatakan melalui pengorbanan yang tidak kecil.

Maria menunjukkan kasihnya kepada Yesus dengan cara yang sangat berbeda. Di tengah perjamuan, saat Marta sibuk melayani dan Lazarus duduk bersama Yesus, Maria datang membawa minyak narwastu murni yang sangat mahal. Ia meminyaki kaki Yesus, bahkan menyekanya dengan rambutnya. Seluruh ruangan pun dipenuhi bau harum minyak itu.

Tindakan Maria membuat sebagian orang tidak nyaman. Yudas memandangnya sebagai pemborosan. Baginya, minyak itu seharusnya dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin. Namun, perkataannya bukan lahir dari kepedulian, melainkan dari hati yang tidak tulus.

Maria tidak sedang memamerkan apa yang ia miliki. Ia juga tidak menghitung untung rugi. Ia hanya tahu satu hal: Yesus layak menerima yang terbaik. Minyak itu sangat berharga—setara dengan upah hampir satu tahun kerja—namun Maria rela menyerahkannya tanpa ragu. Kasih membuatnya memberi tanpa syarat.

Melalui Maria, kita diajak bercermin. Apa yang selama ini kita berikan kepada Tuhan? Apakah hanya sisa waktu, tenaga, dan perhatian kita? Atau justru hal-hal terbaik yang kita miliki—waktu, kemampuan, harta, bahkan reputasi?

Yesus tidak menolak persembahan Maria. Ia melihat hati yang tulus dan pengabdian yang murni. Yesus juga mengingatkan bahwa hidup ini tidak hanya soal perkara duniawi yang sementara. Ada makna kekal yang sering kali luput dari perhatian kita.

Hari ini, Tuhan tidak menuntut kita memberi sesuatu yang sama seperti Maria. Namun, Ia rindu hati yang sama: hati yang mengasihi, menghormati, dan rela mempersembahkan yang terbaik. Semua yang kita miliki sesungguhnya berasal dari-Nya. Memberi yang terbaik adalah respons syukur atas anugerah keselamatan yang telah kita terima.

Respons Pribadi
Renungkan kembali hidup kita. Apakah Tuhan mendapat tempat utama? Adakah hal berharga yang masih kita tahan karena takut kehilangan? Serahkan semuanya dengan iman dan kasih kepada Tuhan.

Doa
Tuhan Yesus, terima kasih atas kasih dan pengorbanan-Mu bagiku. Ajarku untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati. Tolong aku berani mempersembahkan yang terbaik dalam hidupku bagi-Mu, sebagai ungkapan syukur dan iman. Amin.

Share:

Renungan Harian "Jauhkan Perasaan Iri Hati"

Ilustrasi reflektif tentang iri hati yang disucikan oleh kasih Kristus berdasarkan Yohanes 11:45–57
Jauhkan Perasaan Iri Hati
Mukjizat kebangkitan Lazarus seharusnya membawa sukacita dan pengharapan. Banyak orang melihat kuasa Tuhan dan memilih untuk percaya kepada Yesus. Namun, tidak semua hati merespons dengan iman. Ada juga yang justru melaporkan perbuatan Yesus kepada orang-orang Farisi.

Berita tentang Yesus membuat para pemimpin agama gelisah. Mereka takut kehilangan posisi, pengaruh, dan rasa aman. Di balik jubah keagamaan, tersimpan hati yang penuh kecemasan dan iri. Mukjizat yang membawa hidup malah dianggap sebagai ancaman. Rasa iri itulah yang perlahan berubah menjadi kebencian.

Perkataan Kayafas tentang mengorbankan satu orang demi bangsa terdengar bijaksana, tetapi sesungguhnya lahir dari hati yang tidak tulus. Ia tidak mencari kehendak Tuhan, melainkan jalan untuk menyingkirkan Yesus. Iri hati membuat seseorang mampu membenarkan kejahatan, bahkan atas nama kebaikan dan agama.

Kisah ini menegur kita dengan lembut namun tegas. Ternyata, berada di lingkungan rohani tidak otomatis membuat hati kita benar di hadapan Tuhan. Kita bisa aktif melayani, rajin beribadah, bahkan berbicara tentang Tuhan, tetapi tetap menyimpan iri, benci, dan ambisi pribadi.

Iri hati perlahan mencuri damai sejahtera. Ia membuat kita sulit bersukacita atas berkat orang lain dan mudah mencurigai sesama. Jika dibiarkan, perasaan ini dapat merusak relasi, pelayanan, dan kesaksian hidup kita.

Hari ini, mari kita berhenti sejenak dan memeriksa hati. Adakah iri yang tersembunyi? Adakah kebencian yang kita bungkus rapi dengan alasan rohani? Tuhan rindu kita bukan hanya sibuk dalam pekerjaan-Nya, tetapi juga hidup selaras dengan hati-Nya.

Respons Pribadi
Luangkan waktu untuk jujur di hadapan Tuhan. Mintalah Roh Kudus menyingkapkan isi hati kita. Serahkan setiap perasaan iri dan benci, dan izinkan kasih Kristus memulihkan hati kita.
Doa
Tuhan Yesus, aku datang dengan hati yang terbuka. Ampuni aku jika masih ada iri dan kebencian yang tersembunyi dalam diriku. Bersihkan hatiku dan penuhi aku dengan kasih-Mu. Tolong aku hidup selaras dengan kehendak-Mu, agar hidup dan pelayananku memuliakan nama-Mu. Amin.
Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 1 Februari 2026

Share:

Renungan Harian "Kemenangan dalam Kematian"

Yesus membangkitkan Lazarus sebagai tanda kuasa-Nya atas kematian dan sumber pengharapan bagi orang percaya.
Kemenangan dalam Kematian
Kisah tentang Maria, Marta, dan Lazarus memperlihatkan sebuah relasi yang dekat dan penuh kasih dengan Yesus. Mereka bukan orang asing bagi-Nya—mereka adalah sahabat yang dikasihi-Nya. Ketika Lazarus sakit, Maria dan Marta mengirim kabar kepada Yesus, seolah berkata, “Tuhan, kami membutuhkan Engkau sekarang.” Namun yang terjadi justru tidak seperti yang mereka harapkan. Yesus tidak segera datang. Lazarus mati.

Dalam keheningan penantian dan kepedihan kehilangan, kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah absen, meskipun seolah terlambat. Yesus tetap melangkah ke Betania—tempat berbahaya bagi diri-Nya—karena kasih-Nya lebih besar daripada ancaman kematian.

Saat bertemu Marta, Yesus tidak langsung membangkitkan Lazarus. Ia terlebih dahulu menguatkan iman. Kepada Maria, Yesus bahkan menangis. Air mata-Nya menunjukkan bahwa Ia bukan Tuhan yang jauh dan dingin. Ia adalah Tuhan yang turut merasakan duka manusia. Di hadapan kubur Lazarus, Yesus berseru, dan kematian pun kalah. Firman-Nya memanggil kehidupan keluar dari kegelapan.

Melalui peristiwa ini, kita diingatkan bahwa Yesus bukan hanya memberi kebangkitan—Ia adalah kebangkitan itu sendiri. Tidak ada kubur yang terlalu gelap, tidak ada keadaan yang terlalu mati, tidak ada dosa yang terlalu besar bagi kuasa-Nya.

Renungan ini mengajak kita bercermin:
Apakah hari ini ada bagian hidup kita yang terasa mati—iman yang melemah, pengharapan yang terkubur, atau hati yang mengeras karena kekecewaan? Tuhan masih memanggil. Suara-Nya masih bergema. Pertanyaannya, apakah kita mau keluar dari kubur kita dan percaya kepada-Nya?

Jangan menunda respons terhadap panggilan Tuhan. Jangan membiarkan hati tetap tertutup. Ketika firman diberitakan, itulah suara kehidupan yang sedang memanggil kita untuk bangkit dan hidup baru.

Doa
Tuhan Yesus, Engkau adalah Kebangkitan dan Hidup.
Sering kali aku merasa Engkau terlambat menjawab doaku,
padahal Engkau sedang bekerja dengan cara-Mu yang sempurna.
Hari ini aku menyerahkan segala dukacita, ketakutan, dan
bagian hidupku yang terasa mati ke dalam tangan-Mu.
Panggil aku keluar dari kubur keraguanku.
Pulihkan imanku. Bangkitkan pengharapanku.
Ajarku untuk percaya sepenuhnya kepada firman-Mu,
dan hidup sebagai saksi kuasa-Mu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian "Tidak Terpengaruh"

Yesus di tepi Sungai Yordan dengan suasana tenang, melambangkan keteduhan dan iman yang tidak terpengaruh oleh penolakan.
Tidak Terpengaruh
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, istilah me time terasa begitu relevan. Banyak orang membutuhkannya untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan memulihkan diri. Menariknya, jauh sebelum istilah itu dikenal, Yesus telah lebih dahulu memberi teladan tentang pentingnya menyingkir sejenak ketika menghadapi tekanan dan penolakan.

Setelah mengalami penolakan keras di Yerusalem, Yesus tidak membalas dengan kemarahan atau perlawanan. Ia memilih untuk pergi ke seberang Sungai Yordan, ke tempat Yohanes Pembaptis dahulu melayani. Di sana, Yesus seakan kembali ke titik awal panggilan-Nya—merenungkan kesaksian yang pernah disampaikan tentang diri-Nya dan mempersiapkan hati untuk langkah pelayanan selanjutnya.

Di tempat yang sunyi itu, justru banyak orang datang dan percaya kepada Yesus. Mereka teringat akan kesaksian Yohanes, seorang yang tidak melakukan mukjizat, namun perkataannya terbukti benar. Ketika kebenaran ditolak di Yerusalem, kebenaran itu justru diterima di Yordan dan menghasilkan iman yang hidup.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa pemberitaan firman Tuhan tidak pernah sia-sia. Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat, mungkin pula ditolak di satu tempat, tetapi Tuhan selalu menyediakan tanah yang subur bagi firman-Nya untuk bertumbuh. Tugas kita adalah setia, bukan memaksakan hasil.

Renungan ini juga mengajak kita untuk belajar menyediakan waktu meneduhkan diri—berdoa, mengevaluasi langkah hidup, dan kembali mengingat panggilan Tuhan. Di dunia yang penuh tekanan dan lingkungan yang kadang “toxic”, keheningan bersama Tuhan menolong kita untuk tetap jernih, tidak larut dalam emosi negatif, dan tidak terpengaruh oleh penolakan orang lain.

Jangan biarkan sikap negatif membuat kita ragu akan kebenaran yang kita hidupi. Tidak semua orang menolak firman Tuhan. Selalu ada hati yang siap menerima kasih karunia-Nya. Ketika kita berjalan bersama Tuhan, Ia sendiri yang akan menuntun langkah, membuka jalan, dan mempertemukan kita dengan orang-orang yang menguatkan iman dan pelayanan kita.

Ajakan Refleksi Pribadi

  • Apakah aku sedang terluka oleh penolakan atau kritik orang lain?

  • Sudahkah aku menyediakan waktu untuk menenangkan diri dan datang kembali kepada Tuhan?

  • Lingkungan seperti apa yang selama ini memengaruhi imanku—menguatkan atau justru melemahkan?

Luangkan waktu hari ini untuk diam sejenak di hadapan Tuhan dan menyerahkan kembali seluruh pergumulan hidupmu kepada-Nya.

Doa
Tuhan Yesus,terima kasih atas teladan-Mu yang mengajarkanku untuk tidak terpengaruh oleh penolakan dan situasi yang menekan. Ajarku untuk tahu kapan harus melangkah dan kapan harus meneduhkan diri di hadapan-Mu. Mampukan aku tetap setia pada kebenaran firman-Mu, meski tidak selalu diterima oleh semua orang. Lindungi hatiku dari pengaruh lingkungan yang menjauhkan aku dari kehendak-Mu. Teguhkan imanku, dan tuntun setiap langkah hidupku, sekarang dan selamanya. Amin.
Share:

Renungan Harian " Menang atas Tantangan "

Yesus menghadapi tantangan dan penolakan orang Yahudi dalam Yohanes 10:22–39
 
Menang atas Tantangan
Ada sikap yang sering muncul ketika seseorang tidak mau bertanggung jawab atas pilihannya sendiri: menyalahkan orang lain dan memposisikan diri sebagai korban. Sikap inilah yang dalam istilah masa kini dikenal sebagai playing victim. Tanpa disadari, sikap serupa juga tampak dalam perjumpaan orang-orang Yahudi dengan Yesus di Bait Allah, di Serambi Salomo.

Mereka datang kepada Yesus dengan nada menuntut. Mereka berkata bahwa Yesus membuat mereka bimbang tentang siapa diri-Nya. Namun sesungguhnya, kebimbangan itu bukan berasal dari kurangnya penjelasan, melainkan dari hati yang menolak untuk percaya. Yesus telah menyatakan siapa diri-Nya melalui perkataan dan pekerjaan yang dilakukan-Nya. Ia berbicara tentang panggilan-Nya, tentang karya yang diberikan Bapa, bahkan tentang kesatuan-Nya dengan Bapa. Tetapi semua itu tidak mereka terima.

Penolakan iman akhirnya melahirkan tindakan yang ekstrem. Dalam ketidakpercayaan, mereka mencoba melempari Yesus dengan batu. Mereka lalu mengubah tuduhan, menyatakan bahwa Yesus menghujat Allah. Padahal, mereka sendiri telah menyaksikan pekerjaan Allah dinyatakan melalui Yesus. Seandainya mereka mau membuka hati, pekerjaan-pekerjaan itu seharusnya membawa mereka pada pengenalan yang benar: bahwa Yesus dan Bapa adalah satu.

Yesus menjawab semua tuduhan itu dengan kebenaran dan keteguhan hati. Ia tidak gentar, tidak mundur, dan tidak berhenti menyatakan kehendak Bapa. Sekalipun mereka kembali berusaha menangkap-Nya, Yesus luput dari tangan mereka. Ini menunjukkan bahwa tidak ada tantangan, ancaman, atau penolakan yang dapat menggagalkan rencana Allah.

Firman ini mengingatkan kita bahwa kehadiran kebenaran tidak selalu disambut dengan sukacita. Bahkan, perbuatan baik pun bisa ditolak, dicurigai, atau diserang. Ketika iri hati dan kesombongan menguasai hati, kebenaran akan terasa mengganggu dan sulit diterima.

Dalam perjalanan iman, kita pun tidak lepas dari tantangan. Saat kita berusaha melakukan kehendak Tuhan, tidak jarang kita berhadapan dengan penolakan, kesalahpahaman, atau perlakuan tidak adil. Pertanyaannya bukan apakah tantangan itu ada, melainkan bagaimana kita menyikapinya.

Tantangan tidak diberikan untuk menjatuhkan kita, melainkan untuk membentuk kita. Ketika kita memilih tetap setia, mengelola tantangan dengan iman, dan menyerahkannya kepada Tuhan, kita sedang belajar untuk menang—bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dalam kasih dan rencana Allah. Inilah panggilan setiap anak Tuhan: tetap berdiri teguh, terus melakukan kehendak-Nya, dan menjadi pemenang di tengah segala tantangan.

Doa
Tuhan Yesus, Terima kasih karena Engkau memberi teladan dalam menghadapi penolakan dan tantangan. Ajarlah kami untuk tidak bersikap seperti korban, melainkan hidup dalam iman dan ketaatan. Saat kami menghadapi kesulitan, kuatkan hati kami agar tetap setia melakukan kehendak-Mu. Mampukan kami melihat tantangan sebagai bagian dari rencana-Mu yang membentuk dan meneguhkan iman kami. Di dalam Engkau, kami percaya kami adalah pemenang.

Amin.

Share:

Renungan Harian "Teladan Sang Gembala Agung"

Yesus sebagai Gembala Agung yang menjaga dan menyerahkan hidup bagi domba-domba-Nya dalam Yohanes 10
Teladan Sang Gembala Agung
Yesus menggunakan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan orang Israel: seorang gembala dan domba-dombanya. Gambaran ini bukan sekadar cerita, melainkan undangan untuk memahami siapa Yesus dan bagaimana relasi-Nya dengan kita.

Seorang gembala yang baik dikenal oleh domba-dombanya, dan domba-domba itu pun mengenal suaranya. Ia tidak datang dengan cara mencurigakan, tetapi melalui pintu yang sah. Ia tahu jalan menuju kandang, dan ketika ia berjalan di depan, domba-dombanya mengikuti dengan penuh kepercayaan. Sayangnya, banyak orang pada waktu itu—termasuk orang-orang Yahudi—tidak memahami apa yang Yesus sampaikan. Mereka mendengar, tetapi tidak sungguh-sungguh mengerti.

Yesus kemudian menegaskan bahwa Dialah pintu menuju keselamatan. Ia adalah satu-satunya jalan bagi domba-domba untuk masuk dan keluar, menemukan perlindungan, dan memperoleh hidup yang berkelimpahan. Seperti dalam tradisi kandang domba orang Yahudi, hanya mereka yang memiliki akses melalui pintu yang benar yang dapat masuk ke tempat yang aman. Demikian pula, hanya melalui Yesus manusia menerima keselamatan sejati.

Yesus bukan hanya pintu, Ia juga Gembala yang baik. Ia menuntun, menjaga, dan melindungi domba-domba-Nya. Ia tidak lari ketika bahaya datang. Ia tidak meninggalkan kawanan-Nya. Bahkan, Ia rela menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan domba-domba itu. Inilah kasih yang sejati—kasih yang berkorban, bukan kasih yang mementingkan diri sendiri.

Namun, perkataan dan tindakan Yesus tidak selalu diterima dengan baik. Banyak orang menolak, meragukan, bahkan mempertentangkan-Nya. Mereka melihat mukjizat, tetapi hati mereka tertutup. Kisah ini mengajak kita merenung:
Apakah kita sungguh mengenal suara Sang Gembala, atau kita hanya mendengar tanpa mau mengikuti?

Dalam kasih-Nya, Allah Bapa menyerahkan Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Relasi antara Bapa dan Anak terjalin dalam kasih yang sempurna, dan dari sanalah keselamatan mengalir bagi dunia. Kita yang telah ditebus dipanggil untuk hidup dalam teladan Sang Gembala Agung—hidup dalam kasih, kesetiaan, dan pengorbanan.

Ketika kita meneladani Yesus, hidup kita menjadi kesaksian. Dunia dapat melihat kasih Bapa melalui cara kita mengasihi, menjaga, dan setia dalam panggilan hidup kita. Mari kita terus berjalan di belakang Sang Gembala Agung, mendengarkan suara-Nya, dan hidup sesuai kehendak-Nya.

Doa

Tuhan Yesus,
Engkau adalah Gembala yang baik dan setia. Terima kasih karena Engkau menuntun, melindungi, dan menyerahkan hidup-Mu bagi kami. Ajarlah kami untuk peka mendengarkan suara-Mu dan taat mengikut Engkau. Mampukan kami hidup dalam kasih, kesetiaan, dan pengorbanan, agar hidup kami menjadi kesaksian tentang kasih Bapa bagi dunia.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Perjumpaan yang Mengubahkan"

Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir sebagai tanda pekerjaan Allah dalam Yohanes 9
Perjumpaan yang Mengubahkan
Sering kali, tanpa kita sadari, kita mudah mengaitkan penderitaan dengan dosa. Seperti para murid Yesus yang bertanya tentang kebutaan seseorang sejak lahir: siapa yang berdosa—orang itu atau orang tuanya? Pertanyaan itu terdengar logis, tetapi sesungguhnya menyimpan cara pandang yang sempit tentang karya Allah.

Yesus menjawab dengan cara yang mengubahkan sudut pandang. Ia menegaskan bahwa kebutaan itu bukan akibat dosa siapa pun, melainkan kesempatan agar pekerjaan Allah dinyatakan. Melalui perjumpaan itu, Yesus bukan hanya membuka mata seorang yang buta, tetapi juga membuka pemahaman para murid tentang kasih dan kedaulatan Allah.

Mukjizat itu menjadi perbincangan banyak orang dan akhirnya sampai ke telinga orang-orang Farisi. Ironisnya, mereka yang menganggap diri paling mengenal hukum Allah justru menutup hati mereka. Mereka lebih sibuk memperdebatkan hari Sabat daripada bersukacita atas kehidupan yang dipulihkan. Mereka mencari kesalahan Yesus, bukan kebenaran Allah. Dan semakin mereka menolak, semakin mereka menjadi buta—bukan secara fisik, melainkan secara rohani.

Di satu sisi, perjumpaan Yesus dengan orang buta membawa kesembuhan, pemulihan, dan kemerdekaan. Di sisi lain, perjumpaan yang sama justru membuat orang Farisi semakin tenggelam dalam kegelapan hati. Kisah ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Dalam setiap perjumpaan dengan Yesus, kita sedang dibukakan mata atau justru menutup diri?

Perjumpaan pribadi dengan Yesus adalah anugerah yang mengubahkan hidup. Saat kita bertemu dengan Dia, kita dimampukan melihat kebenaran, mengenal Dia sebagai Juru Selamat, dan percaya sepenuhnya kepada-Nya. Inilah mukjizat terbesar—bukan hanya melihat dengan mata jasmani, tetapi melihat dengan iman. Allah memerdekakan kita dari dosa dan menuntun kita pada keselamatan kekal.

Namun firman ini juga menegur kita. Kita bukan dipanggil untuk menghakimi, apalagi menentukan dosa orang lain. Itu adalah bagian Allah. Panggilan kita adalah menyatakan pekerjaan Allah melalui sikap, perkataan, dan hidup yang memuliakan Dia.

Percayalah, perjumpaan kita dengan Yesus bukan kebetulan. Ada rencana Allah yang indah di dalamnya. Ada pekerjaan-Nya yang ingin dinyatakan melalui hidup kita, agar hidup kita menjadi kesaksian yang membawa terang dan keselamatan bagi sesama.

Doa

Tuhan Yesus,
Terima kasih karena Engkau menjumpai kami dengan kasih yang mengubahkan. Bukalah mata hati kami agar kami melihat kebenaran-Mu dengan jelas. Jauhkan kami dari sikap menghakimi dan hati yang tertutup. Mampukan kami untuk menyatakan pekerjaan Allah melalui hidup kami, sehingga orang lain dapat melihat terang-Mu. Pakailah hidup kami sebagai kesaksian yang memuliakan nama-Mu.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Dihina? Tidak Masalah!"

Yesus dihina namun tetap setia menyatakan kebenaran dalam Yohanes 8:48–59
Dihina? Tidak Masalah!
Tidak semua kebenaran akan diterima dengan baik. Bahkan, kebenaran yang datang langsung dari Allah pun bisa ditolak, dicemooh, dan dihina. Itulah yang Yesus alami dalam perikop ini.

Orang-orang Yahudi menanggapi perkataan Yesus bukan dengan kerendahan hati, melainkan dengan penghinaan. Mereka menyebut Yesus sebagai orang Samaria dan menuduh-Nya kerasukan setan. Tuduhan itu bukan sekadar kata-kata kasar, tetapi lahir dari hati yang menutup diri terhadap kebenaran. Hati yang keras akan selalu mencari alasan untuk menolak terang.

Namun, perhatikan sikap Yesus. Ia tidak membalas hinaan dengan hinaan. Ia tidak terpancing emosi. Dengan tegas dan jujur, Yesus menyatakan bahwa Ia menghormati Allah, dan justru merekalah yang tidak menghormati Allah karena menolak firman-Nya. Yesus tidak sedang membela diri, melainkan tetap menyatakan kebenaran—bahkan kepada mereka yang membenci-Nya.

Yesus terus memberitakan keselamatan, walau penolakan demi penolakan Ia terima. Ia menegaskan bahwa mereka sebenarnya tidak mengenal Allah, berbeda dengan Abraham yang bersukacita melihat penggenapan janji Allah. Kebenaran itu tidak membuat mereka bertobat, tetapi justru semakin memicu kemarahan hingga mereka hendak melempari Yesus dengan batu.

Renungan ini mengajak kita bercermin:
Bagaimana sikap kita ketika iman kita dihina?
Apakah kita mudah tersulut emosi, atau justru memilih tetap setia dan bersaksi melalui hidup kita?

Menghidupi firman Tuhan sering kali tidak mudah. Cemooh, penolakan, dan hinaan bisa datang dari siapa saja. Namun, seperti Yesus, panggilan kita bukan untuk membalas, melainkan untuk tetap hidup dalam kebenaran. Sebab, orang yang sungguh mengenal Allah tidak akan berhenti melakukan kehendak-Nya, sekalipun harus berjalan di jalan yang sempit.

Mari kita belajar untuk tidak membiarkan hinaan memadamkan kesaksian kita. Ketika iman direndahkan, kita justru dipanggil untuk semakin rendah hati, berdoa, dan menghadirkan kasih Kristus melalui perkataan dan tindakan kita. Kiranya hidup kita menjadi terang yang membawa dampak, bukan api yang membakar.

Doa

Tuhan Yesus,
Terima kasih atas teladan-Mu yang sempurna. Engkau tetap setia menyatakan kebenaran meski dihina dan ditolak. Ajarlah kami untuk memiliki hati yang lembut, iman yang teguh, dan kasih yang tidak mudah padam. Saat kami menghadapi cemooh karena iman kami, mampukan kami untuk tidak membalas dengan kemarahan, melainkan dengan kehidupan yang memuliakan nama-Mu. Tolong kami, melalui kuasa Roh Kudus, untuk terus hidup dalam pengenalan yang benar akan Allah dan setia melakukan kehendak-Nya.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Warisi Iman, Bukan Sekadar Status"

Warisi iman sejati sebagai anak-anak Allah melalui ketaatan kepada Kristus
Warisi Iman, Bukan Sekadar Status
Pernahkah kita merasa lebih bernilai karena relasi, latar belakang, atau identitas tertentu yang kita miliki?

Tanpa disadari, kedekatan dengan orang yang berpengaruh atau status tertentu dapat membuat kita meninggikan diri. Hal serupa terjadi pada orang-orang Yahudi. Mereka begitu membanggakan identitas sebagai keturunan Abraham, seolah status itu otomatis menjamin hidup yang benar di hadapan Allah.

Yesus tidak menyangkal fakta bahwa mereka memang keturunan Abraham. Namun Yesus menyingkapkan kebenaran yang jauh lebih dalam: mereka tidak hidup seperti Abraham. Niat mereka untuk membunuh Yesus justru membuktikan bahwa mereka tidak mewarisi iman Abraham, bapa orang beriman itu.

Bagi Yesus, iman tidak diukur dari garis keturunan, tetapi dari hati dan ketaatan. Abraham dikenal bukan karena statusnya, melainkan karena ketaatannya kepada Allah. Ia mendengar firman Tuhan dan melakukannya. Sebaliknya, orang-orang Yahudi pada waktu itu menolak Yesus, tidak memahami perkataan-Nya, bahkan memusuhi Dia. Semua itu menunjukkan bahwa hati mereka jauh dari Allah.

Yesus dengan tegas menyatakan bahwa siapa yang berasal dari Allah pasti mendengarkan firman Allah. Ketidakmampuan mereka memahami dan menerima kebenaran bukan sekadar masalah intelektual, tetapi persoalan hati yang tertutup.

Renungan ini menantang kita untuk bercermin. Kita bisa saja memiliki identitas Kristen, aktif dalam pelayanan, dan dikenal sebagai orang beriman. Namun pertanyaannya: apakah kita sungguh mewarisi iman itu? Ataukah kita hanya hidup dari status rohani tanpa ketaatan?

Yesus menyatakan dua tanda yang jelas dari anak-anak Allah: mengasihi Yesus dan mendengarkan firman Allah. Kasih kepada Kristus akan nyata dalam kerinduan untuk taat, bukan sekadar mengaku percaya.

Sebagai “keturunan Abraham” secara rohani, kita dipanggil untuk hidup dalam iman yang sama—iman yang taat, rendah hati, dan bersandar penuh kepada Allah. Bukan status yang menyelamatkan kita, melainkan iman yang hidup dan bertumbuh dalam ketaatan kepada Kristus.

Doa

Tuhan Allah Bapa kami,
ampuni kami bila kami sering membanggakan status rohani
namun lalai hidup dalam ketaatan.
Ajarlah kami untuk tidak hanya mengaku sebagai anak-anak-Mu,
tetapi sungguh-sungguh mewarisi iman yang hidup.
Tolong kami mengasihi Yesus dengan segenap hati
dan memberi telinga yang taat kepada firman-Mu.
Bentuklah hidup kami agar iman kami nyata dalam perbuatan,
dan kami semakin serupa dengan Kristus.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Percaya dan Taat: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati"

Percaya dan taat kepada Kristus membawa kemerdekaan sejati dari dosa
Percaya dan Taat: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati
Percaya kepada Kristus bukanlah garis akhir dalam kehidupan iman—justru itulah langkah pertama dari sebuah perjalanan yang panjang.

Banyak orang pada waktu itu percaya kepada Yesus setelah mendengar perkataan-Nya. Secara lahiriah, iman mereka tampak nyata. Namun Yesus tidak berhenti pada pengakuan percaya saja. Ia mengajak mereka melangkah lebih jauh: tinggal di dalam firman-Nya, hidup dalam kebenaran, dan mengalami kemerdekaan sejati.

Sayangnya, kata kemerdekaan justru menimbulkan keberatan. Sebagai keturunan Abraham, mereka merasa tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Mereka mengira Yesus sedang berbicara tentang status sosial dan identitas lahiriah. Padahal Yesus sedang menyingkapkan realitas yang jauh lebih dalam: perbudakan dosa yang tidak disadari manusia.

Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Pernyataan ini bukan hanya untuk orang-orang pada zaman itu, tetapi juga untuk kita hari ini. Kita bisa saja mengaku percaya, aktif beribadah, dan merasa diri “baik-baik saja,” namun tanpa ketaatan kepada firman Tuhan, kita masih hidup dalam belenggu yang sama.

Hanya Yesus yang sanggup memerdekakan manusia dari dosa. Kemerdekaan yang Ia tawarkan bukan sekadar kebebasan lahiriah, melainkan pembebasan batin—hidup yang diubahkan dari dalam ke luar.

Renungan ini mengajak kita bercermin dengan jujur. Berapa kali kita merasa tersinggung oleh teguran firman Tuhan? Berapa kali kita berpikir bahwa firman itu untuk orang lain, bukan untuk diri kita? Alih-alih taat, kita justru berdebat dan mempertahankan diri.

Padahal tujuan kita percaya kepada Kristus adalah supaya kita sungguh-sungguh merdeka. Merdeka dari dosa, dari ego, dan dari kehidupan lama. Kemerdekaan sejati itu hanya dapat dialami oleh hati yang rendah, yang mau dibentuk dan diubahkan oleh kebenaran firman Tuhan.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk melangkah lebih jauh—dari sekadar percaya, menuju hidup yang taat.

Doa

Tuhan Yesus,
kami bersyukur karena Engkau telah memanggil kami untuk percaya kepada-Mu.
Namun kami mengakui, sering kali kami berhenti pada pengakuan iman saja.
Ampuni kami bila kami menolak ditegur dan enggan diubahkan.
Ajarlah kami untuk tinggal dalam firman-Mu,
taat kepada kebenaran-Mu, dan mengalami kemerdekaan sejati di dalam Engkau.
Rendahkan hati kami agar hidup kami semakin serupa dengan Kristus.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Percaya kepada Kristus: Lebih dari Sekadar Tahu"

Percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat di tengah pergumulan hidup
Percaya kepada Kristus: Lebih dari Sekadar Tahu
Pernahkah kita berhadapan dengan orang yang sulit percaya kepada Allah—atau jangan-jangan, pernahkah kita sendiri berada di posisi itu?

Ada kalanya pikiran dan logika manusia begitu mendominasi, hingga kasih karunia Allah terasa sulit diterima. Firman Tuhan mungkin sering terdengar, ayat-ayat Alkitab mungkin akrab di telinga, tetapi hati tetap tertutup. Itulah yang dialami oleh para pemuka Yahudi ketika mereka mendengar perkataan Yesus tentang diri-Nya.

Ketika Yesus berbicara tentang tempat ke mana Ia akan pergi, mereka justru salah paham. Pikiran mereka terikat pada cara pandang duniawi, sehingga mereka mengira Yesus sedang berbicara tentang kematian karena bunuh diri. Padahal, Yesus sedang menyatakan kebenaran yang jauh lebih dalam: Ia berasal dari surga, bukan dari dunia ini.

Yesus tidak lelah menjelaskan siapa diri-Nya dan apa konsekuensi dari ketidakpercayaan kepada-Nya. Namun, dosa telah membutakan mata rohani mereka. Meskipun penjelasan diberikan berulang kali, mereka tetap bertanya, “Siapakah Engkau?” Bukan karena Yesus tidak jelas, tetapi karena hati mereka tidak mau percaya.

Yesus kemudian menyatakan bahwa akan datang waktunya mereka mengenal siapa Dia sebenarnya—saat Anak Manusia ditinggikan. Salib yang bagi dunia adalah kebodohan, justru menjadi titik terang pengenalan akan Allah. Di sanalah kasih dan kebenaran Allah dinyatakan sepenuhnya.

Renungan ini mengajak kita bercermin. Dosa juga bisa membutakan mata rohani kita. Kita bisa saja aktif secara keagamaan, tetapi belum sungguh percaya. Namun, kasih karunia Allah bekerja menembus kebutaan itu, memampukan kita mengenal Kristus dan menerima keselamatan kekal di dalam Dia.

Percaya kepada Kristus bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan sikap hidup. Percaya berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, hidup dalam ketaatan, dan tetap berpegang pada firman-Nya di tengah kebimbangan, penderitaan, dan ketidakpastian hidup.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apakah iman kita hanya sebatas rutinitas rohani, atau sungguh-sungguh bersandar kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat?

Doa

Tuhan Yesus Kristus,
kami mengakui bahwa sering kali kami lebih mengandalkan logika daripada iman.
Ampuni kami bila hati kami tertutup dan lambat percaya kepada firman-Mu.
Bukalah mata rohani kami agar kami sungguh mengenal Engkau,
percaya kepada-Mu sepenuh hati, dan hidup dalam ketaatan.
Teguhkan iman kami di saat hidup terasa sulit dan penuh pergumulan.
Ajarlah kami menjalani hidup bukan sekadar ritual,
melainkan sebagai ungkapan iman yang sejati kepada-Mu.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Ketika Terang Tuhan Diragukan"

Yesus Terang Dunia menerangi jalan hidup orang percaya di tengah kegelapan
Ketika Terang Tuhan Diragukan
Pernahkah kita diam-diam meragukan firman Tuhan?

Di tengah dunia yang terus maju dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia semakin terbiasa menuntut bukti. Segala sesuatu ingin diukur, diuji, dan dipastikan secara logis. Tanpa disadari, pola pikir ini sering kali kita bawa juga ke dalam kehidupan iman. Firman Tuhan pun akhirnya diperlakukan seperti teori yang harus dibuktikan sebelum dipercaya.

Itulah yang terjadi pada orang-orang Farisi ketika Yesus berkata, “Akulah terang dunia.” Mereka tidak serta-merta percaya. Bagi mereka, kesaksian Yesus tentang diri-Nya sendiri belum cukup. Mereka menuntut pembuktian sesuai standar manusia, seolah kebenaran ilahi harus tunduk pada ukuran logika yang terbatas.

Namun Yesus menyingkapkan satu kenyataan penting: manusia yang hidup dalam kegelapan dosa tidak mungkin mampu menilai terang dengan benar. Dalam kegelapan, penglihatan menjadi kabur. Kebenaran dan kepalsuan sulit dibedakan. Bukan karena terang itu lemah, melainkan karena mata manusia tidak sanggup melihatnya tanpa pertolongan Allah.

Refleksi ini juga menyentuh hidup kita hari ini. Ketika keadaan berjalan baik, kita mudah berkata bahwa firman Tuhan itu benar. Namun saat doa terasa tidak terjawab, saat penderitaan datang silih berganti, atau ketika realitas hidup tidak sejalan dengan harapan, keraguan pun mulai menyelinap. Kita bertanya dalam hati: “Benarkah firman Tuhan masih dapat dipegang?”

Keraguan itu sesungguhnya mengungkapkan keterbatasan kita. Kita membutuhkan terang yang sejati—bukan sekadar penjelasan, melainkan Pribadi yang menerangi hidup. Yesus Kristus, Sang Terang Dunia, bukan hanya memberi jawaban yang benar, tetapi juga menunjukkan jalan yang benar. Ia tidak sekadar menghibur, tetapi menuntun. Ia tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga mengubahkan.

Dunia mungkin menawarkan kenyataan hidup yang masuk akal dan tampak meyakinkan, tetapi sering kali justru menjauhkan kita dari kasih karunia Allah. Sebaliknya, Kristus membawa kita berjalan dalam terang-Nya, meskipun jalannya tidak selalu mudah. Di sanalah kita dibentuk, dimurnikan, dan dibuat semakin serupa dengan Dia.

Hari ini, kita diajak untuk kembali percaya. Bukan karena apa yang dapat kita buktikan, melainkan karena apa yang Allah nyatakan tentang diri-Nya melalui firman-Nya. Terang itu tidak pernah berubah—yang perlu dibaharui adalah hati kita yang mau membuka diri untuk diterangi.

Doa

Tuhan Yesus, Sang Terang Dunia,
ampuni kami bila kami sering meragukan firman-Mu, terutama saat hidup terasa berat dan gelap.
Kami mengakui keterbatasan kami dalam memahami kebenaran-Mu.
Terangilah hati dan pikiran kami, agar kami belajar percaya bukan karena bukti yang kami tuntut,
melainkan karena kesetiaan-Mu yang nyata melalui firman-Mu.
Tuntunlah langkah kami untuk terus berjalan dalam terang-Mu
dan ubahkan hidup kami agar semakin serupa dengan Engkau.
Amin.

Share:

Renungan Harian " Jangan Terlalu Cepat Menghakimi "

Yesus mengajarkan kasih dan pengampunan kepada perempuan yang berdosa

Jangan Terlalu Cepat Menghakimi
Yohanes 7:53–8:11
Menghakimi sering kali terasa begitu mudah. Saat kita melihat kesalahan orang lain, lidah dan pikiran kita cepat bereaksi. Namun ketika kita sendiri jatuh dalam dosa, pengakuan justru terasa berat. Kita sibuk menunjuk keluar, tetapi enggan menoleh ke dalam diri. Tanpa disadari, kita menjadi lebih keras terhadap sesama daripada terhadap diri sendiri.

Kisah yang kita baca hari ini memperlihatkan sekelompok orang Yahudi dan orang-orang Farisi yang membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzina. Tujuan mereka bukan semata-mata menegakkan hukum, melainkan menjebak Yesus. Mereka berharap Yesus terpeleset dalam jawaban-Nya sehingga dapat dijadikan alasan untuk menjatuhkan-Nya.

Namun respons Yesus sungguh mengejutkan. Ia tidak terpancing emosi, tidak terburu-buru menghakimi, dan tidak pula mengabaikan hukum. Dengan penuh hikmat dan kasih, Yesus berkata, “Siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Kata-kata itu menusuk hati setiap orang yang hadir. Satu per satu mereka pergi, sadar bahwa tidak seorang pun layak berdiri sebagai hakim mutlak.

Yesus kemudian menatap perempuan itu dan memberinya kesempatan baru. Ia tidak membenarkan dosanya, tetapi juga tidak menghancurkan hidupnya. “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Di sini kita melihat keseimbangan yang indah antara kebenaran dan kasih. Hukuman tidak dijadikan alat mempermalukan, tetapi pertobatan ditawarkan sebagai jalan pemulihan.

Kisah ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: seberapa sering kita menjadi seperti orang-orang Farisi itu? Cepat bereaksi, cepat menghakimi, tetapi lambat mengintrospeksi diri. Tuhan tidak melarang kita menegur kesalahan, tetapi Ia mengingatkan agar teguran lahir dari hati yang rendah, penuh kasih, dan bertujuan memulihkan—bukan menjatuhkan.

Hari ini, mari kita belajar menghabiskan lebih banyak waktu untuk bercermin pada diri sendiri. Sebelum menunjuk kesalahan orang lain, biarlah firman Tuhan terlebih dahulu menegur hati kita. Sebab orang yang menyadari betapa besar pengampunan yang ia terima, akan lebih mudah mengampuni dan bersikap bijaksana terhadap sesamanya.

Doa

Tuhan Yesus yang penuh kasih,
ampuni kami bila kami terlalu cepat menghakimi sesama
namun lambat mengakui dosa kami sendiri.
Lembutkan hati kami agar mampu melihat orang lain
dengan kasih dan belas kasihan-Mu.
Ajarlah kami menegur dengan hikmat,
bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk memulihkan.
Ubahlah hati kami agar semakin serupa dengan hati-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 25 Januari 2026

Share:

Renungan Harian "Pembela Kebenaran"

Nikodemus membela kebenaran dengan keberanian iman
Pembela Kebenaran
Membela kebenaran bukanlah pilihan yang mudah. Apalagi ketika kita sadar bahwa sikap itu bisa membawa risiko—disalahpahami, ditolak, bahkan disingkirkan. Tidak heran jika banyak orang, termasuk anak-anak Tuhan, memilih diam. Bungkam sering kali terasa lebih aman daripada bersuara.

Namun firman Tuhan hari ini memperkenalkan kita pada seorang yang berani mengambil risiko itu: Nikodemus. Di tengah kemarahan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang berusaha menjatuhkan Yesus, Nikodemus berdiri dan bersuara. Ia tidak berteriak, tidak memaki, tetapi menyampaikan kebenaran dengan bijaksana: “Apakah Hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” (ay. 51).

Nikodemus tahu betul risikonya. Ia bisa menjadi sasaran ejekan, dikucilkan, bahkan mengalami ancaman seperti yang dialami Yesus. Namun ia tetap memilih berpihak pada kebenaran. Keberaniannya bukanlah keberanian yang sembrono, melainkan keberanian yang lahir dari perjumpaan pribadi dengan Yesus.

Kita ingat, Nikodemus pernah datang kepada Yesus pada malam hari (Yohanes 3). Percakapan itu mengubah cara pandangnya. Ia tidak lagi melihat Yesus dengan kacamata para pemimpin agama, tetapi dengan hati yang telah disentuh oleh kebenaran. Pertemuan pribadi dengan Yesus menumbuhkan iman, pengertian, dan keberanian untuk bersikap benar.

Renungan ini mengajak kita bercermin: bagaimana sikap kita ketika kebenaran diperlakukan secara tidak adil? Apakah kita memilih aman dengan diam, atau berani bersuara dengan bijaksana? Orang yang sungguh mengenal Yesus akan memiliki cara pandang yang berbeda. Ia tidak cepat menghakimi, tidak terburu-buru berprasangka buruk, tetapi mau mendengar, mengklarifikasi, dan menilai dengan adil.

Pembela kebenaran tidak diukur dari seberapa keras suaranya, tetapi dari keteguhannya berdiri di pihak yang benar. Ia berani karena benar, namun juga rendah hati dan takut jika salah. Ia tidak membela demi kepentingan pribadi, melainkan demi kebenaran itu sendiri—siapa pun orang yang dibela.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk bertanya: sudahkah perjumpaan kita dengan Yesus mengubah keberanian kita? Ataukah kita masih memilih diam demi kenyamanan diri? Kiranya kita belajar dari Nikodemus, berani berdiri di pihak kebenaran dengan hikmat, kasih, dan iman.

Doa

Tuhan Yesus,
kami mengaku bahwa sering kali kami memilih diam
ketika kebenaran diperlakukan secara tidak adil.
Ampuni kami bila kami lebih mencintai rasa aman
daripada keberanian untuk bersaksi.
Tumbuhkan iman kami melalui perjumpaan yang nyata dengan-Mu,
agar kami memiliki keberanian yang lahir dari kebenaran.
Ajarlah kami bersuara dengan hikmat,
bersikap adil tanpa menghakimi,
dan setia berdiri di pihak yang benar.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian "Haus Secara Rohani"

Yesus sumber air hidup yang memuaskan kehausan rohani
Haus Secara Rohani
Rasa haus adalah pengalaman yang tidak bisa diabaikan. Semakin lama dibiarkan, semakin melemahkan. Namun begitu seteguk air menyentuh bibir, tubuh kita kembali segar dan lega. Haus yang terpuaskan membawa kelegaan yang nyata.

Yesus berbicara tentang rasa haus yang jauh lebih dalam daripada kebutuhan tubuh. Ia berseru, “Siapa yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (ay. 37). Haus yang dimaksud Yesus bukanlah kekeringan fisik, melainkan kehausan jiwa—kerinduan terdalam manusia akan makna, damai, dan kehidupan sejati. Yesus menegaskan bahwa siapa yang percaya kepada-Nya, dari dalam dirinya akan mengalir “sungai-sungai air hidup” (ay. 38). Yohanes menjelaskan bahwa air hidup itu adalah Roh Kudus, yang akan memenuhi hidup orang-orang yang percaya (ay. 39).

Sebagaimana tubuh tidak dapat bertahan tanpa air, jiwa pun tidak dapat hidup sehat tanpa hubungan yang nyata dengan Tuhan. Kehausan rohani muncul ketika hati kita merindukan kehadiran Allah, tuntunan Roh Kudus, dan hidup yang berbuah. Jiwa yang haus akan Tuhan tidak puas dengan rutinitas iman semata, tetapi terus mencari kedalaman relasi dengan-Nya agar hidupnya menjadi saluran berkat bagi sesama.

Sayangnya, sering kali kita mencoba memuaskan kehausan rohani dengan cara-cara duniawi. Hiburan, kesibukan kerja, pencapaian materi, bahkan hal-hal yang tampak baik sekalipun, sering dijadikan pengganti Tuhan. Namun semua itu hanya memberi kepuasan sesaat. Setelah euforia berlalu, kekosongan itu kembali terasa.

Yesus mengundang kita datang apa adanya—membawa kekeringan, kelelahan, dan kerinduan kita. Datang kepada-Nya berarti percaya bahwa hanya Dia sumber air hidup sejati. Ketika kita percaya dan membuka hati, sesungguhnya kita sedang minum dari-Nya. Ia mengenal setiap bagian hidup kita yang kering dan rapuh.

Hari ini, mari kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: di mana kita mencari kepuasan jiwa selama ini? Sudahkah kita sungguh datang kepada Yesus, atau kita masih menahan diri untuk sepenuhnya bersandar kepada-Nya? Jangan menunda. Datanglah kepada Sumber Air Hidup itu, dan biarkan Roh Kudus mengalirkan kehidupan baru di dalam kita.

Doa

Tuhan Yesus,
kami mengakui bahwa sering kali jiwa kami kering
karena mencari kepuasan di luar Engkau.
Ampuni kami bila kami lebih mengandalkan dunia
daripada datang kepada-Mu.
Hari ini kami datang membawa kehausan kami,
memohon agar Engkau memenuhi kami dengan Roh Kudus-Mu.
Segarkan jiwa kami, pulihkan hati kami,
dan jadikan hidup kami saluran air hidup bagi sesama.
Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian "Jika Saatnya Belum Tiba"

Yesus berdiri tenang karena saat-Nya belum tiba dalam kendali Tuhan
Jika Saatnya Belum Tiba
Ada kalanya kita dinilai bukan karena kebenaran yang kita lakukan, melainkan karena perasaan orang terhadap kita. Jika seseorang tidak menyukai kita, apa pun yang kita perbuat akan tampak salah. Sebaliknya, bila ada rasa suka, kekeliruan pun bisa terlihat sebagai kebaikan. Penilaian manusia sering kali tidak lahir dari hati yang jujur, tetapi dari perasaan yang subjektif.

Hal inilah yang dialami oleh Yesus. Meski ajaran-Nya penuh kebenaran dan perbuatan-Nya menyatakan kuasa Allah, orang-orang Yerusalem tetap mencari celah untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak lagi memperdebatkan apa yang Yesus ajarkan, melainkan mempertanyakan asal-usul-Nya. Hati mereka tertutup oleh prasangka. Mereka kagum pada mukjizat-Nya, namun menolak pengakuan-Nya sebagai Anak Allah. Kekaguman bercampur kebencian, dan kebencian itu melahirkan niat jahat.

Namun Alkitab mencatat dengan jelas, “Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.” (ay. 30). Di tengah rencana manusia yang penuh tipu daya, kedaulatan Allah tetap berdiri teguh. Tidak satu pun terjadi di luar kendali-Nya. Waktu Tuhan tidak bisa dipercepat oleh kebencian, dan tidak bisa digagalkan oleh kejahatan.

Renungan ini mengajak kita menoleh pada hidup kita sendiri. Mungkin kita pernah, atau bahkan sedang, berada dalam situasi di mana orang lain berusaha menyakiti, menjatuhkan, atau menilai kita secara tidak adil. Reaksi spontan sering kali mendorong kita untuk membalas, membela diri dengan emosi, atau merasa takut dan gelisah. Namun firman Tuhan mengingatkan kita: selama kita berjalan dalam kehendak-Nya, tidak ada satu pun yang dapat menyentuh hidup kita tanpa seizin-Nya.

Tuhan mengajar kita untuk merespons dengan iman, bukan dengan kemarahan. Dengan doa, bukan dengan dendam. Dengan ketenangan, bukan dengan kepanikan. Reaksi yang berlebihan justru merusak kesaksian hidup kita. Sebaliknya, sikap tenang dan dewasa menunjukkan bahwa kita percaya penuh pada pemeliharaan Tuhan.

Hari ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita sungguh percaya bahwa hidup kita ada dalam tangan Tuhan? Atau masihkah kita dikuasai rasa takut terhadap apa yang orang lain bisa lakukan kepada kita? Percayalah, jika saat Tuhan belum tiba, tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menggoyahkan hidup yang diserahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Doa

Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu,
kami bersyukur karena hidup kami ada dalam tangan-Mu.
Ampuni kami jika selama ini kami lebih takut pada manusia
daripada percaya pada pemeliharaan-Mu.
Ajarlah kami untuk tenang saat menghadapi penolakan,
bijaksana saat disakiti, dan setia berjalan dalam kehendak-Mu.
Kami mau menyerahkan seluruh hidup kami kepada-Mu,
percaya bahwa waktu dan rencana-Mu selalu yang terbaik.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian "Menghakimi dengan Adil"

Yesus mengajar tentang menghakimi dengan adil
Menghakimi dengan Adil
Ketika Yesus mengajar di dalam Bait Allah, orang-orang Yahudi terheran-heran. Mereka mengenal latar belakang Yesus—bukan rabi terdidik, bukan ahli Taurat ternama—namun hikmat dan kuasa yang keluar dari perkataan-Nya tidak dapat disangkal. Keheranan itu segera berubah menjadi penilaian. Mereka melihat dari luar, lalu menyimpulkan dari apa yang tampak.

Yesus menanggapi sikap itu dengan tegas namun penuh kasih. Ia menyatakan bahwa ajaran-Nya berasal dari Bapa yang mengutus-Nya. Lalu Ia menegur cara berpikir mereka: “Jangan menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Perkataan ini menembus batas waktu dan berbicara langsung ke hati kita hari ini.

Menghakimi sering kali lahir dari kesan sepintas, informasi yang tidak utuh, atau prasangka pribadi. Dalam bahasa aslinya, kata krino berarti menilai, membedakan, bahkan menghukum. Yesus tidak melarang kita untuk menilai, karena dalam hidup kita memang harus membedakan mana yang benar dan salah. Namun Ia memperingatkan agar kita tidak terburu-buru menjatuhkan vonis tanpa hikmat dan keadilan.

Bukankah kita sering jatuh dalam jebakan ini? Kita cepat menyimpulkan, mudah menyalahkan, dan lambat memahami. Kita melihat tindakan seseorang, tetapi tidak mengenal pergumulannya. Kita mendengar satu cerita, lalu membangun penghakiman tanpa mencari kebenaran secara utuh.

Renungan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku lebih sering menghakimi daripada mengasihi?
Apakah penilaianku lahir dari hikmat Tuhan atau dari emosiku sendiri?

Sebagai anak-anak Tuhan, panggilan kita bukan untuk mempermalukan atau menjatuhkan, melainkan menyadarkan dan membangun. Menegur dalam kasih jauh lebih sulit daripada menghakimi, tetapi di situlah iman kita diuji. Ketika kita terlalu sibuk menilai orang lain, sering kali kita kehilangan waktu untuk mengasihi mereka.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki mata yang jernih dan hati yang lembut—mampu menilai dengan bijak, menegur dengan kasih, dan berjalan dalam kebenaran bersama-sama.

Doa
Tuhan yang penuh hikmat,ampuni kami karena sering kali kami mudah menghakimi hanya dari apa yang tampak. Ajarlah kami untuk melihat dengan mata-Mu dan menilai dengan hati-Mu. Berikan kami hikmat agar setiap perkataan dan sikap kami membangun, bukan melukai. Tolong kami untuk lebih mengasihi daripada menghakimi, dan menegur dengan kebenaran yang disertai kasih. Amin.
Share:

Renungan Harian " Waktu Tuhan "

Yesus mengajarkan kesabaran menanti waktu Tuhan
Waktu Tuhan
Hampir semua orang senang ketika dirinya diakui. Kita ingin dilihat, dihargai, dan dianggap berhasil. Tidak jarang, pengakuan itu dikejar melalui pencapaian, jabatan, kepemilikan, atau popularitas. Pengakuan manusia terasa manis—meski sering kali hanya sementara.

Cara berpikir yang sama muncul pada saudara-saudara Yesus. Menjelang Hari Raya Pondok Daun, mereka mendorong Yesus untuk pergi ke Yudea dan melakukan mukjizat di hadapan banyak orang. Menurut mereka, inilah momentum yang tepat. Bukankah lebih baik tampil di tempat ramai agar dikenal luas? Bukankah kesempatan besar tidak boleh disia-siakan?

Namun Yesus melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Ia tidak menolak pesta itu, tetapi Ia menolak dorongan untuk tampil demi popularitas. Dengan tenang Yesus berkata bahwa waktu-Nya belum tiba. Ia akhirnya pergi ke Yerusalem, tetapi diam-diam—tanpa sorotan, tanpa sensasi, tanpa ambisi pribadi. Bagi Yesus, menaati kehendak Bapa jauh lebih penting daripada memenuhi ekspektasi manusia.

Di sinilah kita diajak bercermin. Betapa sering kita tergoda untuk melangkah lebih cepat dari waktu Tuhan. Kita ingin segera dilihat, didengar, dan diakui. Kita merasa “sudah siap”, padahal Tuhan sedang mengajar kita untuk menunggu. Tidak jarang kita membungkus ambisi pribadi dengan alasan rohani: demi kemuliaan Tuhan, padahal yang sedang ditonjolkan adalah diri sendiri.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa tidak semua peluang harus diambil, dan tidak semua sorotan harus dikejar. Ada waktu untuk tampil, dan ada waktu untuk berdiam. Ada masa Tuhan membentuk kita dalam keheningan sebelum Ia mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar.

Mari kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apakah langkah yang sedang kuambil lahir dari ketaatan, atau dari keinginan untuk diakui?
Apakah aku bersedia menunggu, jika Tuhan berkata: “Belum waktunya”?

Belajar menanti waktu Tuhan memang tidak mudah. Namun, berjalan sesuai waktu-Nya akan membawa kita pada tujuan yang benar, dengan hati yang tetap rendah dan kemuliaan yang kembali kepada Tuhan.

Doa

Tuhan yang Mahabijaksana,
kami mengakui bahwa hati kami sering tidak sabar. Kami ingin cepat terlihat, cepat berhasil, dan cepat diakui. Ampuni kami bila kami melangkah mendahului waktu-Mu. Ajarlah kami untuk peka terhadap kehendak-Mu, sabar menanti waktu-Mu, dan setia berjalan sesuai arahan-Mu. Bentuklah hati kami agar tidak mengejar kemuliaan diri, melainkan hanya memuliakan nama-Mu. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 18 Januari 2026

Share:

Renungan Harian "Setia Bersama Tuhan"

Yesus bertanya kepada para murid tentang kesetiaan mengikuti-Nya
Setia Bersama Tuhan
Ada momen dalam hidup ketika kita harus memilih: bertahan atau pergi. Dalam Yohanes 6, Yesus berdiri di hadapan murid-murid-Nya setelah banyak orang meninggalkan Dia. Suasana menjadi sunyi dan berat ketika Yesus bertanya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Pertanyaan ini bukan sekadar untuk mengetahui jawaban, tetapi untuk menyentuh kedalaman hati para murid.

Petrus menjawab dengan keyakinan yang lahir dari relasi: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” Petrus sadar bahwa mengikuti Yesus tidak selalu mudah, namun hanya di dalam Yesuslah ada hidup yang sejati. Ia memilih untuk tetap tinggal, bukan karena jalannya ringan, melainkan karena tidak ada alternatif lain yang memberi kehidupan.

Namun Yesus mengetahui kerapuhan para murid. Ia tahu bahwa Petrus kelak akan menyangkal-Nya, Tomas akan meragukan-Nya, dan Yudas akan mengkhianati-Nya. Meski demikian, Yesus tetap memanggil dan memilih mereka. Kesetiaan bukan berarti tanpa kelemahan, melainkan terus kembali kepada Tuhan di tengah kelemahan itu.

Kisah ini menjadi cermin bagi hidup kita. Kita pun sering berada di persimpangan: tetap setia kepada Tuhan meski penuh tantangan, atau memilih jalan yang tampak lebih nyaman namun menjauh dari-Nya. Dalam pelayanan, pekerjaan, relasi, atau pilihan hidup lainnya, godaan untuk “pergi” sering kali terasa nyata. Namun pertanyaannya tetap sama: kepada siapakah kita akan pergi?

Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kesetiaan. Ia memanggil kita untuk tetap bersama-Nya, meski iman kita rapuh dan langkah kita terseok. Kesetiaan itulah yang memelihara relasi dan menumbuhkan iman kita hari demi hari.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita mau tetap tinggal bersama Tuhan, bukan karena semuanya mudah, tetapi karena hanya Dia sumber hidup yang sejati?


Doa

Tuhan Yesus, kami mengakui bahwa iman kami sering goyah dan hati kami mudah ragu. Ada saat-saat ketika kami tergoda untuk pergi karena jalan bersama-Mu terasa berat. Namun hari ini kami mau berkata, seperti Petrus berkata: kepada siapakah kami akan pergi? Engkaulah sumber hidup kami. Tolonglah kami untuk setia, bukan karena kami kuat, tetapi karena kami bersandar pada kasih dan anugerah-Mu. Bentuklah hati kami agar tetap tinggal bersama-Mu sampai akhir. Amin.

Share:

Renungan Harian "Dibentuk oleh Tuhan"

Dibentuk oleh Tuhan
Kebenaran tidak selalu terasa nyaman. Bahkan, sering kali ia datang seperti pisau tajam yang menyentuh bagian terdalam hati kita. Sebuah ungkapan Latin mengatakan, Veritas odium parit—kebenaran dapat melahirkan kebencian. Itulah yang terjadi ketika Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Roti Kehidupan.

Banyak orang yang semula mengikuti Yesus mulai terguncang. Bukan karena Yesus berubah, tetapi karena perkataan-Nya menabrak cara berpikir dan keyakinan lama mereka. Mereka mendengar dengan telinga jasmani, bukan dengan hati yang terbuka. Ajaran Yesus terasa keras, sulit diterima, bahkan dianggap mengganggu iman yang selama ini mereka pahami. Akibatnya, sungut-sungut muncul, jarak tercipta, dan akhirnya langkah kaki mereka menjauh dari Yesus.

Yang menarik, Yesus tidak melunakkan kebenaran-Nya demi mempertahankan pengikut. Ia tidak menyesuaikan firman dengan selera pendengar. Yesus tetap menyatakan kebenaran, meskipun tahu bahwa hal itu akan membuat banyak orang pergi. Dan memang, banyak yang memilih mundur, karena mereka tidak siap dibentuk.

Sering kali, kita pun datang kepada Tuhan dengan gambaran tertentu tentang siapa Dia dan bagaimana seharusnya Ia bertindak. Tanpa sadar, kita ingin Tuhan mengikuti kehendak kita, bukan sebaliknya. Kita berharap Dia menghibur tanpa menegur, memberkati tanpa membentuk, menguatkan tanpa mengubah. Padahal, relasi sejati dengan Tuhan justru dimulai ketika kita datang sebagai “gelas kosong”, rela dibentuk seturut kehendak-Nya.

Renungan ini mengajak kita untuk bercermin:
Bagaimana reaksi kita saat firman Tuhan menegur hidup kita? Apakah kita membuka hati, atau justru menutup diri? Apakah kita bersedia diubahkan, atau memilih menjauh karena kebenaran terasa pahit?

Tuhan tidak memaksa kita tinggal, seperti Yesus tidak menahan mereka yang pergi. Namun, bagi mereka yang mau bertahan dan dibentuk, kebenaran-Nya akan menumbuhkan iman yang dewasa—iman yang tidak bergantung pada kenyamanan, tetapi pada kesetiaan.

Kiranya kita memilih untuk tetap tinggal, belajar, dan dibentuk oleh Tuhan, sekalipun prosesnya tidak selalu mudah. Karena di sanalah kehidupan sejati ditemukan.

Doa

Tuhan Yesus,
sering kali firman-Mu terasa berat bagi hatiku. Ada bagian-bagian hidupku yang masih ingin kubela, bukan kuserahkan. Ampuni aku bila aku lebih suka kenyamanan daripada kebenaran. Lembutkan hatiku agar mau ditegur, mau dibentuk, dan mau taat. Jadikan aku pengikut-Mu yang setia, bukan hanya saat firman-Mu menyenangkan, tetapi juga ketika firman-Mu mengubah hidupku. Amin.

Share:

Renungan Harian " Yesus Sang Roti Kehidupan"

Yesus Sang Roti Kehidupan sumber hidup kekal

Yesus Sang Roti Kehidupan
Pernahkah kita merasa kenyang setelah makan, tetapi tak lama kemudian lapar kembali? Entah karena porsinya kurang, atau karena selera yang muncul lagi. Rasa kenyang itu nyata, namun sifatnya sementara.

Demikian pula hidup manusia. Kita sering mengejar hal-hal yang tampaknya memuaskan—keberhasilan, harta, kenyamanan, pujian—tetapi setelah semua itu diraih, hati justru kembali merasa kosong. Ada kerinduan yang tak terjawab.

Orang banyak dalam kisah ini mendatangi Yesus dengan harapan yang sama: mereka ingin dikenyangkan lagi. Namun Yesus tidak berhenti pada kebutuhan jasmani. Ia mengarahkan mereka kepada sesuatu yang lebih dalam dan esensial. Dengan tegas Ia berkata, “Akulah Roti Kehidupan.” Pernyataan ini diulang berkali-kali, seolah Yesus ingin memastikan bahwa mereka sungguh memahami siapa Dia.

Bagi orang Israel, roti adalah kebutuhan pokok. Mereka mengenal manna—roti dari surga—yang menopang hidup nenek moyang mereka di padang gurun. Namun manna itu hanya sementara. Berbeda dengan Yesus. Ia datang dari surga dan memberikan diri-Nya bukan hanya untuk satu hari, tetapi untuk kehidupan kekal. Tubuh dan darah-Nya kelak dikorbankan agar manusia memperoleh hidup yang sejati.

Yesus mengajak orang banyak—dan juga kita hari ini—untuk tidak berhenti pada berkat, melainkan datang kepada Sang Pemberi Berkat. Bukan sekadar menikmati pemberian-Nya, tetapi percaya dan tinggal di dalam Dia.

Renungan ini mengajak kita menengok ke dalam hati:
Apa yang selama ini paling kita kejar?
Apakah semua itu benar-benar mengenyangkan jiwa kita?
Ataukah kita masih menyimpan rasa hampa yang tak terucap?

Yesus mengetahui kelaparan terdalam manusia—bukan lapar roti, melainkan lapar makna, kasih, dan kehidupan sejati. Ia menawarkan diri-Nya sebagai Roti Kehidupan. Pertanyaannya kini ada pada kita: maukah kita datang kepada-Nya, percaya, dan hidup di dalam Dia?

Doa
Tuhan Yesus, sering kali kami mencari kepuasan di banyak hal, namun tetap merasa kosong. Hari ini kami datang kepada-Mu, Sang Roti Kehidupan. Penuhilah hati kami dengan hadirat-Mu. Ajarlah kami untuk tidak hanya mencari berkat, tetapi hidup bergantung sepenuhnya kepada-Mu. Jadilah sumber hidup kami, hari ini dan selamanya. Amin.
Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 11 Januari 2026

Share:

Renungan Harian "Motivasi Mencari Yesus"

Orang banyak mencari Yesus dengan berbagai motivasi di Kapernaum
Motivasi Mencari Yesus
Setelah peristiwa pelipatgandaan roti, orang banyak dengan penuh semangat mencari Yesus. Mereka menyeberang ke Kapernaum, berusaha menemukan-Nya. Dari luar, kegigihan mereka tampak mengagumkan. Namun Injil Yohanes mengajak kita melihat lebih dalam: apa sebenarnya motivasi mereka mencari Yesus?

Jika kita mencermati kisah sebelum dan sesudah bagian ini, menjadi jelas bahwa banyak orang mencari Yesus bukan karena ingin mengenal-Nya secara pribadi, melainkan karena roti yang mengenyangkan dan mukjizat yang memuaskan kebutuhan mereka. Mereka mencari Yesus bukan sebagai Tuhan yang disembah, tetapi sebagai pemberi berkat yang diharapkan.

Kisah ini menjadi cermin yang jujur bagi iman kita hari ini. Kita pun hidup di zaman di mana orang mudah datang mencari Tuhan karena alasan-alasan tertentu: ingin mengalami mujizat, memperoleh pertolongan, menikmati suasana ibadah yang meriah, atau sekadar mengikuti keramaian. Tidak semuanya salah, tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah Yesus yang kita cari, ataukah berkat-Nya saja?

Renungan ini mengajak kita berhenti sejenak dan memeriksa hati. Apakah relasi kita dengan Tuhan masih bersifat transaksional—datang ketika butuh, pergi ketika merasa cukup? Ataukah kita sungguh rindu berjumpa dengan-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan mengenal hati-Nya?

Santo Agustinus pernah menulis bahwa hati manusia tidak akan pernah tenang sampai ia beristirahat di dalam Tuhan. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa sejak semula hidup kita diciptakan untuk relasi dengan Allah. Tidak ada berkat, mukjizat, atau pengalaman rohani apa pun yang dapat menggantikan perjumpaan sejati dengan Dia.

Mencari Yesus berarti datang kepada-Nya dengan hati yang sederhana—bukan untuk memakai Tuhan demi kepentingan diri, melainkan untuk mengasihi dan dikenal oleh-Nya. Dalam relasi yang tulus itulah, jiwa menemukan ketenangan sejati.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Mengapa aku mencari Tuhan?
Apa yang paling aku harapkan ketika datang kepada-Nya?
Apakah aku siap tetap setia meski tanpa mujizat yang kulihat?

Doa
Tuhan Yesus, kami mengakui bahwa sering kali motivasi kami mencari Engkau tidak murni. Kami datang karena kebutuhan, bukan karena kerinduan akan Engkau sendiri. Ampuni kami. Bentuklah hati kami agar sungguh mencari wajah-Mu, bukan hanya berkat-Mu. Ajarlah kami membangun relasi yang tulus, sederhana, dan setia dengan-Mu, sampai hati kami benar-benar beristirahat di dalam Engkau. Amin.
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.