Kasih Tuhan di Tengah Kegagalan
Renungan Harian dari Yohanes 13:36–38
Kita semua ingin setia kepada Tuhan.
Seperti Petrus, mungkin kita pernah berkata dalam hati, “Tuhan, aku akan tetap mengikuti-Mu apa pun yang terjadi.”
Namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada saat di mana kita jatuh.
Ada saat kita gagal.
Ada saat kita tidak setia seperti yang kita janjikan.
Dalam bagian ini, Petrus dengan penuh keyakinan berkata bahwa ia siap memberikan nyawanya bagi Yesus. Ia sungguh mengasihi Tuhan. Ia sungguh ingin setia.
Tetapi Yesus mengetahui isi hati manusia.
Dengan lembut Ia berkata bahwa sebelum ayam berkokok, Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali.
Betapa kontrasnya:
niat manusia yang tulus, tetapi lemah…
dan kasih Yesus yang tetap setia, meskipun Ia tahu kegagalan itu akan terjadi.
Renungan ini mengingatkan kita bahwa tekad saja tidak cukup. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk tetap setia. Kita membutuhkan pertolongan Tuhan setiap hari.
Namun kabar baiknya adalah ini:
kasih Yesus tidak berhenti ketika kita gagal.
Yesus tahu Petrus akan jatuh, tetapi Ia tidak meninggalkannya. Bahkan setelah kebangkitan-Nya, Yesus memulihkan Petrus dan mempercayakan tugas besar kepadanya.
Artinya, kegagalan bukan akhir dari segalanya.
Di tangan Tuhan, kegagalan bisa menjadi awal pemulihan.
Hari ini, mungkin kita sedang merasa gagal.
Mungkin kita merasa tidak layak lagi datang kepada Tuhan.
Mungkin kita kecewa dengan diri sendiri.
Jangan menjauh.
Datanglah kepada Yesus.
Ia tidak menolak kita. Ia justru menunggu untuk memulihkan kita.
Mari belajar untuk rendah hati, mengakui kelemahan kita, dan bersandar sepenuhnya pada kasih setia-Nya. Karena hanya dengan kekuatan-Nya kita bisa tetap setia sampai akhir.
Doa
Tuhan Yesus, aku menyadari betapa lemah dan mudah jatuhnya diriku. Ampuni aku atas kegagalanku. Terima kasih karena kasih-Mu tidak pernah berubah. Pulihkan aku dan kuatkan aku untuk tetap setia mengikut Engkau setiap hari. Amin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar