Dalam hidup, kita pasti pernah mengalami konflik. Bukan hanya dengan orang lain, tetapi juga di dalam hati kita sendiri—antara apa yang benar dan apa yang kita inginkan.
Peristiwa pengadilan Tuhan Yesus memperlihatkan konflik yang sangat jelas. Di satu sisi, para imam berusaha menjaga kesucian secara lahiriah. Mereka tidak mau menajiskan diri menjelang perayaan. Namun di sisi lain, hati mereka justru menolak kebenaran yang ada di hadapan mereka—yaitu Tuhan Yesus sendiri.
Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita? Kita mungkin terlihat “baik” dari luar, rajin beribadah, menjaga sikap di depan orang lain. Tetapi di dalam hati, kita masih menyimpan kepentingan pribadi, kebohongan, atau bahkan menolak kebenaran Tuhan.
Ketika Pilatus bertanya kepada Tuhan Yesus, kita melihat bagaimana Yesus tetap teguh. Ia tidak berkompromi dengan kebohongan. Ia datang untuk menyatakan kebenaran, dan setiap orang yang berasal dari kebenaran akan mendengarkan suara-Nya.
Pertanyaan Pilatus, “Apakah kebenaran itu?” seolah menjadi cermin bagi kita hari ini. Apakah kita sungguh mengenal kebenaran itu? Ataukah kita hanya sibuk dengan “agama” tanpa benar-benar hidup dalam kebenaran Tuhan?
Yesus mengingatkan bahwa kebenaran bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang harus kita hidupi. Kebenaran itu mengubah hati, mengarahkan langkah, dan menuntun kita untuk hidup sesuai kehendak Allah.
Hari ini, mari kita jujur pada diri sendiri.
Apakah kita sudah hidup dalam kebenaran?
Ataukah kita masih berkompromi dengan hal-hal yang kita tahu tidak benar?
Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk terlihat benar, tetapi untuk hidup dalam kebenaran-Nya.
Doa
Tuhan Yesus,
ajar aku untuk hidup dalam kebenaran-Mu.
Ampuni aku jika selama ini aku lebih mementingkan penampilan luar daripada hati yang benar di hadapan-Mu.
Tolong aku untuk tidak berkompromi dengan dosa, tetapi berani berdiri dalam kebenaran-Mu, apa pun risikonya.
Pimpin setiap langkahku, agar hidupku menyenangkan hati-Mu.
Amin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar