Tetap Setia di Tengah Kebaikan dan Kecewa
Kisah Gideon dimulai dengan begitu indah.
Tuhan memakainya untuk membawa kemenangan besar bagi Israel.
Bahkan bangsa itu ingin menjadikannya raja.
Namun Gideon menolak,
karena ia tahu hanya Tuhanlah Raja yang sejati.
Sebuah awal yang baik…
namun sayangnya tidak berakhir dengan baik.
Gideon membuat efod dari emas hasil rampasan.
Dan tanpa disadari, itu menjadi jerat.
Bangsa Israel mulai menyembahnya.
Setelah Gideon meninggal,
mereka kembali meninggalkan Tuhan.
Mereka juga melupakan kebaikan Gideon.
Dari kisah ini, kita melihat sesuatu yang menyedihkan:
manusia mudah lupa.
Lupa akan kebaikan Tuhan.
Lupa akan kesetiaan orang lain.
Dan perlahan, hati kita bisa beralih kepada hal-hal lain.
Bukankah ini juga bisa terjadi dalam hidup kita?
Saat Tuhan memberkati,
kita justru mulai mengandalkan hal lain.
Saat orang lain setia,
kita bisa membalas dengan sikap yang dingin.
Firman hari ini mengingatkan kita dua hal penting:
Jangan membalas kebaikan Tuhan dengan berpaling dari-Nya.
Dan jangan membalas kesetiaan orang lain dengan ketidaksetiaan.
Hidup ini seperti rantai kasih.
Apa yang kita terima, seharusnya kita teruskan.
Namun lebih dari itu,
kita dipanggil untuk tetap berbuat baik—
bahkan ketika orang lain tidak melakukannya kepada kita.
Karena kesetiaan kita bukan tergantung pada orang lain,
tetapi pada Tuhan.
Doa
Tuhan,
terima kasih untuk setiap kebaikan dan kesetiaan yang aku terima.
Ampuni aku jika aku sering lupa dan tidak menghargainya.
Jaga hatiku agar tidak berpaling dari-Mu.
Ajarku untuk tetap setia,
dan terus berbuat baik,
apa pun respons orang lain terhadapku.
Biarlah hidupku memuliakan nama-Mu.
Amin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar