Memberi Tanpa Menuntut Balasan
Dalam hidup, kita sering tanpa sadar memakai prinsip:
“aku memberi supaya aku juga menerima.”
Saat kita berbuat baik,
kita berharap orang lain membalasnya.
Saat kita ditolak,
kita ingin membalas penolakan itu.
Itulah yang terjadi dalam kisah Gideon.
Dalam kelelahan, ia meminta bantuan makanan.
Namun orang Sukot dan Pnuel menolak.
Respons Gideon?
Ia marah… dan membalas dengan keras.
Secara manusia, kita mungkin bisa memahami reaksinya.
Ditolak saat sedang butuh memang menyakitkan.
Namun kisah ini juga menjadi cermin bagi kita.
Berapa sering kita melakukan hal yang sama?
Saat disakiti, kita ingin membalas.
Saat tidak dihargai, kita menutup hati.
Saat ditolak, kita menjadi keras.
Padahal Tuhan memanggil kita untuk hidup berbeda.
Yesus mengajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan,
tetapi membalas dengan kebaikan.
Ini bukan hal yang mudah.
Bahkan terasa tidak adil.
Namun di situlah letak iman kita diuji.
Apakah kita mau hidup mengikuti cara dunia,
atau mengikuti cara Tuhan?
Memberi tanpa mengharap balasan.
Mengasihi tanpa syarat.
Tetap berbuat baik, bahkan saat disakiti.
Hari ini, mari kita belajar melepaskan keinginan untuk membalas.
Dan mulai memilih untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi kita.
Doa
Tuhan,
aku sering terluka dan ingin membalas.
Ampuni aku jika hatiku mudah menjadi keras
ketika diperlakukan tidak baik.
Ajarku untuk mengasihi dengan tulus,
tanpa mengharapkan balasan.
Berikan aku hati seperti hati-Mu,
yang tetap berbuat baik dalam segala keadaan.
Amin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar