Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Kasih yang Menguatkan di Tengah Pergumulan"

Ilustrasi penghiburan Roh Kudus dalam pergumulan hidup Yohanes 14
 Kasih yang Menguatkan di Tengah Pergumulan

Renungan Harian dari Yohanes 14:15–31

Setiap kita pernah merasa sendiri.
Ada masa ketika hidup terasa berat, doa seperti tidak terjawab, dan Tuhan terasa jauh.

Dalam keadaan seperti itu, kita bisa bertanya:
Tuhan, apakah Engkau masih bersamaku?

Murid-murid Yesus juga pernah merasakan hal yang sama. Saat Yesus mengatakan bahwa Ia akan pergi, hati mereka diliputi kegelisahan dan ketakutan. Mereka merasa akan ditinggalkan.

Namun Yesus memberikan janji yang menenangkan:
Ia tidak akan meninggalkan mereka sebagai yatim piatu.

Janji ini juga berlaku bagi kita hari ini.
Kita tidak pernah benar-benar sendiri.

Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan menyertai, mengajar, mengingatkan, dan membimbing kita dalam setiap langkah kehidupan. Kehadiran Roh Kudus adalah bukti nyata bahwa kasih Tuhan tetap tinggal di dalam kita.

Namun Yesus juga menegaskan satu hal penting:
kasih kepada-Nya harus dinyatakan melalui ketaatan.

Mengasihi Tuhan bukan hanya soal perasaan.
Mengasihi Tuhan berarti hidup menurut kehendak-Nya, bahkan ketika itu tidak mudah.

Di tengah pergumulan, kita sering ingin menyerah atau berjalan dengan cara kita sendiri. Tetapi justru di situlah kita dipanggil untuk tetap taat.

Yesus juga memberikan damai sejahtera—bukan seperti yang dunia berikan. Damai dari Tuhan tidak bergantung pada keadaan. Damai itu tetap ada, bahkan di tengah badai kehidupan, karena kita tahu Tuhan menyertai kita.

Renungan hari ini mengingatkan kita:
ketika hidup terasa berat, jangan menjauh dari Tuhan.
Tetaplah taat, tetaplah percaya.

Karena di dalam ketaatan, kita akan mengalami penghiburan.
Di dalam penyertaan Roh Kudus, kita akan menemukan kekuatan.
Dan di dalam kasih Tuhan, kita tidak pernah ditinggalkan.

Doa

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan aku sendirian. Tolong aku untuk tetap taat kepada-Mu di tengah pergumulan hidup. Penuhi aku dengan Roh Kudus-Mu, agar aku dikuatkan, dibimbing, dan mengalami damai-Mu setiap hari. Amin.

Share:

Renungan Harian "Kasih Tuhan dan Janji yang Pasti"

Ilustrasi Yesus sebagai jalan kebenaran dan hidup dalam renungan Yohanes 14
 Kasih Tuhan dan Janji yang Pasti

Renungan Harian dari Yohanes 14:1–14

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, hati kita mudah menjadi gelisah. Masa depan terasa tidak jelas, situasi hidup berubah dengan cepat, dan iman pun sering diuji oleh berbagai pengaruh di sekitar kita.

Mungkin kita pernah bertanya dalam hati:
Apakah aku masih punya pegangan yang pasti?

Dalam bagian ini, Yesus memberikan penghiburan yang begitu dalam:
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”

Yesus tidak hanya menenangkan, tetapi juga memberikan kepastian.
Ia berkata bahwa Dialah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada jalan lain kepada Bapa selain melalui Dia.

Ini berarti, di tengah dunia yang penuh kebingungan, kita tidak perlu tersesat.
Kita memiliki arah yang jelas—Yesus sendiri adalah jalan itu.

Ketika Filipus ingin melihat Bapa, Yesus menegaskan bahwa mengenal Dia berarti mengenal Allah. Artinya, di dalam Yesus kita menemukan bukan hanya jawaban, tetapi juga hubungan yang nyata dengan Allah.

Yesus juga memberikan janji yang luar biasa:
Ia menyediakan tempat bagi kita, menjamin hidup yang kekal, dan mendengar setiap doa yang dipanjatkan dalam nama-Nya sesuai dengan kehendak Bapa.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa kasih Yesus bukan hanya terasa dalam kata-kata, tetapi nyata dalam janji-janji-Nya yang pasti.

Saat dunia menawarkan ketidakpastian, Yesus memberikan kepastian.
Saat hati kita gelisah, Yesus memberikan damai.
Saat kita kehilangan arah, Yesus menjadi jalan.

Hari ini, kita diajak untuk kembali percaya.
Bukan pada keadaan, bukan pada kekuatan diri sendiri, tetapi kepada Yesus yang setia pada janji-Nya.

Apapun yang sedang kita hadapi, mari kita belajar bersandar kepada-Nya. Karena di dalam Dia, kita memiliki pengharapan yang tidak pernah mengecewakan.

Doa

Tuhan Yesus, di tengah ketidakpastian hidup, aku memilih untuk percaya kepada-Mu. Tenangkan hatiku yang gelisah dan kuatkan imanku. Terima kasih atas janji-Mu yang pasti dalam hidupku. Ajarku untuk terus bersandar kepada-Mu setiap hari. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 22 Maret 2026

 

Share:

Renungan Harian "Kasih Tuhan di Tengah Kegagalan"

Ilustrasi pemulihan dari kegagalan oleh kasih Tuhan dalam renungan Yohanes 13

Kasih Tuhan di Tengah Kegagalan

Renungan Harian dari Yohanes 13:36–38

Kita semua ingin setia kepada Tuhan.
Seperti Petrus, mungkin kita pernah berkata dalam hati, “Tuhan, aku akan tetap mengikuti-Mu apa pun yang terjadi.”

Namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada saat di mana kita jatuh.
Ada saat kita gagal.
Ada saat kita tidak setia seperti yang kita janjikan.

Dalam bagian ini, Petrus dengan penuh keyakinan berkata bahwa ia siap memberikan nyawanya bagi Yesus. Ia sungguh mengasihi Tuhan. Ia sungguh ingin setia.

Tetapi Yesus mengetahui isi hati manusia.
Dengan lembut Ia berkata bahwa sebelum ayam berkokok, Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali.

Betapa kontrasnya:
niat manusia yang tulus, tetapi lemah…
dan kasih Yesus yang tetap setia, meskipun Ia tahu kegagalan itu akan terjadi.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa tekad saja tidak cukup. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk tetap setia. Kita membutuhkan pertolongan Tuhan setiap hari.

Namun kabar baiknya adalah ini:
kasih Yesus tidak berhenti ketika kita gagal.

Yesus tahu Petrus akan jatuh, tetapi Ia tidak meninggalkannya. Bahkan setelah kebangkitan-Nya, Yesus memulihkan Petrus dan mempercayakan tugas besar kepadanya.

Artinya, kegagalan bukan akhir dari segalanya.
Di tangan Tuhan, kegagalan bisa menjadi awal pemulihan.

Hari ini, mungkin kita sedang merasa gagal.
Mungkin kita merasa tidak layak lagi datang kepada Tuhan.
Mungkin kita kecewa dengan diri sendiri.

Jangan menjauh.
Datanglah kepada Yesus.

Ia tidak menolak kita. Ia justru menunggu untuk memulihkan kita.

Mari belajar untuk rendah hati, mengakui kelemahan kita, dan bersandar sepenuhnya pada kasih setia-Nya. Karena hanya dengan kekuatan-Nya kita bisa tetap setia sampai akhir.

Doa

Tuhan Yesus, aku menyadari betapa lemah dan mudah jatuhnya diriku. Ampuni aku atas kegagalanku. Terima kasih karena kasih-Mu tidak pernah berubah. Pulihkan aku dan kuatkan aku untuk tetap setia mengikut Engkau setiap hari. Amin.

Share:

Renungan Harian "Kasih yang Memuliakan Tuhan"

Ilustrasi kasih yang memuliakan Tuhan dalam renungan firman Tuhan Yohanes 1

Kasih yang Memuliakan Tuhan

Renungan Harian dari Yohanes 13:31–35

Ketika kita mendengar kata kemuliaan, mungkin yang terbayang adalah kekuasaan, kehormatan, dan keberhasilan. Sementara itu, kasih sering kita pahami sebagai sesuatu yang lembut, penuh penerimaan, dan sederhana.

Seolah-olah keduanya berbeda.
Namun, Yesus justru menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda.

Saat Yudas pergi untuk mengkhianati-Nya, Yesus berkata bahwa saat itu adalah saat kemuliaan-Nya dinyatakan. Bagi manusia, pengkhianatan dan penderitaan bukanlah kemuliaan. Tetapi bagi Yesus, justru di sanalah kemuliaan Allah dinyatakan—melalui kasih dan pengorbanan.

Yesus kemudian memberikan satu perintah yang sangat penting:
agar kita saling mengasihi, sama seperti Ia telah mengasihi kita.

Kasih yang diajarkan Yesus bukan sekadar perasaan.
Kasih itu adalah tindakan.
Kasih itu rela berkorban.
Kasih itu tetap memberi, bahkan ketika disakiti.

Inilah tanda seorang murid Kristus yang sejati—bukan dari seberapa banyak pengetahuan, bukan dari status, bukan dari pencapaian, tetapi dari kasih yang nyata dalam hidupnya.

Renungan ini mengajak kita untuk melihat kembali hidup kita.
Apakah kita sedang mengejar kemuliaan menurut dunia?
Ataukah kita sedang hidup dalam kasih yang memuliakan Tuhan?

Sering kali kita ingin dihargai, dimengerti, dan diakui. Tetapi Yesus memanggil kita untuk lebih dulu mengasihi—tanpa syarat, tanpa pamrih.

Ketika kita memilih untuk mengasihi, di situlah kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui hidup kita.

Hari ini, mari kita belajar mengasihi lebih sungguh:
mengampuni, peduli, dan tetap berbuat baik, bahkan ketika itu tidak mudah.

Karena di dalam kasih itulah kita sedang memuliakan Tuhan.

Doa

Tuhan Yesus, ajarku untuk mengasihi seperti Engkau mengasihi. Beri aku hati yang rela berkorban, sabar, dan tulus dalam mengasihi sesama. Biarlah melalui hidupku, kemuliaan-Mu dinyatakan. Amin.

Share:

Renungan Harian " Tetap Mengasihi di Tengah Pengkhianatan"

Renungan harian firman Tuhan Yohanes 13 tentang kasih Yesus dan pengkhianatan Yudas

Tetap Mengasihi di Tengah Pengkhianatan

Bacaan: Yohanes 13:21-30

Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam dalam hidup manusia. Dikhianati oleh orang yang dekat dengan kita bisa meninggalkan rasa sakit, kecewa, bahkan kepahitan yang sulit dilepaskan.

Dalam firman Tuhan hari ini, kita melihat bahwa Yesus pun mengalami hal yang sama. Ia tahu bahwa salah satu murid-Nya akan mengkhianati-Nya. Yang lebih menyentuh, orang itu bukan orang jauh, tetapi seseorang yang hidup bersama-Nya—Yudas Iskariot.

Namun yang luar biasa, di tengah kenyataan itu, Yesus tetap menunjukkan kasih. Saat perjamuan, Yesus memberikan roti kepada Yudas—sebuah tanda kehormatan dan kasih. Ini bukan sekadar tindakan biasa, tetapi ungkapan hati Yesus yang tetap mengasihi, bahkan kepada orang yang akan menyakiti-Nya.

Yesus sebenarnya memberi kesempatan kepada Yudas untuk bertobat. Tetapi Yudas memilih jalan yang lain. Ia mengeraskan hatinya dan masuk dalam kegelapan. Alkitab mencatat dengan sederhana namun dalam makna: “Hari sudah malam.” Itu bukan hanya tentang waktu, tetapi gambaran kondisi hati yang telah jauh dari terang.

Firman Tuhan hari ini memperlihatkan kontras yang jelas:
Kasih Yesus yang tetap mengalir, dan hati manusia yang bisa memilih menolak kasih itu.

Melalui bagian ini, kita diajak untuk merenung:
Bagaimana sikap kita ketika disakiti?
Apakah kita tetap memilih mengasihi, atau membalas dengan kepahitan?

Mengasihi orang yang baik kepada kita mungkin mudah. Tetapi mengasihi orang yang menyakiti kita—itulah panggilan sejati sebagai murid Kristus.

Yesus tidak memaksa Yudas untuk berubah, tetapi Ia tetap mengasihi sampai akhir. Itu juga yang Tuhan ajarkan kepada kita: kasih yang tidak bergantung pada respons orang lain.

Refleksi Pribadi

Mari kita renungkan dengan jujur:

  • Apakah saya masih menyimpan luka atau kepahitan terhadap seseorang?

  • Apakah saya bersedia belajar mengampuni dan mengasihi seperti Kristus?

  • Bagaimana saya bisa menunjukkan kasih kepada orang yang pernah menyakiti saya?

Tuhan memanggil kita untuk tetap tinggal dalam terang kasih-Nya, bukan hidup dalam kegelapan kepahitan.

Doa

Tuhan Yesus yang penuh kasih,
Engkau tahu betapa sakitnya dikhianati, namun Engkau tetap memilih untuk mengasihi. Ajarlah kami memiliki hati seperti hati-Mu.

Ampuni kami jika kami masih menyimpan luka, marah, atau kepahitan terhadap orang lain. Lembutkan hati kami, ya Tuhan, agar kami mampu mengampuni dan mengasihi, bahkan kepada mereka yang menyakiti kami.

Tolong kami untuk tetap tinggal dalam terang-Mu dan tidak berjalan dalam kegelapan hati. Mampukan kami menjadi saluran kasih-Mu di mana pun kami berada.

Berkatilah keluarga kami, pekerjaan kami, usaha kami, pelayanan kami, dan setiap langkah hidup kami. Penuhi kami dengan damai sejahtera dan hikmat-Mu setiap hari.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian " Pemimpin yang Melayani dengan Kerendahan Hati"

Renungan harian firman Tuhan Yohanes 13 tentang Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya

Pemimpin yang Melayani dengan Kerendahan Hati

Bacaan: Yohanes 13:1-20

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menginginkan posisi kepemimpinan. Jabatan sering dianggap sebagai jalan untuk mendapatkan kehormatan, pengaruh, dan kekuasaan. Bahkan dalam pelayanan dan kehidupan gereja, tidak jarang orang berlomba-lomba ingin berada di posisi yang lebih tinggi.

Namun melalui peristiwa dalam firman Tuhan hari ini, Yesus menunjukkan gambaran kepemimpinan yang sangat berbeda.

Yesus adalah Tuhan dan Guru. Ia memiliki otoritas tertinggi. Tetapi pada malam sebelum penderitaan-Nya, Ia melakukan sesuatu yang mengejutkan: Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Pada masa itu, membasuh kaki adalah pekerjaan seorang hamba. Bahkan murid biasanya yang melayani gurunya, bukan sebaliknya.

Namun Yesus dengan sadar mengambil posisi seorang hamba. Ia merendahkan diri dan melayani murid-murid-Nya dengan penuh kasih.

Tindakan Yesus ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Kerajaan Allah bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani dengan kerendahan hati.

Ketika Petrus menolak dibasuh kakinya, Yesus menjelaskan bahwa tanpa menerima pelayanan-Nya, seseorang tidak dapat memiliki bagian bersama Dia. Ini mengingatkan kita bahwa sebelum melayani orang lain, kita perlu terlebih dahulu mengalami kasih dan pembentukan dari Tuhan dalam hidup kita.

Hal yang lebih mengharukan lagi adalah bahwa Yesus juga membasuh kaki Yudas—murid yang Ia tahu akan mengkhianati-Nya. Ini menunjukkan bahwa kasih dan pelayanan Yesus tidak dibatasi oleh sikap manusia. Ia tetap melayani, bahkan kepada orang yang menyakitinya.

Firman Tuhan hari ini menantang kita untuk melihat kembali sikap hati kita.
Apakah kita ingin memimpin supaya dihormati?
Ataukah kita siap memimpin dengan hati seorang hamba?

Yesus berkata, jika Ia sebagai Tuhan dan Guru membasuh kaki murid-murid-Nya, maka kita juga dipanggil untuk saling melayani.

Kepemimpinan sejati terlihat bukan dari posisi kita, tetapi dari kerendahan hati dan kasih yang kita tunjukkan kepada orang lain.

Refleksi Pribadi

Mari kita merenungkan:

  • Apakah saya memiliki hati yang siap melayani orang lain?

  • Apakah saya memimpin dengan kerendahan hati seperti Kristus?

  • Dalam hal apa Tuhan sedang mengajar saya untuk lebih rendah hati?

Tuhan memanggil kita untuk menjadi pemimpin yang melayani—di keluarga, di tempat kerja, dalam usaha, dan juga dalam pelayanan.

Doa

Tuhan Yesus yang penuh kasih,
Engkau telah memberikan teladan kepemimpinan yang sejati melalui kerendahan hati dan pelayanan-Mu. Engkau tidak mencari kehormatan, tetapi rela menjadi hamba bagi banyak orang.

Ampuni kami jika sering kali kami ingin dihormati lebih daripada melayani. Bentuklah hati kami agar semakin serupa dengan hati-Mu.

Ajarlah kami untuk melayani dengan tulus, mengasihi tanpa syarat, dan merendahkan hati dalam setiap tanggung jawab yang Engkau percayakan kepada kami.

Berkatilah keluarga kami, pekerjaan kami, usaha kami, pelayanan kami, dan setiap langkah kehidupan kami. Berikan kami hikmat setiap hari agar kami dapat hidup sesuai dengan kehendak-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian "Buah Hidup pada Akhir Zaman"

Ilustrasi firman Tuhan sebagai terang kehidupan dari Yohanes 12 renungan harian

Buah Hidup pada Akhir Zaman

Renungan Harian dari Yohanes 12:44–50

Dalam bagian ini, Yesus menegaskan bahwa Ia dan Allah Bapa tidak dapat dipisahkan. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Allah yang mengutus-Nya. Yesus datang ke dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak hidup dalam kegelapan.

Yesus tidak datang untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkan manusia. Ia datang membawa kabar keselamatan dan hidup yang kekal. Namun, firman yang Ia sampaikan tidak boleh diabaikan. Firman itu akan menjadi dasar penghakiman pada akhir zaman.

Pada masa Yesus, banyak orang telah melihat mukjizat yang Ia lakukan. Tetapi tetap saja ada yang tidak percaya kepada-Nya. Bahkan ada beberapa pemimpin yang sebenarnya percaya, tetapi mereka takut mengakuinya karena khawatir kehilangan kedudukan dan penerimaan dari lingkungan mereka.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa percaya kepada Yesus bukan hanya soal mengetahui firman-Nya, tetapi juga hidup menurut firman itu.

Alkitab mengatakan bahwa Firman itu adalah Allah yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Firman itu adalah Yesus sendiri. Karena itu, ketika kita menerima firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, kita sebenarnya sedang menerima Yesus dalam hidup kita.

Sebagai orang yang telah diselamatkan dari kegelapan dosa, kita dipanggil untuk hidup dalam terang Tuhan. Hidup dalam terang berarti mau mendengar firman Tuhan, merenungkannya, dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, hidup kita akan menghasilkan buah. Buah itu terlihat dari bagaimana kita hidup, bagaimana kita mengasihi, bagaimana kita taat kepada Tuhan, dan bagaimana kita membawa orang lain semakin dekat kepada-Nya.

Karena itu, marilah kita tetap tinggal dalam firman Tuhan. Biarlah hidup kita menghasilkan buah yang baik bagi kemuliaan Tuhan.

Selain itu, mari kita juga berdoa bagi mereka yang masih hidup dalam kegelapan, supaya melalui kuasa firman Tuhan mereka dapat mengenal Yesus dan menerima keselamatan sebelum semuanya terlambat.

Doa

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau datang sebagai terang yang menyelamatkan hidup kami. Tolong kami agar tidak hanya mendengar firman-Mu, tetapi juga melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Pakailah hidup kami untuk menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu dan membawa orang lain mengenal Engkau. Amin.

Share:

Renungan Harian "Percaya atau Menolak Yesus?"

Ilustrasi pilihan percaya kepada Yesus dalam renungan firman Tuhan Yohanes 12

Percaya atau Menolak Yesus?

Renungan dari Yohanes 12:37–43

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang ragu atau bahkan takut untuk percaya kepada Yesus. Ada yang takut ditolak keluarga, takut kehilangan teman, atau khawatir dikucilkan oleh lingkungan.

Ada juga yang berkata bahwa mereka tidak bisa percaya karena merasa Tuhan tidak memilih mereka. Pertanyaannya, apakah seseorang tidak percaya kepada Yesus karena kehendak Tuhan, atau karena sikap hatinya sendiri?

Dalam bacaan ini kita melihat sesuatu yang menyedihkan. Banyak orang Yahudi telah menyaksikan mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus. Mereka melihat kuasa Tuhan bekerja dengan nyata. Namun, tetap saja banyak dari mereka yang tidak percaya.

Bahkan beberapa pemimpin sebenarnya percaya kepada Yesus, tetapi mereka memilih untuk menyembunyikan iman mereka. Mereka takut dikucilkan dari lingkungan dan kehilangan kedudukan mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa mukjizat tidak selalu membuat seseorang percaya. Kadang-kadang masalahnya bukan pada kurangnya bukti, tetapi pada sikap hati yang tidak mau menerima kebenaran.

Alkitab juga mengatakan bahwa Allah membiarkan hati mereka menjadi keras dan mata mereka menjadi buta secara rohani. Hal ini terjadi karena mereka terus-menerus menolak kebenaran Tuhan. Ketika seseorang berkali-kali menolak suara Tuhan, hatinya dapat menjadi semakin tidak peka.

Salah satu hal yang paling berbahaya adalah ketika seseorang lebih menginginkan kehormatan dari manusia daripada kehormatan dari Allah.

Renungan ini menjadi peringatan bagi kita. Jangan sampai hati kita perlahan menjadi keras karena terus menunda untuk taat kepada Tuhan. Jangan juga kita takut kehilangan pengakuan manusia sehingga kita menyembunyikan iman kita kepada Kristus.

Sebaliknya, marilah kita menjaga hati kita tetap lembut di hadapan Tuhan. Bangunlah hubungan yang dekat dengan Tuhan melalui doa dan perenungan firman-Nya. Mintalah pertolongan Roh Kudus agar kita tetap setia percaya kepada Yesus.

Hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk datang kepada Tuhan. Jangan sia-siakan anugerah itu.

Doa

Tuhan, jagalah hatiku agar tetap lembut di hadapan-Mu. Jauhkan aku dari hati yang keras dan takut kepada manusia. Tolong aku untuk berani percaya kepada-Mu dan hidup setia mengikuti kebenaran-Mu setiap hari. Amin.

Share:

Renungan Harian "Mengikuti Yesus dengan Sungguh"

Biji gandum yang bertumbuh sebagai simbol pengorbanan dalam firman Tuhan

Mengikuti Yesus dengan Sungguh

Renungan dari Yohanes 12:20–36

Banyak orang mengikuti seseorang karena berbagai alasan. Ada yang mengikuti karena kekuasaan, ada yang karena kekaguman, ada juga yang karena berharap mendapatkan manfaat dari orang tersebut.

Hal yang sama terjadi pada masa Yesus. Dalam bagian ini diceritakan bahwa beberapa orang Yunani datang ke Yerusalem saat perayaan Paskah. Mereka ingin bertemu dengan Yesus. Keinginan itu disampaikan kepada Filipus, lalu bersama Andreas mereka menyampaikannya kepada Yesus.

Mungkin mereka tertarik pada ajaran Yesus.
Mungkin mereka kagum pada mukjizat-Nya.
Atau mungkin mereka ingin menjadi pengikut-Nya.

Namun respons Yesus sangat menarik. Ia tidak langsung menanggapi permintaan mereka, tetapi justru mengajar murid-murid-Nya tentang arti sebenarnya mengikut Dia.

Yesus memberikan gambaran tentang sebutir biji gandum. Jika biji itu tidak jatuh ke tanah dan mati, ia akan tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Melalui gambaran ini, Yesus menjelaskan bahwa hidup-Nya sendiri akan melalui jalan pengorbanan. Ia akan menderita dan mati, tetapi dari pengorbanan itu akan lahir keselamatan bagi banyak orang.

Yesus juga berkata bahwa orang yang mencintai nyawanya akan kehilangan nyawanya, tetapi orang yang rela menyerahkan hidupnya demi Dia akan memperoleh hidup yang kekal.

Pesan ini sangat jelas:
mengikut Yesus bukan hanya soal kekaguman, tetapi soal pengorbanan dan ketaatan.

Sering kali kita ingin mengikuti Yesus ketika semuanya terasa baik. Kita senang menerima berkat-Nya, menikmati pertolongan-Nya, dan merasakan kasih-Nya. Namun apakah kita juga bersedia mengikuti jalan-Nya ketika itu menuntut pengorbanan?

Yesus memanggil kita bukan hanya untuk percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk meneladani hidup-Nya—hidup yang penuh ketaatan kepada Allah dan kesediaan melayani orang lain.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah aku mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh?
Ataukah aku hanya mengikuti-Nya selama itu menguntungkan bagiku?

Mari kembali kepada teladan Kristus. Belajarlah taat, rela berkorban, dan setia melayani seperti Dia.

Doa

Tuhan Yesus, terima kasih atas pengorbanan-Mu bagi keselamatanku. Ajarku untuk tidak hanya mengagumi Engkau, tetapi benar-benar mengikuti teladan-Mu. Beri aku hati yang taat, rela berkorban, dan setia melayani-Mu dalam hidupku. Amin.

Share:

Renungan Harian "Yesus, Inspirasi Hidup Sejati"

Yesus menunggangi keledai memasuki Yerusalem sebagai simbol Raja yang rendah hati dalam firman Tuhan

Yesus, Inspirasi Hidup Sejati

Renungan dari Yohanes 12:12–19

Dalam kehidupan ini, kita sering melihat tokoh-tokoh yang menginspirasi. Ada orang yang menginspirasi karena pengorbanannya, ada yang karena perjuangannya membela keadilan, dan ada pula yang karena pelayanannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

Tokoh-tokoh seperti Mother Teresa atau Martin Luther King Jr. sering dikenang karena dedikasi dan pengaruh mereka bagi dunia. Mereka memberi inspirasi bagi banyak orang.

Namun, di atas semua tokoh itu, ada satu Pribadi yang jauh lebih besar: Yesus Kristus.

Ketika Yesus memasuki Yerusalem, orang banyak menyambut-Nya dengan daun palem dan berseru, “Hosana!” Seruan ini sebenarnya adalah doa yang berarti, “Selamatkanlah kami sekarang.” Mereka berharap Yesus menjadi raja yang membebaskan mereka dari penjajahan Romawi.

Tetapi Yesus datang dengan cara yang sangat berbeda dari harapan mereka.

Ia tidak datang dengan kuda perang atau pasukan yang kuat. Ia justru masuk ke kota dengan menunggangi seekor keledai. Dalam budaya saat itu, keledai melambangkan kerendahan hati dan kedamaian.

Melalui cara itu, Yesus menunjukkan bahwa Ia bukan raja politik yang datang untuk merebut kekuasaan. Ia adalah Raja yang membawa keselamatan dan damai sejahtera bagi manusia.

Yesus tidak mencari popularitas. Ia tidak mencari simpati dari orang banyak. Ia tetap berjalan dalam rencana Allah, bahkan ketika jalan itu membawa-Nya menuju penderitaan dan salib.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa Yesus bukan hanya tokoh yang menginspirasi. Ia adalah Juruselamat yang memberikan hidup-Nya bagi kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk belajar dari teladan-Nya: hidup dengan kerendahan hati, tidak mengejar pujian manusia, dan setia melakukan kehendak Tuhan.

Di tengah dunia yang sering mengejar kemegahan dan pengakuan, mari kita memilih jalan yang diajarkan oleh Kristus—jalan kerendahan hati, kasih, dan ketaatan kepada Allah.

Doa

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah teladan hidup yang sempurna. Ajarku untuk hidup dengan rendah hati seperti Engkau. Tolong aku agar tidak mengejar pujian manusia, tetapi setia melakukan kehendak-Mu dalam hidupku. Biarlah hidupku memuliakan nama-Mu. Amin.

Share:

Renungan Harian "Memilih Kebenaran atau Reputasi?"

Seseorang berdiri dalam cahaya sebagai simbol memilih kebenaran dalam firman Tuhan

Memilih Kebenaran atau Reputasi?

Renungan dari Yohanes 12:9–11

Dalam hidup, ada saat-saat ketika kita harus memilih antara kebenaran atau reputasi. Pilihan ini tidak selalu mudah. Mengakui kebenaran kadang bisa membuat kita kehilangan posisi, dihina, atau dipandang buruk oleh orang lain. Karena itu tidak sedikit orang yang memilih menjaga reputasi daripada berdiri di pihak kebenaran.

Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa pilihan seperti itu bukan hal baru.

Setelah Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, banyak orang datang untuk melihat Yesus dan juga Lazarus. Ia menjadi bukti nyata bahwa Yesus memiliki kuasa atas hidup dan mati.

Tetapi para imam kepala justru merasa terancam. Mereka takut kehilangan kekuasaan dan pengaruh mereka. Bukannya menerima kebenaran yang jelas terlihat, mereka malah berencana untuk membunuh Lazarus agar bukti kuasa Yesus bisa dihilangkan.

Mereka lebih memilih mempertahankan reputasi daripada menerima kebenaran.

Namun usaha mereka sia-sia. Banyak orang justru percaya kepada Yesus karena apa yang terjadi pada Lazarus. Kebenaran tidak bisa dihancurkan begitu saja.

Seorang teolog bernama Agustinus pernah berkata bahwa kebenaran seperti seekor singa—tidak perlu dipertahankan dengan keras, cukup dilepaskan dan ia akan membela dirinya sendiri. Artinya, kebenaran pada akhirnya akan tetap berdiri, meskipun ada orang yang mencoba menutupinya.

Renungan ini mengajak kita melihat diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita berani berdiri di pihak kebenaran?
Ataukah kita lebih sering memilih diam demi menjaga nama baik atau kenyamanan?

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaran. Reputasi yang baik memang penting, tetapi kebenaran jauh lebih penting.

Lebih baik kehilangan reputasi karena mempertahankan kebenaran, daripada kehilangan kebenaran demi mempertahankan reputasi.

Doa

Tuhan, ajar aku untuk mencintai kebenaran lebih dari apa pun. Beri aku keberanian untuk berdiri di pihak yang benar, meskipun itu tidak mudah. Tolong aku agar tidak mengorbankan kebenaran demi menjaga reputasi di mata manusia. Biarlah hidupku memuliakan Engkau. Amin.

Share:

Renungan Harian "Jejak Iman Seorang Hamba Setia"

 

Jejak langkah menuju cahaya sebagai simbol jejak iman dalam firman Tuhan

Jejak Iman Seorang Hamba Setia

Renungan dari Yosua 24:29–33

Banyak orang ingin dikenang setelah meninggalkan dunia ini. Ada yang ingin dikenang karena kesuksesan, harta, atau prestasi yang mereka capai. Semua itu memang tidak salah. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga untuk ditinggalkan, yaitu jejak iman.

Yosua adalah salah satu contoh indah tentang seseorang yang meninggalkan jejak iman yang kuat.

Sejak muda, Yosua sudah setia mengikuti Tuhan. Ia melayani Musa dan belajar berjalan dalam ketaatan. Ketika tiba waktunya, Tuhan memanggilnya untuk menggantikan Musa memimpin bangsa Israel.

Tugas itu tidak mudah.
Ia harus menggantikan pemimpin besar seperti Musa.
Ia harus memimpin bangsa yang sering keras hati.
Ia harus menghadapi musuh-musuh yang kuat di tanah Kanaan.

Secara manusia, Yosua tentu merasa takut dan gentar. Karena itu Tuhan berulang kali menguatkan dia dan berkata, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.”

Yosua memilih untuk tetap taat pada firman Tuhan. Dengan kesetiaan yang terus dijaga, ia memimpin bangsa Israel mengalami kemenangan demi kemenangan. Tuhan bekerja melalui hidupnya.

Yang paling indah dari kehidupan Yosua terlihat pada akhir hidupnya. Firman Tuhan mencatat bahwa selama Yosua hidup, bangsa Israel tetap beribadah kepada Tuhan. Artinya, kehidupan Yosua menjadi teladan iman bagi orang-orang di sekitarnya.

Ia tidak hanya memimpin dengan kata-kata, tetapi juga dengan hidupnya.

Renungan ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:
Jejak apa yang akan kita tinggalkan suatu hari nanti?

Apakah orang-orang di sekitar kita akan semakin dekat dengan Tuhan karena hidup kita?
Ataukah hidup kita tidak memberi pengaruh apa-apa bagi iman orang lain?

Tidak ada kehidupan yang sempurna. Namun kita bisa memilih untuk hidup setia kepada Tuhan setiap hari.

Seperti Yosua, marilah kita berjalan dalam iman dan ketaatan sampai akhir hidup kita. Biarlah suatu hari nanti Tuhan berkata kepada kita: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”

Doa

Tuhan, terima kasih untuk teladan kesetiaan Yosua. Tolong aku untuk hidup setia kepada-Mu setiap hari. Ajarku untuk taat pada firman-Mu dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku. Biarlah hidupku meninggalkan jejak iman yang memuliakan nama-Mu. Amin.

Share:

Renungan Harian " Pilihlah Tuhan Hari Ini "

Seseorang berdiri di persimpangan jalan sebagai simbol memilih Tuhan dalam firman Tuhan

Pilihlah Tuhan Hari Ini

Renungan dari Yosua 24:1–28

Hidup kita dipenuhi dengan berbagai pilihan.
Kita memilih tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, bahkan pasangan hidup. Setiap pilihan biasanya kita pikirkan dengan matang karena memengaruhi masa depan kita.

Namun ada satu pilihan yang jauh lebih penting daripada semua pilihan itu—pilihan yang bukan hanya memengaruhi hidup kita di dunia, tetapi juga kekekalan kita.

Itulah pilihan untuk mengikut Tuhan.

Di akhir hidupnya, Yosua mengumpulkan bangsa Israel dan mengingatkan mereka tentang perjalanan panjang yang telah Tuhan lakukan bagi mereka. Dari zaman nenek moyang mereka, Tuhanlah yang memanggil, memimpin, melindungi, dan memberikan tanah perjanjian kepada mereka.

Semua itu adalah bukti kesetiaan Tuhan.

Setelah mengingatkan karya Tuhan tersebut, Yosua menantang bangsa Israel untuk membuat sebuah keputusan penting: apakah mereka akan tetap menyembah Tuhan atau mengikuti allah-allah lain.

Di tengah tantangan itu, Yosua memberikan teladan yang sangat kuat. Ia berkata,
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

Yosua tidak menunggu keputusan orang lain. Ia terlebih dahulu menentukan pilihan hidupnya. Ia tahu bahwa mengikut Tuhan bukan sekadar tradisi atau ikut-ikutan, tetapi sebuah keputusan pribadi yang harus dijalani dengan kesadaran penuh.

Yosua juga mengingatkan bahwa pilihan ini tidak mudah. Mengikut Tuhan berarti meninggalkan hal-hal yang dapat menjadi berhala dalam hidup kita.

Renungan ini juga berbicara kepada kita hari ini.

Apa yang paling menguasai hati kita?
Apakah Tuhan benar-benar menjadi yang utama dalam hidup kita?
Ataukah ada hal-hal lain yang diam-diam menggantikan posisi Tuhan?

Hari ini kita juga dihadapkan pada pilihan yang sama. Kita tidak bisa hidup di tengah-tengah. Kita harus menentukan sikap.

Mari dengan sungguh-sungguh berkata seperti Yosua:
aku dan keluargaku akan tetap mengikut Tuhan.

Doa

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah setia memimpin hidupku sampai hari ini. Tolong aku untuk memilih Engkau setiap hari dalam hidupku. Beri aku keberanian untuk meninggalkan segala sesuatu yang dapat menjauhkan aku dari-Mu. Biarlah hidupku dan keluargaku selalu setia menyembah Engkau. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 15 Maret 2026

 

Share:

Renungan Harian "Tetap Berpaut pada Tuhan"

Orang berpegangan pada batu karang sebagai simbol berpaut pada Tuhan dalam firman Tuhan

Tetap Berpaut pada Tuhan

Renungan dari Yosua 23

Setiap orang yang berada di akhir hidupnya biasanya akan menyampaikan pesan yang paling penting bagi orang-orang yang ditinggalkan. Pesan itu bukan sekadar kata-kata biasa, tetapi sesuatu yang dianggap sangat berharga.

Demikian juga dengan Yosua. Di akhir hidupnya, ia memberikan wasiat kepada bangsa Israel. Dari seluruh pesan yang ia sampaikan, inti pesannya sebenarnya sangat sederhana namun sangat penting:

tetap berpaut kepada Tuhan.

Bangsa Israel saat itu sedang menikmati masa yang baik. Mereka telah memasuki tanah perjanjian. Mereka hidup dalam keamanan dan kelimpahan. Justru dalam keadaan seperti itulah bahaya sering muncul—hati manusia mudah berpaling dari Tuhan.

Yosua tahu bahwa godaan terbesar bagi umat Tuhan bukan hanya penderitaan, tetapi juga kenyamanan. Ketika hidup terasa cukup, kita bisa mulai bersandar pada kekuatan sendiri, pada harta, atau pada hal-hal yang terlihat.

Karena itu Yosua mengingatkan mereka akan dua hal penting.

Pertama, ingatlah perbuatan Tuhan di masa lalu.
Semua yang mereka miliki bukan hasil kekuatan mereka sendiri. Tuhanlah yang berperang bagi mereka, Tuhanlah yang memberi kemenangan, dan Tuhanlah yang membawa mereka sampai di tanah perjanjian.

Ketika kita mengingat karya Tuhan dalam hidup kita, hati kita akan tetap rendah hati dan terus bergantung kepada-Nya.

Kedua, jangan terpengaruh oleh lingkungan yang menjauhkan dari Tuhan.
Bangsa Israel hidup di tengah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Jika mereka tidak berhati-hati, mereka bisa mengikuti cara hidup yang sama dan akhirnya berpaling dari Tuhan.

Hal ini juga berlaku bagi kita. Dunia di sekitar kita sering menawarkan banyak hal yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah aku masih berpaut pada Tuhan?
Ataukah aku mulai lebih bergantung pada diriku sendiri?

Tetaplah dekat dengan Tuhan. Ingatlah selalu kebaikan-Nya, dan jagalah hati agar tidak terbawa oleh pengaruh yang menjauhkan kita dari-Nya.

Doa

Tuhan, terima kasih atas segala kebaikan-Mu dalam hidupku. Engkau yang memimpin dan menolongku sampai hari ini. Tolong aku untuk selalu berpaut kepada-Mu dan tidak mengandalkan kekuatanku sendiri. Jagalah hatiku agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menjauhkan aku dari-Mu. Amin.

Share:

Renungan Harian "Menghindari Konflik dengan Komunikasi yang Bijak"

Dua kelompok berdialog damai sebagai simbol komunikasi bijak dalam firman Tuhan

Menghindari Konflik dengan Komunikasi yang Bijak

Renungan dari Yosua 22:9–34

Konflik sering muncul dalam hubungan manusia.
Di keluarga, di tempat kerja, bahkan di dalam pelayanan. Banyak konflik sebenarnya bukan karena masalah besar, tetapi karena kesalahpahaman dan komunikasi yang buruk.

Hal seperti itu juga hampir terjadi di antara suku-suku Israel.

Ketika suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye kembali ke wilayah mereka di sebelah timur Sungai Yordan, mereka mendirikan sebuah mezbah yang besar. Suku-suku Israel lainnya yang tinggal di Kanaan langsung curiga. Mereka mengira mezbah itu didirikan untuk menyembah allah lain.

Kecurigaan ini sangat serius. Dalam pengalaman sebelumnya, penyembahan kepada allah lain pernah mendatangkan hukuman Tuhan atas seluruh bangsa. Karena itu, mereka sangat waspada.

Namun yang menarik adalah cara mereka menyelesaikan masalah ini.

Mereka tidak langsung menyerang.
Mereka tidak langsung menghakimi.

Sebaliknya, mereka mengutus delegasi yang dipimpin oleh Pinehas untuk berbicara dengan suku Ruben, Gad, dan Manasye. Mereka bertanya dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika penjelasan diberikan, barulah mereka mengerti bahwa mezbah itu bukan untuk penyembahan lain. Mezbah itu hanya menjadi tanda pengingat bahwa mereka tetap satu umat yang menyembah Tuhan yang sama.

Kesalahpahaman pun selesai. Konflik besar yang hampir terjadi berhasil dihindari.

Dari kisah ini kita belajar dua hal penting tentang komunikasi yang sehat.

Pertama, bertanya sebelum menuduh.
Sering kali kita cepat mengambil kesimpulan tentang orang lain tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.

Kedua, mau mendengarkan dengan hati terbuka.
Ketika kita benar-benar mendengar, sering kali kita menemukan bahwa masalahnya tidak sebesar yang kita bayangkan.

Renungan ini mengajak kita untuk lebih bijaksana dalam berkomunikasi. Jangan terburu-buru menilai orang lain. Jangan biarkan prasangka merusak hubungan.

Belajarlah bertanya dengan rendah hati dan mendengarkan dengan empati. Dengan cara itu, banyak konflik dapat diselesaikan bahkan sebelum menjadi besar.

Doa

Tuhan, ajar aku untuk memiliki hati yang bijaksana dalam berkomunikasi. Tolong aku untuk tidak cepat menuduh atau menghakimi orang lain. Beri aku kerendahan hati untuk mendengar dan memahami. Pakailah kata-kataku untuk membawa damai, bukan konflik. Amin.

Share:

Renungan Harian "Jangan Melupakan Tuhan"

Seseorang bersyukur di puncak bukit sebagai simbol mengingat Tuhan dalam firman Tuhan

Jangan Melupakan Tuhan

Renungan dari Yosua 22:1–8

Dalam hidup, sering kali kita lebih mudah mencari Tuhan saat sedang kesulitan. Ketika masalah datang, ketika kebutuhan terasa berat, kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan berharap Tuhan menolong kita.

Namun ketika keadaan berubah menjadi lebih baik, ketika berkat datang dan hidup terasa nyaman, tanpa sadar kita mulai melupakan Tuhan.

Inilah salah satu godaan terbesar dalam perjalanan iman.

Bangsa Israel akhirnya memasuki tanah Kanaan. Tuhan telah menepati janji-Nya. Mereka menerima tanah pusaka, menikmati ketenteraman, dan merasakan berkat yang melimpah. Orang Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye juga sudah menerima bagian mereka seperti yang dijanjikan Tuhan melalui Musa.

Di tengah situasi yang penuh berkat itu, Yosua memberikan pesan yang sangat penting:
jangan melupakan Tuhan.

Yosua mengingatkan mereka untuk tetap mengasihi Tuhan, berpegang pada firman-Nya, dan setia melakukan kehendak-Nya. Berkat yang mereka terima seharusnya tidak membuat mereka jauh dari Tuhan, tetapi justru semakin mendekat kepada-Nya.

Renungan ini juga berbicara kepada kita hari ini.

Tuhan telah memberikan begitu banyak kebaikan dalam hidup kita. Ia memberi keselamatan melalui Yesus Kristus. Ia memelihara hidup kita setiap hari. Ia menolong kita melewati berbagai pergumulan.

Tetapi apakah kita tetap mengingat Tuhan ketika hidup berjalan baik?

Jangan sampai berkat membuat kita lupa kepada Sang Pemberi berkat. Jangan sampai kenyamanan membuat kita berhenti bersandar kepada Tuhan.

Sebaliknya, setiap berkat seharusnya menjadi alasan untuk semakin mengasihi Tuhan dan hidup setia kepada-Nya.

Mari kita belajar untuk tetap dekat dengan Tuhan, baik saat susah maupun saat senang.

Doa

Tuhan, terima kasih atas segala kebaikan dan berkat-Mu dalam hidupku. Ampuni aku jika sering melupakan Engkau ketika hidup terasa nyaman. Tolong aku untuk selalu mengingat-Mu, mengasihi-Mu, dan hidup setia kepada firman-Mu dalam setiap keadaan. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 8 Maret 2026

 

Share:

Renungan Harian "Tuhan Memelihara Hamba-Nya"

Pelayan berjalan di padang rumput sebagai simbol pemeliharaan Tuhan dalam firman Tuhan

Tuhan Memelihara Hamba-Nya

Renungan dari Yosua 21

Sering kali ketika Tuhan memberi tanggung jawab atau pelayanan, muncul pertanyaan dalam hati kita:
“Apakah aku akan cukup? Apakah Tuhan benar-benar memelihara hidupku?”

Dalam Yosua 21, kita melihat bagaimana Tuhan memperhatikan kebutuhan para hamba-Nya. Suku Lewi dipilih untuk melayani Tuhan. Karena tugas mereka khusus, mereka tidak menerima wilayah tanah pusaka seperti suku-suku lain di Israel.

Namun itu bukan berarti mereka dibiarkan tanpa tempat tinggal.

Tuhan memerintahkan agar orang Lewi diberikan 48 kota yang tersebar di antara suku-suku Israel. Di setiap kota juga ada tanah penggembalaan supaya mereka dapat memelihara ternak. Dari situlah mereka memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Bahkan para imam, keturunan Harun, menerima perhatian yang lebih khusus. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sungguh mengerti kebutuhan setiap hamba-Nya.

Tuhan tidak hanya memanggil untuk melayani—Ia juga memelihara.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa ketika Tuhan mempercayakan tugas kepada kita, Dia juga memperhatikan kebutuhan kita. Kadang kita merasa tugas kita berat. Kita melihat orang lain seolah memiliki hidup yang lebih mudah.

Tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang melayani Dia. Ia tahu apa yang kita butuhkan. Ia sanggup menyediakan dengan cara yang sering kali tidak kita duga.

Karena itu, jangan takut ketika Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu. Jangan khawatir ketika tanggung jawab terasa besar. Jika Tuhan memberi tugas, Dia juga akan memberi pemeliharaan.

Yang Tuhan minta dari kita adalah kesetiaan.

Doa

Tuhan, terima kasih karena Engkau adalah Allah yang memelihara hidupku. Ampuni aku jika sering khawatir tentang masa depan atau kebutuhanku. Ajarku untuk percaya bahwa Engkau tahu apa yang kubutuhkan. Beri aku hati yang setia dalam melayani-Mu dan percaya penuh pada pemeliharaan-Mu. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.